02/10/2026
JANGAN TABDZIR DAN
MENYIA-NYIAKAN MAKANAN
➡️ KHUTBAH JUM'AT
Oleh: Ust. Achmad Dahlan, Lc., MA.
[Kabid. Organisasi dan Keanggotaan, PW Ikadi DIY]
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَفَاضَ عَلَيْنَا مِنْ نِعَمِهِ الْغِزَارِ، وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَنَبَتَتْ بِهِ الأَرْضُ وَأَخْرَجَتْ مِنَ الثِّمَارِ، وَأَشْكُرُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى فَضْلِهِ الْمِدْرَارِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُصْطَفَى الْمُخْتَارُ، أَعْظَمُ الْخَلْقِ شُكْرًا لِرَبِّهِ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الأَبْرَارِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ مَا تَوَالَتِ الأَعْصَارُ. أَمَّا بَعْدُ؛
فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَهَّارِ، فَقَدْ فَازَ مَنِ اتَّقَى وَتَجَنَّبَ الإِسْرَافَ وَالْبَوَارَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah Swt,
Puji dan syukur marilah kita panjatkan ke hadirat Allah Swt., Rabb semesta alam yang tanpa henti mengalirkan nikmat-Nya kepada kita, mulai dari nikmat iman, Islam, kesehatan, hingga rizki berupa makanan yang tersaji di meja kita setiap hari.Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Agung Muhammad Saw., keluarga, para sahabat, dan ummatnya yang setia hingga akhir zaman.
Dari atas mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada jamaah sekalian: marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ketakwaan yang tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual di dalam masjid, tetapi juga terwujud dalam sikap kita memperlakukan nikmat-nikmat Allah Ta’ala, termasuk dalam menghargai rizki berupa makanan.
Jamaah Jumat rahimakumallah,
Setiap tanggal 24 September, bangsa kita memperingati Hari Tani Nasional. Momen ini memperingatkan kita akan keberadaan satu kelompok masyarakat yang memiliki peran sangat vital bagi kelangsungan hidup manusia, yaitu para petani. Tanpa jerih payah para petani yang mengolah tanah di bawah terik matahari dan sengatan hujan, kita tidak akan pernah menikmati sesuap nasi di piring kita. Mereka adalah perantara rizki Allah yang bekerja keras memastikan ketersediaan pangan bagi jutaan mulut di negeri ini. Rasulullah Saw. pernah bersabda mengenai mulianya menanam dan bertani:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
"Tidaklah seorang muslim menanam tanaman atau bercocok tanam, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan ternak, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya." (H.r. Al-Bukhari & Muslim)
Namun, di balik peran mulia tersebut, terdapat sebuah ironi yang memprihatinkan. Para petani yang menjadi pahlawan pangan justru kerap menjadi pihak yang paling jauh dari kesejahteraan. Mereka menghadapi ketidakpastian harga, gagal panen, tingginya biaya produksi, hingga menyusutnya lahan pertanian. Sungguh sebuah ironi: mereka yang bekerja keras menanam pangan, tidak jarang justru kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka sendiri.
Jamaah Jumat rahimakumallah,
Ironi tersebut bertambah perih ketika kita melihat paradoks lain yang terjadi di tengah-tengah masyarakat kita saat ini. Di satu sisi, saudara-saudara kita yang berkecekupan kerap terjebak dalam gaya hidup konsumtif dan boros (tabdzir).
Berapa banyak makanan yang dibeli secara berlebihan lalu dibiarkan membusuk di dalam kulkas hingga akhirnya terbuang ke tempat sampah? Berapa banyak makanan di pesta, restoran, atau bahkan di piring makan kita sehari-hari yang tersisa lalu dibuang begitu saja? Data menunjukkan bahwa sampah makanan (food waste) di negara kita merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, sesuai dengan laporan dari UNEP (United Nations Environment Programme).
Sementara di sisi lain, tidak jauh dari lingkungan tempat tinggal kita, masih banyak saudara seiman dan sesama manusia yang harus menahan lapar karena tidak mampu membeli makanan. Makanan yang dibuang di tempat sampah sebagian orang, adalah impian yang sangat dinantikan oleh mereka yang kekurangan.
