19/12/2025
Bakti yang Tulus di Bukit Jati
Pak Soleh tinggal sendiri di gubuk kecil di ujung kampung. Hidupnya miskin—setiap hari ia mencari kayu bakar di bukit untuk dijual ke pasar. Namun, di balik tubuhnya yang kurus dan baju yang selalu lusuh, tersimpan hati yang lapang. Di depan gubuknya, selalu ada satu gentong air bersih dan sebuah ember kecil berisi gula jawa serta segelas sendok kayu. Setiap pagi, ia mengisi ulang air dan mengganti gula yang habis.
“Untuk siapa itu, Pak?” tanya seorang anak suatu hari.
“Untuk siapa saja yang lelah,” jawabnya sambil tersenyum. “Yang kehausan di perjalanan, silakan minum.”
Banyak warga yang menganggapnya aneh. Hidup sendiri saja susah, kok masih berbagi? Tapi Pak Soleh tetap konsisten, bahkan saat musim kemarau ketika air menjadi langka. Ia harus berjalan dua kali lebih jauh ke sumur tua hanya untuk mengisi gentongnya.
Suatu siang yang terik, seorang pengusaha muda bernama Andi tersesat di jalan kampung. Mobilnya mogok di dekat bukit. Kehausan dan frustrasi, ia berjalan mencari pertolongan. Saat hampir putus asa, ia melihat gubuk Pak Soleh dan gentong air dengan tulisan sederhana: “Silakan diminum, gratis.”
Dengan ragu, Andi mengambil air dan mencicipi segelas air gula jawa yang menyegarkan. Rasanya begitu nikmat, meredakan dahaga dan kepenatannya. Pak Soleh keluar, menawarkan tempat duduk di bawah pohon jati, bahkan membawakan nasi bungkus sederhana yang sedianya untuk makan siangnya sendiri.
Terharu oleh keramahan tulus yang tak mengharapkan apa-apa, Andi bertanya, “Kenapa Bapak melakukan ini padahal hidup sendiri?”
Pak Soleh menghela napas pelan. “Dulu, istri saya sakit keras. Kami tak punya uang untuk ke dokter. Tapi tetangga bergantian membantu—ada yang bawakan makanan, ada yang jual perhiasan untuk biaya obat. Istri saya akhirnya tenang di pangkuan-Nya, tapi kebaikan mereka tak pernah saya lupa. Saya miskin harta, tapi saya ingin tetap kaya hati.”
Kisah itu menyentuh hati Andi. Ia yang selama ini sibuk mengejar kekayaan material teringat pada nilai kemanusiaan. Setelah mobilnya diperbaiki, Andi tidak pergi begitu saja. Ia kembali ke kampung itu dan mengajak Pak Soleh serta warga berdiskusi. Andi membantu mengembangkan potensi madu hutan dan kerajinan kayu dari bukit, dengan Pak Soleh sebagai penasihat utamanya.
Dalam beberapa tahun, kampung itu berkembang menjadi desa mandiri yang produktif. Gentong air dan gula jawa di depan gubuk Pak Soleh tetap ada, bahkan ditambah dengan tempat duduk yang nyaman. Bukan lagi sekadar tempat sekadar minum, tapi menjadi simbol bahwa kebaikan sekecil apa pun—yang diberikan dengan tulus—akan menumbuhkan benih kemuliaan yang suatu hari akan berbuah lebat.