Majelis Iman Islam

Majelis Iman Islam Akun resmi Majelis Iman Islam (MANIS). | Info dan pendaftaran member klik www.manis.id Grup ini diasuh dan dibimbing oleh beberpa Ustadz & Ustadzah:

Ust. M.


Alhamdulillah kembali dibuka pendaftaran member grup WhatsApp Majelis Iman Islam (MANIS). Saya mengundang Anda Bergabung bersama ribuan anggota dari berbagai penjuru dunia. Sekilas tentang Grup WhatsApp MANIS (Majelis Iman Islam)

MAjelis imaN dan ISlam atau MANIS adalah salah satu media pembelajaran agama Islam melalui media aplikasi WhatsApp. Ahmad Sahal Hasan, Lc
Ust. Farid Nu'ma

n, Hasan SS
Ust. Abdullah Haidir, Lc
Ust. Syahroni Mardani, Lc
Ust. Agung Waspodo, SE, MPP
Ust. Dr. Wido Supraha
Ust. Noorahmat, M.Sc
Ust. Dr. Abbas Mansur Tamam
Ust. Rikza Maulana, Lc, MA
Ust. Dr. Syaiful Bahri, MA
Ust. Umar Hidayat. Ag
Ust. Drs. Muhammad Said, M Hum
Ust. Solikhin Abu Izzudin
Ustzh. Dr. Aan Rohanah, Lc., M.Ag
Ustzh. Wirianingsih, M.Si
Ustzh. Eko Yuliarti Siroj, S.Ag
Ustdzh. Dra. Indra Asih
Ustdzh. Asri Widiarti
Ustdzh. Rochma Yulika S.Ag. S.Pd
Dan Asatidzah lainnya

Materi yang akan disampaikan di grup ini Insya Allah sbb :

SIRAH DAN TARIKH
AL QURAN DAN TAFSIR
FIQIH DAN HADITS
TAZKIYATUN NAFS
DA'WAH DAN HARAKAH
MOTIVASI ISLAMI
TSAQAFAH ISLAMIYAH
KELUARGA
TARBIYATUL AULAD
FIQIH MUAMALAT KONTEMPORER
MUHASABAH
Dan Materi Tematik lainnya

Dengan metode penyampaian yang ringkas, bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Pendaftaran*

๏ฟฝ Via Web: Klik http://goo.gl/forms/Dx2XkQ0Jtb

๏ฟฝ Via pesan WhatsApp:
Ketik : Nama - L/P - Asal - No.WA
Contoh: Ahmad - L - Jkt - 0812123456
Kirim ke:
0882-6803-9030 (Ikhwan)
081l21-5015-6161 / 0838-9943-7415 (akhwat)

*Lakukan pendaftaran melalui 1 metode saja (via web atau WA), dan TIDAK MELAYANI pendaftaran via SMS. Semoga dengan bergabungnya kita di Grup Majelis Iman Islam ini dapat menambah ilmu dan semangat dalam beribadah dan berdakwah kepada ALLah Jalla wa 'Ala. Dan semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang ALLAH kehendaki kebaikan dengan memahamkan kita kepada agama-Nya. Aamiin. Aplikasi MANIS untuk android bisa jg dinikmati di Google Playstore (Gratis):
https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

BaarakaLLahu fiikum.

RUMAH YANG MENENANGKAN JIWAโžก๏ธ KELUARGA MUSLIMOleh : Ustadzah Dr. Eko Yuliarti Siroj๐ŸŒนโ˜˜๏ธ๐Ÿชทโ˜˜๏ธ๐ŸŒนโ˜˜๏ธ๐Ÿชท๐ŸŒนโ˜˜๏ธ๐ŸŒป Ada rumah yang banguna...
31/05/2026

RUMAH YANG MENENANGKAN JIWA

โžก๏ธ KELUARGA MUSLIM
Oleh : Ustadzah Dr. Eko Yuliarti Siroj

๐ŸŒนโ˜˜๏ธ๐Ÿชทโ˜˜๏ธ๐ŸŒนโ˜˜๏ธ๐Ÿชท๐ŸŒนโ˜˜๏ธ

๐ŸŒป Ada rumah yang bangunannya megah tetapi terasa dingin.
Ada p**a rumah yang sederhana, namun ketika seseorang p**ang ke sana, hatinya merasa tenang.

๐ŸŒป Kehangatan keluarga bukan dibangun oleh luasnya rumah, mahalnya perabot, atau banyaknya fasilitas. Kehangatan lahir dari rasa diterima, didengar, dihargai, dan dicintai. Kehangatan tumbuh dari percakapan kecil di meja makan, dari pelukan seorang ibu, dari perhatian ayah yang sederhana, dari doa-doa yang diam-diam dipanjatkan untuk anggota keluarga.

