Jejaring Dunia Santri

Jejaring Dunia Santri Menghadirkan berita-berita dan pemikiran-pemikiran tentang kepesantrenan dan keislaman dari sumber-s

*Tuhan Sudah Mati, Benarkah?*Oleh: Muhammad Raffi Ilham (Alumnus PP An-Nur 2 Murtadlo, Malang) Ada salah satu ungkapan s...
10/06/2026

*Tuhan Sudah Mati, Benarkah?*

Oleh: Muhammad Raffi Ilham
(Alumnus PP An-Nur 2 Murtadlo, Malang)

Ada salah satu ungkapan seorang filsuf asal Jerman yang bagi kebanyakan orang sangat kontroversial. Sebab, pernyataannya sangat bertentangan dengan apa yang diyakini oleh orang banyak. Filsuf itu bernama Friedrich Nietzsche.

Ia dikenal karena pernyataan kontroversialnya mengenai agama dengan mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Akibat pernyataan ini, banyak yang menganggap ia sudah gila atau seorang ateis yang tidak bertuhan. Padahal, pada kenyataannya yang ia lakukan adalah bentuk kepeduliannya kepada agama.

Sebenarnya ini sudah menjadi hal yang sangat lumrah bagi seorang filsuf, karena mereka selalu datang dengan pikiran-pikiran yang wah, dan terkadang sangat melenceng dari apa yang orang kebanyakan pikirkan. Namun, bukan berarti apa yang mereka sampaikan itu salah.

Jadi, setelah memahami latar belakang Nietzsche, kita kembali ke pertanyaan inti dari tulisan ini: apakah benar Tuhan sudah mati?

Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Friedrich Nietzsche bukanlah Tuhan mati secara fisik, seperti manusia mati pada umumnya. Bukan p**a Tuhan kehilangan eksistensi-Nya. Sebab, sebagaimana yang kita yakini, Tuhan itu Maha Kekal dan mustahil bagi Tuhan untuk mati.

Karena itu, maksud dari frasa “Tuhan mati” adalah Tuhan yang ada pada keyakinan masyarakat Eropa yang lama kelamaan semakin memudar. Setiap tindak laku yang dilakukan oleh masyarakat sudah tidak didasari oleh Tuhan. Orang-orang tetap melakukan adat istiadat keagamaan Kristen, namun hal itu hanya dilakukan sekadar kebiasaan bukan karena didasari oleh keyakinan akan Tuhan.

Di zaman dahulu, orang Eropa masih kental akan agama. Setiap kejadian selalu dikaitkan dengan Tuhan, sehingga setiap perbuatan yang dilakukan memiliki nilainya masing-masing.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

*Kritik atas Demonstrasi Anti-Islam dalam Perspektif Al-Buthi*Oleh: Muhammad Hadani(Alumnus PP Syubbanul Waton, Tegal Re...
10/06/2026

*Kritik atas Demonstrasi Anti-Islam dalam Perspektif Al-Buthi*

Oleh: Muhammad Hadani
(Alumnus PP Syubbanul Waton, Tegal Rejo)

Ribuan demonstran sayap kanan memadati pusat kota London, Inggris, dalam aksi bertajuk “Unite the Kingdom” yang dipimpin oleh aktivis nasionalis sayap kanan, Tommy Robinson, pada Ahad, 17 Mei 2026. Demonstrasi tersebut dipenuhi berbagai slogan anti-Muslim, anti-imigran, dan sentimen rasial terhadap kelompok minoritas di Inggris Raya.

Dalam orasinya, Robinson secara terbuka menyatakan bahwa apabila dirinya menjadi perdana menteri Inggris, ia akan “menghentikan Islam”, mengakhiri pendanaan asing, serta mengusir para migran dari Inggris. Ia juga menyerukan apa yang ia sebut sebagai “remigrasi” dan meminta umat Islam meninggalkan Inggris apabila tidak bersedia berasimilasi dengan identitas Barat dominan.

Aksi massa tersebut semakin menjadi sorotan publik setelah sejumlah perempuan melakukan tindakan simbolik dengan melepaskan burka dan niqab di atas panggung demonstrasi. Tindakan itu dipresentasikan sebagai bentuk perjuangan kebebasan perempuan dan penolakan terhadap apa yang mereka anggap sebagai simbol penindasan ideologis yang mengancam kebebasan individu.

