21/09/2025
Mereka bukan orang yang terbiasa meminta.
Bahkan setelah banjir menghanyutkan rumah dan harta bendanya, yang mereka pikirkan pertama kali hanyalah: “bagaimana anak-anak tetap selamat.”
Anak-anak kecil itu menggigil, ketakutan, beberapa masih trauma dengan suara deras air.
Namun, di balik luka itu, keluarga ini menolak untuk menjual cerita kesedihan.
Mereka memilih berdiri—walau rapuh—dan mencoba bangkit kembali.
Mereka sahabat dari Komunitas Cinta Kasih Bali, walaupun masih pontang panting antara mencari uang dan mengasuh anak, sebisanya mereka berusaha menyisihkan penghasilannya untuk menitipkan bantuan untuk keluarga yang membutuhkan. Bukan karena mereka sudah kaya, tetapi karena mereka mengerti bagaimana rasanya di posisi terendah dalam hidup.
Hari ini kami datang membawakan popok, susu, dan mainan kecil—bukan untuk mengganti kehilangan, tapi untuk menguatkan hati.
Untuk membuat anak-anak kembali tersenyum.
Untuk mengingatkan orang tua mereka: mereka tidak sendirian.
Di tengah bencana, yang paling berharga bukan hanya bantuan materi.
Yang paling berharga adalah harapan.
Dan harapan itu bisa lahir dari tanganmu.Terimakasih donatur dan teman teman yang sudah bersedia bersama sama mengumpulkan bantuan untuk korban banjir kemarin.
👉 Mari jadi bagian dari Cinta Kasih.
Mari kita bangkitkan kembali Bali 💛