Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia-PMKRI

Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia-PMKRI Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia-PMKRI, Youth Organization, Jakarta.

Buku Karya Franz Magnis-Suseno Turut Disita "Ternyata tersangka GLM saat kami lakukan penggeledahan ditemukan buku-buku ...
24/09/2025

Buku Karya Franz Magnis-Suseno Turut Disita

"Ternyata tersangka GLM saat kami lakukan penggeledahan ditemukan buku-buku bacaan berpaham anarkisme" (Kombes Widi Atmoko, Direktur Reskrimum Polda Jatim)

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Kepolisian Daerah Jawa Timur (Polda Jatim) mengamankan sejumlah buku dari tersangka kerusuhan Surabaya dan Sidoarjo. Salah satunya buku tentang pemikiran Karl Marx karya Franz Magnis Suseno.

Buku karya profesor yang akrab disapa Romo Magnis itu diamankan polisi dari tersangka GLM (24 tahun), warga Kota Surabaya. Total ada 11 buku yang diamankan polisi saat menggeledah tempat tinggal GLM. Ada juga buku lain tentang anarkisme diamankan dari tersangka lain.

Tak dijelaskan rinci judul lengkap buku karya Romo Magnis yang disita polisi. Tapi karyanya tentang pemikiran Karl Marx yang terkenal dan jadi rujukan dalam khazanah keilmuan ialah Pemikiran Karl Marx, dari Sosialisme Utopis ke Revisionisme, yang diterbitkan Gramedia Pustaka tahun 1999.

Widi mengatakan, penyidik mendalami kemungkinan buku-buku tersebut turut mempengaruhi tersangka dalam berbuat kerusuhan.

"Ini kami dalami dengan adanya buku bacaan ini, apakah berpengaruh terhadap cara pandang seseorang sehingga melakukan tindakan anarkis,” ujarnya.

https://jatim.viva.co.id/kabar/21904-buku-karya-franz-magnis-suseno-turut-disita-polda-jatim-di-kasus-kerusuhan

Razia Buku Makassar: Beraksi karena Sampul Marx

"Saya sendiri menganggap razia itu adalah suatu tanda kebodohan dan kekurangajaran terhadap ilmu pengetahuan. Hanya melihat cover saja tanpa membaca isinya. Justru, siapa pun yang membaca dan mengamalkan buku itu tak akan menganut Marxisme dan Leninisme karena saya mengkritik itu" (Franz Magnis-Suseno, Razia Buku Makassar)

Razia buku yang dilakukan Brigade Muslim Indonesia di Gramedia Trans Mall Makassar, Sulawesi Selatan, disoroti sejumlah kalangan. Razia dilakukan terhadap buku yang dianggap "berpaham komunis dan kiri".

Salah satu buku yang dirazia adalah karya Frans Magnis-Suseno berjudul Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Isi buku itu sebetulnya justru mengkritik Marxisme. Frans Magnis-Suseno merupakan penulis, guru besar filsafat di STF Driyarkara, juga rohaniawan Katolik.

Dalam kata pengantar buku tersebut, pria yang karib disapa Romo Magnis itu menuliskan bahwa melalui buku itu ia ingin membuka pembahasan Marxisme yang tabu dibicarakan masyarakat Indonesia selama lebih kurang 32 tahun di bawah pemerintah Orde Baru.

"Coba menyajikan pemikiran Marx dan mengembangkan pemikiran itu selanjutnya secara objektif dan kritis, dengan tujuan agar pembaca dapat memperoleh orientasi dasar tentang apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Marx serta dengan bantuan untuk mengevaluasikannya," tulis Romo Magnis dalam pengantar buku tersebut.

Magnis pun mengajukan tanggapan dan argumentasi atas teori-teori Karl Marx dalam buku tersebut.

"Karl Marx sendiri mengajukan teori-teorinya, dengan klaim atas kebenaran. Dengan menghormati format intelektual Marx, klaim itu perlu diperiksa dengan tajam," tulisnya lagi.

Magnis mengatakan razia yang dilakukan di Makassar merupakan tindakan yang salah dan tidak dapat dibenarkan. Razia tersebut, kata dia, terlebih dilakukan hanya karena di sampul buku terdapat gambar dan tulisan "Karl Marx".

Magnis menyebut mereka yang merazia buku tak punya maksud dan niat yang bersih. Ini termasuk bagi aparat yang ikut-ikutan merazia buku.

"Mereka hanya ingin menyebarkan ketakutan akan adanya Marxisme di Indonesia. Saya juga mengkritik Marxisme tapi saya tidak ikutan main dengan mereka. Polisi juga jangan ikut main-main harusnya. Jangan ikut-ikut razia," kata dia.

Yang bikin Magnis heran adalah razia itu dilakukan 20 tahun setelah buku Pemikiran Karl Marx terbit dan 17 tahun setelah buku Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikiran Marxisme dari Lenin sampai Tan Malaka terbit.

Menurut Magnis, kedua buku itu sebaiknya dibaca mereka yang merazia, supaya mereka punya dasar untuk menolak Marxisme dan Lenninisme itu sendiri.

"Kritik saya akan ditemukan di dalamnya. Justru kalau buku saya dihilangkan, itu sama saja mendukung PKI kembali muncul karena masyarakat tak bisa memahami dan mengkritik Marxisme," tambahnya.

