Ranting NU Bukit pemuatan

Ranting NU Bukit pemuatan Ranting NU desa Bukit pemuatan baru berdiri dan masih
dalam pengembangan

23/08/2026

"Dalam belajar agama, semangat saja tidak cukup. Kita butuh kejelasan dari mana ilmu itu didapat."

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dan berdiri tegak di atas tradisi sanad keilmuan yang jelas, teruji, dan bersambung tak terputus melalui para ulama Nusantara hingga ke Rasulullah SAW.

Bagaimana keistimewaan sanad ilmu di lingkungan NU? Mengapa kita tidak boleh sembarangan memilih guru?

Dengarkan penjelasan tegas dan bernas dari KH. Said Aqil Siradj yang membedah kekuatan silsilah keilmuan para kiai kita. "Silakan cek sanad keilmuan Nahdlatul Ulama!

*Akhir Zaman: Syiar Agama Butuh Finansial Kuat.*Di akhir zaman, syiar agama tidak hanya butuh ilmu, tetapi juga kemandir...
17/07/2026

*Akhir Zaman: Syiar Agama Butuh Finansial Kuat.*

Di akhir zaman, syiar agama tidak hanya butuh ilmu, tetapi juga kemandirian ekonomi.

Kaum muslimin yang kaya memiliki peran strategis untuk mendanai dakwah, membangun fasilitas umat, dan menjaga kedaulatan umat dari ketergantungan pihak lain.

Kekayaan yang berkah di tangan orang shaleh adalah senjata terkuat untuk menjaga kemuliaan agama di tengah gempuran fitnah zaman.

Hal ini sdh di sabdakan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam ;

إِذَا كَانَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ لَا بُدَّ لِلنَّاسِ فِيهَا مِنَ الدَّرَاهِمِ وَالدَّنَانِيرِ يُقِيمُ الرَّجُلُ بِهَا دِينَهُ وَدُنْيَاهُ

Di akhir zaman, manusia benar² membutuhkan uang (dirham dan dinar) untuk menegakkan urusan agama dan dunia mereka.

Sehingga para ulama mengatakan:

مَنْ أَحَبَّ الْمَالَ لِحُبِّ الدِّينِ فَقَدْ صَدَقَ اللهُ فِي إِيمَانِهِ

Siapa yang mencintai atau mencari harta demi membela agama, maka ia benar² iman kepada Allah subhanahu wa ta'ala .

Bahkan Imam Mawardi berkata:

قَالَ المَاوَرْدِيُّ: وَكَانَ يُقَالُ الدَّرَاهِمُ مَرَاهِمُ لِأَنَّهَا تَدَاوِي كُلَّ جُرْحٍ وَيَطِيبُ بِهَا كُلُّ صُلْحٍ.

Uang sering kali menjadi obat, karena dapat menyembuhkan segala luka (kesulitan) dan mendamaikan setiap masalah.

Dalam sebuah Syair juga dikatakan:

رَأَيْتُ النَّاسَ قَدْ مَالُوا إِلَى مَنْ لَهُ الْمَالُ ○ وَمَنْ لَيْسَ لَهُ الْمَالُ النَّاسُ عَنْهُ مَالُوا.

Aku melihat manusia cenderung (hormat dan mendekat) kepada orang yang punya harta. Sebaliknya, orang yang tidak memiliki harta, dijauhi dan ditinggalkan oleh manusia.

Saya doakan.. Smg sahabat yang membaca tulisan saya ini semua kaya², rejeki melimpah dan bisa membantu perjungan agama Islam.

*Sumber: Kitab Faidhul Qadir juz 1 hal 526.*

08/07/2026

08/07/2026

Lokasi Muktamar ke 35 di tambak beras Jombang

*MUKTAMAR NU DARI MASA KE MASA**_Pertama sampai MUKTAMAR ke 34, berdasarkan Lokasi, Tahun, Rois 'Aam dan Ketua Umum PBNU...
08/07/2026

*MUKTAMAR NU DARI MASA KE MASA*

*_Pertama sampai MUKTAMAR ke 34, berdasarkan Lokasi, Tahun, Rois 'Aam dan Ketua Umum PBNU_*

