Pusat Studi Budaya dan Sejarah Sanghyang Hawu

Pusat Studi Budaya dan Sejarah Sanghyang Hawu LSM KOMPAS (Lembaga Swadaya Masyarakat Koordinat Masyarakat Pejuang Aspirasi)

"Perahu yang Dilarang Kembali"Trilogi Cerpen Alegoris Kosmologi SundaBagian Kesatu:  Asal-Usul dan Tanda-Tanda--Sumber I...
11/07/2025

"Perahu yang Dilarang Kembali"

Trilogi Cerpen Alegoris Kosmologi Sunda
Bagian Kesatu: Asal-Usul dan Tanda-Tanda

--
Sumber Inspirasi: Cerita Rakyat/Tradisi Lisan/Legenda
Sangkurinag dan Tangkuban Parahu, disuguhkan dengan sangat epik dan Anti-Mainstream.
__

Peta Tokoh dan Simbol (Glosarium)
A. Tokoh-Tokoh Kosmologis

Sangkuriang: Anak dari api, jelmaan ambisi purba yang ingin menaklukkan waktu dan kembali ke asal. Ia mewakili zaman yang gelisah, bertenaga besar namun kehilangan arah. Ia bukan sekadar anak durhaka, tapi personifikasi dari kehendak manusia melawan kodrat.
Dayang Sumbi / Ambu Wanci: Ibu Waktu, Penjaga waktu, penenun cahaya dan garis takdir. Ia adalah ibu semesta, bukan hanya ibu biologis. Dalam tenunannya terikat nasib alam. Ia mewakili kasih, pengorbanan, dan kekuatan perempuan menjaga keseimbangan kosmik.
Si Tumang: Ayah Sangkuriang dalam wujud anjing setia. Ia lambang kasih yang tak dikenal, korban dari tabiat manusia yang tak sadar akar dirinya. Simbol jiwa yang dikorbankan demi kesinambungan.
B. Orang Tua Lembah (Panitén Karuhun)

Ki Jarwa Dipa: Penafsir tanah dan sejarah. Bermata burung hantu, berjanggut akar. Suaranya menuntun arah bumi. Ia mewakili ingatan dan kearifan lokal yang berakar.
Nyi Endang Palay: Penyanyi hujan, pemanggil awan. Simbol air, pengampunan, dan doa purba. Suaranya menyentuh langit dan memberi pesan ke bumi.
Si Panyileukan: Bocah purba yang tertawa seperti lonceng langit. Ia tahu rahasia sebelum waktu dan menyanyi bagi masa yang belum datang. Simbol teka-teki, takdir, dan lingkaran abadi.
C. Simbol-Simbol Kosmologis

Perahu Raksasa: Proyek keangkuhan yang ingin membendung waktu. Wujud fisik dari kehendak menguasai takdir. Ia tak pernah sampai, karena waktu tak bisa dikurung.
Gunung Tangkuban Parahu: Gunung yang lahir dari perahu yang gagal. Simbol luka yang membatu, kasih yang berubah menjadi penanda abadi. Di sanalah anak api mengendap dalam keheningan.
Benang Fajar: Tenunan nasib dan waktu. Benang dari tangan Dayang Sumbi ini menyatukan, menyembuhkan, atau memutus garis hidup. Ia adalah jalinan antara kasih dan kehancuran.
Burung Titu Tutul: Penanda waktu, pembawa pesan antara langit dan bumi. Ia tahu kapan harus menyanyi dan kapan diam. Simbol intuisi alam dan bahasa semesta.
--
Bagian I: Asal-Usal dan Tanda-Tanda
--
Alkisah, sebelum kata-kata menemukan maknanya, dan sebelum waktu mencatat hari-hari, tanah ini hanya bernapas lewat angin.

Langit masih dekat dengan bumi. Gunung-gunung belum dipanggil dengan nama, termasuk Sang Perahu. Sungai belum mengalir, hanya diam, mengendap sebagai mimpi.

Pada hamparan luas yang belum terjamah kehendak manusia, waktu berputar tanpa arah. Pohon-pohon belum menua, batu belum tergores sejarah. Alam adalah kanvas, dan cahaya belum memilih warna.

Dalam kesenyapan itulah, terdengar nyanyian yang bukan dari makhluk, melainkan dari kesadaran tanah, nyanyian purba yang dalam bahasa leluhur menyebutnya sasakala (legenda).