๐ŸŒป Di tengah dunia yang bergerak cepat, banyak keluarga hidup serumah tetapi berjalan sendiri-sendiri. Sibuk dengan pekerjaan, tugas, gawai, dan urusan masing-masing. Padahal hati manusia tetap membutuhkan satu tempat untuk p**ang secara emosional. Mereka butuh keluarga.

Allah SWT menggambarkan tujuan keluarga dalam firman-Nya: _โ€œDan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.โ€_
(QS. Ar-Rum: 21)

๐ŸŒป Ayat ini menunjukkan bahwa keluarga seharusnya menjadi tempat sakinah yaitu tempat jiwa beristirahat, bukan tempat luka bertambah.

Rasulullah SAW juga bersabda: _โ€œSebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.โ€_ HR. Tirmidzi

๐ŸŒป Kebaikan kepada keluarga bukan hanya tentang memberi nafkah atau fasilitas, tetapi juga tentang kelembutan sikap, perhatian, penghargaan, dan kehadiran hati.

*Mengapa Kehangatan Keluarga Sangat Penting?*

๐ŸŒป Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang hangat dan suportif dalam keluarga berpengaruh besar terhadap kesehatan emosional, perkembangan sosial, dan ketahanan mental anggota keluarga.

๐ŸŒป Penelitian lain juga menemukan bahwa dukungan keluarga berkaitan erat dengan kecerdasan emosional remaja dan kemampuan mereka menghadapi tekanan hidup.

๐ŸŒป Sebaliknya, kurangnya komunikasi dalam keluarga dapat memicu konflik, kesepian emosional, bahkan gangguan kesehatan mental.

๐ŸŒป Karena itu, kehangatan keluarga bukan sekadar โ€œsuasana nyamanโ€, tetapi kebutuhan jiwa manusia sejak kecil hingga tua.

*Tanda-Tanda Keluarga yang Hangat*

๐ŸŒป Keluarga yang hangat bukan keluarga tanpa masalah. Mereka tetap punya lelah, salah paham, dan ujian. Namun di dalamnya ada saling mendengar tanpa meremehkan, ada ucapan terima kasih dan maaf, tidak mudah mempermalukan anggota keluarga, anak merasa aman untuk bercerita, pasangan merasa dihargai, orang tua merasa dimuliakan, ada doa dan ibadah bersama, rumah terasa nyaman untuk kembali.

๐ŸŒป Kadang kehangatan itu sederhana. Sesederhana ungkapan tanya: โ€œSudah makan belum?โ€ โ€œHati-hati di jalan.โ€ โ€œAyah bangga sama kamu.โ€ โ€œIbu terima kasih ya hari ini.โ€

๐ŸŒป Kalimat kecil seperti itu bisa menjadi pelukan bagi hati yang lelah.

*Tips Membangun Kehangatan Keluarga*

1. Hadir Sepenuhnya Saat Bersama; Banyak orang tinggal serumah tetapi tidak benar-benar hadir. Tubuh ada, tetapi pikiran sibuk di tempat lain.

- Ketika anak bercerita, dengarkan.
- Ketika pasangan berbicara, tatap wajahnya.
- Ketika orang tua memanggil, respon dengan lembut.

Rasulullah SAW adalah pribadi yang memberi perhatian penuh kepada lawan bicara. Beliau membuat setiap orang merasa dihargai.

๐ŸŒป Kehangatan sering kali tidak membutuhkan waktu panjang hanya membutuhkan perhatian yang utuh.

2. Biasakan Berbicara dengan Lembut; Nada bicara membentuk suasana rumah. Rumah yang penuh bentakan perlahan membuat hati menjadi tegang. Sebaliknya, ucapan lembut menghadirkan rasa aman.

Allah SWT berfirman: _โ€œMaka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut_.โ€
(QS. Thaha: 44)

Bahkan kepada Firโ€™aun saja Allah memerintahkan kelembutan. Apalagi kepada pasangan, anak, dan orang tua sendiri.

Lembut bukan berarti lemah. Justru kelembutan adalah kekuatan yang menenangkan.

3. Luangkan Waktu Tanpa Gadget; Salah satu pencuri kehangatan keluarga hari ini adalah layar.

Kadang satu keluarga duduk bersama, tetapi masing-masing tenggelam dalam dunianya sendiri.

Cobalah lakukan hal berikut:
- waktu makan tanpa ponsel,
- ngobrol malam 15 menit,
- jalan pagi bersama,
- membaca Al-Qurโ€™an bersama,
- atau sekadar minum teh sambil bercerita.

Kedekatan emosional tumbuh dari kebersamaan yang berulang.

4. Bangun Budaya Apresiasi; jangan hanya mengoreksi kesalahan. Biasakan menghargai hal-hal kecil.

- Ucapkan terima kasih kepada pasangan
- Puji usaha anak, bukan hanya hasilnya
- Hargai pengorbanan orang tua

Seseorang yang merasa dihargai akan lebih mudah menumbuhkan cinta dalam keluarga.