1. Surabaya 1926 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Hasan Gipo
2. Surabaya 1927 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Hasan Gipo
3. Surabaya 1928 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Hasan Gipo
4. Semarang 1929 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
5. Pekalongan 1930 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
6. Cirebon 1931 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
7. Bandung 1932 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
8. Jakarta 1933 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
9. Banyuwangi 1934 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
10. Surakarta 1935 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
11. Banjarmasin 1936 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Ahmad Noor
12. Malang 1937 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Mahfuzh Siddiq
13. Banten 1938 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Mahfuzh Siddiq
14. Magelang 1939 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Mahfuzh Siddiq
15. Surabaya 1940 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Mahfuzh Siddiq
16. Banyumas 1946 K.H. M Hasyim Asy'ari - K.H. Nahrawi Thohir
17. Madiun 1947 K.H. A. Wahab Hasbullah - K.H. Nahrawi Thohir
18. DKI Jakarta 1948 K.H. A. Wahhab Hasbullah - K.H. Nahrawi Thohir
19. Palembang 1951 K.H. A. Wahhab Hasbullah - K.H. A. Wahid Hasyim
20. Surabaya 1954 K.H. A. Wahhab Hasbullah - K.H. Muhammad Dahlan
21. Medan 1956 K.H. A. Wahhab Hasbullah - Dr. K.H. Idham Chalid
22. DKI Jakarta 1959 K.H. A. Wahhab Hasbullah - Dr. K.H. Idham Chalid
23. Surakarta 1962 K.H. A. Wahhab Hasbullah - Dr. K.H. Idham Chalid
24. Bandung 1967 K.H. A. Wahhab Hasbullah - Dr. K.H. Idham Chalid
25. Surabaya 1971 K.H. Bisri Syansuri - Dr. K.H. Idham Chalid
26. Semarang 1979 K.H. Bisri Syansuri - Dr. K.H. Idham Chalid
27. Situbondo 1984 K.H. Ahmad Siddiq - K.H. Abdurrahman Wahid
28. Yogyakarta 1989 K.H. Ahmad Siddiq - K.H. Abdurrahman Wahid
29. Tasikmalaya 1994 K.H. Ilyas Ruhiat - K.H. Abdurrahman Wahid
30. Kediri 1999 K.H. M. A. Sahal Mahfuzh - K.H. A. Hasyim Muzadi
31. Surakarta 2031 Surakarta 2004 K.H. M. A. Sahal Mahfuzh - K.H. A. Hasyim Muzadi
32. Makassar 2010 K.H. M. A. Sahal Mahfuzh - Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A.
33. Jombang 2015 K.H. Ma'ruf Amin - Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A.
34. Lampung 2021 K.H. Miftachul Akhyar - K.H. Yahya Cholil Staquf
35. ........................

𝐃𝐞𝐟𝐢𝐧𝐢𝐬𝐢 𝐊𝐲𝐚𝐢, 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐭 𝐊𝐲𝐚𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐊𝐲𝐚𝐢 (𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐇𝐚𝐬𝐲𝐢𝐦 𝐀𝐬𝐲'𝐚𝐫𝐢)Belakangan ini, hati kita disayat oleh kasus asusila yang ...
10/06/2026

𝐃𝐞𝐟𝐢𝐧𝐢𝐬𝐢 𝐊𝐲𝐚𝐢, 𝐌𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐭 𝐊𝐲𝐚𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐏𝐚𝐫𝐚 𝐊𝐲𝐚𝐢 (𝐌𝐛𝐚𝐡 𝐇𝐚𝐬𝐲𝐢𝐦 𝐀𝐬𝐲'𝐚𝐫𝐢)

Belakangan ini, hati kita disayat oleh kasus asusila yang mencoreng institusi pesantren. Masyarakat pun bingung dan rancu: siapa sebenarnya yang layak disebut Kiai? Kita sering terjebak bungkus—melihat orang punya pesantren, punya status sosial tinggi di masyarakat, atau fasih berceramah, langsung otomatis kita sematkan gelar "Kiai"

Padahal, tidak semua orang yang memiliki pondok atau berstatus ketokohan di masyarakat itu adalah Kiai. Gelar Kiai bukanlah pangkat struktural, bukan jabatan warisan, dan jelas bukan sekadar legalitas kepemilikan sebuah lembaga.

