Jejaring Dunia Santri

Directions Website

Jejaring Dunia Santri Menghadirkan berita-berita dan pemikiran-pemikiran tentang kepesantrenan dan keislaman dari sumber-s

Penulis:  Moh Nur FauziDosen Studi Islam, Filsafat Ilmu, dan Filsafat Hukum Islam Fakultas Ushuluddin dan Syariah Univer...
18/09/2026

Penulis: Moh Nur Fauzi
Dosen Studi Islam, Filsafat Ilmu, dan Filsafat Hukum Islam Fakultas Ushuluddin dan Syariah Universitas KH. Mukhtar Syafaat Banyuwangi.

Kita sedang menyaksikan paradoks keberagamaan. Ketika program besar negara bermasalah, yang paling cepat tampil membela sering kali justru tokoh agama.

Sebaliknya, ketika warga menjadi korban kebijakan, mereka harus bersusah payah mencari legitimasi keagamaan untuk membela haknya.

Kasus dugaan keracunan massal di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, menjadi ujian serius bagi cara kita memahami relasi agama dan kekuasaan.

Selengkapnya di www.duniasantri.co

Penulis:  Muksalmina, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Di lingkungan pondok pesantren, istilah gaflah (ghaflah)...
18/09/2026

Penulis: Muksalmina, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Di lingkungan pondok pesantren, istilah gaflah (ghaflah) dan takzir bukanlah sesuatu yang asing. Hampir setiap santri pernah mendengar, mengucapkan, bahkan mungkin mengalaminya secara langsung.

Gaflah, yang berasal dari bahasa Arab ghaflah, adalah keadaan lalai, kurang sadar terhadap tugas dan tanggung jawab yang semestinya dijalankan. Sedangkan, takzir merupakan bentuk hukuman edukatif yang diberikan untuk mendidik santri agar menyadari kesalahan dan memperbaiki diri.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Penulis:  Muhammad Khoiruzzabidi, Pondok Pesantren Nurul Ummah Pekalongan.“Mas, itu bajumu?”“Iya. Kenapa?”“Boleh pinjam?...
18/09/2026

Penulis: Muhammad Khoiruzzabidi, Pondok Pesantren Nurul Ummah Pekalongan.

“Mas, itu bajumu?”
“Iya. Kenapa?”
“Boleh pinjam?”

Kalau baru pertama kali bertemu, mungkin pertanyaan sesederhana itu terasa cukup canggung. Rasanya masih ada batas antara barang milik sendiri dan milik orang lain. Baju teman, sandal teman, peci teman, apalagi kitab yang sedang dipakai, tentu bukan sesuatu yang dengan mudah diambil lalu kita gunakan begitu saja.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Penulis:  A. Ibnu Alwan, PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.Polemik sound horeg kembali hangat untuk diperbinca...
16/09/2026

Penulis: A. Ibnu Alwan, PP Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo, Situbondo.

Polemik sound horeg kembali hangat untuk diperbincangkan. Pasalnya, ada tiga orang dikabarkan meninggal dunia. Diduga, penyebab kematian mereka berkaitan dengan aktivitas sound horeg. (cnn Indonesia, detikNews, dan banyak media lain yang memberitakan).

Terlepas dari benar atau tidaknya klaim penyebab kematian tersebut, peristiwa tragis ini memicu kembali pertanyaan: sejauh mana batas kebebasan berekspresi boleh berjalan sebelum ia mulai merampas hak orang lain untuk hidup tenang dan nyaman?

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Penulis: Rumadi“Bagaimana, Mak? Perlu kami bawa ke rumah sakit? Mak tak usah memikirkan biaya berobat. Semuanya biar kam...
15/09/2026

Penulis: Rumadi

“Bagaimana, Mak? Perlu kami bawa ke rumah sakit? Mak tak usah memikirkan biaya berobat. Semuanya biar kami yang tanggung,” kata salah seorang dari mereka.

Setiap orang di kota, konon, mengidamkan keadaan semacam itu. Katanya, pikiran mereka akan tenang, damai, saat menghirup udara di kawasan sekitar Mak Ru tinggal.

Dan entah dengan bujukan macam apa, kepala desa pun mengimbau penduduk untuk menjual tanah mereka kepada pemerintah.

