JATAM

JATAM Melawan Kerusakan dengan Membangun Produksi dan Konsumsi Tanding yang Berkeadilan dan Berdaya-Pulih

Jaringan Advokasi Tambang adalah jaringan organisasi non pemerintah (ornop) dan organisasi komunitas yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah HAM, gender, lingkungan hidup, masyarakat adat dan isu-isu keadilan sosial dalam industri pertambangan dan migas.

Koordinator dan Badan Pengurus JATAM periode 2026-2030, siap menjalankan mandat untuk terus menghadang ekstraktivisme da...
04/06/2026

Koordinator dan Badan Pengurus JATAM periode 2026-2030, siap menjalankan mandat untuk terus menghadang ekstraktivisme dan meneguhkan veto rakyat.

Komunitas warga di simpul perlawanan JATAM memberikan mandat kepada Melky Nahar untuk kembali mendinamiskan perlawanan menghadang laju ekstraktivisme sebagai Koordinator JATAM Nasional. Sementara untuk Badan Pengurus JATAM, yang mendapatkan mandat dari komunitas warga di simpul perlawanan adalah Hendro Sangkoyo, Jull Takaliuang, Siti Maimunah, Mareta Sari, dan Bambang Catur Nusantara.

Dalam pembacaan situasi yang dilakukan JATAM bersama komunitas warga, ketamakan negara-korporasi yang militeristik kian beringas. Ketamakan untuk terus memperluas zona pengorbanan industri keruk akan mengakumulasi praktik penjajahan dan perampasan ruang hidup warga di berbagai penjuru kepulauan. Karena itu, JATAM akan tetap teguh melaksanakan tiga mandat utama, salah satunya meneguhkan veto rakyat. JATAM bersama seluruh jejaring komunitas warga kepulauan bergerak sebagai satu tubuh perlawanan untuk menghadang laju perluasan operasi ekstraktivisme dan membela keselamatan seluruh rakyat dari pulau Sumatera hingga sisi-Barat pulau Papua.

29/05/2026

Hari Anti Tambang (HATAM) 2026 bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah alarm keras yang terus berbunyi. Dua dekade lalu, Porong, Sidoarjo tenggelam oleh keserakahan industri ekstraktif. Hari ini, trauma itu tidak pernah mati, dan ancaman yang sama sedang mengintai ruang hidup dari ujung barat hingga ujung timur.

Pocoleok dan Mataloko yang menolak tunduk pada proyek geotermal; Sagea dan Wawonii yang melawan kepungan tambang nikel; Torobulu dan Banggai Kepulauan yang terus mempeetahankan tanahnya demi kelestarian; Sumbersari dan Mangkupadi yang menolak ruang hidupnya dijadikan tumbal industri skala besar; serta Dairi yang juga melawan tambang milik Bakrie.

Ini adalah Solidaritas Lintas Pulau. Jarak boleh memisahkan, tetapi rasa sakit dan tekad perlawanannya tidak berbeda. Ketika industri hanya membawa sengsara bagi rakyat dan melipatgandakan kekayaan oligarki, maka MELAWAN ADALAH SATU-SATUNYA PILIHAN!

Dari Porong untum HATAM: Kami tidak ingin tragedi ini terulang. ​Panjang umur perjuangan rakyat di seluruh tapak perlawanan!

Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat​Dua dekade telah berlalu sejak lumpur p...
28/05/2026

Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat

​Dua dekade telah berlalu sejak lumpur panas mulai menenggelamkan ruang hidup, sejarah, dan masa depan di Porong, Sidoarjo. Namun, ingatan tetap menolak untuk ikut tenggelam.

Di Hari Anti Tambang (HATAM) 2026 kita memperingati 20 tahun Porong Lapindo. Bukan hanya sekadar seremoni refleksi, melainkan ruang konsolidasi budaya dan pemikiran untuk menyatukan kekuatan dengan pulau lain yang menghadapi ancaman sama, bergandeng tangan menyerukan dan meneguhkan hak veto rakyat yakni hak untuk menolak segala pembangunan apapun yang mengorbankan rakyat kecil.