✅ Kiai itu identik dengan orang alim yang lurus, yang perilakunya mencerminkan kedalaman ilmunya ('amilina bi'ilmihim), dan menjadi pengejawantahan nyata dari predikat warasatul anbiya—pewaris para nabi.

Karena mewarisi sifat-sifat nabi inilah, seorang Kyai sejati memiliki otoritas moral dan ruhani yang membuatnya berhak dan layak dimuliakan oleh umat.

Untuk menjernihkan kerancuan ini, mari kita buka kembali kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadlratussyaikh Mbah KH M Hasyim Asy’ari. Beliau menegaskan :

جَمِيْعُ مَا ذُكِرَ مِنْ فَضْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ إِنَّمَا هُوَ فِيْ حَقِّ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ بِعِلْمِهِمِ الْأَبْرَارِ الْمُتَّقِيْنَ الَّذِيْنَ قَصَدُوْا بِهِ وَجْهَ اللهِ الْكَرِيْمِ وَالزُّلْفَى لَدَيْهِ بِجَنَّاتِ النَّعِيْمِ، لَا مَنْ قَصَدَ بِهِ أَغْرَاضًا دُنْيَوِيَّةً مِنْ جَاهٍ أَوْ مَالٍ أَوْ مُكَاثَرَةٍ فِي الْأَتْبَاعِ وَالتَّلَامِيْذِ

"Semua keutamaan ilmu dan pemiliknya... sesungguhnya hanya berlaku bagi para ulama yang mengamalkan ilmunya, yang baik perilakunya, lagi bertakwa, yang mengharapkan ridho Alloh... Bukan bagi orang yang berniat mencari tujuan-tujuan duniawi, seperti kedudukan, harta, atau memperbanyak pengikut dan murid."

Menurut Mbah KH M Hasyim Asy'ari : Kemuliaan ilmu dan penghormatan terhadap ahlul Ilmi, dibatasi oleh dua syarat utama:

1. Al- A’milina bi’ilmihim & Al-Abrar Al-Muttaqin: Mengamalkan ilmunya, memilki perilaku yang baik menurut "Syari'at" serta bertakwa (menjalani perintah Alloh dan menjauhi larangannya). Antara ucapan, pengetahuan, dan tindakan harus selaras.

2. "Li wajhillahil Karim".. Niat dan tujuannya murni hanya mencari ridho Alloh, bukan demi kepentingan duniawi.

Mbah KHM Hasyim Asy'ari dengan tegas mengatakan "Laa!" (Bukan!) bagi mereka yang menggunakan jubah agama atau statusnya demi aghrodh dun_yawiyyah—mengejar tujuan-tujuan duniawi, baik berupa jabatan (jah), menumpuk harta (mal), atau sekadar bangga karena punya banyak santri/pengikut (mukatsaratan fil atba’).

Jadi, jika ada oknum tokoh atau pemilik pesantren yang justru merusak kehormatan santrinya (berbuat asusila) dan melanggar syariat, Dia "Bukanlah Kiai !". Dia hanyalah orang yang cuma memiliki pesantren, majelis taklim atau status di masyarakat, tetapi jiwanya kosong dari hakikat pewaris nabi.

Jangan kaburkan keluhuran definisi Kiai yang "Menjadi Panutan dan berhak dimuliakan" akibat ulah segelintir oknum yang menuruti syahwat kebinatangannya sendiri.

Yuk, kita lebih cerdas !. Jangan mudah silau oleh kemegahan fisik pesantren, majunya manajemen atau seabrek prestasi duniawi belaka.

Kiai sejati itu menuntun dan mengayomi dengan ilmu dan ketakwaan, bukan memanfaatkan santri demi kepentingan duniawi, apalagi untuk penyaluran Nafsu Birahi,

"Wal 'Iyaadzu Billaah".

SANAD KE ILMUAN NAHDLATUL ULAMA (NU) Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:1. Aqidah(tauhid)2. Syariah (fiqh)3. A...
09/06/2026

SANAD KE ILMUAN NAHDLATUL ULAMA (NU)

Keilmuan dalam Islam terbagi menjadi 3 yaitu:
1. Aqidah(tauhid)
2. Syariah (fiqh)
3. Akhlak (Tasawuf)

Kesemuanya itu mempunyai sanad yang tsiqah sampai ke Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Nahnu ashhabul haq fiddini wassiyasi.

