WALHI Papua

WALHI Papua WALHI Papua

PESAN DIREKTUR WALHI PAPUAMAIKEL PEUKITerima kasih kepada para penjaga hutan.Terima kasih kepada para penjaga laut.Terim...
11/08/2026

PESAN DIREKTUR WALHI PAPUA
MAIKEL PEUKI

Terima kasih kepada para penjaga hutan.
Terima kasih kepada para penjaga laut.
Terima kasih kepada para pejuang masyarakat adat.
Dan terima kasih kepada semua pihak yang terus berjuang menjaga alam dan kehidupan.

Mari kita bersama-sama menjaga hutan, laut, sumber kehidupan, bahasa, dan budaya. Karena menjaga alam berarti menjaga kehidupan, identitas, dan masa depan generasi kita.

Pada momentum Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia, 9 Agustus 2026, mari kita memperkuat komitmen untuk menghormati hak-hak masyarakat adat dan melindungi ruang hidup mereka dari berbagai ancaman.

Selamat Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia.

Salam Adil dan Lestari. 🌿🌊✊

Maikel Peuki
Direktur WALHI Papua

08/08/2026

Stand Walhi Papua di Jayapura 2026

Papua Pegunungan Mengering: Ketika Krisis Iklim Mulai Mengancam Ruang Hidup MasyarakatHampir sebulan terakhir, masyaraka...
04/08/2026

Papua Pegunungan Mengering: Ketika Krisis Iklim Mulai Mengancam Ruang Hidup Masyarakat

Hampir sebulan terakhir, masyarakat di sejumlah wilayah Papua Pegunungan menghadapi kondisi cuaca yang semakin panas dan kering. Tanaman mulai mengering, tumbuhan kehilangan kelembapan, sumber air menurun, sementara risiko kebakaran hutan dan lahan semakin meningkat. Di tengah kondisi tersebut, masyarakat mulai merasakan bahwa perubahan cuaca bukan lagi sekadar persoalan alam, tetapi telah menyentuh langsung kehidupan sehari-hari.

BMKG telah mengingatkan adanya indikasi perkembangan El Niño pada 2026. Fenomena ini dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di Indonesia dan meningkatkan risiko kekeringan meteorologis serta kebakaran hutan dan lahan. BMKG juga memproyeksikan sebagian wilayah Papua mengalami puncak musim kemarau pada Agustus, sementara Papua Pegunungan bagian tengah diperkirakan memasuki puncak kemarau pada September.

Namun, pemerintah tidak boleh menjadikan El Niño sebagai alasan untuk sekadar menunggu hujan kembali. Kekeringan harus diperlakukan sebagai krisis yang membutuhkan respons cepat. Ketika tanaman pangan mengering, masyarakat petani kehilangan sumber penghidupan. Ketika mata air menyusut, kebutuhan air bersih menjadi persoalan. Ketika hutan mengering, satu percikan api dapat berubah menjadi kebakaran yang mengancam kebun, rumah, hutan adat, dan kehidupan masyarakat.

Papua Pegunungan memiliki kondisi geografis dan ekologis yang sangat rentan. Karena itu, pemerintah provinsi dan kabupaten harus segera memetakan wilayah terdampak, memastikan ketersediaan air bersih, membantu petani yang mengalami gagal tanam atau gagal panen, memperkuat pencegahan kebakaran, serta melindungi kawasan hutan dan lahan masyarakat dari ancaman kebakaran. Pemerintah tidak boleh menunggu sampai masyarakat kehilangan pangan dan rumah baru kemudian bertindak.

Krisis ini juga menjadi pengingat bahwa perlindungan lingkungan bukan agenda tambahan. Hutan yang sehat adalah penyimpan air; tanah yang terlindungi adalah sumber pangan; dan lingkungan yang terjaga adalah perlindungan pertama bagi masyarakat.



Ketika Perempuan Adat Menjaga Mangrove, Negara Justru Membiarkan Ancamannya DatangPerempuan adat Enggros telah menunjukk...
04/08/2026

Ketika Perempuan Adat Menjaga Mangrove, Negara Justru Membiarkan Ancamannya Datang

Perempuan adat Enggros telah menunjukkan bahwa menjaga hutan bukan sekadar kewajiban adat, tetapi bentuk tanggung jawab terhadap kehidupan. Kini giliran negara membuktikan keberpihakannya. Sebab apabila mangrove terus dibiarkan hilang, yang sesungguhnya sedang terkubur bukan hanya akar-akar pohon di pesisir Teluk Youtefa, melainkan juga masa depan generasi Papua.