Dokumentasi aksi tersebut kemudian tersebar luas di media sosial dan memicu beragam reaksi publik, mulai dari dukungan hingga kecaman keras dari berbagai kalangan.

Namun, di balik slogan kebebasan yang mereka serukan, muncul pertanyaan mendasar yang layak dikaji secara kritis: apakah kebebasan berarti hak untuk menghina keyakinan orang lain? Apakah kebebasan identik dengan penolakan terhadap simbol-simbol agama tertentu? Dan bagaimana mungkin masyarakat yang mengklaim diri sebagai pembela pluralisme justru menunjukkan intoleransi terhadap pilihan berpakaian dan identitas keagamaan sebagian warganya?

Peristiwa tersebut memperlihatkan paradoks besar dalam peradaban Barat modern. Di satu sisi, Barat menjadikan kebebasan sebagai fondasi utama peradaban dan nilai universal yang harus dijaga.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

*TENTANG IBRAHIM DAN KITA*Oleh: Maulida Nur Fariha(Alumnus PP Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang) TENTANG IBRAHIM DAN KIT...
10/06/2026

*TENTANG IBRAHIM DAN KITA*

Oleh: Maulida Nur Fariha
(Alumnus PP Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang)

TENTANG IBRAHIM DAN KITA

Ibrahim tidak hanya diuji dengan anak
tetapi dengan hatinya sendiri
Sebab yang paling sulit dikorbankan
sering kali bukan sesuatu yang dimiliki
melainkan sesuatu yang paling dicintai

Hari ini kita bertanya pada diri
apa yang belum rela dilepas?
Ego yang terus ingin menang?
Atau ambisi yang lupa arah p**ang?

Kurban akhirnya mengajarkan
bahwa manusia tak pernah benar-benar memiliki apa pun
Semua hanyalah titipan
dan cinta tertinggi adalah kepasrahan

Baca puisi lainnya di www.duniasantri.co

*Festival Dunia Santri 2026 (2): Kepada KH Abdul Wahab Hasbullah*Oleh: Mahwi Air Tawar  (Sastrawan asal Madura) Kiai yan...
10/06/2026

*Festival Dunia Santri 2026 (2): Kepada KH Abdul Wahab Hasbullah*

Oleh: Mahwi Air Tawar
(Sastrawan asal Madura)

Kiai yang saya takzimi,

Surat ini akhirnya saya tulis sebagai kelanjutan dari Surat Pertama yang telah dimuat di portal duniasantri.co pada 12 Mei 2026.

Kiai, sebelum lebih jauh bercerita tentang Festival Dunia Santri 2026, izinkan saya menyampaikan satu hal penting terlebih dahulu: bahwa jejaring duniasantri lahir dari kegelisahan sejumlah orang baik yang tumbuh di lingkungan pesantren, maupun dari mereka yang meyakini bahwa dunia santri tidak cukup diwariskan hanya dari mulut ke mulut, melainkan juga perlu dicatat, ditulis, dan dipertukarkan melalui ruang-ruang literasi yang lebih luas dan terbuka.

KH Abdul Wahab Hasbullah.
Menyaksikan teman-teman di duniasantri.co menerima, menyeleksi, lalu menerbitkan tulisan-tulisan santri dari berbagai daerah di Indonesia, membuat saya sulit berpaling dari jejak pemikiran panjenengan, Kiai, ketika bersama KH Mas Mansur dan KH Ahmad Dahlan merintis Taswirul Afkar di Surabaya pada tahun 1918. Kelak, forum itu juga melibatkan Mangun dari Budi Utomo dan sejumlah anak-anak muda Bumiputera lainnya.

Di tengah masa penjajahan, ketika sebagian besar rakyat Bumiputera bahkan masih sulit mengakses pendidikan modern, panjenengan justru membuka ruang agar anak-anak muda pesantren belajar berdiskusi tentang agama, kebangsaan, pendidikan, hingga masa depan umat Islam dan tanah air yang waktu itu bahkan belum bernama Indonesia.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

*Para Biksu Ziarah ke Makam Gus Dur*Oleh: Thowiroh (Alumnus PP Tebuireng, Jombang) Puluhan biksu dari berbagai negara be...
10/06/2026

*Para Biksu Ziarah ke Makam Gus Dur*

Oleh: Thowiroh
(Alumnus PP Tebuireng, Jombang)

Puluhan biksu dari berbagai negara berziarah ke makam Presiden ke-4 Republik Indonesia, KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Selasa (19/5/2026).