Jamaah Jumat yang mulia,
Islam memandang perbuatan membuang-buang rizki sebagai tindakan melampaui batas (israf) dan pemborosan (tabdzir) yang sangat dilarang. Allah Swt. memberikan teguran keras dalam Al-Qur'an:
وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya." (Q.s. Al-Isra': 26-27)
Allah Swt. juga melarang kita berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan melalui firman-Nya:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
"Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (Q.s. Al-A'raf: 31)
Rasulullah Saw. memberikan teladan yang sangat indah dalam memuliakan makanan. Beliau mengajarkan untuk mengambil makanan secukupnya, menghabiskan apa yang ada di piring, bahkan menjilati sisa makanan di jemari tangan. Beliau bersabda:
إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ فَلْيَأْخُذْهَا، فَلْيُمِطْ مَا كَانَ بِهَا مِنْ أَذًى وَلْيَأْكُلْهَا، وَلَا يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
"Apabila suapan makanan salah seorang di antara kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membersihkan kotoran yang menempel padanya, lalu memakannya dan jangan membiarkannya untuk setan." (H.r. Muslim)
Jika butiran makanan yang jatuh saja diajarkan untuk dibersihkan dan dimakan agar tidak terbuang, bagaimanakah dengan porsi makanan utuh yang sengaja dibuang ke tempat sampah?
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mensyukuri nikmat Allah tidak cukup hanya dengan mengucapkan Alhamdulillah di lisan. Syukur yang sejati menuntut pembuktian melalui perbuatan (asy-syukru bil arkan), salah satunya dengan memuliakan rizki pangan.
Langkah konkret yang dapat kita lakukan antara lain:
Yang pertama, mengambil makanan sesuai kebutuhan dan menghabiskannya tanpa tersisa. Ini merupakan bentuk kedisiplinan diri serta penghormatan paling dasar terhadap makanan di piring kita. Langkah ini dapat dimulai dengan menerapkan kebiasaan mengambil porsi lebih sedikit di awal, sebab kita selalu bisa menambah jika masih merasa lapar, daripada mengambil porsi besar yang akhirnya tersisa. Menghabiskan setiap butir nasi dan lauk bukan hanya mengurangi potensi sampah organik, melainkan bentuk kesadaran nyata atas nikmat kemudahan akses pangan yang belum tentu dirasakan oleh semua orang.
Yang kedua, merencanakan pembelian bahan pangan di rumah. Cara ini menjadi kunci untuk memotong rantai pemborosan dari dapur keluarga. Sebelum pergi berbelanja mingguan atau bulanan, biasakan untuk mencatat stok yang masih tersisa di kulkas dan menyusun daftar belanjaan sesuai rencana menu harian. Pengelolaan penyimpanan yang rap dengan menempatkan bahan makanan lama di area depan kulkas agar diolah terlebih dahulu—akan mencegah bahan makanan tersembunyi hingga membusuk dan terbuang sia-sia.
Yang ketiga, mengolah kembali atau membagikan makanan berlebih. Hal ini merupakan tindakan mulia yang memiliki nilai empati sosial sangat tinggi. Jika terdapat porsi masakan yang berlebih dari acara keluarga atau hidangan sehari-hari, hindari membiarkannya menumpuk hingga mendekati masa kedaluwarsa. Kita dapat mengkreasikannya menjadi olahan menu baru yang lebih tahan lama, membekukannya dengan wadah yang tepat, atau segera menyalurkannya kepada tetangga dekat, pekerja di sekitar rumah, dan mereka yang membutuhkan selagi kondisi makanan masih sangat segar dan layak konsumsi.
Yang keempat, mendoakan dan menghargai jerih payah para petani. Para petani adalah diantara orang yang paling berjasa dengan tersajinya makanan di piring kita. Para petani bekerja keras di bawah terik matahari dan ketidakpastian cuaca demi memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat luas. Selain mendoakan keberkahan dan kesejahteraan hidup mereka, wujud penghargaan nyata yang dapat kita lakukan adalah dengan tidak menyia-nyiakannya hasil panen mereka serta mendukung perekonomian mereka melalui pembelian produk-produk pertanian lokal secara adil.
Ingatlah janji Allah Swt: jika kita bersyukur dan memuliakan nikmat-Nya, Allah akan menambah nikmat tersebut. Namun jika kita mengkufurinya dengan cara menyia-nyiakannya, azab Allah sangatlah pedih. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang selalu mensyukuri setiap nikmat yang dianugerahkannya kepada kita, Amin Ya Rabbal Alamin.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْد؛
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَزَجَرَ. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلاَئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ.
اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ، لاَ يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، لاَ يَصْرِفُ عَنَّا سَيِّئَهَا إِلاَّ أَنْتَ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَرْزَاقِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنَ الشَّاكِرِينَ لِنِعَمِكَ، وَلاَ تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُبَذِّرِينَ وَالْمُسْرِفِينَ.
اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى إِطْعَامِ الطَّعَامِ، وَإِفْشَاءِ السَّلاَمِ، وَكَفَالَةِ الْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe Youtube MANIS: https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : http://instagram.com/majelismanis
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok
https://www.tiktok.com/
📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/62852-7977-6222
wa.me/087891088812