​Selama dua hari penuh, kita akan berkumpul, bergerak, dan bersuara melalui serangkaian agenda kebudayaan dan perlawanan.

🗓️ 29 - 30 Mei 2026
⏰ 09.00 WIB - Selesai
📍 Taman Dwara Kerta, Jatirejo, Sidoarjo

• Sambang Buyut (Ziarah leluhur di tanah yang tenggelam)
• Pemutaran Film & Diskusi Publik
• Pameran Foto, Poster Perlawanan,dan Audio Visual
• Pameran Lukisan Anak-Anak Porong
• Workshop Melukis & Live Mural
• Panggung Rakyat: Ludruk Warna Budaya Pagesangan & Teater Smaraganesha
- Pasar Rakyat: Lapakan komunitas berbagai tapak dan komunitas yang bersolidaritas serta produk UMKM warga

Gratis dan Terbuka untuk umum.

Sampaikan pada dunia, kita menolak lupa. Ajak kawan-kawanmu dan merapat ke Taman Dwarakerta.

28/05/2026

20 tahun sudah semburan lumpur Lapindo menenggelamkan ruang hidup, merampas hak-hak warga, dan menjadi monumen nyata atas dampak industri ekstraktif di Indonesia.

​Sebagai bagian dari rangkaian peringatan 20 tahun tragedi ini, kemarin (25 Mei), FISIP Universitas Brawijaya menjadi ruang temu, diskusi, sekaligus refleksi bersama dalam Kuliah Tamu Internasional bertajuk:

“Environmental Corruption & Politics of Disaster: Learning from the Lapindo Mudflow Disaster in Indonesia”

​Diskusi penting ini menghadirkan perspektif mendalam dari berbagai lini:
- Philip Drake (University of Kansas)
- Harwati (Penyintas Porong, Lapindo)
- F***y T.J (JATAM)
- Romi (WALHI Jatim)

​Tak hanya ruang diskusi, sudut FISIP UB juga dihidupkan oleh pameran karya visual yang jujur dan menyentuh—buah tangan dari anak-anak TK dan SD di sekitar Porong, Sidoarjo. Lewat goresan warna, mereka menggambarkan imajinasi kolektif: akan seperti apa kubangan lumpur Lapindo di masa yang akan datang? Sebuah pesan bisu namun tajam dari generasi masa depan.

​RANGKAIAN BELUM USAI!

​Mari merapat dan bersolidaritas bersama dalam puncak rangkaian peringatan 20 tahun lumpur Lapindo yang akan dilaksanakan pada:

📅 29 - 30 Mei 2026
📍 Taman Dwarakerta, Porong, Sidoarjo
🕖 08.30 WIB - Selesai

​Monggo rawuh, kawan-kawan.

27/05/2026

Dua dekade telah berlalu sejak semburan lumpur Lapindo meluluhlantakkan kehidupan ribuan warga, tetapi duka yang ditinggalkannya tak pernah benar-benar mengering. Sembilu masih menghantui Dita Lestari, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, ketika menapak tilas tragedi tersebut dalam diskusi “Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat.”

Dan harapan serta semangat yang semoga menjadi api baru datang dari Rahmat Purno Santoso yang juga mahasiswa UMSIDA. Menjadi titik pencerahan baru yang semakin disadarkan oleh realita, pasca tragedi lumpur Lapindo masih sulit berkata "baik-baik saja".

Tanggal 29 Mei adalah tepat tragedi itu berusia 20 tahun. Bersama-sama menolak lupa, mengingat apa saja yang belum selesai, dan merawat perlawanan untuk berkata tidak pada proyek bejat yang tidak mau terulang.

29-30 Mei 2026
Pukul 09.00 - selesai
Di Taman Dwarakerta, Jatirejo

Kita rayakan bersama, berbagi bersama, dan saling menguatkan untuk terus bersolidaritas bahwa kita tidak sendirian, bahwa kita tidak akan pernah bisa melupakan tragesi yang merenggut masa depan.