Pemerintah berjanji akan segera mengganti tanah itu dengan harga yang pantas.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Penulis:  Aini Mukaromatul Agnia, Mahasiswa IIQ Jakarta.Lingkar Ayah Indonesia (2025) menemukan bahwa lebih dari 60% ana...
15/09/2026

Penulis: Aini Mukaromatul Agnia, Mahasiswa IIQ Jakarta.

Lingkar Ayah Indonesia (2025) menemukan bahwa lebih dari 60% anak usia remaja urban, termasuk Jawa Barat, jarang berinteraksi dengan ayahnya secara langsung dalam seminggu.

Kondisi itu diperparah tingginya angka perceraian yang berdampak langsung pada meningkatnya jumlah anak yang tumbuh tanpa kehadiran dan figur sosok ayah.

Mengapa fatherless merajalela di Indonesia? Jawabannya: karena kita masih memelihara berhala usang bernama budaya patriarki.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Penulis: Muhammad Zaky Asshidiq, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah JakartaSelama berabad-abad, kitab kuning menjadi jant...
13/09/2026

Penulis: Muhammad Zaky Asshidiq, Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Selama berabad-abad, kitab kuning menjadi jantung keilmuan pesantren. Ia diwariskan lewat sorogan dan bandongan, lewat suara kiai yang membacakan matan dan santri yang menuliskan makna gandul di sela-sela baris.

Kini, tradisi itu berhadapan dengan realitas baru: layar ponsel, aplikasi pemaknaan otomatis, dan repositori digital yang bisa diakses kapan saja. Pertanyaannya bukan lagi “perlukah kitab kuning didigitalisasi”, melainkan “bagaimana mendigitalisasinya tanpa kehilangan ruhnya”.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co


Penulis:  Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi, Alumnus PP Tebuireng/Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.Dalam tradisi Yah...
13/09/2026

Penulis: Muhammad Ijlal Sasakki Junaidi, Alumnus PP Tebuireng/Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dalam tradisi Yahudi, konsep Shekhinah menempati posisi sentral sebagai representasi sisi feminin Tuhan. Kata “Shekhinah” berasal dari akar kata Ibrani shakhan, yang berarti “berdiam” atau “tinggal”. Istilah ini merujuk pada kehadiran Tuhan yang intim dan dapat dirasakan, yang berdiam di tengah-tengah umat Israel.

Menariknya, Shekhinah adalah kata benda feminin dalam bahasa Ibrani. Dalam literatur rabinik, Shekhinah digambarkan sebagai kehadiran Tuhan yang menyertai Israel bahkan ke dalam pembuangan menjadi manifestasi dalam ibadah komunal, dan hadir pada momen-momen kebutuhan individu.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Penulis: Mukhlisin AsharBegitulah seorang ibu, menanamkan hatinya, cintanya, kepada buah hatinya melalui makanan. Makana...
12/09/2026

Penulis: Mukhlisin Ashar

Begitulah seorang ibu, menanamkan hatinya, cintanya, kepada buah hatinya melalui makanan. Makanan yang untuk kali pertama dikunyah atau dilepih oleh anak-anaknya. Hingga mereka beranjak dewasa, ibu menyajikan semua makanan yang dimasaknya dengan hati –bukan gizi.

Setiap ibu akan mengasuh dan membesarkan semua anaknya dengan cinta, dengan kasih sayang tiada tara. Karena itu, dalam kondisi apa pun, setiap ibu akan menyajikan makanan terbaik untuk anak-anaknya. Terbaik dalam ukuran kemampuan dan kesanggupannya sebagai seorang ibu.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Penulis:  Alifa ZuqniMahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.Para santri duduk melingkar di lantai asrama atau serambi...
11/09/2026

Penulis: Alifa Zuqni
Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Para santri duduk melingkar di lantai asrama atau serambi pondok sambil bercanda ringan dan berbagi cerita. Terkadang terdengar tawa pecah karena candaan ringan, atau obrolan tentang kegiatan sehari-hari dan cita-cita yang ingin diraih.

Suasana menjadi semakin meriah ketika ada kiriman lauk dari orang tua di kampung. Kabar itu biasanya menyebar dengan cepat dari satu kamar ke kamar lainnya.

Selengkapnya baca di www.duniasantri.co

Address

Perumahan Taman Serua Jalan Mangga Blok F No 1
Depok
16517

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jejaring Dunia Santri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share