PPMN

PPMN PPMN adalah sebuah lembaga nonprofit untuk mengembangkan profesionalisme media.

Berdiri tahun 2006 sebagai lembaga nonprofit untuk mengembangkan profesionalisme media dan memperluas akses informasi di Indonesia dan berbagai negara Asia. PPMN melakukan program-program peningkatan kapasitas media melalui berbagai pelatihan, membangun media baru di daerah-daerah terpencil, memberikan bantuan darurat untuk media di daerah bencana, memproduksi berbagai program siaran bekerjasama dengan media siar independen dan menerbitkan buku-buku tentang jurnalistik dan media.

🧠 Buat kamu yang s**a liput isu kesehatan tapi masih awam sama sains otak dan saraf, ada kabar baik nih — ada fellowship...
22/09/2026

🧠 Buat kamu yang s**a liput isu kesehatan tapi masih awam sama sains otak dan saraf, ada kabar baik nih — ada fellowship fully funded khusus buat kamu!

Program selama 1 tahun dan dibayarin secara penuh! Diselenggarakan oleh Poynter Institute, didanai Brain and Behavior Research Foundation. Tapi inget, cuma 30 jurnalis terpilih yang bisa ikut, jadi buruan daftar!

Apa aja yang bakal dibahas?
Bakal ada workshop online bulanan tentang:
âś… Cara meliput riset ilmiah
âś… Bangun sumber terpercaya di bidang sains/medis
âś… Riset terbaru soal penyakit neurodegeneratif
âś… Hubungan otak & kesehatan tubuh secara umum

Siapa yang bisa daftar?
Terbuka buat jurnalis kesehatan, sains, urusan publik, isu sosial, atau siapapun yang ingin buat liputan tentang sistem otak. Bisa untuk semua level pengalaman, jadi nggak perlu khawatir kalau kamu masih baru di topik ini!

Cek link atau scan QR code buat info detailnya ya!
đź”— s.id/khou8

20/09/2026

"Seni teater dan jurnalistik warga punya satu tujuan yang sama: bersuara untuk kelompok rentan." 🎭✍️

​Bagi Widati, pegiat teater sekaligus anggota Jurnalis Warga (JW) Surosowan, Serang, Banten, panggung seni bukan sekadar tempat berakting. Ketika ia memadukan keterampilan jurnalistik—seperti riset mendalam, verifikasi fakta, dan sensitivitas sosial—ke dalam komunitas teaternya, pertunjukan seni berubah menjadi media advokasi yang makin tajam dan berdampak.

​Lewat kacamata jurnalistik, cerita-cerita sosial di sekitarnya tidak berhenti sebagai naskah drama, tapi jadi alat penyampai fakta dan pemantik kesadaran publik.

​Simak cerita perjalanan Widati bagaimana integrasi seni teater dan verifikasi fakta menghidupkan narasi warga dari Serang! 📽️✨

​

16/09/2026

Sudah jadi jurnalis media utama, tapi baru bener-bener paham isu transisi energi dan kerja jurnalistik yang berdampak setelah gabung komunitas jurnalis warga? 🤯

​Ini cerita Ukat, anggota JW Surosowan Banten. Walau udah bekerja di media arus utama, dia ngaku kalau perspektifnya tentang jurnalisme warga dan isu transisi energi justru makin tajam setelah berproses bareng komunitas.

​Tonton videonya sampai habis buat dengar langsung keresahan dan sudut pandang baru dari Ukat! 👇

Menurut kamu, apa beda terbesar sudut pandang jurnalis media besar sama jurnalisme warga saat ngangkat isu lingkungan di sekitar kita? Tulis di kolom komentar! 👇

​

14/09/2026

Dari keresahan di halaman rumah, jadi suara yang diperhitungkan. 🌿

​Kenalan sama Bu Herliyana, seorang ibu rumah tangga sekaligus petani asal Samarinda. Awalnya, beliau cuma bisa mengelus dada ngeliat dampak tambang batubara yang makin dekat sama ruang hidup dan mata pencahariannya.

​Tapi Bu Herliyana milih buat nggak tinggal diam. Lewat jurnalisme warga, ia mulai merekam, mencatat, dan menyuarakan apa yang sebenarnya terjadi di tanah mereka.

​Kisah Bu Herliyana buktiin kalau siapa pun kita—mau ibu rumah tangga atau petani—punya kekuatan buat menjaga lingkungan dan nyuarain kebenaran.

​Tonton cerita lengkap perjuangan Bu Herliyana di video ini ya! 👇

​

12/09/2026

"Transisi energi itu bukan soal megaproyek, tapi soal cara warga bertahan hidup."

​Dulu, kata “transisi energi” terdengar seperti jargon pemerintah atau janji manis korporasi—yang ujung-ujungnya sering kali mengulang pola eksploitasi yang sama seperti energi fosil.

​Namun, perjalanan Jamiah, seorang Jurnalis Warga (JW) di Samarinda, mengubah segalanya.

​Lewat kacamata jurnalistik warga, ia turun langsung ke tapak dan menemukan realita berbeda: transisi energi yang sejati justru sudah lama dipraktikkan oleh warga lokal. Lewat pengetahuan dan epistemik lokal, mereka hidup secara subsisten, menjaga keseimbangan alam tanpa harus merusaknya.

