16/06/2026
[Mengapa Harga Pertamax dan Pertamax Green Disesuaikan?]
Di balik setiap liter BBM yang kita gunakan, terdapat proses panjang untuk memastikan energi tersedia dari kota besar hingga wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) Indonesia. Pertamina tidak hanya bertugas menjual BBM, tetapi juga menjamin pasokan energi bagi lebih dari 280 juta penduduk di ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.
Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan karena keduanya merupakan BBM non-subsidi yang mengikuti harga keekonomian. Kenaikan harga minyak dunia, fluktuasi nilai tukar rupiah, biaya logistik, distribusi antarpulau, hingga investasi infrastruktur energi menjadi faktor yang memengaruhi harga jual BBM tersebut.
Perlu dipahami bahwa biaya menyalurkan BBM ke wilayah kepulauan, pegunungan, dan daerah terpencil sering kali jauh lebih mahal dibandingkan daerah perkotaan. Namun melalui kebijakan satu harga BBM dan penugasan negara, Pertamina tetap hadir untuk memastikan masyarakat di pelosok negeri mendapatkan akses energi yang sama sebagai bagian dari keadilan sosial dan pemerataan pembangunan.
Di sisi lain, masyarakat juga berhak mengawasi agar setiap penyesuaian harga dilakukan secara transparan, efisien, dan berpihak pada kepentingan nasional. Ketahanan energi tidak hanya bergantung pada kemampuan Pertamina menyediakan pasokan, tetapi juga pada tata kelola energi yang akuntabel serta dukungan seluruh elemen bangsa dalam mewujudkan swasembada energi nasional.
Energi bukan sekadar komoditas, tetapi instrumen kedaulatan bangsa. Menjaga pasokannya hingga ke pelosok negeri adalah perjuangan yang harus dihargai, sementara memastikan tata kelolanya tetap berpihak kepada rakyat adalah tanggung jawab bersama.