Ziarah ke makam Gus Dur tersebut merupakan bagian dari ritual thudong, yang pada tahun 2026 ini mengambil tema Indonesia Walk for Peace. Ritual ini diikuti para biksu dari berbagai negara, seperti Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia

Rombongan biksu tiba di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, pada Selasa. Ziarah ini sebagai bentuk penghormatan kepada sosok Gus Dur yang selama hidupnya dikenal sebagai tokoh pluralisme, kemanusiaan, dan toleransi di Indonesia.

Nama Gus Dur tidak hanya dihormati oleh kalangan Muslim, tetapi juga lintas agama dan budaya karena perjuangannya dalam menjaga persatuan, perdamaian, dan hak-hak kemanusiaan.

Ritual thudong yang dijalani para biksu merupakan perjalanan spiritual dengan berjalan kaki menempuh jarak ribuan kilometer. Perjalanan panjang tersebut akan dilanjutkan menuju Candi Borobudur, Jawa Tengah, sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Waisak 2026.

Dalam perjalanan tersebut, para biksu membawa pesan kedamaian, kesederhanaan, serta nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui perbedaan agama dan bangsa.

Pada tahun ini, ritual thudong mengusung tema Indonesia Walk for Peace 2026 dengan membawa semangat perdamaian dan harmoni antarumat beragama. Kehadiran para biksu di berbagai daerah menjadi simbol kuat bahwa keberagaman dapat berjalan berdampingan dalam suasana saling menghormati dan menghargai.

Prosesi ziarah yang berlangsung di kompleks makam Gus Dur di temani langsung oleh dzurriyah Pesantren Tebuireng yakni KH Riza Yusuf Hasyim atau akrab disebut Gus Riza.

Bersama Gus Riza, para biksu dipersilakan memanjatkan doa sesuai keyakinan masing-masing. Suasana berlangsung khidmat dan penuh ketenangan. Beberapa santri Tebuireng juga tampak menyapa serta menyaksikan secara langsung prosesi tersebut dengan penuh rasa hormat.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

*Dilema Pendidikan Indonesia*Oleh: M. Khusna Amal(Wakil Rektor UIN KHAS, Jember) Pendidikan Indonesia hari ini tidak bis...
10/06/2026

*Dilema Pendidikan Indonesia*

Oleh: M. Khusna Amal
(Wakil Rektor UIN KHAS, Jember)

Pendidikan Indonesia hari ini tidak bisa dibaca dengan satu warna. Ia bukan kisah tentang kegagalan semata, tetapi juga belum cukup jika hanya dirayakan sebagai deretan keberhasilan. Di banyak ruang kelas, kita melihat guru yang bekerja tekun, murid yang berjuang memahami pelajaran, orang tua yang berharap anaknya memperoleh masa depan lebih baik, dan negara yang terus mencari bentuk kebijakan paling tepat.

Namun, di tengah semua ikhtiar itu, ada satu dilema yang makin terasa: bagaimana mengejar capaian akademik tanpa kehilangan tugas utama pendidikan, yaitu membentuk manusia.

Dilema ini penting dibaca dengan tenang. Kita tentu membutuhkan literasi, numerasi, sains, teknologi, dan daya saing. Tanpa itu, anak-anak kita akan sulit menghadapi dunia yang berubah cepat. Tetapi pendidikan juga tidak boleh berhenti pada angka rapor, hasil tes, ranking sekolah, atau keterampilan teknis. Anak yang pandai berhitung tetap perlu belajar jujur. Anak yang cakap memakai teknologi tetap perlu belajar empati. Anak yang mampu bersaing tetap perlu belajar bekerja sama.

Data internasional menunjukkan bahwa pekerjaan rumah akademik Indonesia masih besar. Dalam Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata penilaian Organisation for Economic Co-operation and Development (Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi) OECD dalam matematika, membaca, dan sains. Hanya sekitar 18 persen siswa Indonesia mencapai minimal Level 2 dalam matematika, 25 persen dalam membaca, dan 34 persen dalam sains.

