Trapawana

Trapawana 1. Organisasi LSM Trapawana terdiri dari organisasi tingkat pusat (DPP). 2. Tingkat Wilayah Provinsi (DPW) 3. tingkat Daerah dengan ruang kota/kab (DPD) 4.

Tingkat Kecamatan (DPC) Organisasi LSM Trapawana terdiri dari organisasi tingkat pusat (DPP) dan tingkat wilayah (DPD)
2. Organisasi tingkat pusat dengan ruang lingkup wilayah negara Republik Indinesia.
3. Organisasi tingkat wilayah dengan ruang lingkup propinsi atau kota/kabupaten atau gabungan propinsi atau gabungan beberapa kabupaten/kota yang ditetapkan oleh rapat pleno pengurus pusat.

Sahabat ICW Elshinta Bandung 89.3 FM Kang Dedi Mulyadi Herman Suryatman Lembur Pakuan Channel Hoho Alkaff
15/03/2026

Sahabat ICW Elshinta Bandung 89.3 FM Kang Dedi Mulyadi Herman Suryatman Lembur Pakuan Channel Hoho Alkaff

WWF
22/02/2026

WWF

Indonesia kembali menjadi sorotan setelah tercatat mengekspor sekitar 1.400 ekor monyet hasil tangkapan liar ke Amerika Serikat. Ekspor tersebut memicu perdebatan panjang antara kepentingan ekonomi, riset ilmiah, serta isu kesejahteraan dan konservasi satwa liar.

Sebagian besar primata yang diekspor merupakan monyet ekor panjang atau Macaca fascicularis, spesies yang banyak ditemukan di berbagai wilayah Indonesia. Di pasar internasional, monyet ini kerap digunakan untuk penelitian biomedis, uji coba obat, hingga pengembangan vaksin karena kemiripan biologisnya dengan manusia.

Amerika Serikat menjadi salah satu negara dengan kebutuhan tinggi terhadap primata untuk kepentingan laboratorium. Lembaga penelitian dan perusahaan farmasi menggunakan monyet sebagai model uji dalam studi penyakit menular, neurologi, dan pengembangan terapi baru. Setelah pandemi COVID-19, permintaan global terhadap primata laboratorium disebut meningkat signifikan.

Namun, penggunaan satwa liar sebagai objek penelitian terus menuai kritik. Aktivis hak hewan menilai praktik ini berisiko terhadap kesejahteraan satwa, terutama jika proses penangkapan dan pengirimannya tidak memenuhi standar internasional.

Yang menjadi polemik adalah status β€œhasil tangkapan liar”. Jika benar berasal dari alam, penangkapan dalam jumlah besar dikhawatirkan berdampak pada keseimbangan populasi di habitat aslinya. Meski monyet ekor panjang belum termasuk kategori terancam punah secara global, beberapa populasi lokal mengalami tekanan akibat perburuan, konflik dengan manusia, serta hilangnya habitat.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara pengekspor primata terbesar di dunia untuk kebutuhan penelitian. Pemerintah biasanya menyatakan bahwa ekspor dilakukan sesuai kuota dan regulasi yang ditetapkan, serta berada di bawah pengawasan otoritas konservasi.

Pihak yang mendukung ekspor berpendapat bahwa kegiatan ini memberikan pemasukan negara serta mendukung kemajuan ilmu pengetahuan. Selain itu, ada klaim bahwa sebagian primata berasal dari penangkaran, bukan murni tangkapan liar.

Di sisi lain, kelompok konservasi menuntut transparansi data asal-usul satwa, metode penangkapan, serta kondisi kesejahteraan hewan selama proses karantina dan pengiriman lintas negara. Mereka juga mendorong pengembangan metode penelitian alternatif tanpa menggunakan satwa hidup.

Kasus ekspor 1.400 monyet ini menjadi pengingat pentingnya keseimbangan antara kepentingan riset medis, ekonomi, dan pelestarian satwa liar. Tanpa pengawasan ketat dan transparansi, praktik perdagangan satwa dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap ekosistem serta citra Indonesia di mata dunia.

Perdebatan ini kemungkinan akan terus berlanjut, seiring meningkatnya kesadaran global tentang etika penggunaan hewan dalam penelitian dan pentingnya konservasi keanekaragaman hayati.

