21/08/2026
Transformasi Kemerdekaan Spiritual menuju Sosial: Belajar dari Nabi-nabi Sosial
Apakah keselamatan hanya menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Allah, ataukah juga menuntut perubahan dalam struktur sosial yang tidak adil? Pertanyaan ini menjadi salah satu pergumulan utama para nabi Israel.
Amos, Mikha, Yesaya, dan Yeremia dengan tegas menolak pemisahan antara kesalehan religius dan tanggung jawab sosial. Mereka mengkritik umat yang rajin beribadah, mempersembahkan kurban, dan merayakan hari-hari raya keagamaan, tetapi pada saat yang sama membiarkan kemiskinan, penindasan, korupsi, dan penyalahgunaan kekuasaan terus berlangsung (Am. 5:21–24; Mi. 6:6–8; Yes. 1:10–17).
Secara teologis, para nabi memahami bahwa Allah Israel bukan hanya Allah yang disembah di bait suci, melainkan juga Allah yang bertindak dalam sejarah untuk membebaskan orang tertindas. Pengalaman eksodus menunjukkan bahwa pembebasan yang Allah kerjakan tidak berhenti pada kemerdekaan spiritual, tetapi juga mencakup pembebasan dari sistem penindasan yang merendahkan martabat manusia.
Seminar ini mengajak peserta menelaah secara kritis pesan para nabi: mengapa Allah justru lebih keras mengecam ketidakadilan sosial daripada kesalahan ritual tertentu? Apakah ibadah masih berkenan di hadapan Allah ketika ketimpangan ekonomi, eksploitasi, dan ketidakadilan dibiarkan berlangsung?
Mari Sahabat Alkitab, dalami tema ini melalui seminar Alkitab di kanal YouTube Lembaga Alkitab Indonesia sebagai berikut:
📅 Sabtu, 22 Agustus 2026
🕟 16.30 WIB/17.30 WITA/18.30 WIT
🎤 RP. Patrisius Mutiara Andalas, SJ
🔗 https://www.youtube.com/live/nljq0NgYQWE?si=nH2HTagpHTTSGRbq