Angka tersebut bukan untuk membuat kita pesimistis, tetapi untuk mengingatkan bahwa penguatan kemampuan dasar tetap menjadi agenda penting pendidikan nasional.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

*Memilih Investasi Syariah Berbasis Data*Oleh: Raiqa Aqila Zahira(Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Ta...
10/06/2026

*Memilih Investasi Syariah Berbasis Data*

Oleh: Raiqa Aqila Zahira
(Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan)

Kemudahan akses melalui teknologi digital telah mengubah lanskap pasar modal Indonesia secara drastis. Saat membuka aplikasi sekuritas atau platform investasi modern, investor disajikan dengan visualisasi data yang sangat praktis.

Jika suatu emiten masuk ke dalam kategori halal, sistem aplikasi secara otomatis menyematkan label atau keterangan bertuliskan “Syariah” pada profil emiten tersebut. Indikator visual ini berfungsi sebagai panduan awal bagi publik, termasuk generasi santri modern di berbagai daerah, untuk memilah instrumen yang sesuai dengan prinsip hukum Islam.

Namun, patut dicatat bahwa label “Syariah” pada antarmuka aplikasi investasi tidak muncul secara otomatis. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) melakukan proses penyaringan secara ketat dan berkala sebelum menetapkan Daftar Efek Syariah (DES).

Dari kacamata literasi finansial komunitas pesantren yang adaptif terhadap teknologi, indikator visual tersebut jelas tidak boleh diterima begitu saja. Penggunaan data laporan keuangan secara mandiri tetap menjadi langkah utama untuk memverifikasi keabsahan operasional emiten secara akuntansi.

-Hal Bunga dan Utang-

Secara mendasar, instrumen investasi non-syariah atau konvensional mengandalkan sistem bunga (interest). Sistem bunga menjadi sumber pendapatan utama dalam investasi konvensional. Di samping itu, operasional perusahaan konvensional sering kali dibiayai dengan utang ribawi tanpa batasan yang ketat.

Dalam praktik akuntansi konvensional, beban bunga dicatat sebagai biaya operasional yang mengurangi laba bersih, sedangkan pendapatan bunga diklasifikasikan sebagai pendapatan lain-lain tanpa memedulikan aspek moralitas agama.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

*Alumni Annuqayah Lubangsa Launching Majelis Salakan*Oleh: Tarmizi Ansori(Alumnus PP Al-Mardliyyah Sumber Laga, Pamekasa...
08/06/2026

*Alumni Annuqayah Lubangsa Launching Majelis Salakan*

Oleh: Tarmizi Ansori
(Alumnus PP Al-Mardliyyah Sumber Laga, Pamekasan, Madura)

Alumni dan simpatisan Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, Sumenep, Madura, meluncurkan Majelis Salakan. Majelis ini dimaksudkan sebagai wadah untuk memperkuat persatuan dan jaringan alumni Annuqayah.

Launching Majelis Salakan digelar di Surabaya, Jawa Timur, Ahad (17/05/2026). Acara ini diikuti ratusan alumni dan simpatisan Pesantren Annuqayah dari berbagai daerah, mulai dari Jakarta, Kalimantan, Semarang, Banyuwangi, Jember, Madura, dan daerah lainnya.

Ketua Panitia Launching Majelis Salakan, Muhammad Muslim, menyampaikan bahwa keberadaan Majelis Salakan diharapkan menjadi wadah besar bagi alumni, santri, dan simpatisan Pesantren Annuqayah dalam merumuskan berbagai kegiatan strategis ke depan.

“Kita me-launching satu wadah bernama Majelis Salakan, berharap menjadi wadah bagi para alumni, santri, dan simpatisan pondok pesantren untuk menggagas berbagai kegiatan yang mendukung program-program di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa khususnya dan Annuqayah pada umumnya,” ujarnya.

Dikatakan juga, keberadaan majelis ini diharapkan bisa menjadi wadah persatuan dalam menjaga akidah Ahlussunnah wal Jamaah.

Acara itu juga dihadiri oleh beberapa masyaikh Pesantren Annuqayah, di antaranya KH Moh Salahuddin A Warist, pengasuh Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, KH Mohammad Ali Fikri, dan beberapa masyaikh lainnya.

