24/10/2025
Indonesia Krisis Literasi Membaca
Literasi membaca adalah kunci keberhasilan pembangunan: pendidikan, SDM, semua sektor kehidupan, SDG 2030, dan landasan menjadi negara maju. Indonesia dalam waktu lebih 80 tahun, sukses meningkatkan literasi tetapi mengalami krisis literasi membaca. Pada tahun 1945, literasi 5% dari penduduk 64.9 juta, meningkat menjadi 96% dari 285.7 juta pada tahun 2025. Namun dalam kenyataan literasi membaca anak-anak dan orang dewasa masih menjadi tantangan perlu menjadi prioritas nasional.
Survei internasional EIA (2006-2011), PIRL anak 10 th rendah; OECD ( 2001-2022), PISA anak 15 th rendah; OECD (2014-2015) PIAAC orang dewasa 15-65 th rendah. Berbagai strategi dan program Kementerian Pendidikan,Kebudayaan, Ristek, danTeknologi (Kemendikbudristek) termasuk kurikulum merdeka belajar; alokasi anggaran 20% APBN, riset dan distribusi buku melalui Kemendikbudrisstek dan PerpustakaanNasional. Banyak lembaga non pemerintah membantu meningkatkan literasi membaca, tetapi literasi membaca masih menjadi massalaah. Kondisi ini berakibat semua tingkat pendidikan mulai dari PAUD ( 0-6), Pendidikan Dasar (7-15), Menengah (16-18),dan PT (19-24) mutu terbatas. Anak PAUD guru, dan orang tua kurang keterampilan pengenalan sistem suara bahasa (phonemic awareness) dan prinsip (alphabet phonics) sehingga masuk SD dan SLTP kurang memiliki keterampilan literasi membaca. Selanjutnya siswa SLTA belum memiliki keterampilan membaca komphrehensip. Pada Perguruan Tinggi mahasiswa belum menjadi pembaca komphensip dan profisien sehingg mengalami kesulitan mengikuti program pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat. Ini menjadi salah satu sebab mutu PT berada pada ranking rendah (QS, THE 2025).
Mengapa literasi baca rendah? Sebab masalah bukan hanya berada pada aspek social budaya dan akses sumber daya termasuk buku, kurikulum tetapi ada kekurangan informasi dalam mengambil keputusan strategis dan operasional.
Bagaimana meningkatkan literasi membaca? Strategi dan program meningkatkan literasi baca tidak hanya menyediakan kurikulum, buku dan materi bacaan, guru, pustakawan, dan perpustakaan tetapi memerlukan berbagai informasi berbasis bukti, termasuk ilmu tentang membaca (“Science of reading”).
Apa Itu Science of Reading
Science of Reading adalah hasil penelitian dasar lebih dari 40 tahun di bidang neurosains, psikologi kognitif, dan pendidikan Bahasa daari berbagai Bahasa di dunia. Membaca adalah proses kognitip memahami tulisan kata, suara, arti dan kontek kata yang terjadi didalam otak. Proses otak membaca untuk membangun lima keterampilan anak mengenali suara kata (44), menghubungkan hurf dan suara (26 huruf besar dan kecil), lancar membaca, memahami kata dan arti, memahami isi kaalimat, paragraph,teks , bacaan untuk pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sosial. Apalah SoR berlaku untuk Bahasa Indonesia, jelas berlku karena mempelajari Bahasa memerlukan keterampilan
Merumuskan strategi dan program meningkatkan literasi membaca, memerlukan berbagai informasi yang menjadi peluang dan tantangan global, nasional, dan lokal. Selain itu memerlukan informasi kekuatan dan kelemahan nasional, dan lokal. Kita memerlukan pelajaraan dari negara negara berhasil maupun gagal meningkatkaan literasi membaca. USA dan Australia walapun ranking PIRLS, PISA, dan PIAAC berada pada ranking tinggi,USA baru mulai program mengatassi literasi baca tahun 2020,semasa Presiden Bush. Australia baru mengatasi krisi membaca pada tahun 2024. Banyak negara-negara lain yang mengalami iu sama sehingga Bangun Indonesia Foundation , kolaborasi Codellabs Indonesia, dan PEPSILI merencanakan konferensi International dengan Tema “Strategy and Program for Enhancing Reading Literacy”
Fundamental for Becoming a Developed Country. Jakarta, 20–25 July 2026