5. Jadikan Rumah Tempat Paling Aman untuk Bercerita; anak yang tidak didengar di rumah akan mencari tempat lain untuk didengar.

Pasangan yang terus dihakimi akan memilih diam.

Karena itu, bangun suasana yang aman:
- tidak mudah memotong pembicaraan,
- tidak langsung menghakimi,
- tidak mempermalukan kesalahan lama.

Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi panjang. Ia hanya ingin dipahami.

6. Perbanyak Sentuhan Kasih Sayang; pelukan, usapan kepala, genggaman tangan โ€” hal-hal kecil ini sangat berarti.

Rasulullah SAW mencium cucunya Hasan dan Husain di hadapan para sahabat. Itu menunjukkan bahwa kasih sayang adalah bagian dari akhlak mulia.

Sentuhan kasih sayang membuat hati merasa dicintai tanpa banyak kata.

7. Hidupkan Ibadah dalam Rumah; kehangatan keluarga tidak cukup hanya dengan komunikasi. Ia membutuhkan keberkahan Allah.

Rumah yang dihidupkan dengan:
- shalat berjamaah,
- tilawah,
- doa bersama,
- dzikir,
- saling mengingatkan dalam kebaikan,
akan memiliki ketenangan yang berbeda.

Karena hati manusia sejatinya tenang saat dekat dengan Allah.

*Kehangatan Tidak Harus Menunggu Sempurna*

๐ŸŒป Mungkin hari ini keluarga kita belum ideal.
Masih ada luka, jarak, atau komunikasi yang belum baik.

๐ŸŒป Namun kehangatan bisa dimulai dari satu orang yang memilih berubah.

๐ŸŒป Mulailah dari:
- nada bicara yang lebih lembut,
- mendengar lebih banyak,
- memeluk lebih sering,
- memaafkan lebih luas,
- dan mendoakan keluarga lebih tulus.

Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari sebuah rumah bukanlah kemewahannya, melainkan bagaimana rumah itu membuat hati merasa dicintai.

๐ŸŒป Dan betapa indahnya ketika seseorang dapat berkata: โ€œRumahku mungkin sederhana, tetapi di sanalah hatiku selalu p**ang.โ€

Allahu'alam Bishowab

๐ŸŒนโ˜˜๏ธ๐Ÿชทโ˜˜๏ธ๐ŸŒนโ˜˜๏ธ๐Ÿชท๐ŸŒน

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812

Keutamaan Dzulhijjah dan Amalan-Amalannya (Bag. 4/selesai)โžก๏ธ Fiqih dan HaditsOleh: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S., M.So...
29/05/2026

Keutamaan Dzulhijjah dan Amalan-Amalannya (Bag. 4/selesai)

โžก๏ธ Fiqih dan Hadits
Oleh: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S., M.Sos.

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

5โƒฃ Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)

Dari โ€˜Uqbah bin โ€˜Amir Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุนููŠุฏูู†ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari โ€˜Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: โ€œShahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.โ€ )

Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141)

Inilah di antara dalil agar kita tidak berpuasa pada hari raya dan hari-hari tasyriq, karena itu adalah hari untuk makan dan minum. Sedangkan untuk puasa pada hari โ€˜Arafah sudah dibahas pada bagian sebelumnya.

Imam At Tirmidzi berkata:

ูˆูŽุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ุนูŽู„ูŽู‰ ู‡ูŽุฐูŽุง ุนูู†ู’ุฏูŽ ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูŠูŽูƒู’ุฑูŽู‡ููˆู†ูŽ ุงู„ุตู‘ููŠูŽุงู…ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู‘ูŽ ู‚ูŽูˆู’ู…ู‹ุง ู…ูู†ู’ ุฃูŽุตู’ุญูŽุงุจู ุงู„ู†ู‘ูŽุจููŠู‘ู ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฑูŽุฎู‘ูŽุตููˆุง ู„ูู„ู’ู…ูุชูŽู…ูŽุชู‘ูุนู ุฅูุฐูŽุง ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฌูุฏู’ ู‡ูŽุฏู’ูŠู‹ุง ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุตูู…ู’ ูููŠ ุงู„ู’ุนูŽุดู’ุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุตููˆู…ูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ูŽ ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ูˆูŽุจูู‡ู ูŠูŽู‚ููˆู„ู ู…ูŽุงู„ููƒู ุจู’ู†ู ุฃูŽู†ูŽุณู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูŽุงููุนููŠู‘ู ูˆูŽุฃูŽุญู’ู…ูŽุฏู ูˆูŽุฅูุณู’ุญูŽู‚ู

Para ulama mengamalkan hadits ini, bahwa mereka memakruhkan berpuasa pada hari-hari tasyriq, kecuali sekelompok kaum dari sahabat Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam dan selain mereka, yang memberikan keringanan untuk berpuasa pada hari-hari tasyriq bagi orang yang berhaji tamattuโ€™ jika belum mendapatkan hewan untuk berqurban dan dia belum berpuasa pada hari yang sepuluh (pada bulan Dzulhijjah, pen). Inilah pendapat Malik bin Anas, Asy Syafiโ€™i, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan At Tirmidzi, lihat komentar hadits No. 773)

Pada saat itu dibolehkan mengadakan acara (haflah) makan dan minum, karena memang kaum muslimin sedang berbahagia. Hal itu sama sekali bukan perbuatan yang dibenci.

Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap hadits ini, katanya:
ูˆุฃู† ุงู„ุฃูƒู„ ูˆุงู„ุดุฑุจ ููŠ ุงู„ู…ุญุงูู„ ู…ุจุงุญ ูˆู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ููŠู‡

Sesungguhnya makan dan minum pada berbagai acara adalah mubah dan tidak ada kemakruhan di dalamnya. (Fathul Bari, 4/238)

6โƒฃ Berdzikir Kepada Allah Taโ€™ala pada hari-hari Tasyriq

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู

Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: โ€œdan hari berdzikir kepada Allah.โ€ (HR. Muslim No. 1141)

Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah Taโ€™ala. Agar kebahagian dan pesta kaum muslimin tetap dalam bingkai kebaikan, dan tidak berlebihan.
Imam Ibnu Habib menjelaskan tentang berdzikir pada hari-hari tasyriq:

ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูุฃูŽู‡ู’ู„ู ู…ูู†ู‹ู‰ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงูุฑู’ุชูŽููŽุนูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฒูŽุงู„ูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ุซูู…ู‘ูŽ ุจูุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุนูŽู„ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุขููŽุงู‚ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ููŽูููŠ ุฎูุฑููˆุฌูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ูˆูŽูููŠ ุฏูุจูุฑู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆู†ูŽ ูููŠ ุฎูู„ูŽุงู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ู‡ูŽุฑููˆู†ูŽ

Hendaknya bagi penduduk Mina dan selain mereka untuk bertakbir pada awal siang (maksudnya pagi, pen), lalu ketika matahari meninggi, lalu ketika matahari tergelincir, kemudian pada saat malam, demikian juga yang dilakukan. Ada pun penduduk seluruh ufuk dan selain mereka, pada setiap keluarnya mereka ke tempat shalat dan setelah shalat hendaknya mereka bertakbir pada saat itu, dan tidak dikeraskan. (Imam Abul Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththaโ€™, 2/463)

Maka, boleh saja bertakbir saat hari-hari tasyriq (11, 12,

13 Dzulhijjah) sebagaimana yang kita lihat pada sebagian masjid dan surau, yang mereka lakukan setelah shalat. Hal ini berbeda dengan Idul Fithri yang bertakbirnya hanya sampai naiknya khatib ke mimbar ketika shalat Idul Fithri, yaitu takbir dalam artian โ€˜takbiranโ€™-nya hari raya. Ada pun sekedar mengucapkan takbir (Allahu Akbar) tentunya boleh kapan pun juga.

Demikian. Semoga bermanfaat .......
Wallahu Aโ€™lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812

KITA SEMUA MENGALAMI HARI THA'IF!โžก๏ธ Motivasi Oleh : Ustadz Aunur Rafiq Shaleh๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน Mekah menjadi terlalu sempit bagin...
29/05/2026

KITA SEMUA MENGALAMI HARI THA'IF!

โžก๏ธ Motivasi
Oleh : Ustadz Aunur Rafiq Shaleh

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Mekah menjadi terlalu sempit baginya. Abu Thalib, yang melindungi dan merawatnya, telah meninggal, dan Khadijah ra, pendukung dan pelindung batinnya, juga telah wafat. Tidak ada yang berubah di Mekah; kota itu tetap terperangkap dalam kesesatan, menolak Nabinya dan menimpakan segala macam siksaan kepada para sahabatnya. Maka ia memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Tha'if, berharap menemukan hati yang lebih penyayang daripada hati para pemimpin Quraisy yang keras.

Di Tha'if, ia menyampaikan pesannya kepada pemimpinnya, Ibnu Abdi Yalil. Tetapi ternyata dia sekeras Abu Jahal, sekejam Abu Lahab, dan sejahat Umayyah bin Khalaf. Ia melepaskan orang-orang bodoh dan pemuda Tha'if untuk mengejarnya, melemparinya dengan batu hingga darah mengalir dari kakinya yang mulia!

Bertahun-tahun setelah kejadian ini, Semenanjung Arab menganut Islam. Kemenangan dan pertolongan Allah telah datang, dan orang-orang memeluk agama Allah dalam jumlah besar!

