Himpunan Penghayat Kepercayaan (HPK) adalah sebuah wadah bagi para penganut ajaran-ajaran leluhur (bukan agama) yang masih mau menjaga dan melestarikan ajaran-ajaran leluhur tersebut. HPK merupakan organisasi yang di lindungi oleh pemerintah dibawah asuhan dan pengawasan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di setiap kota dan daerah di seluruh Indonesia. Organisasi HPK sudah merupakan organisasi yang t
umbuh dan berkembang sejak lama namun pada beberapa periode organisasi ini melemah dan hampir hilang dari peredaran. Oleh sebab itu kami mengajak para pengguna fesbuk yang masih mau dan mampu terus eksis membantu memperkuat akar dari organisasi Himpunan Penghayat Kepercayaan yang nantinya menjadi landasan awal dan pangkal akhir kejayaan Indonesia, negeri kita tercinta ini. Dan sejak itu ia mulai menggagas sebuah forum nasional untuk mendiskusikan mengenai kebatinan. Pada tahun 1955 ia mempelopori Konggres Kebatinan berskala nasional yang diselenggarakan di Semarang selama tiga hari, 19-12 Agustus 1950. Kongres itu dihadiri 70 aliran yang ada di Indonesia dan melahirkan sebuah organisasi bernama Badan Konggres Kebatinan Indonesia (BKKI). Konggres pertama itu menjadi titik awal perkembangan mengenai organisasi kepercayaan. Dari pandangan soal kebatinan, yang bukan klenik, yang tak bertentangan dengan agama dan bukan agama baru, yang mendukung asas Pancasila, sampai masuknya organisasi ke struktur pemerintahan negara. Dan organisasi Kepercayaannya pun berubah-ubah bentuk dan namanya. Nama konggres pun berganti menjadi munas, musyawarah nasional. Di Yogyakarta pada 27-30 Desember 1970 digelar Musyawarah Nasional Kepercayaan dengan melahirkan wadah baru bagi penghayat kepercayaan, yaitu Sekretariat Kerjasama Kepercayaan (SKK). Selain itu terbentuk delegasi Munas Kepercayaan yang dipimpin Mr. Wongsonegoro untuk memperjuangkan legalitas Kepercayaan. Delegasi ini menemui Presiden Soeharto, yang kemudian kepercayaan diakui di Indonesia. Pada 1973 MPR menetapkan Kepercayaan (Terhadap Tuhan Yang Maha Esa) diakui oleh negara disamping agama.Pada 1973 Munas ketiga Kepercayaan digelar di Tawangmangu, Solo. Hasilnya, organisasi kepercayaan SKK diganti menjadi HPK (Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa). Organisasi HPK ini yang sampai sekarang menaungi dan memperjuangkan kepentingan kelompok-kelompok penghayat kepercayaan di seluruh nusantara. Perhatian pada Kepercayaan semakin besar diakui di negeri ini ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada 1978 menetapkan pembentukan Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dibawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Arymurty, Sekjen HPK menjadi Direktur pertama di Direktorat Kepercayaan TYME. Dan sekarang Direktorat Kepercayaan di bawah Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, direkturnya Sulistyo Tirtokusumo, seorang penari yang pernah menciptakan tari bedhya: Bedhaya Suryasumirat untuk Puro Mangkunegaran, Solo. Ketua Umum bernama Zahid Hussein sejak 1974 hingga 2000-an, dan Ketua Umum yang baru bernama Esno Kusnodho Suryaningrat dari Perguruan Trijaya, Rama Guru Bapak Tegal. Perhimpunan ini terdiri dari berbagai aliran kepercayaan dan agama yang semuanya memiliki titik temu,yaitu Percaya kepada Tuhan YME.