03/06/2026
Haul, Kota, dan Politik Simbol: Legitimasi Ideologis melalui Penjajahan Kultural
Fenomena haul di berbagai kota—Tegal, Gresik, Solo dan lainnya—tidak lagi bisa dibaca semata sebagai ekspresi spiritual umat. Ketika nama-nama kota tersebut secara sistematis dilekatkan pada figur atau tradisi yang menyimpan problem ideologis, kita sedang berhadapan dengan operasi simbolik: penggunaan ruang kultural untuk memproduksi legitimasi religius. Dalam kajian sosiologi agama, ini dikenal sebagai 'symbolic appropriation'—pengambilalihan makna kolektif untuk kepentingan ideologis tertentu.
Kota bukan sekadar lokasi geografis. Tegal, Gresik, dan Surakarta (Solo) dan lainnya adalah ruang simbolik dengan sejarah panjang Islam santri, ulama lokal, dan manhaj Ahlussunnah wal Jamā‘ah. Nama kota-kota ini memikul modal kultural yang kuat: kepercayaan publik, memori kolektif, dan identitas keagamaan. Ketika haul dilekatkan dengan embel-embel kota—“Haul Tegal”, “Haul Gresik”, “Haul Solo”—yang sedang diproduksi bukan sekadar acara, melainkan pesan ideologis tersirat: bahwa ajaran dan figur yang dihauli adalah representasi sah dari Islam lokal kota tersebut.
Di sinilah problemnya. Haul dalam tradisi Nahdlatul Ulama (NU) bukan ritual netral. Ia adalah tindakan simbolik bermuatan pengakuan. Mengahauli seseorang berarti mengafirmasi akidahnya, melegitimasi ajarannya, dan mengesahkan otoritas moralnya di hadapan publik. Maka ketika figur yang dihauli memiliki indikasi problematik—baik dalam doktrin, rujukan ideologis, maupun pola batiniyah, cerita-cerita khurafat yang dilabeli dengan karomah—haul tidak lagi berfungsi sebagai doa, melainkan sebagai alat normalisasi ideologi.
Pelekatan nama kota memperkuat efek ini. Jamaah awam tidak membaca teks, sanad, atau peta ideologi; mereka membaca simbol. Kota menjadi proxy legitimasi. Dengan kata lain, yang berbicara bukan dalil, melainkan reputasi kultural kota. Inilah yang oleh kajian budaya disebut sebagai penjajahan kultural (cultural colonization): bukan dengan senjata, tetapi dengan simbol, ritual, dan repetisi.
Pola ini konsisten. Di Tegal, Gresik, dan terutama Solo, haul berskala besar menghadirkan konstruksi visual dan naratif yang sama: keramaian sebagai kebenaran, massa sebagai dalil, dan emosi sebagai pengganti argumen. Dalam kondisi seperti ini, kritik ilmiah mudah dilabeli sebagai fitnah, karena yang diserang bukan argumen, melainkan identitas kolektif kota dan jamaahnya. Inilah mekanisme 'defensive identity' yang bekerja: membela simbol karena simbol telah menjadi bagian dari diri.
Lebih jauh, praktik ini menghasilkan efek jangka panjang yang serius. - Seperti yang pernah disinggung dalam artikel sebelumnya - Bisa jadi, hari ini haul diterima tanpa kritik; besok literatur pendukung dibaca tanpa filter; lusa ajaran bermasalah dinormalisasi sebagai bagian dari tradisi lokal, - dan ini tampaknya mulai berproses -. Pada tahap ini, kota tidak lagi menjadi subjek budaya, melainkan objek ideologisasi. Islam santri tidak dikembangkan, tetapi dipinjam namanya untuk kepentingan lain.
Yang membuat situasi ini berbahaya adalah sifatnya yang senyap. Tidak ada deklarasi ideologi, tidak ada debat terbuka. Yang ada hanya ritual, poster, dan narasi emosional. Namun justru di situlah legitimasi bekerja paling efektif. Dalam teori hegemoni kultural, dominasi paling kuat adalah dominasi yang tidak terasa sebagai dominasi.
Karena itu, kritik terhadap haul-haul semacam ini bukan anti-kota, bukan anti-tradisi, dan bukan anti-ulama. Ia adalah pembelaan terhadap otonomi kultural kota dan integritas manhaj keilmuan NU. Kota-kota simbol negara dan disana juga banyak santri NU, tidak boleh direduksi menjadi merek legitimasi ideologi dan nasab yang tidak valid secara ilmiah.
Singkatnya, yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar satu haul atau satu tokoh, melainkan arah warisan kultural Islam Nusantara. Apakah kota-kota santri akan tetap menjadi pusat manhaj Ahlussunnah wal Jamā‘ah, atau berubah menjadi panggung simbolik bagi penjajahan ideologis, pengokohan nasab palsu yang dibungkus ritual.
Dan sejarah mencatat satu hal dengan konsisten:
Ketika simbol dibiarkan tanpa kritik, ia akan menjajah kesadaran.
— Red./SL.
INDONESIA MENGGUGAT
(DAFTAR 50 JUDUL ARTIKEL)
Nasab, Ilmu, dan Kedaulatan Akal Umat
(Bunga Rampai Kritik Nasab, Otoritas, dan Rasionalitas Islam)
🔗 https://www.facebook.com/share/p/1FavCpsA6T/
---