Aisyah ra bertanya kepadanya: "Pernahkah engkau mengalami hari yang lebih sulit daripada hari Uhud?" Nabi saw tahu betapa menyakitkan hari itu. Di hari itu Nabi saw telah kehilangan pamannya, Hamzah, pejuang yang gagah berani dan komandan pasukannya! Ia telah kehilangan tujuh puluh sahabat terbaiknya, kepalanya terluka, dan gigi depannya patah!

Namun Nabi saw menceritakan kepadanya tentang hari Tha'if. Hari itu bahkan lebih menyakitkan baginya daripada hari Uhud. Setelah mereka melemparinya dengan batu dan mengusirnya, ia berkata kepadanya:

"Aku berangkat dengan perasaan galau, dan baru sadar setelah berada di Qarn al-Tsa'alib! Aku mengangkat kepalaku dan melihat awan tempat Jibril berada. Ia memanggilku dan berkata: 'Allah Yang Mahakuasa telah mendengar apa yang dikatakan kaummu kepadamu dan bagaimana mereka menjawabmu. Dia telah mengutus malaikat gunung kepadamu agar engkau dapat memerintahkannya sesuai keinginanmu mengenai mereka!' Malaikat gunung itu memanggilku dan berkata: 'Jika engkau mau, aku akan menimpakan dua gunung ke atas mereka!'"

Aku menjawab: 'Sebaliknya, aku berharap Allah akan mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun!'"

Pelajaran dalam kisah ini:

"Aku berangkat dengan perasaan galau, dan baru sadar setelah berada di Qarn al-Tsa'alib!"

Ia tahu bahwa dirinya seorang nabi, ia tahu bahwa agamanya pada akhirnya akan menang, dan ia tahu bahwa Allah menyertainya dan tidak akan meninggalkannya. Tetapi ia tetap manusia; ia berduka, hatinya terasa sesak, dan ia diliputi kekhawatiran. Ia bahkan berjalan tanpa tujuan, tidak tahu ke mana kakinya akan membawanya! Kemudian ia tersadar dan mendapati dirinya di Qarn al-Tsa'alib, setelah berjalan jauh dari Thaif!

Lalu bagaimana dengan kita? Jika semua iman kita diletakkan di satu sisi timbangan dan imannya di sisi lain, imannya pasti lebih besar daripada iman kita, keyakinannya kepada Allah pasti melebihi keyakinan kita, dan kesabarannya pasti melebihi kesabaran kita. Bukankah kita pun berhak merasa hancur kadang-kadang, dan berjalan tanpa tujuan, tidak tahu ke mana langkah kaki kita akan membawa kita?

Pernahkah kita benar-benar menghargai hal ini satu sama lain?

Apakah kita memahami bahwa setiap orang mengalami saat-saat ketika mereka kehilangan sifat baik mereka yang biasa, ketenangan mereka, dan penilaian yang bijaksana yang telah kita harapkan dari mereka?

Ada kalanya seseorang tidak mampu berbicara, mendengarkan nasihat, atau bertemu siapa pun.

Mengapa kita menganggapnya sebagai kasus pribadi, menambah kegalauan satu sama lain dan tidak mempertimbangkan bahwa jiwa memiliki pasang surutnya, dan bahwa ruh bisa sakit seperti halnya tubuh?

Jika Anda melihat teman Anda merasa sedih, jangan menambah kesedihan mereka. Jadilah penghibur yang mereka butuhkan untuk bangkit.

Hormatilah kesedihan mereka dan kebutuhan mereka untuk menyendiri sejenak. Ketika mereka sudah tenang, tepuk bahu mereka, elus dada mereka, dan hibur mereka. Bicaralah kepada mereka dari hati ke hati, dari jiwa ke jiwa. Singkirkanlah logika sejenak. Jiwa yang hancur membutuhkan penghiburan, bukan pelajaran, dan ruh saat mengalami kebingungan membutuhkan pelukan, bukan ceramah. Kita mengalami kelemahan bukan karena kurangnya iman, tetapi karena kerasnya kehidupan. Iman Nabi saw tidak lemah pada hari Tha'if, tetapi kehidupan sangat keras. Allah mengetahui seberapa besar penderitaan dan kehancurannya, sehingga Dia tidak menegurnya karena berjalan tanpa tujuan, dan Dia juga tidak berkata kepadanya, "Di manakah imanmu kepada-Ku?" Sebaliknya, Dia mengutus malaikat untuk mengelilingi dan mendukungnya. Allah Yang Maha Kuasa mengetahui bahwa Rasul-Nya pada akhirnya adalah manusia, dan bahwa manusia mengalami saat-saat kelemahan ketika mereka membutuhkan hati yang penuh kasih sayang, bukan pikiran seorang filsuf atau lidah seorang orator!

