Akhlak Nabi Saw

Akhlak Nabi Saw "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung"
(Qs. AL Qalam : 4)

Penimbunan HartaNabi Muhammad saw, telah melakukan lebih dahulu kebanyakan dari yang diwahyukan kepada beliau, bahkan se...
14/02/2024

Penimbunan Harta

Nabi Muhammad saw, telah melakukan lebih dahulu kebanyakan dari yang diwahyukan kepada beliau, bahkan sejak beliau masih muda! Beliau seorang yatim, mengalami derita hidup sebagai yatim, sehingga timbul kebencian beliau pada para penghardik yatim, kemudian Tuhan begitu banyaknya mewahyukan larangan menghardik yatim. Demikian juga, dari dulu beliau seorang yang s**a menyambung silaturrahmi dan mendamaikan orang yang bermusuhan, kemudian turun banyak wahyu tentang anjuran silaturrahim. Beliau itu memang sedemikian mulianya, sehingga Aisyah mengisahkan bahwa Rasulullah saw itu akhlaknya adalah Alquran itu sendiri!

Salah satu ciri khas Rasulullah saw sejak muda adalah kebencian pada menimbun harta, kendatipun beliau orang yang sangat kaya sejak mudanya. Menurut sebagian riwayat, mahar beliau kepada Khadijah adalah sekitar 400 ekor unta, yang jika dinilai sekarang, mungkin lebih mahal daripada 4 buah mobil Alphard. Beliau menikahi Khadijah, yang bahkan lebih kaya daripada diri beliau sendiri. Namun, beliau sangat membenci menimbun harta dan makanan, sampai dikisahkan beliau menyimpan makanan hanya 3 hari, kalau tidak beliau makan, maka akan beliau bagi-bagikan.

Itu sebabnya salah satu gelar Rasulullah saw adalah Abu al-Masakin (Ayahnya orang² miskin), sering dikisahkan beliau itu bila datang ke masjid, memang memilih untuk duduk bersama anak² miskin; memeluk mereka, bahkan tertawa bersama mereka, sampai² Ibnu Umar yang termasuk orang kaya pada zamannya (anaknya Umar bin Khattab), merasa iri, "andai aku jadi anak miskin! Pasti aku sering bersama Nabi saw!" Kira² begitu kata beliau.

Kepemimpinan Nabi saw sangat khas dan identik dengan pembelaan beliau pada wong cilik (orang² kurang beruntung), beliau membela moral orang² miskin sehingga, bukan hanya mereka merasa seimbang dengan orang kaya, bahkan beliau membela orang miskin dan lemah sampai² para penguasa dan kaya itu iri! Dan yang kedua, beliau sangat s**a mendistribusikan kekayaan beliau karena kebencian beliau menimbun kekayaan, sehingga daerah yang dipimpin beliau, cenderung makmur karena amat memperhatikan hak orang miskin.

Ini sangat bertolak belakang dengan sebagian penguasa hari ini. Bahkan sebuah survey menunjukkan, dimana ada kump**an kemiskinan luarbiasa, biasanya ada penguasa penimbun kekayaan di sana. Kita melihat hari ini, ada sebagian penguasa yang memiliki singgasana dan pakaian berlapis emas, padahal hanya jarak beberapa meter dari istana kebesarannya, ada orang kelaparan. Atau umpamanya, garasi sebagian penguasa yang dipenuhi dengan mobil sport dan motor besar semacam harley davidson berderet di garasinya, padahal jarak beberapa meter dari rumahnya ada orang yang kesulitan mencari penghidupan. Mari bertanya: Kira² apa perasaan Nabi saw sekiranya melihat hal² ini? Jelas dalam sabda beliau yang bunyinya kira² tidak beriman diri kita! Jika kita tidur dalam keadaan kenyang sementara kita mengetahui persis, ada tetangga kita, atau orang yang dekat dengan kita, tidur dalam keadaan kelaparan!

Sudah lah, jangan menyalahkan penguasa, jangan menyalahkan orang kaya, tapi introspeksi lah diri sendiri! Jangan sibuk mengumpat dan mengkaji kejelekan orang lain, lihat kejelekan kita! Apakah kita ini penimbun makanan? Apakah kita ini penimbun pakaian? Apakah kita ini penimbun uang? Apakah kita ini penimbun perhiasan? Sudah berapa banyak orang kurang beruntung yang menjadi beruntung karena tangan kita? Karena kita sedekahkan hak kita? Karena kita ajari mereka? Ini harus menjadi renungan kita, bahkan bila kita adalah orang miskin sekalipun! Bila kita miskin, perhatikanlah nasib saudara lain yang miskin! Apalagi bila kita kaya, semakin jelas wajibnya.

Akhirnya, untuk mengelakkan penimbunan harta, kita perlu memeriksa kembali apa persepsi kita, paradigma kita terhadap uang dan kekayaan? Akan sangat sulit untuk melepasnya, jika paradigma kita tentang kekayaan adalah "penyelamat" dan "kebanggaan." Alquran dalam Surat Al Humazah (QS.104) secara terang mengutuk orang yang menimbun harta dengan mindset harta ialah penyelamat.

Renungkanlah: Kalau Tuhan menghendaki, mudah saja bagiNya melenyapkan simpanan emas kita, menghanguskan uang² kita di bank, meniadakan surat² obligasi dan deposito kita, ataupun membakar investasi² kita. Tuhan, jelas adalah satu²nya Penyelamat. Sedangkan kebanggaan; bukan kah kebanggaan sejati itu ialah mendapat ampunanNya? Kalau demikian, apakah harta dan kekayaan itu? Titipan dan amanah untuk mengagungkanNya, dan untuk mengasihi seluruh alam.

