05/06/2026
Kamu Ingin Jadi Apa Sepuluh Tahun Lagi?
Essay Reflektif MPKT 07
Oleh: APJ (2506533072)
"One man, one product."
Kalimat singkat itu menjadi salah satu hal yang paling saya ingat dari kelas MPKT. Saat itu
saya belum sepenuhnya memahami maknanya. Namun, semakin saya mengikuti perkuliahan
dan berbagai diskusi di kelas, saya mulai menyadari bahwa perkembangan teknologi selalu
kembali pada satu pertanyaan penting: untuk siapa teknologi itu diciptakan?
Sejujurnya, saya datang ke kelas MPKT dengan ekspektasi yang cukup sederhana.
Saya membayangkan MPKT sebagai mata kuliah umum yang berjalan santai dan tidak terlalu
berbeda dengan mata kuliah lain. Kesan tersebut berubah sejak pertemuan pertama bersama
Prof. Raldi. Energi beliau terasa begitu besar di dalam kelas. Bahkan sebelum diskusi
dimulai, kami sering diajak melakukan peregangan singkat agar tetap fokus dan bersemangat.
Hal kecil itu membuat suasana kelas terasa hidup dan menunjukkan bahwa pembelajaran
tidak harus berlangsung secara kaku.
Dari banyak hal yang saya pelajari selama satu semester ini, ada satu pertanyaan
yang paling membekas dalam ingatan saya: "Sepuluh tahun ke depan, kamu ingin menjadi
apa?" Pertanyaan tersebut membuat saya terdiam cukup lama. Selama ini saya sering fokus
pada target-target jangka pendek seperti tugas, ujian, atau pencapaian semester. Pertanyaan
itu mengingatkan saya bahwa setiap orang perlu memiliki visi yang ingin dituju. Prof. Raldi
juga menekankan pentingnya memiliki spesialisasi yang akan menjadi identitas dan
kontribusi kita di masa depan. Sejak saat itu, saya mulai lebih sering memikirkan peran
seperti apa yang ingin saya ambil dan manfaat apa yang ingin saya berikan melalui ilmu yang
saya pelajari.
Gambar 1: Refleksi dalam diary saya sepulang kelas MPKT 07.
Gambar 2: Salah satu catatan MPKT yang masih saya simpan sebagai pengingat untuk masa
depan.
Saya juga banyak belajar dari sosok Prof. Raldi di luar materi perkuliahan. Kisah
beliau dalam Yayasan Bayi Prematur Indonesia menjadi salah satu inspirasi terbesar bagi
saya. Melalui penyediaan inkubator gratis bagi bayi prematur di berbagai daerah, saya
melihat contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat diterjemahkan menjadi aksi yang
memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Bagi saya, Prof. Raldi adalah sosok yang
menunjukkan bahwa pendidikan dan pengabdian tidak dapat dipisahkan. Beliau mengajarkan
bahwa ilmu seharusnya hadir untuk menyelesaikan masalah dan membantu sesama.
Suasana MPKT-07 sendiri menjadi pengalaman yang sangat berharga. Mahasiswa
dalam kelas ini berasal dari berbagai daerah, latar belakang, dan cara pandang yang berbeda.
Keragaman tersebut membuat setiap diskusi menjadi kaya akan perspektif. Di Focus Group
2, saya merasakan hal yang sama. Kami sering bertukar pendapat, mengemukakan pandangan
yang berbeda, lalu mencari titik temu melalui komunikasi yang baik. Dari proses itu saya
belajar bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus dihindari. Justru dari perbedaan itulah
lahir pemahaman yang lebih luas.
Gambar 3: Kehangatan di kelas MPKT 07.
Hal yang paling menyentuh bagi saya adalah doa yang selalu dipanjatkan di akhir
kelas. Kalimat, "Semoga diskusi hari ini bermanfaat bagi kita semua dan bangsa Indonesia
secara luas," selalu meninggalkan ruang refleksi sebelum kami meninggalkan kelas. Saya
menyadari bahwa tujuan belajar di perguruan tinggi bukan sekadar memperoleh gelar atau
pekerjaan yang baik. Ada tanggung jawab yang lebih besar, yaitu menggunakan ilmu yang
dimiliki untuk memberikan manfaat bagi masyarakat dan bangsa.
Saya bersyukur menjadi bagian dari MPKT-07. Kelas ini memberikan lebih dari
sekadar pengetahuan. Saya memperoleh ruang untuk berefleksi, memikirkan masa depan, dan
memahami bahwa setiap ilmu yang dipelajari pada akhirnya harus kembali kepada manusia.
Semangat, dedikasi, dan kepedulian yang ditunjukkan Prof. Raldi menjadi inspirasi yang
akan saya ingat jauh setelah semester ini berakhir.