07/10/2022
Kita semua tau, bahwa yg terjadi di hari Sabtu kemarin di Kanjuruhan adalah tragedi. Bahkan ini adalah tragedi kemanusiaan.
Namun, semuanya jg tau bahwa tragedi tersebut bukanlah karena bentrokan Aremania dengan Bonek.
Tragedi tersebut karena berbagai faktor dan semuanya punya peran di situ, mulai PSSI, LIB, Panpel, Keamanan dan yg utama adalah suporternya yaitu aremania.
Tragedi tersebut kemudian menimbulkan empati dari Bonek. Siapa yg tak akan berempati ketika seratusan nama kemudian ditulis di nisan. Ketika Ibu kehilangan anaknya, ketika anak kehilangan ibunya. Sebagai manusia tentu kita akan berempati.
Momentum tersebut, kemudian diharapkan menjadi moment untuk perbaikan sepakbola nasional. Siapapun bisa melihat, tragedi tersebut merupakan cerminan buruknya sepakbola nasional.
Namun kemudian di hari ini, entah pertimbangan apa, tiba2 Persebaya mengeluarkan nawaitu perdamaian.
Nawaitu ini tentu hal baik, siapa yg tak ingin semuanya baik2 saja. Tetapi nawaitu ini kemudian menjadi kesalahan logika, karena seolah kejadian kemarin adalah karena bentrokan Bonek dan Aremania. Dan kemudian yang menginisiasi adalah Persebaya, seolah Persebaya yg salah dgn kemenangannya kemarin.
Ingat, jangan pernah Persebaya Surabaya merasa bersalah, kemenangan kemarin adalah sejarah, kemenangan kemarin adalah buah dari kerja keras. Jika merasa bersalah, buat apa ada kompetisi. Karena hakikat dari kompetisi adalah berikhtiar lebih unggul dari lainnya.
Kita hargai nawaitu ini, namun nawaitu ini telah melukai hati dari pecintanya. Tak berdarah namun akan membekas.
Dan saya rasa, hakikat perdamaian tidak bisa dipaksakan. Hakikat perdamaian harus inisiatif dari kedua belah pihak. Perdamaian tak bisa dari atas ke bawah.
Biarlah yang di grass root mencari jalan damainya sendiri. Dan yakinlah, selama secara nyata ada ketidakadilan, dan selama scr kasat mata ada keberpihakan, maka perdamaian hanyalah angan2 saja.
Untuk itu, ikhtiar pertama adalah perbaikan sepakbola nasional, agar ketidak adilan dan keberpihakan di dalam kompetisi tak ada lagi.
Penulis : Andhi bj