26/05/2026

Hari Anti-Tambang 2026 mengusung tema: “Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat.” Tema ini lahir dari kesadaran bahwa kita tidak ingin hanya mengingat bencana. Kita ingin menghentikan pola yang sama agar tidak terus berulang di tempat lain.

Menghadang Ekstraktivisme

HATAM adalah bagian dari usaha kolektif untuk menghentikan laju ekspansi industri ekstraktif. Menghadang berarti membongkar klaim pembangunan yang menipu, menuntut penghentian proyek yang terbukti merusak, dan menolak kebijakan yang melapangkan jalan bagi oligarki sumber daya alam.

Tidak semua yang diberi label “pertumbuhan”, “PSN”, atau “transisi energi” adalah kemajuan—bila dibangun di atas reruntuhan kehidupan, itu adalah kejahatan.

Meneguhkan Veto Rakyat

Hak rakyat di wilayah krisis bukan hanya hak untuk didengar, tetapi hak veto: hak untuk berkata “tidak” pada proyek yang mengancam ruang hidupnya. Veto rakyat hidup di aksi-aksi: menghalangi alat berat, menolak tanda tangan, menggugat izin, berdiri di depan kampung meski berhadapan dengan aparat dan kekerasan.

HATAM adalah ruang untuk menyambungkan veto-veto ini agar tak lagi dianggap suara yang terpisah, melainkan sikap politik bersama dari banyak pulau.

Merayakan Perjuangan Warga Biasa

HATAM tidak merayakan lembaga, melainkan keberanian orang yang sering tak disebut. Ibu-ibu di dapur umum dan barisan depan aksi. Nelayan yang tetap melaut di tengah limbah. Petani yang bertahan di atas lahannya. Pemuda yang menggenggam kamera. Masyarakat adat yang menjaga hutan dan tanah ulayatnya.

Mereka bukan sekadar “korban”. Merekalah subjek utama perjuangan. Dan perjuangan itu tidak berhenti di satu kampung. Tidak berhenti di satu pulau. Ia bisa hidup di mana saja—selama ada yang menjaga, menolak, dan bertahan. Di situlah HATAM berada.

Tonton selengkapnya di Youtube / @ RumahPerlawananJATAM
https://youtu.be/PD-FIwFBpPI



______________
Ikuti informasi lainnya melalui:

TikTok: tiktok.com/
X: x.com/
FB: facebook.com/share/1GquT7ccGv/
Website: jatam.org

Dua dekade berlalu, semburan lumpur Lapindo masih terus menyembur dan meluas daya rusaknya setiap tahun.Kasus ini menjad...
26/05/2026

Dua dekade berlalu, semburan lumpur Lapindo masih terus menyembur dan meluas daya rusaknya setiap tahun.

Kasus ini menjadi wujud nyata bahwa kerusakan yang diakibatkan industri ekstraktif tidak bisa dipulihkan dan beregenerasi dampaknya.

Dalam peringatan HATAM kali ini, warga Sidoarjo akan melakukan Sambang Buyut (Ziarah Leluhur) untuk mengikat kembali persaudaraan warga Porong yang telah diputus Lapindo.

Peringatan ini akan dihadiri rakyat dari berbagai pelosok negeri untuk menyalakan api solidaritas dan membunyikan alarm keras, di tengah perluasan industri ekstraktif, mereka tidak ingin kasus serupa terjadi.

Dari Sidoarjo hingga ke seluruh pelosok negeri, suara rakyat tidak boleh diredam!!!

Mari merapat, bergerak, dan bersuara bersama dalam rangkaian peringatan Hari Anti Tambang (HATAM) 2026. Kita teguhkan kembali hak veto rakyat atas ruang hidupnya!

🗓️ Jumat – Sabtu, 29 & 30 Mei 2026
⏰ 09.00 WIB – Selesai
📍 Taman Dwarakerta, Jatirejo, Sidoarjo

Akan ada banyak ruang solidaritas dan ekspresi budaya:
🌾 Pasar Rakyat & Kuliner UMKM
🎨 Pameran Karya & Foto Perlawanan (2006-2026)
🎭 Ludrukan & Panggung Rakyat
🎬 Nonton Bareng & Diskusi Film
🖌️ Workshop Melukis (Biennale Jogja) & Live Mural
🗣️ Diskusi Publik

Suaramu, kehadiranmu, dan solidaritasmu adalah bagian dari perlawanan ini. Sampai jumpa di lokasi!

