17/07/2026
BALI SEDANG SAKIT…
Tapi yang paling menyedihkan, banyak orang memilih diam.
Semua tahu ada yang salah…
Alam dirusak.
Budaya mulai dijual.
Tanah leluhur perlahan hilang.
Rakyat kecil makin terdesak.
Tapi apa yang terjadi?
Banyak yang memilih “cari aman”…
Takut bicara.
Takut kehilangan jabatan.
Takut kehilangan relasi.
Takut tidak kebagian keuntungan.
Akhirnya…
Kebenaran kalah oleh kepentingan.
Keberanian kalah oleh kenyamanan.
Orang-orang yang masih peduli justru dianggap pengganggu.
Yang berani bicara malah dibungkam.
Yang kritis dianggap musuh.
Kalau semua terus diam…
jangan salahkan siapa-siapa saat Bali nanti kehilangan jiwanya.
Karena kehancuran tidak selalu datang dari musuh.
Kadang kehancuran datang karena terlalu banyak orang baik memilih diam.
Tapi Bali belum terlambat untuk diselamatkan…
Asal masih ada orang-orang yang berani berkata benar.
Solusinya bukan saling menghujat…
Solusinya adalah mulai peduli.
Mulai berani bersuara.
Mulai menjaga alam, adat, budaya, dan tanah Bali dengan tindakan nyata.
Jangan wariskan kepada anak cucu hanya cerita bahwa dulu Bali indah…
Tapi wariskan Bali yang masih punya roh, punya budaya, punya kehormatan.
Kalau rakyat kecil bersatu…
Kalau orang baik berhenti takut…
Kalau generasi muda mulai peduli…
Maka Bali masih bisa diselamatkan.
Karena sesungguhnya…
Bali tidak membutuhkan orang yang hanya pintar berbicara.
Bali membutuhkan keberanian, kejujuran, dan hati yang benar-benar mencintai tanah leluhurnya.
Itulah : I Ketut Putra Ismaya ( Jro Bima )