20/09/2025
Selamat siang, rekan-rekan Studieclub.
Ah, lama Nona Luminol tidak menulis di akun ini. Bingung juga, pekerjaan di Bikini Bottom begitu melelahkan, sampai2 tak ada waktu untuk mengisi rubrik di sini.
Saya dengar, polisi di Indonesia sana menerbitkan konferensi pers terkait aksi kerusuhan kemarin. Barang bukti yang dipamerkan, selain botol berisi bensin, juga ada buku2 kiri.
Nona Luminol melihat ada beberapa buku yang familiar, seperti Pramoedya, Oscar Wilde, Ted, dan beberapa buku terkait anarkisme.
Praktik seperti ini bukan barang baru. Beberapa tahun lalu, buku2 dari aliran kiri sempat disita, karena diduga dapat menyebarkan ideologi yang berbahaya.
Pandangan Nona sama seperti warganet lain, melihat bahwa buku2 ini sekadar dikumpulkan begitu saja, dan belum sempat dibaca lebih jauh.
Kalau mereka sempat membaca buku2 itu lebih dalam, mereka mungkin akan sadar, bahwa mereka adalah bagian dari penguasa alat untuk melakukan kekerasan. Mereka adalah bagian dari "establishment."
Buku2 seperti ini, jika ditelaah, sebenarnya mendorong pembaca ya untuk melihat bagaimana negara menciptakan "establishment," dan mempertahankannya dengan alat2 kekerasan.
Sebagai seorang "masyarakat tanpa negara," kehadiran "establishment" hanya akan menciptakan penderitaan kepada kelas pekerja. Ia harus dibongkar, dibangun kembali sehingga seluruh masyarakat bisa berdiri tanpa adanya kelas.
Nona Luminol tahu, tidak banyak orang Indonesia yang takut dengan buku2 kiri, seperti pada masa kekuasaan Sang Jenderal Murah Senyum itu. Hanya, memang, disayangkan saja, ini terjadi lagi ...
- Luminol