06/09/2026
MEMANDANG INDONESIA DARI TIMUR
Menembus 4 Puncak Pegunungan Latimojong
Luwu – Enrekang, Sulawesi Selatan | 8–15 Agustus 2026
Setelah melewati perjalanan panjang, terjal, melelahkan, namun tetap penuh keseruan, tim ekspeditor OPAB GEMPA Makassar akhirnya menuntaskan pendakian “Memandang Indonesia dari Timur”, sebuah perjalanan menyusuri jalur timur Pegunungan Latimojong dengan tujuan melintasi empat puncak, yaitu Puncak Katapu, Bubun Dirangkang, Nenemori, dan Rante Mario.
Pendakian ini bukan sekadar perjalanan menuju puncak. Jalur yang kami tempuh memperlihatkan wajah lain Pegunungan Latimojong, antara hutan yang masih rapat, keterbatasan sumber air, medan yang berat, serta aktivitas manusia yang begitu dekat dengan kawasan pegunungan.
Menembus Jalur Timur
Perjalanan menuju Pintu Rimba menjadi salah satu bagian paling menantang. Jalur yang dilalui memperlihatkan aktivitas eksploitasi pertambangan di kiri dan kanan jalan. Dalam perjalanan, tim bahkan beberapa kali berpapasan dengan kendaraan dan alat berat yang keluar masuk menuju lokasi pertambangan.
Sebelum mencapai Pintu Rimba, tim juga harus melewati dua portal penjagaan yang dijaga oleh personel TNI.
Kondisi tersebut membuat ruang gerak tim untuk melakukan dokumentasi perjalanan menjadi terbatas. Demi menjaga keamanan seluruh anggota, dokumentasi sebelum Pintu Rimba tidak dapat dilakukan secara maksimal. Tim juga mengalami situasi kurang nyaman karena merasa terus diikuti oleh kendaraan lain selama perjalanan menuju kawasan tersebut.
Tantangan Akses dan Perizinan
Salah satu catatan penting dari pendakian ini adalah persoalan akses dan perizinan jalur timur Pegunungan Latimojong.
Upaya untuk menjadikan jalur timur sebagai jalur pendakian yang lebih resmi dan terbuka masih menghadapi tantangan, terutama karena akses menuju kawasan tersebut bersinggungan dengan wilayah dan kepentingan otoritas/pengelola aktivitas pertambangan.
Bagi kami, persoalan ini bukan sekadar tentang membuka sebuah jalur pendakian baru. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan secara bersama-sama, mulai dari keselamatan pendaki, kepastian akses, mekanisme perizinan, kepentingan masyarakat, aktivitas pertambangan, hingga kelestarian lingkungan.
Karena itu, diperlukan komunikasi dan koordinasi yang baik antara berbagai pihak agar potensi jalur timur dapat dikembangkan secara aman dan bertanggung jawab.
Empat Puncak yang Kami Lalui
Setelah melewati bagian awal perjalanan yang penuh tantangan, suasana berubah ketika tim mulai memasuki kawasan vegetasi alami.
Hutan yang masih rapat menjadi bagian dominan perjalanan. Jalur yang terjal, tanjakan panjang, medan licin, serta kondisi fisik yang mulai terkuras membuat setiap langkah membutuhkan tenaga dan konsentrasi.
Di tengah kelelahan, keterbatasan sumber air menjadi salah satu tantangan terbesar. Tim harus mengatur persediaan air dengan cermat karena tidak semua bagian jalur memiliki sumber air yang mudah dijangkau.
Namun justru di situlah keseruan perjalanan terasa.
Tawa, canda, saling membantu, berbagi tenaga, hingga menikmati keindahan hutan menjadi energi tersendiri untuk terus melangkah.
Empat puncak menjadi saksi perjalanan kami:
1. Puncak Katapu
2. Puncak Bubun Dirangkang
3. Puncak Nenemori
4. Puncak Rante Mario
Setiap puncak memiliki karakter dan tantangannya masing-masing. Tidak ada perjalanan yang benar-benar mudah, tetapi setiap kesulitan selalu memiliki cerita.
Bukan Sekadar Menaklukkan Puncak
Pendakian “Memandang Indonesia dari Timur” mengajarkan bahwa mendaki bukan hanya tentang siapa yang paling cepat sampai di puncak.
Mendaki adalah tentang bagaimana kita mampu membaca alam, menghargai masyarakat sekitar, memahami kondisi kawasan, menjaga keselamatan, dan membawa pulang cerita yang lebih besar daripada sekadar foto di ketinggian.
Di satu sisi, kami menemukan aktivitas eksploitasi dan tantangan akses menuju kawasan. Namun di sisi lain, kami juga menemukan vegetasi alam yang masih rapat dan bentang alam Pegunungan Latimojong yang luar biasa.
Semua itu menjadi catatan penting bagi kami.
Kami berharap perjalanan ini dapat menjadi bagian dari dokumentasi dan refleksi untuk melihat lebih dekat potensi jalur timur Pegunungan Latimojong, sekaligus mendorong adanya pembicaraan yang lebih baik mengenai akses pendakian, keselamatan, perizinan, masyarakat, aktivitas pertambangan, dan kelestarian alam.
Perjalanan Selesai, Cerita Tetap Berjalan
Delapan hari perjalanan telah kami lewati.
Terjal.
Lelah.
Dingin.
Kekurangan air.
Penuh tantangan.
Namun tetap asyik, penuh tawa, dan penuh cerita.
Kami datang untuk memandang Indonesia dari timur.
Kami pulang membawa lebih dari sekadar pencapaian empat puncak.
Kami membawa pengalaman, catatan, dan kesadaran bahwa di balik keindahan Pegunungan Latimojong terdapat cerita tentang alam, manusia, sumber daya, perjuangan, dan masa depan kawasan.
Empat puncak telah kami lalui.
Jalur timur telah kami rasakan.
Cerita telah kami bawa pulang.