Warga NU Lamongan

Warga NU Lamongan Media informasi dan silturrahim warga NU Lamongan. Turut menciptakan informadi yang positif dan akur

KH. Salim Azhar, Syuriah PCNU Lamongan bersama Bunda Kartika Hidayati, Calon Bupati Lamongan nomor urut 3.Barokalloh.
25/10/2020

KH. Salim Azhar, Syuriah PCNU Lamongan bersama Bunda Kartika Hidayati, Calon Bupati Lamongan nomor urut 3.

Barokalloh.

04/10/2020

Urusan kita, sebagai kader adalah jangan sampai salah pilih.

🤟🤟🤟

Santri, alumni pondok pilih santri!!
25/09/2020

Santri, alumni pondok pilih santri!!

LAMOMGAN, PETISI.CO – Dukungan untuk Kartika Saim “KarSa”, dalam mengikuti Pilkada Lamongan tahun 2020, semakin mengalir untuk mengantar pasangan tersebut memenangkan konstentasi Pilkada mendatang. Kali ini dukungan tersebut datang dari para Kyai dan Masyayikh, yang dibalut dalam acara istigho...

Capaian yang berharga dari keberhasilan Gus Dur menjadi presiden bagi kita tidak hanya soal kebijakan2 revolusionernya s...
23/09/2020

Capaian yang berharga dari keberhasilan Gus Dur menjadi presiden bagi kita tidak hanya soal kebijakan2 revolusionernya semata, melainkan memberi harapan, memberi kepercayaan diri, bahkan harga diri sebagai Santri dan sebagai Nahdliyin untuk terus optimis bahwa Nusantara ini benar2 milik kita. Bukan hanya katanya.

Untuk itu, penting kiranya, untuk terus merawat asa. Sehingga, menjadikan Bupati Lamongan dari NU bukanlah kesia-siaan. Melainkan pemberi harapan bagi anak cucu kita, bahwa Nahdliyyin (kita) mampu.

Dengan demikian, Pilkada Lamongan kali ini bukanlah semata politik kekuasaan belaka. Melainkan momen tepat membangkitkan optimisme jamaah dan jam'iyyah, menumbuhkan harapan, mengangkat kepercayaan diri generasi, kelak di kemudian hari.

Songsong perubahan. Mumpung masih ada waktu. Tuntaskan berkhidmah. Saatnya pulang ke rumah besar kita. Tempat kita tumbuh dan berharga sebagaiamana capaian yang kita rengkuh hari ini. Siapalah kita tanpa jam'iyyah. Hanya butiran debu.

SANG GURU: POLITIK DAN NURANIOleh: Robai Hamid Putu SalamTiba-tiba telepon jadulku berdering. Kulihat dari guruku. Yai R...
23/09/2020

SANG GURU: POLITIK DAN NURANI

Oleh: Robai Hamid Putu Salam

Tiba-tiba telepon jadulku berdering. Kulihat dari guruku. Yai Robbah. Aku yang sedang di lapangan tenis langsung mengangkatnya.

"Assalamulaikum wr wb. Kamu di mana?"

"Di Lamongan, Yai."

"Gak repot? "

"Mboten, Yai."

Saya tak berani matur kalau saya di lapangan tenis. Apalagi saat itu saya hanya pakai trining dan kaos olah raga. Tidak sarungan. Apalagi baju koko.
Beliau pun melanjutkan.

"Nek gak repot, aku sama ibu (bu nyai Armiatun, garwa beliau yang juga guru saya), arep nang omahmu."

"Inje yai inje." Jawab saya.

Dan itu memang menjadi kebiasaan, jika ada kiai saya hanya selalu matur inje. Berusaha selalu inje atau bisa, kecuali jika di luar kota atau di luar negeri. Nek di tambak saja tak tinggal. Demi Yai (bukan demi nyai).

Sambil menunggu beliau rawuh, saya pun harus sedikit gupuh untuk siap-siap suguh. Dalam benakku yang ada hanya beliau itu guruku. Bukan mantan bupati dua periode.

Tak lama kemudian, sebuah mobil nissan tiba depan rumah. Rumah ku yang mewah itu. Saya pun menyambut beliau. Ku bukakan pintu mobil, lalu ku cium asta beliau. Setelah itu pintu mobil ku tutup pelan-pelan.

Begitu di ruang tamu, beliau tanya-tanya keadaan ku dan anak anakku. Dan itu biasa dilakukan guru. Setelah itu baru menyampaikan tujuannya.

"Aku ke sini perlunya ada dua. Pertama cari obat habbatussaudah dan yang kedua aku mau jalan-jalan."