24/05/2026

Di tengah gempuran narasi tragedi Lapindo yang kerap dipelintir, warga penyintas tragedi lumpur Lapindo memilih jalan sunyi yang berani: mereka merawat ingatan, rasa sakit, dan kehancuran sebagai senjata pemungkas untuk bertahan dan menuntut keadilan.

Bagi para korban, memahami tubuh mereka sebagai arsip hidup adalah cara mutakhir untuk melawan lupa dan menolak kepunahan sejarah.

Momen berharga ini terekam dalam Diskusi Publik (21 Mei 2026) di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Forum ini menjadi ruang sinergi yang diisi oleh aktivis, civitas akademik, dan masyarakat lokal yang bahu-membahu membongkar kembali fakta yang berusaha ditenggelamkan.

Tonton cuplikan diskusinya sampai habis, dan mari bersuara di kolom komentar!

DARI LAPINDO KE SELURUH PULAU: MENGHADANG EKSTRAKTIVISME, MENEGUHKAN VETO RAKYAT!​Dua dekade berlalu, namun ingatan Trag...
19/05/2026

DARI LAPINDO KE SELURUH PULAU: MENGHADANG EKSTRAKTIVISME, MENEGUHKAN VETO RAKYAT!

​Dua dekade berlalu, namun ingatan Tragedi Lumpur Lapindo tidak pernah pudar. Apa yang terjadi di Porong, Sidoarjo bukan bencana alam, melainkan alarm keras gurita ekstraktivisme yang terus mengancam ruang hidup rakyat di berbagai pelosok.

​Dalam rangka memperingati Hari Anti-Tambang (HATAM) 2026, mari bersama-sama merapatkan barisan, merawat ingatan, dan meneguhkan hak veto rakyat atas tanah dan ruang hidup!

​Catat tanggalnya:

🗓️ Jumat & Sabtu, 29–30 Mei 2026
📍 Porong, Sidoarjo, Jawa Timur

​Akan ada serangkaian kegiatan ruang budaya dan ruang belajar bersama:
- Diskusi Publik
- Workshop Lukis & Live Mural
- Pameran Foto, Artwork Ilustrasi, & Gambar karya Anak-Anak
- Sambang Buyut (Ziarah Leluhur)
- Pemutaran Film
- Pasar Rakyat
- Panggung Rakyat


​Solidaritas tidak boleh berhenti di media sosial. Mari hadir secara langsung, berdiskusi, bergerak, dan bersuara bersama warga korban Lapindo serta para pejuang lingkungan dari seluruh penjuru pulau.

Kosongkan jadwalmu akhir Mei ini, karena kehadiranmu adalah bagian dari perlawanan!



*Menggambar Ingatan, Menggambar Perlawanan*20 tahun bukan waktu yang singkat untuk merawat luka. Tragedi Lapindo di Poro...
14/05/2026

*Menggambar Ingatan, Menggambar Perlawanan*

20 tahun bukan waktu yang singkat untuk merawat luka. Tragedi Lapindo di Porong adalah monumen kebengisan yang dipaksa lupa oleh penguasa, tetapi ingatan kolektif kita adalah senjata yang tak bisa mereka sita.

Kami mengundang kawan-kawan untuk menolak lupa melalui karya. Jangan biarkan ingatan kita tumpul. Tuangkan apa yang ada di kepala kalian ke dalam kanvas, digital maupun kertas:

Apa yang kalian ingat tentang Porong?

Kehancuran apa yang sedang mengintai kampungmu?

Mari bergerak. Jadikan seni sebagai garis depan perlawanan.
Kirimkan karya visualmu sebagai bentuk solidaritas dan perlawanan.



Address

Graha Krama Yudha, Lantai 4 Unit B, No 43
Jakarta
12760

Opening Hours

09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JATAM posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to JATAM:

Share