​Transisi energi bukan tentang seberapa besar proyek yang dibangun, tapi seberapa dalam kita mendengarkan suara dari tapak. 💬🌱

​Simak cerita perubahan Jamiah selengkapnya di video ini! 📽️✨

​

10/09/2026

Dari yang dulu nggak percaya sama jurnalis, sekarang malah jadi garda terdepan menyuarakan kampung halamannya.

​Ini cerita Ibu Sumhayana, seorang ibu rumah tangga dari Desa Muara Maung, Kecamatan Merapi Barat, Lahat, Sumatera Selatan. Di tengah kepungan industri tambang batubara yang terus mengimpit ruang hidup warga, Bu Sumhayana memilih untuk tidak tinggal diam.

​Bu Sum, sapaannya berbagi kisahnya berproses di komunitas Jurnalis Warga (JW)—tentang bagaimana pandangannya berubah, cara ia menyalurkan suara warga, dan perjuangannya menjaga tanah kelahirannya.

​Simak cerita perubahan dan perjuangannya sampai habis! 🎥👇

​

📱 Video vertikal itu bukan lagi cuma buat konten TikTok atau story doang, sekarang media-media udah mulai ngelirik forma...
03/09/2026

📱 Video vertikal itu bukan lagi cuma buat konten TikTok atau story doang, sekarang media-media udah mulai ngelirik format ini buat nyampein berita!

Kenapa sih ini penting?
đź‘€ Vertikal itu format yang paling akrab sama audiens, dari chat sampe hiburan
🎯 Anak muda banget s**a format ini — target pasar impian tiap media

Tapi ada gap yang menarik: kebiasaan nonton audiens ternyata belum sepenuhnya sejalan sama strategi media. Data dari Reuters Institute nunjukkin sekitar 1/3 orang dari semua umur nonton berita di YouTube tiap minggu. Sementara di TikTok & Instagram, angkanya beda jauh antar generasi — usia 18-24 jauh lebih aktif nonton berita di sana dibanding usia 55+.

Kabar baiknya? Video vertikal emang udah jadi kebiasaan, bukan monopoli satu platform aja. Ini peluang buat media bikin versi sendiri, dengan gaya sendiri yang nggak harus keliatan "produksi banget," justru yang nendang itu yang berasa natural, kayak kreator lagi cerita santai ke kamera 🎥

Menurut kalian, media udah cukup adaptif belum sama tren video vertikal ini? Share pendapat kalian di kolom komentar! 👇

🔥 Kebakaran hutan di Indonesia tuh masih sering banget kejadian, tapi tau nggak sih kalau sekarang kita bisa cek dari ma...
31/08/2026

🔥 Kebakaran hutan di Indonesia tuh masih sering banget kejadian, tapi tau nggak sih kalau sekarang kita bisa cek dari mana api mulai dan ke mana dia menyebar, semua cuma modal data satelit gratis!

Di postingan ini kita bahas gimana caranya:
📡 Manfaatin Sentinel-2, Landsat, sama Copernicus buat dapetin citra satelit
🗺️ Olah datanya di QGIS pake Raster Calculator
🔥 Ukur tingkat keparahan kebakaran pakai NBR (Normalised Burn Ratio)
📊 Lacak jejak kebakaran dari waktu ke waktu

Intinya, sekarang siapa aja bisa jadi "detektif" kebakaran hutan tanpa harus terjun langsung ke lapangan. Cocok banget buat kamu, para jurnalis, yang mau bikin liputan atau riset soal isu lingkungan ini 🌳

Mau tau step-by-step lengkapnya?
Cus cek s.id/ZWgKN 👆

Pengen jadi jurnalis yang expert soal GIS? 🗺️✨Training National Geographic & The Nature Conservancy is calling your name...
26/08/2026

Pengen jadi jurnalis yang expert soal GIS? 🗺️✨

Training National Geographic & The Nature Conservancy is calling your name! Explore soal konservasi alam sambil upgrade skill GIS dan data visualization. Durasi 8 minggu, fully remote, dan ada kesempatan dapet $500 USD!

Jangan lewatkan! Deadline pendaftaran 30 Agustus nih đź‘€

Daftar sekarang → s.id/AYP15

Gempa, karhutla, banjir - begitu breaking news lewat, banyak yang mikir liputan bencana udah "selesai". Padahal justru d...
25/08/2026

Gempa, karhutla, banjir - begitu breaking news lewat, banyak yang mikir liputan bencana udah "selesai". Padahal justru di situ tantangannya baru mulai 🙌

Buat teman-teman jurnalis, yuk geser slide buat lihat apa aja yang masih perlu digali setelah fase breaking news:

📍 Kondisi warga pasca-bencana
📍 Sistem peringatan dini — udah berfungsi belum?
📍 Kronologi lengkap kejadian
📍 Testimoni penyintas, saksi, dan relawan

Tapi ingat, angka dan fakta itu penting, tapi keselamatan dan kondisi psikologis penyintas jauh lebih penting. Hindari pertanyaan yang memicu trauma, dan selalu jaga keamanan diri di lapangan ya 🙏

Address

Sona Topas Tower
Jakarta
10350

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PPMN posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to PPMN:

Shortcuts

Share