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis

Keluarga Besar MANIS (Majelis Iman Islam)mengucapkan,Selamat Hari Raya Idul Adha10 Dzulhijjah 1447H ุชูŽู‚ูŽุจูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ู...
26/05/2026

Keluarga Besar MANIS
(Majelis Iman Islam)
mengucapkan,
Selamat Hari Raya Idul Adha
10 Dzulhijjah 1447H

ุชูŽู‚ูŽุจูŽู‘ู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูู†ูŽู‘ุง ูˆูŽู…ูู†ู’ูƒูู…
ูˆูŽุฃูŽุญูŽุงู„ูŽู‡ู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ูƒ

Mari Semarakkan Hari Raya
dengan Twibbon Manis โœจ
klik:
https://www.twibbonize.com/maniseidadha47

Refleksi Hari Arafah:Sudahkah Kita Menjadi Ibrahim, Hajar, dan Ismail?โžก๏ธ Suplemen Oleh : Ustadzah Eko Yuliarti Siroj ๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚...
26/05/2026

Refleksi Hari Arafah:
Sudahkah Kita Menjadi Ibrahim, Hajar, dan Ismail?

โžก๏ธ Suplemen
Oleh : Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

Hari Arafah adalah hari ketika langit dipenuhi doa, air mata taubat, dan penghambaan yang paling dalam kepada Allah Swt. Di Padang Arafah, jutaan manusia mengenakan pakaian yang sama, menanggalkan simbol dunia, lalu berdiri sebagai hamba yang lemah di hadapan Rabb-nya.

Namun sesungguhnya, Arafah bukan hanya tentang mereka yang berhaji. Arafah adalah panggilan untuk seluruh hati: sudahkah kita benar-benar berserah diri kepada Allah?

Di balik syariat haji dan ibadah kurban, Allah menghadirkan teladan agung sebuah keluarga: Nabi Ibrahim As, Siti Hajar, dan Nabi Ismail As. Mereka bukan keluarga tanpa ujian. Justru mereka adalah keluarga yang diuji dengan ujian yang sangat berat. Tetapi dari merekalah kita belajar arti cinta, iman, pengorbanan, dan keridhaan kepada Allah.

1. Arafah: Hari Berserah Diri kepada Allah Swt

Kata โ€œArafahโ€ mengandung makna pengenalan dan kesadaran. Pada hari ini manusia diajak mengenali siapa dirinya: hamba yang lemah, penuh dosa, dan sangat membutuhkan Allah Swt.

Rasulullah Saw. bersabda: โ€œTidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain hari Arafah.
(HR. Muslim)

Hari Arafah mengajarkan bahwa puncak kemuliaan seorang hamba bukanlah ketika ia memiliki segalanya, tetapi ketika ia rela menyerahkan segalanya kepada Allah Swt.

Nabi Ibrahim diperintahkan meninggalkan Hajar dan bayi Ismail di lembah tandus tanpa kehidupan. Secara logika manusia, itu terasa berat dan tidak masuk akal. Namun Ibrahim percaya bahwa perintah Allah tidak pernah salah.

Allah mengabadikan kisah itu dalam firman-Nya: _โ€œYa Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman di dekat rumah-Mu yang dihormati...โ€_
(QS. Ibrahim: 37)

Bayangkan seorang ayah meninggalkan istri dan anaknya di tengah padang pasir. Tidak ada makanan, tidak ada air, tidak ada manusia. Tetapi *Ibrahim pergi dengan hati yang yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.*

Hari Arafah mengajarkan kepada kita bahwa
*iman sejati bukan hanya saat doa dikabulkan, tetapi ketika hati tetap percaya meski belum melihat jalan keluar.*

2. *Sudahkah Kita Menjadi Ibrahim?*

Menjadi Ibrahim berarti belajar *taat meski berat.*
Kita sering ingin mengikuti perintah Allah selama sesuai dengan keinginan kita. Namun Ibrahim mengajarkan bahwa cinta kepada Allah berada di atas ego, rasa nyaman, bahkan di atas apa yang paling dicintai.

Ketika diperintah menyembelih Ismail, Ibrahim tidak membantah. Ia tidak berkata, โ€œMengapa anakku?โ€ Ia memahami bahwa seorang hamba tidak berhak mendahului Allah.

Allah berfirman: _โ€œMaka ketika anak itu sampai pada usia sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata: โ€˜Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!โ€™โ€_
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Lihatlah bagaimana Ibrahim tetap lembut kepada anaknya. Bahkan dalam ujian sebesar itu, beliau tetap berdialog dengan penuh kasih.

Ini pelajaran besar bagi para orang tua bahwa
*ketaatan kepada Allah tidak boleh membuat kita kehilangan kelembutan kepada keluarga.*

Menjadi Ibrahim berarti tetap bertakwa di tengah ujian hidup, tetap jujur di tengah godaan dunia, tetap mendidik keluarga menuju Allah, dan tetap yakin bahwa ketentuan Allah selalu baik.

3. Sudahkah Kita Menjadi Hajar?
Sering kali orang mengingat Ibrahim dan Ismail, tetapi *lupa* pada keteguhan seorang ibu bernama Hajar.