Peneliti pada Institut Kajian Krisis dan Strategi Pembangunan Alternatif (INKRISPENA), Ken Budha Kusumandaru juga heran dengan kelompok yang merazia buku karya Franz Magniz-Suseno. kata Daru, sapaan akrabnya, buku itu berisi kritik terhadap pemikiran Marxisme.

"Perkara ini memang ruwet. Karena fobia anti-PKI atau anti-Marxisme itu sudah mendarah-daging. Dan semakin orang tak kenal dengan Marxisme atau komunisme, semakin mereka akan memandang pemikiran tersebut sebagai paham liyan," kata Daru saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (6/8/2019).

Sebagaimana pemikiran lainnya, kata Daru, Marxisme punya beragam aliran--yang juga saling berdebat satu sama lain.

"Komunisme hanya salah satu aliran besar di dalamnya. Dan bahkan komunisme itu sendiri bukanlah satu pandangan yang monolitik, interpretasinya bisa beragam," kata Daru.

Oleh karena itu, Daru mengatakan sangat wajar jika Frans Magnis mengkritik pemikiran Marxisme dalam buku yang dirazia itu. Daru sendiri bahkan pernah menulis buku Karl Marx, Revolusi, dan Sosialisme: Sanggahan Terhadap Frans Magnis-Suseno buat menyanggah kritik Magnis.

Menurut Daru, ketidaksepakatan terhadap suatu pemikiran harus disawalakan lewat tulisan atau forum terbuka, dan bukan razia atau pelarangan semata.

"Justru masyarakat harus kenal Marxisme supaya tahu di mana kekuatan dan kelemahannya. Yang baiknya bisa diambil, yang buruk ditolak," ujarnya.

Untuk itu, Daru mengapresiasi pernyataan Menristekdikti Mohamad Nasir yang mempersilakan kampus mengkaji Marxisme secara terbuka.

"Tapi memang harus lebih banyak lagi pernyataan seperti itu," kata dia. "Di samping itu, forum-forum kajian Marxisme harus terus diadakan terbuka. Walau pasti akan di-sweeping, tapi tetap mengadakan forum terbuka akan membiasakan masyarakat untuk menerimanya. Kalau perguruan tinggi mau diajak bekerja sama, akan lebih baik lagi," pungkasnya.

https://tirto.id/razia-buku-makassar-beraksi-karena-sampul-marx-tapi-tak-paham-isi-efLE

Romo Magnis dan Karl Marx

“Saya anggap lucu bahwa mereka membakar buku yang sebetulnya mengritik Marx. Jadi ini peristiwa paling lucu. Mereka tidak bisa membedakan antara orang kiri dan orang yang menulis tentang kiri"
-Franz Magnis-Suseno-

Salah satu yang dikenal dari Romo Franz Magnis-Suseno SJ adalah beberapa bukunya yang terkesan “kiri”.

Tak jarang, banyak yang salah sangka kepada pemikiran-pemikirannya. Sering ia dikira sebagai seorang komunis, karena pemikirannya. Padahal, sebagai seorang Yesuit dan imam Gereja Katolik, sudah tentu ia anti komunis.

Atas kiprahnya dalam pendalaman komunisme, ia pernah berujar, “Saya ini Yesuit. Yesuit punya motto ‘Harus tahu bagaimana lawan berpikir’. Komunisme kami anggap lawan dan paling serius juga lawan Gereja Katolik. Saya sangat anti komunis dan karena itu kami atau saya mempelajarinya,” jelasnya.

Tahun 2001, sebuah aksi aliansi anti-komunis membakar bukunya tentang Karl Marx. Saat itu, Romo Magnis menilai lucu apa yang diperbuat aksi itu. Mereka tidak tahu, bahwa yang mereka bakar sebenarnya berisi tentang kritik pada ajaran Karl Marx. Namun, Romo Magnis menikmati aksi aliansi komunis yang membakar bukunya itu.

“Saya anggap lucu bahwa mereka membakar buku yang sebetulnya mengritik Marx. Jadi ini peristiwa paling lucu. Mereka tidak bisa membedakan antara orang kiri dan orang yang menulis tentang kiri,” ujar Romo Magnis.

Sudah sejak masa pendidikannya, Romo Magnis mendalami komunisme untuk mengetahui dan menemukan alasan mengapa Komunisme harus dilawan. Satu kali, pimpinan aliansi itu pernah datang ke kantor Romo Magnis. Di situ, Romo Magnis berbicara dengan mereka.

“Saya memberikan mereka masing-masing satu eksemplar buku dengan tandatangan saya sambil berpesan, ‘buku ini bisa dipakai untuk bungkus nasi, atau untuk api-api atau bisa juga untuk dibaca. Mereka bilang, kami akan baca. Saya lalu bilang syukur alhamdulillah. Tapi kalau mau bakar juga boleh,” kata Romo Magnis.

Tentu, bagi Romo Magnis membakar buku tidak berarti “membakar” isi buku itu. Pemikiran yang ia tuangkan dalam buku tetap menjadi satu catatan kritis untuk gerakan komunime dan ajaran-ajarannya.

https://penakatolik.com/2025/05/28/dari-dibakar-bukunya-hingga-kesukaannya-naik-gunung-sudah-20-kali-mendaki-gunung-gede-dan-13-kali-gunung-merapi/

Jakarta, 20 September 2025

Address

Jakarta
10110

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia-PMKRI posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share