🌱☘️

Hari kedua Eastern Indonesia International Conference (EIIC) 2026 berlanjut di Hotel Aryaduta Makassar melalui lima sesi...
27/07/2026

Hari kedua Eastern Indonesia International Conference (EIIC) 2026 berlanjut di Hotel Aryaduta Makassar melalui lima sesi Diskusi Tematik yang membahas isu-isu strategis seputar transisi energi berkeadilan dan tata kelola mineral kritis di Indonesia Timur.

PTUN Jayapura Bukan Sekadar Mengadili Sebuah SK. PTUN Sedang Menguji Keberpihakan Negara terhadap Masyarakat Adat.Di bal...
27/07/2026

PTUN Jayapura Bukan Sekadar Mengadili Sebuah SK. PTUN Sedang Menguji Keberpihakan Negara terhadap Masyarakat Adat.

Di balik gugatan masyarakat adat Suku Malind di PTUN Jayapura, dipertaruhkan lebih dari sekadar dokumen administrasi. Yang dipertaruhkan adalah hutan adat, tanah ulayat, rawa, sumber pangan, identitas budaya, dan masa depan generasi Papua.

Pembangunan tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan hak masyarakat adat. Tanpa persetujuan yang bebas, didahului, dan diinformasikan (FPIC), setiap kebijakan yang mengorbankan tanah ulayat akan terus melahirkan konflik dan krisis ekologis.

WALHI Papua menyerukan:

✊ Hormati hak masyarakat adat Malind.
🌿 Lindungi hutan dan rawa Merauke.
⚖️ Tegakkan keadilan ekologis.
📢 Cabut kebijakan yang mengancam ruang hidup masyarakat adat.

Merauke bukan tanah kosong. Tanah ulayat bukan komoditas investasi. Ketika hutan adat dirampas, yang hilang bukan hanya pepohonan—tetapi identitas, kehidupan, dan masa depan Papua.

PEREMPUAN ADAT MENJAGA, SIAPA YANG MENJAGA MEREKA?Di Kampung Enggros, Kota Jayapura, perempuan adat telah menjaga hutan ...
21/07/2026

PEREMPUAN ADAT MENJAGA, SIAPA YANG MENJAGA MEREKA?

Di Kampung Enggros, Kota Jayapura, perempuan adat telah menjaga hutan mangrove selama turun-temurun. Hutan itu bukan sekadar pepohonan, melainkan sumber pangan, benteng pesisir, penyerap karbon, ruang budaya, dan warisan bagi anak cucu.

Namun hari ini, mangrove Teluk Youtefa terus menghadapi ancaman akibat alih fungsi lahan, penimbunan, dan pembangunan yang menggerus ruang hidup masyarakat adat.

Direktur WALHI Papua, Maikel Primus Peuki, mendesak pemerintah segera melakukan reboisasi kawasan mangrove yang telah hilang, menghentikan alih fungsi kawasan, serta menegakkan hukum terhadap pelanggaran lingkungan di Teluk Youtefa.

"Pemerintah perlu memberikan pengakuan dan perlindungan terhadap Hutan Perempuan dan kawasan konservasi di Youtefa."

Suara yang sama datang dari perempuan adat Enggros.

"Kalau hutan ini dijual atau dirusak, berarti kita sedang membunuh masa depan generasi berikut."
— Petronela, Perempuan Adat Enggros

🌿 Selamatkan Mangrove Teluk Youtefa
🌿 Hormati Hutan Perempuan
🌿 Lindungi Hak Masyarakat Adat
🌿 Tegakkan Hukum Lingkungan

Mangrove yang hilang bukan hanya kehilangan pohon. Kita kehilangan perlindungan dari abrasi, banjir, krisis iklim, dan masa depan Papua.




Cycloop adalah benteng ekologis bagi Tanah Papua. Hutan ini menjaga sumber air, mengurangi risiko banjir dan longsor, me...
13/07/2026

Cycloop adalah benteng ekologis bagi Tanah Papua. Hutan ini menjaga sumber air, mengurangi risiko banjir dan longsor, menopang keanekaragaman hayati, serta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat adat Sentani. Membiarkan Cycloop terus dirambah sama artinya membiarkan ancaman bencana semakin dekat dengan kehidupan masyarakat.

WALHI Papua menegaskan bahwa perlindungan Cycloop bukan sekadar agenda konservasi, melainkan kewajiban negara untuk melindungi hak masyarakat atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana dijamin dalam Pasal 28H Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Tidak boleh ada kompromi terhadap perusakan kawasan konservasi. Menyelamatkan Cycloop berarti menyelamatkan kehidupan masyarakat Papua hari ini dan generasi yang akan datang.



Address

Jakarta
99351

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when WALHI Papua posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to WALHI Papua:

Shortcuts

Share