Ketika ditinggalkan di padang tandus, Hajar tidak menangis menyalahkan takdir. Ia hanya bertanya: _โ€œApakah Allah yang memerintahkan ini?โ€_
Ketika Ibrahim menjawab โ€œYaโ€, maka Hajar berkata: _โ€œKalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.โ€_

Betapa luar biasanya keyakinan seorang perempuan mukminah.

Hajar mengajarkan bahwa *tawakal bukan berarti diam tanpa usaha.* Ia berlari dari bukit Shafa ke Marwah tujuh kali mencari air untuk anaknya. *Hatinya bergantung kepada Allah, tetapi tubuhnya tetap berikhtiar.*

Dari seorang Hajar, kita belajar bahwa ibu yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat,
keyakinan seorang perempuan dapat menjaga sebuah peradaban, dan doa seorang ibu bisa menjadi sebab turunnya pertolongan Allah Swt.

Air zamzam yang terus mengalir hingga hari ini adalah saksi bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba yang bersandar kepada-Nya.

4. *Sudahkah Kita Menjadi Ismail?*

Ismail bukan hanya anak yang taat kepada ayahnya. Ia adalah *simbol ketundukan total kepada Allah.*

Ketika ayahnya menyampaikan perintah penyembelihan, Ismail tidak memberontak. Ia menjawab dengan kalimat yang sangat indah: _โ€œWahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.โ€_
(QS. Ash-Shaffat: 102)

Inilah penghambaan tertinggi: ridha terhadap ketentuan Allah Swt.

Ridha bukan berarti tidak sedih. Ridha adalah tetap percaya bahwa *pilihan Allah lebih baik daripada pilihan diri sendiri.*

Dalam kehidupan, mungkin kita pernah kehilangan orang yang kita cintai, harta yang kita banggakan, jabatan yang kita pertahankan, atau harapan yang lama kita perjuangkan.

Tetapi *Hari Arafah mengajarkan: tidak ada yang benar-benar hilang ketika kita menyerahkannya kepada Allah Swt.*

Apa yang dikorbankan karena Allah tidak akan sia-sia.

5. *Penghambaan Tertinggi: Ridha atas Ketentuan Allah*

Banyak orang mampu beribadah saat hidup berjalan sesuai rencana. Tetapi kualitas iman sebenarnya terlihat ketika takdir tidak sesuai harapan.

Rasulullah Saw. bersabda: _โ€œSungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya...โ€_
(HR. Muslim)

Orang beriman memahami bahwa ketika diberi nikmat, ia bersyukur, ketika diuji, ia bersabar, dan dalam semua keadaan ia tetap dekat kepada Allah.

Ridha adalah maqam hati yang tinggi. Ia lahir dari keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui, sementara manusia sangat terbatas.

Kadang kita tidak memahami mengapa doa belum terkabul, mengapa ujian datang bertubi-tubi, atau mengapa jalan hidup terasa berat. Tetapi kisah Ibrahim, Hajar, dan Ismail mengajarkan bahwa *di balik ketaatan selalu ada pertolongan Allah yang tidak terduga.*

6. *Arafah dan Momentum Memperbaiki Keluarga*

Hari Arafah juga mengingatkan bahwa keluarga yang kuat dibangun dengan iman dan pengorbanan.

Ibrahim membangun keluarga dengan tauhid.
Hajar menjaga keluarga dengan kesabaran.
Ismail tumbuh dengan ketaatan.

Maka rumah yang dipenuhi doa, komunikasi yang baik, keteladanan orang tua, dan kecintaan kepada Allah akan melahirkan generasi yang kokoh menghadapi zaman.

Di era hari ini, tantangan keluarga bukan hanya kemiskinan atau kesulitan hidup, tetapi juga jauhnya hati dari Allah. Banyak rumah megah tetapi miskin ketenangan. Banyak keluarga lengkap tetapi kehilangan kedekatan.

Karena itu, Arafah mengajak kita kembali bertanya:
- Sudahkah rumah kita dipenuhi dzikir?
- Sudahkah anak-anak melihat keteladanan iman dari orang tuanya?
- Sudahkah kita mendahulukan ridha Allah daripada gengsi dunia?

7. *Apa yang Harus Kita Korbankan?*

Ketika Iduladha tiba, mungkin bukan hanya hewan yang perlu kita sembelih. Bisa jadi yang harus dikorbankan adalah:
- ego kita,
- amarah kita,
- kesombongan kita,
- cinta dunia yang berlebihan,
- atau hati yang terlalu bergantung kepada manusia.

Hari Arafah adalah momentum untuk kembali berkata: _โ€œSesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam.โ€_
(QS. Al-Anโ€™am: 162)

Maka mari bertanya kepada diri sendiri:
- Sudahkah kita menjadi Ibrahim dalam ketaatan?
- Sudahkah kita menjadi Hajar dalam keteguhan?
- Sudahkah kita menjadi Ismail dalam keridhaan?