Dan dari rahim tanah yang bergetar oleh nyanyian api dan desir embun, lahirlah satu sosok:

Sangkuriang, anak waktu yang tidak tahu kapan ia dilahirkan.
Sangkuriang, perwujudan keinginan yang tak sabar menunggu takdirnya sendiri.

Konon, ia lahir dari dentum perut bumi. Tidak menangis, tidak menjerit. Hanya membuka mata dan menggetarkan kabut di sekelilingnya. Api melingkar di ubun-ubunnya, dan di telapak kakinya terdapat bekas pijar yang tak padam. Tanda bahwa ia bukan anak manusia biasa, tapi titisan dari pergolakan antara langit dan tanah.

Tubuhnya mengalir lava. Setiap langkahnya membakar rumput. Suaranya menggema seperti batu pecah dihantam halilintar. Ia tidak tahu siapa dirinya, tapi ia tahu satu hal: ia ingin kembali.

Bukan kembali ke kampung halaman, ia tak punya itu. Bukan kembali pada pelukan, ia belum mengenal kasih. Yang ia rindukan adalah asal-muasal, sesuatu yang tak bisa ia sebut, tapi selalu memanggilnya dari ujung matahari terbit. Dalam bahasa tanah Tatar Sunda: mula balik ka asal-usulna.

Ia berjalan menyusuri rimba tak bernama. Di antara pohon-pohon raksasa dan kabut yang bersarang di akar-akar waktu, Sangkuriang mencari arah pulang tanpa tahu jalan. Langkahnya menoreh tanah, dan setiap tanah yang tersentuh menjadi hangat, lalu retak.

Di bawah tapak kakinya, tanah mengeluarkan bunyi lirih:

“Hapunten, nu jadi asal…”
(Maafkan, yang menjadi asal...)

Di kaki gunung yang belum menjadi gunung, di tepi hulu yang belum mengalir, berdiri seorang perempuan yang tidak pernah lahir dan tidak pernah mati.
Dayang Sumbi, pemintal fajar, penenun cahaya, pelindung keseimbangan.

Orang-orang menyebutnya “Ambu Wanci” ("Ibu Waktu"), meski ia tidak mengandung siapa-siapa. Ia tinggal di rumah kecil yang mengambang di antara kabut dan akar, menenun benang cahaya pagi ke dalam pola bintang.

Rambutnya menjuntai sampai ke tanah, menjadi akar pohon. Jemarinya tidak pernah berhenti menenun, karena dari jalinan benangnya, matahari tahu kapan harus terbit, dan hujan tahu kapan harus turun. Dalam tenunannya, tertulis aksara langit, aksara yang disebut Kawih Langit (Nyanian Langit), hanya bisa dibaca oleh burung-burung yang tinggal di pucuk pohon tertua.

Ia tahu Sangkuriang akan datang. Ia selalu datang. Setiap seribu lingkaran matahari.
Ia adalah ujian. Ia adalah api yang ingin menaklukkan sumber air.

Namun ia tidak membenci Sangkuriang. Ia hanya menjaga agar waktu tidak terbakar oleh nafsu yang melampaui takaran. Karena jika waktu hangus, maka gunung akan menjadi laut, dan langit akan kehilangan bayangan.

Ternyata mereka bukan dua-dua orangnya penghuni dunia purba itu. Di lembah-lembah yang tersembunyi antara bayangan dan bisikan, tinggallah para penjaga tanah. Bukan raja, bukan dewa, tapi rakyat pertama.

Mereka menyebut diri Orang Tua Lembah. Makhluk-mkhluk ini hidup dari dedaunan, bernapas bersama lumut, dan tidur di bawah nyanyian angin. Mereka tidak mencatat sejarah, tapi mengenangnya dalam tubuh. Dalam tubuh mereka mengalir kisah-kisah lisan dari mulut ke mulut: carita kolot (cerita orang tua), yang kini hampir tak lagi terdengar.

Tiga tokoh paling tua dan paling bijak di antara mereka:

Orang pertama bernama Ki Jarwa Dipa, si penunggu hutan keramat, berjanggut akar, bermata burung hantu. Ia bisa membaca napas bumi dari bisikan cacing. Dalam suaranya ada gema dari ribuan tahun lalu.

Kedua adalah Nyi Endang Palay, penyanyi hujan dari ladang batu. Ia menari agar awan tak tersesat. Suaranya dapat memanggil pelangi bahkan dari batu kering. Ia menyimpan kendi berisi air mata zaman.