Semoga bermanfaatTerima kasih untuk teman-teman yang sudah subscribe.. ...

Hijrah SejatiBerhijrah, berpindah ke tempat baru bukan hal yang mudah. Pindah tempat kerja, pindah tempat tinggal, apala...
03/02/2024

Hijrah Sejati

Berhijrah, berpindah ke tempat baru bukan hal yang mudah. Pindah tempat kerja, pindah tempat tinggal, apalagi jika pindah keduanya, kita akan mengalami culture shock (terkejut beda budaya). Mengamati fenomena orang yang telah hijrah pun menarik, nasibnya beragam. Ada orang hijrah yang sama saja seperti kala dirinya sebelum pindah. Ada p**a yang semakin baik, semakin berkembang diri dan usahanya, temannya bertambah, referensi dan pengetahuannya tentang kuliner dan layanan publik meningkat. Tapi tak sedikit p**a yang nasibnya lebih buruk, lebih tak bahagia, ia selalu membandingkan rumah-kantornya kini dengan rumah-kantornya dahulu, masalah seujung kuku dan yang tidak layak dipersoalkan pun diperbandingkan; kebijakan pemerintah daerah, arah politik pemerintah daerah, cara bercanda, cara makan, cara membasuh perkakas rumah pun diperbandingkan. Mengamati 3 varian manusia ini, dimana perbedaannya? ...............

Selengkapnya klik link :

Semoga bermanfaatTerima kasih untuk teman-teman yang sudah subscribe.. ...

Memetik IsiSiapa yang mencari kerang akan menemukan kerang, namun siapa yang membukanya akan menemukan mutiara.(Imam al ...
01/02/2024

Memetik Isi

Siapa yang mencari kerang akan menemukan kerang, namun siapa yang membukanya akan menemukan mutiara.
(Imam al Ghazali)

Bila kita renungi fatwa Imam al Ghazali di atas, maka kita akan menemukan maksud: "Siapa yang hanya berhenti pada teks, ia akan menemukan teks. Namun siapa yang mentadabburi, merenungi dan menghayati teks-teks, ia akan mendapatkan mutiara berupa pemikiran, hikmah dan nilai-nilai positif." Kita ambil saja contoh paling ekstrem, betapa banyak orang membaca Alquran, menghafal Alquran, namun Alquran itu gagal mengubahnya. Betapa banyak orang baca 1 Juz Alquran sehari semalam namun Alquran itu belum membuatnya menjadi pribadi yang lebih sabar dan lebih rendah hati.

Betapa banyak orang yang membaca sirah nabawiyyah (kisah hidup Rasulullah saw) dan kitab para Ulama terdahulu, namun sirah nabawiyyah dan kitab² itu belum membuatnya berhenti marah, kitab² itu belum membuatnya berhenti bermuka masam, kitab² itu belum membuatnya berhenti tersinggung. Ternyata memang demikianlah adanya: Alquran itu memang pedoman dan kitab suci. Tapi ia bukan 100% pedoman dalam petunjuk teknis sebagaimana buku SOP (Standard Operating System) sebuah mobil. Tetapi Alquran itu adalah kitab yang dalam membacanya harus disertai perenungan. Dan jika membaca Alquran tanpa perenungan, maka kemungkinan mendapat petunjuknya 50:50 saja.

Itu sebabnya kalau kita ingat orang saleh terdahulu dahulu, jika bertausiyah 1 jam, mungkin beliau hanya menyertakan 1-2 ayat Alquran atau 1-2 butir kisah Rasul. Sedangkan dalam 55 menit lainnya beliau mentadabburinya, memberikan percontohan yang luas, serta menerjemahkannya menjadi "apa pemikiran dan sikap yang harus kita ambil dari ayat ini untuk situasi kita di saat ini." Sementara tidak jarang, ada banyak penceramah yang dalam 1 jam tausiyah, menyajikan belasan bahkan puluhan ayat Alquran dan kisah Nabi, namun kurang tadabburnya, kurang penerjemahannya menjadi sikap dan pemikiran yang harus kita ambil di saat ini. Mungkin daya cerahnya akan kurang.

Mari kita kenang ayat berikut, sebagai bukti betapa wajibnya membaca Alquran dengan tadabbur: Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (QS. 38: 29) Demikianlah mutlaknya keberadaan tadabbur, sampai-sampai Cak Yahya, pakar tafsir Alquran pengasuh muslim Melbourne Australia mengumpamakan: "Belajar Alquran bagai berjalan di pantai. Siapa yang s**a keindahan lantunan Ayat Quran itu bagaikan indahnya tepi pantai. Ketika mempelajari tafsir, kita bagaikan snorkling di lautan. Tapi ketika mentadabburinya, itu bagaikan diving di lautan dalam."

Makanya jangan bahagia dan bangga wahai peminat lantunan ayat Alquran, kalau sekedar s**a mendengar para Qari indah mengaji, itu baru dimensi luaran dari indahnya Quran, masih bagai berjalan di tepi pantai yang indah. Pelajarilah tafsir, laksana kita bagai snorkling atau menyelami tepian laut, yakni sekitar 5-10 meter. Adapun mentadabburi Alquran, itulah keindahan sejati Alquran, yang diibaratkan Cak Yahya bagai diving; yakni menyelam hingga ratusan meter ke bawah permukaan laut! Akhirnya, kembali ke tulisan awal dari ungkapan Al Ghazali, petiklah isi; yakni, bertadabburlah!

Renungan 29/12 2022

Address

Depok

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Akhlak Nabi Saw posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share