Semoga Allah menjadikan kita keluarga-keluarga yang tunduk kepada-Nya, kuat dalam ujian, lembut dalam kasih sayang, dan istiqamah hingga akhir kehidupan.

Aamiin ya Rabbal โ€˜alamin

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis

Hukum Makan Daging Qurban Wajibโžก๏ธ Ustadz Menjawab Oleh: Ustadz Farid Nu'man Hasan ========================๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒุงู„ุณ...
26/05/2026

Hukum Makan Daging Qurban Wajib

โžก๏ธ Ustadz Menjawab
Oleh: Ustadz Farid Nu'man Hasan
========================
๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒธ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

ุงู„ุณู„ุงู… ุนู„ูŠูƒู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชุฉ

Ustadz .... Saya mau bertanya, apa hukumnya orang kaya memakan qurban nazar /qurban wajib??

Jawaban
=========

ูˆุนู„ูŠูƒู… ุงู„ุณู„ุงู… ูˆุฑุญู…ุฉ ุงู„ู„ู‡ ูˆุจุฑูƒุงุชุฉ

Untuk qurban wajib, seperti qurban karena nazar, maka ini diperselisihkan ulama apakah boleh pemilik qurban memakannya.

Tertulis dalam Al Mausu'ah:

ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุฌูŽุจูŽุชู ุงู„ุฃู’ุถู’ุญููŠู‘ูŽุฉู ููŽูููŠ ุญููƒู’ู…ู ุงู„ุฃู’ูƒู’ู„ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ุงุฎู’ุชูŽู„ูŽููŽ ุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู

Ada pun jika qurban wajib maka tentang hukum memakan sebagian darinya, hal itu diperselisihkan ahli fiqih. (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 6/115)

Kalangan Malikiyah dan pendapat yang shahih dari Hanabilah, bahwa qurban nazar boleh dimakan oleh pemiliknya.

Sementara sebagian Hanabilah, dan ucapan Imam Ahmad bin Hambal bahwa tidak boleh pemilik qurban memakan qurban nazarnya.

Ada pun Syafi'iyah mengatakan tidak boleh memakannya dan ini pendapat resmi mazhab Syafi'i, sementara ulama Syafi'iyah lainnya mengatakan boleh memakannya secara mutlak.

Dalam mazhab Hanafi, menurut Al Kasani boleh secara mutlak memakannya bahkan ini ijma' di internal mazhab Hanafi. Baik qurban sunnah atau qurban wajib. Sementara seorang ahli hadits yang fiqihnya Hanafi yaitu Imam Az Zaila'i mengatakan tidak boleh memakannya.

Demikian ringkasan dari Al Mausu'ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyah. Lalu, bagaimana sikap terbaik?

Untuk kehati-hatian dan sikap yang lebih aman, lebih baik tidak memakan qurban nazarnya sendiri, dengan demikian sikap tsb bisa keluar dari perdebatan. Hal ini sama seperti seorang yang berzakat tentu tidak pantas dia memakan zakatnya sendiri.

Syaikh Husamuddin 'Afanah mengatakan:

ูˆุงู„ุฐูŠ ุฃู…ูŠู„ ุฅู„ูŠู‡ ุฃู† ุงู„ุฃุถุญูŠุฉ ุงู„ู…ู†ุฐูˆุฑุฉ ูŠุชุตุฏู‚ ุจู‡ุง ูƒู„ู‡ุง ุŒ ูˆู„ุง ูŠุฃูƒู„ ู…ู†ู‡ุง ุดูŠุฆุงู‹ ุฎุฑูˆุฌุงู‹ ู…ู† ุงู„ุฎู„ุงู.

Aku cenderung pada pendapat bahwa qurban nazar hendaknya disedekahkan semua, dan tidak memakannya sedikit pun dalam rangka keluar dari perselisihan pendapat. (Al Mufashshal fi Ahkamil Udhhiyah, hal. 157)

Wallahu A'lam

๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐ŸŒบ๐Ÿƒ๐Ÿƒ

Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812

26/05/2026

Hari Arafah:
Ada Doa yang Sedang Menunggu Dikabulkan

Rasulullah ๏ทบ bersabda bahwa sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah. Hari yang agung, hari untuk memohon semua harapan, seluruh keresahan, dan segala yang terasa mustahil.
Hari ini jangan hanya mengingat diri sendiri. Ingat orangtua, pasangan, anak-anak, sahabat, dan semua yang kita cintai dalam doa.
Semoga Allah menerima doa-doa kita, mengangkat kesulitan, melapangkan hati, dan mempertemukan kita dengan kebaikan dunia akhirat.

Barakallahu fiikum ๐Ÿค

Address

Jalan Bhakti RTM Kelapa Dua RT/RW/12/10 No. 52 Tugu Cimanggis
Depok
16451

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Majelis Iman Islam posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Majelis Iman Islam:

Share