Dalam acara tersebut, KH Moh Salahuddin A Warist mengatakan Majelis Salakan ini sangat penting untuk menjawab tantangan pesantren di tengah perubahan zaman. “Terutama dalam menyambut generasi muda yang memiliki minat mondok masih tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, sekitar 60 persen anak muda masih memiliki ketertarikan untuk menempuh pendidikan di pesantren. “Kita harus bersiap-siap menyambut mereka, para gen-z itu, dengan situasi dan permasalahannya sendiri,” imbuhnya.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

*Suara yang Menolak Dibungkam*-JERITAN PADA MENARA SUCI-Oleh: Moh. Zajil Aqil(Alumnus PP Annuqayah Latee, Sumenep, Madur...
08/06/2026

*Suara yang Menolak Dibungkam*

-JERITAN PADA MENARA SUCI-

Oleh: Moh. Zajil Aqil
(Alumnus PP Annuqayah Latee, Sumenep, Madura)

Dalam lipatan jubah yang tampak bersih,
ada rintihan yang tertimbun malam sunyi.
Bumi pesantren bergetar lirih,
menyimpan luka yang mulai pedih,
sementara ayat-ayat gugur
oleh kuasa yang berlebih.

Kami hanyalah seorang al-fakir
yang dahulu datang membawa asa,
menghafal doa di sela sembahyang,
menjahit masa depan
pada anyaman kitab-kitab usang.

Namun tangan yang diharap membawa pelita
menjelma sosok
yang lapuk dimakan kuasa,
memadamkan pelita asa.
Lidah kami dirantai wibawa
yang dipuja seribu mata.

Ia menjulang
bagai menara tak terhingga,
terlalu tinggi untuk digapai
secercah cahaya.

Ketika kami meratap,
seribu suara berkata:
“Diamlah, beliau orang suci.”

Apalah arti kesucian
jika tak mampu menyucikan?

Apalah arti kewibawaan
jika kehilangan perikemanusiaan?

Ia hanyalah hewan
berlabel manusia.

Ketika air mata menjadi sungai sunyi,
kami hanya menatap awan
yang tak lagi berseri.

Entah,
masih mungkinkah kami menggapainya?
Lantas, di manakah muara keadilan—
pada hati nurani
atau sosok yang digadang suci?

Kini dengarlah:
kesucian bukan tameng
bagi kebusukan.

Guluk-Guluk, 2026.

Baca puisi lainnya di www.duniasantri.co

*Tidak Ada Berkah dalam Kekerasan*Oleh: Amirul Muttaqin(Dosen dan Peneliti, Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah, Jomba...
28/05/2026

*Tidak Ada Berkah dalam Kekerasan*

Oleh: Amirul Muttaqin
(Dosen dan Peneliti, Universitas KH. Abdul Wahab Hasbullah, Jombang)

Akhir-akhir ini, isu safeguarding dan “Pesantren Ramah Anak” terus menjadi perhatian publik di Indonesia. Kementerian Agama, Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU), dan berbagai lembaga pendidikan Islam semakin gencar mendorong deklarasi anti-kekerasan serta penguatan perlindungan santri di lingkungan pesantren.

Langkah tersebut muncul setelah berbagai kasus kekerasan fisik, bullying, hingga kekerasan seksual di sejumlah pesantren kembali menjadi sorotan media nasional. Di tengah derasnya pemberitaan itu, masyarakat mulai mempertanyakan satu hal penting: mengapa tempat yang dikenal mengajarkan akhlak justru kadang meninggalkan rasa takut bagi sebagian santri?

Sebagian orang masih menganggap kekerasan di pesantren sebagai bagian dari proses pendisiplinan. Bentakan dianggap latihan mental, hukuman fisik disebut pembentukan karakter, sedangkan tekanan senioritas dipandang cara melatih ketahanan hidup di asrama. Cara pandang seperti ini membuat banyak tindakan yang sebenarnya melukai santri justru dinormalisasi atas nama tradisi. Padahal pendidikan yang lahir dari rasa takut tidak akan melahirkan ketulusan dalam belajar. Santri mungkin menjadi patuh, tetapi belum tentu tumbuh dengan jiwa yang sehat.

Dalam tradisi pesantren sendiri, pendidikan sejatinya dibangun di atas akhlak dan kasih sayang. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai pendidik yang mengutamakan kelembutan dalam membimbing umat. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini memberikan pelajaran bahwa kekerasan bukan jalan utama dalam mendidik manusia. Apalagi dalam lingkungan pesantren, tempat para santri datang untuk mencari ilmu dan keberkahan hidup.

Baca selengkapnya di www.duniasantri.co

Address

Perumahan Taman Serua Jalan Mangga Blok F No 1
Depok
16517

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jejaring Dunia Santri posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share