22/02/2026

Selama hampir dua dekade, Rahayu Oktaviani mendedikasikan hidupnya untuk satu misi besar yaitu menyelamatkan Owa Jawa dari ancaman kepunahan. Primata endemik Pulau Jawa ini kini berstatus terancam punah akibat hilangnya habitat dan perburuan ilegal. Di tengah tekanan terhadap hutan-hutan tropis Jawa, Rahayu tetap setia meneliti, memantau, dan mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga satwa langka ini.

Owa Jawa, yang memiliki nama ilmiah Hylobates moloch, hanya dapat ditemukan di beberapa kantong hutan tersisa di Jawa Barat dan sebagian Jawa Tengah. Mereka dikenal sebagai primata arboreal yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pepohonan. Suara nyaring dan merdu yang mereka lantunkan setiap pagi menjadi penanda keberadaan mereka di hutan. Namun, deforestasi untuk perkebunan, pertanian, hingga pembangunan infrastruktur membuat wilayah jelajah mereka semakin sempit.

Rahayu Oktaviani memulai penelitiannya sejak 17 tahun lalu dengan fokus pada perilaku, pola vokalisasi, dan dinamika kelompok Owa Jawa. Penelitian jangka panjang ini sangat penting karena Owa Jawa merupakan satwa monogami yang hidup berpasangan dan memiliki wilayah teritorial yang ketat. Gangguan kecil saja dapat berdampak besar terhadap kelangsungan reproduksi mereka.

Selain melakukan penelitian ilmiah, Rahayu juga aktif dalam program konservasi berbasis masyarakat. Ia bekerja sama dengan warga sekitar hutan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga habitat Owa Jawa. Edukasi dilakukan melalui sekolah, kelompok tani, hingga pelatihan ekowisata, sehingga masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi tanpa harus merusak hutan.

Upaya pelestarian ini tidak selalu mudah. Medan hutan pegunungan yang terjal, cuaca ekstrem, serta keterbatasan pendanaan menjadi tantangan tersendiri. Namun, konsistensi dan kecintaannya terhadap satwa liar membuat Rahayu tetap bertahan. Baginya, menyelamatkan Owa Jawa bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hidup.

Pengabdian Rahayu pun mendapat pengakuan internasional. Atas dedikasinya yang luar biasa dalam melestarikan Owa Jawa, ia menerima Whitley Award, sebuah penghargaan bergengsi yang diberikan kepada para konservasionis dunia yang berhasil melindungi satwa dan habitatnya. Penghargaan ini menegaskan posisi Rahayu sebagai salah satu tokoh penting dalam konservasi primata global.

Populasi Owa Jawa saat ini diperkirakan hanya tersisa beberapa ribu ekor di alam liar. Tanpa perlindungan serius terhadap habitat hutan hujan tropis di Jawa, spesies ini berisiko mengalami nasib serupa dengan satwa lain yang telah lebih dulu punah. Karena itu, penelitian jangka panjang seperti yang dilakukan Rahayu sangat krusial untuk menyediakan data ilmiah sebagai dasar kebijakan konservasi.

Kisah Rahayu Oktaviani menjadi pengingat bahwa upaya pelestarian satwa tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Dibutuhkan dedikasi, kesabaran, dan kolaborasi lintas pihak. Selama 17 tahun, ia telah membuktikan bahwa satu orang dengan komitmen kuat dapat memberi dampak besar bagi kelangsungan hidup primata langka kebanggaan Pulau Jawa ini.

18/02/2026
16/02/2026

Terbaik__

MBG
12/02/2026

MBG

LSM Trapawana gelar program Membagi Buku Gratis untuk anak pedalaman Jawa Barat, wujudkan akses pendidikan merata.

Dengan Sahabat ICW – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! πŸŽ‰
12/02/2026

Dengan Sahabat ICW – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! πŸŽ‰

Dengan Herman Suryatman – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! πŸŽ‰
12/02/2026

Dengan Herman Suryatman – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! πŸŽ‰

Dengan Wanadri_Official – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! πŸŽ‰
12/02/2026

Dengan Wanadri_Official – Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! πŸŽ‰

Address

Jalan Mekarjaya No. 2 Cipageran, Cimahi Utara
Cimahi
40511

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00
Saturday 09:00 - 17:00
Sunday 09:00 - 17:00

Telephone

+622220675036

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Trapawana posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Trapawana:

Share