SANAD AQIDAH ASY'ARIYYAH ANNAHDLIYYAH

Para ulama Tanah Air, seperti Khadrotussyeh KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Abubakar Utsman bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi al-Husaini asy-Syafi’i (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanawani asy-Syafi’i (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
Syaikh Isa bin Ahmad al-Barawi az-Zubairi asy-Syafi’i (w. 1182 H/1768 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad ad-Dafari asy-Syafi’i (w. setelah 1161 H/ M), dari gurunya
Syaikh Salim bin Abdullah al-Bashri asy-Syafi’i (w. 1160 H/1747 M), dari gurunya
Syaikh Abdullah bin Salim al-Bashri al-Makki asy-Syafi’i (1048-1134 H/1638-1722 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin al-‘Ala’ al-Babili asy-Syafi’i al-Azhari (1000-1077 H/1591-1666), dari gurunya
Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Ghunaimi (964-1044 H/1557-1634 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
Syaikh al-Islam, Qadhi al-Qudhat Zainuddin Abu Yahya Zakariya bin Muhammad al-Anshari (826-926 H/1423-1520 M), dari gurunya
Al-Hafidz Taqiyyuddin Muhammad bin Muhammad bin Fahad al-Makki asy-Syafi’i al-‘Alawi al-Hasyimi (787-871 H/1385-1466 M), dari gurunya
Syaikh Majduddin Abu Thahir Muhammad bin Ya’qub al-Lughawi asy-Syirazi al-Fairuzabadi (729-817 H/1329-1415 M), dari gurunya
Al-Hafidz Sirajuddin Umar bin Ali al-Qazwini (683-750 H/1284-1349 M), dari gurunya
Al-Qadhi Abubakar Muhammad bin Abdullah al-Taftazani, dari gurunya
Syarafuddin Abubakar Muhammad bin Muhammad al-Harawi, dari gurunya
Syaikh Fakhruddin Muhammad bin Umar ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M), dari gurunya
Syaikh Dhiyauddin Umar bin al-Husain ar-Razi (hidup sebelum 559 H/1164 M), dari gurunya
Syaikh Abu al-Qasim Salman bin Nashir bin Imran al-Anshari al-Arghiyani (w. 512 H/1118 M), dari gurunya
Imam al-Haramain Dhiyauddin Abu al-Ma’ali Abdul Malik bin Abdullah al-Juwaini (419-478 H/1028-1085 M), dari gurunya
Al-Ustadz Abu al-Qasim Abdul Jabbar bin Ali bin Muhammad bin Haskan al-Asfarayini al-Iskaf (w. 452 H/1034 M), dari gurunya
Ruknuddin al-Ustadz Abu Ishaq al-Asfarayini (w. 418 H/1027 M), dari gurunya
Syaikh al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Bahili, dari gurunya
Syaikh as-Sunnah, Imam al-Mutakallimin Abu al-Hasan al-Asy’ari (270-330 H/883-947 M), dari gurunya
Al-Hafidz Zakariya as-Saji (220-307 H), dari gurunya
Imam Rabi’ al-Muradi (w. 270), dari gurunya
Imam al-Muzani (w. 264 H), dari gurunya
Imam Muhammad bin Idris bin Syafi’ (w. 204), dari gurunya
Imam Malik bin Anas, dari gurunya
Imam Nafi’, dari gurunya
Sahabat Ibnu Umar Ra., dari
Sayyidina Rasulullah Saw.
Ibnu Qadhi Syuhbah menjelaskan bahwa Imam al-Asy’ari berguru kepada Syaikh Zakariya as-Saji, beliau dari Rabi’ dan al-Muzani, keduanya adalah murid Imam asy-Syafi’i. Dari al-Hafidz Zakariya as-Saji inilah Imam al-Asy’ari mengutip riwayat dalam madzhab Ahlussunnah. (Lihat dalam Thabaqat asy-Syafi’iyyah juz 1 hal. 7)

