16/08/2026
Banyak lembaga hampir selalu merayakan ulang tahunnya. Ada angka yang dibanggakan, lilin yang dinyalakan, tepuk tangan yang dipanjangkan, serta pidato-pidato tentang perjalanan, pengabdian, dan masa depan.
Tujuh belas tahun, misalnya, adalah usia yang seharusnya cukup untuk belajar menjadi dewasa. Sudah semestinya sebuah lembaga mampu mengenali kesalahan, menerima kritik, mengoreksi diri, dan memberi ruang kepada mereka yang berbeda pandangan.
Tetapi sering kali, kedewasaan hanya berhenti di atas panggung.
Seremoni digelar. Lilin ditiup. Sesaat semuanya tampak syahdu dan reflektif. Seolah-olah perjalanan panjang telah membawa lembaga itu pada kebijaksanaan.
Padahal, setelah tepuk tangan reda dan kursi-kursi kembali kosong, semuanya kembali seperti biasa.
Yang berbeda tetap dicurigai. Yang kritis dianggap tidak loyal. Yang bertanya terlalu banyak perlahan dipinggirkan. Mereka tidak selalu dipecat atau disingkirkan secara terang-terangan. Cukup dibuat tidak nyaman, tidak dilibatkan, tidak didengar, sampai akhirnya memilih pergi sendiri.
Di situlah ulang tahun kadang berubah menjadi sekadar ritual tahunan untuk merayakan umur, bukan untuk mengukur kedewasaan.
Sebab umur tidak selalu berbanding lurus dengan kematangan.
Ada lembaga yang bertambah tua, tetapi cara berpikirnya tetap kanak-kanak. Ada yang bertahun-tahun bicara tentang perubahan, tetapi alergi terhadap orang yang benar-benar ingin mengubah sesuatu. Ada p**a yang mengaku menjunjung kebersamaan, tetapi hanya nyaman dengan orang-orang yang sepakat.
Pada akhirnya, yang dipelihara bukan gagasan, melainkan kepatuhan.
Feodalisme bekerja dengan cara yang sederhana: satu suara dianggap paling benar, sementara suara-suara lain diminta menyesuaikan diri. Loyalitas diukur dari seberapa patuh seseorang, bukan dari seberapa jujur ia menyampaikan kritik.
Di lingkungan semacam itu, orang yang berpikir kritis mudah diberi label sebagai benalu. Mereka dianggap mengganggu keharmonisan, padahal yang sebenarnya mereka ganggu adalah kenyamanan.
Sebab kritik memang tidak pernah nyaman.
Tetapi lembaga yang sehat seharusnya tidak membutuhkan orang-orang yang selalu berkata βiyaβ. Ia membutuhkan orang yang berani mengatakan βtidakβ ketika ada yang keliru.
Sebab tanpa kritik, sebuah lembaga hanya akan memiliki gema: suara yang terus memantulkan gagasan yang sama, dari orang yang sama, untuk kepentingan yang sama.
Maka, mungkin yang perlu dirayakan dalam sebuah ulang tahun bukan berapa lama lembaga itu berdiri, melainkan seberapa jauh ia mampu berubah tanpa kehilangan akal sehat.
Sebab menjadi tua adalah perkara waktu.
Menjadi dewasa adalah perkara keberanian untuk mengakui bahwa diri sendiri bisa salah.