Terakhir yang ketiga ialah Si Panyileukan, bocah aneh berumur tujuh, tepatnya tujuh ribu tahun, tak pernah tumbuh, tapi tahu rahasia daun yang belum gugur. Ia tertawa bila langit marah dan menangis bila malam terlalu tenang. Di mulutnya tersimpan teka-teki tentang dunia yang belum terjadi.

Merekalah yang pertama melihat Sangkuriang berjalan menembus kabut. Tanah menggelegak di bawah kakinya. Burung-burung pun tak berani berkicau. Akar-akar tua mengerut, dan kabut memisah seperti membuka jalan bagi makhluk seperti "dewa" yang lupa asalnya.

"Seuneu téh datang deui…" bisik Nyi Endang.
(Api itu datang lagi...).

"Manéhna rék ngalegleg langit..." gumam Ki Jarwa.
(Ia akan menelan langit...).

Si Panyileukan hanya tertawa kecil, lalu menyanyikan lagu yang hanya dimengerti angin:

"Langit kolot, langit kolot, naha maneh ngarenghap? Aya budak ti kulon, ngangais seuneu di dada.," teriaknya.
(Langit tua, langit tua, kenapa kau menghela napas? Ada anak dari barat, membawa bara dalam dada.)

Maka kabar tersebar, bukan lewat suara, tapi lewat gemetar tanah dan arah angin yang berubah.

Dedaunan berguguran tanpa sebab. Kabut tak lagi diam.

Dunia tahu: akan ada benturan. Akan ada luka yang membentuk daratan baru.

Dan Dayang Sumbi, di tengah tenunannya, mendongak. Ia merasakan getar di benang-benang cahaya yang ia rajut, ia berkata pada diRinya sendiri:

"Sangkuriang geus turun tina ruhayna. Lain pikeun deukeut. Tapi pikeun ngarebut."
(Sangkuriang telah turun dari bara. Bukan untuk mendekat. Tapi untuk merenggut.)

Ia meraih satu gulungan cahaya fajar dan menggenggamnya erat. Waktu harus diputar lebih cepat. Sebelum nanti perahu itu jadi, air terhenti dan asal dihancurkan oleh yang merindukannya.

Di langit barat, burung titu tutul menjerit lebih awal. Awan jingga mulai tertusuk cahaya dari benang fajar palsu yang dirajut oleh jemari Ibu Waktu.

Alam bersiap menyaksikan sandiwara tua yang akan kembali dimainkan, kali ini dengan bara yang lebih menyala, dan luka yang lebih dalam.

--
Bersambung ke Bagian Kedua...
--

Menu Lebaran Khas Keluarga Jawa Barat:✅ Ketupat✅ Opor✅ Sambel Goreng Kentang✅ Tumis Cabe Hijau✅ Bihun Goreng✅ Kerupuk Ud...
30/03/2025

Menu Lebaran Khas Keluarga Jawa Barat:

✅ Ketupat
✅ Opor
✅ Sambel Goreng Kentang
✅ Tumis Cabe Hijau
✅ Bihun Goreng
✅ Kerupuk Udang
✅ Kue Kering
✅ Bolu
✅ Kacang Goreng
✅ Peuyeum Ketan
✅ Rangginang
✅ Manisan

Kalo ada yang belum komplit.... segera lengkapi ... biar ga kena remedial... ☺️

Selamat Lebaran untuk Semua... Maafin Kami Yah .... 🙏🏽

https://www.instagram.com/reel/DHzXDQ4BLyj/?igsh=Z2praHB3NjViaWE1

Bagaimana Rumah Panggung Konsep Kang Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat) untuk masyarakatnya ?Bagaimana keunggulan, kekur...
11/03/2025

Bagaimana Rumah Panggung Konsep Kang Dedi Mulyadi (Gubernur Jawa Barat) untuk masyarakatnya ?

Bagaimana keunggulan, kekurangan, strategi dan prospek rumah panggung di Jawa Barat?

Pembuatan Rumah Panggung, biasanya memperhatikan tata ruang, tata letak, kontur tanah, pencahayaan, posisi, pemilihan material dll... leluhur kita sudah menerqpkannya sejak dulu, hal tersebut bagian dari Etnosains (pengetahuan tradisional)

02/02/2025
02/02/2025
02/02/2025

Address

Cimahi
40526

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pusat Studi Budaya dan Sejarah Sanghyang Hawu posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Pusat Studi Budaya dan Sejarah Sanghyang Hawu:

Share