SANAD AQIDAH MATURIDIYYAH ANNAHDLIYYAH

Para ulama Tanah Air, seperti Khadrotussyeh KH. M. Hasyim Asy’ari Jombang, KH. Nawawi bin Nur Hasan Pasuruan, KH. Muhammad Baqir Yogyakarta, KH. Abdul Wahhab Hasbullah Jombang, KH. Bisri Syansuri, KH. Baidhawi bin Abdul Aziz Lasem, KH. Ma’shum bin Ahmad Lasem, KH. Muhammad Dimyathi Termas, KH. Shiddiq bin Abdullah Jember, KH. Muhammad Faqih bin Abdul Jabbar Maskumambang, KH. Abbas Buntet Cirebon dan lain-lain. Para beliau ini berguru kepada:
Syaikh Muhammad Mahfudz bin Abdullah at-Tarmasi (1285-1338 H/1868-1920 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Abubakar bin Muhammad Syatha ad-Dimyathi (w. 1310 H/1892 M), dari gurunya
Syaikh as-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (1231-1304 H/1816-1886 M), dari gurunya
Syaikh Utsman bin Hasan ad-Dimyathi, dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Ali asy-Syanwani (w. 1233 H/1818 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Hasan al-Munir as-Samanudi asy-Syafi’i (1099-1199 H/1688-1785M), dari gurunya
Burhanuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Budairi al-Husaini ad-Dimyathi al-Asy’ari asy-Syafi’i, populer dengan sebutan Ibn al-Mayyit (w. 1131 H/1719 M), dari gurunya
Burhanuddin Abu al-‘Irfan al-Mulla Ibrahim bin Hasan al-Kurani (1025-1101 H/1616-1690 M), dari gurunya
Syaikh Ahmad bin Muhammad bin Yunus al-Qusyasyi ad-Dajani al-Husaini (991-1071 H/1583-1661 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Ahmad ar-Ramli (919-1004 H/1513-1596 M), dari gurunya
Syaikh al-Islam Zakariya al-Anshari (826-926 H/1423-1520), dari gurunya
Al-Hafidz Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M), dari gurunya
Syaikh Syamsuddin Muhammad al-Qurasyi, dari gurunya
Syaikh Abu Muhammad Abdullah bin Hajjaj al-Kasyqari, dari gurunya
Syaikh Hisyamuddin Husain bin Ali as-Saghnaqi (w. 711 H/1311 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Muhammad bin Nashr an-Nasafi (w. 693 H/1294 M), dari gurunya
Al-Hafidz Najmuddin Umar bin Muhammad an-Nasafi (461-537 H/1068-1142 M), dari gurunya
Al-Qadhi Shadrul Islam Abu al-Yusr Muhammad bin Muhammad bin Husain al-Bazdawi (421-493 H/1030-1100 M), dari gurunya
Syaikh Muhammad bin Husain al-Bazdawi, dari gurunya
Syaikh Husain bin Abdu Karim al-Bazdawi, dari gurunya
Syaikh Abu Muhammad Abdul Karim bin Musa bin Isa al-Bazdawi (w. 390 H/1000 M), dari gurunya
Imam Abu Manshur al-Maturidi (w. 333 H/945 M).
Demikian mata rantai sanad madzhab al-Asy’ari dan madzhab al-Maturidi yang sampai kepada guru-guru kita, para tokoh pendiri organisasi Nahdlatul Ulama. Selain sanad di atas, masih banyak jalur-jalur lain yang menyambungkan mata rantai akidah Ahlussunnah wal Jama’ah kepada para ulama terdahulu, hingga kepada Rasulullah Saw.

Alhamdulillah bisa ketemu beliau Ustadz khomsin. Di acara rutinan selapanan NU di Desa pinang belai.
09/06/2026

Alhamdulillah bisa ketemu beliau Ustadz khomsin. Di acara rutinan selapanan NU di Desa pinang belai.

Repost kegiatan.
28/05/2026

Repost kegiatan.

20/05/2026

Banyak yang bertanya tentang masalh ini.

Address

Desa Bukit Pemuatan Kecamatan Serai Serumpun Kabupaten Tebo
Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ranting NU Bukit pemuatan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share