"Obat ini cocok untuk saya. Tapi habis. Dulu saya dikasih orang, tapi habis. Sekarang kalau dipakai sholat rasanya sakit lagi. Tapi minum ini enak. Katanya obat ini adanya di Lamongan. Coba carikan." Kata Yai sambil menunjukkan bekas bungkus kapsul itu.

Tanpa melihat produk mana, saya pun putar-putar ke apotek dan sampai ke mbah stromina juga. Hasilnya, nihil. Kalau hanya habbatussaudah banyak. Tapi yang seperti ditunjukkan Yai, gak ada.

Saya pun sempat mikir dan berdoa bisa membahagiakan guru.

Bungkus bekas itu pun saya pegang pegang sambil tak lihati lagi. Di mana ya. Tiba tiba saya lihat bagian bawah, ada produknya. Farfasah babat.
Alhamdulillah, saya pun telepon pak Syukron (saat masih gesangnya), pemilik farfasah dan ibu, yang beliau memang sudah kukenal.

Kutanyakan obat ini. Oh ada. Monggo. Saya tunggu.

Saya pun mengambil uang yang pikirku sangat cukup untuk beli obat. Yai pun senang ketika obat itu ada, walau harus ke babat.

"Ayoo.."

Beliau pun keluar. Saya bukakan pintu mobil, dan saya tutup pelan-pelan. Baru saya duduk di depan, samping sopir.

Setiba di babat, dijelaskan jika obat itu sebenarnya untuk jamaah umroh farfasah sendiri. Sehingga tak ada di toko umum. Tapi kalau Yai kerso ya monggo.
Semua yang ada saya beli bu. Kata Yai. Akhirnya, tak tersisa. Ingatku antara 25-30 kotak dibeli semua. Saya pun langsung ke kasir tapi dilarang Yai.

"Gak-gak. Sudah, jangan." Pesan beliau.

Bu Syukron yang tidak tahu jika saya murid, melihat saya sebagai profesi dan Yai sebagai mantan bupati, memilih terima uang Yai. Saya pun terdiam.

"Aku wes koe terno ae senang kok. Apalagi dapat obat ini. Wes, saiki ayo mangan nang warung kulone babat."

"Injeh, yai."

Selalu ku bukakan pintu mobil dan ku tutup pelan-pelan. Seperti cara ajudan.
Ternyata, warung kulon babat kidul dalan itu sudah akrab sama Yai.

Tanpa pesan apa-apa, langsung semua menu disajikan. Mirip cara saribundo atau minang raya.
Dan, seperti di farfasah, saya pun gak boleh membayar.

Sang sopir pun sudah berpesan kepada saya. Setelah itu, kembali pulang, tapi saya minta turun di depan wingko diva dan otak otak Lamongan.

"Selamat jalan guru. Semoga njenengan bahagia dan akan tetap membimbing kulo, Yai. Tidak ada mantan guru dan mantan murid. Kulo tetap nyuwun njenengan talqin, Yai."

Alfatehah.
Lamongan, 23 -9-2020

FOKUS ADALAH KUNCI PERTOLONGAN-NYAseekor rusa betinasedang bunting / HamilKetika hampir detik-detik kelahirannya,rusa in...
22/09/2020

FOKUS ADALAH KUNCI PERTOLONGAN-NYA

seekor rusa betina
sedang bunting / Hamil
Ketika hampir detik-detik kelahirannya,
rusa ini pergi ke suatu tempat yang jauh
di pinggir hutan yang berdekatan
dengan sungai.

Tiba-tiba.....
sesuatu yang tidak ia bayangkan terjadi !

Terdengar suara gemuruh dari langit dan tiba-tiba tampak kilat yang menyambar kepermukaan bumi. Hutan kering ini terbakar dahsyat karena percikan api dari petir tersebut.

Ketika rusa ini menoleh ke kiri,
tampak seorang pemburu telah siap melesatkan anak panah ke arahnya.

Saat menoleh ke kanan,
ia pun terkejut melihat seekor singa lapar
yang siap menerkamnya.

Maka tiada pilihan bagi rusa ini selain :

1. Mati dimangsa singa.
2. Mati terkena panah.
3. Mati terbakar.
4. Atau mati tenggelam karena melompat
ke sungai.

Yang jelas ...
Bahaya mengancam dari berbagai penjuru
dan tidak ada lagi kesempatan untuk berlari.

Lalu apa yang harus ia lakukan?
Bersedih dan merintih?

Menangis dan menjerit?
Atau ia harus berlari
sementara kondisinya begitu lemah?
Atau menyerah pada keadaan?

Rusa pun pasrah.
Dia hanya fokus untuk melahirkan bayinya.

Lalu apa yang terjadi?

Kilat-kilat yang menyambar mengganggu pandangan si pemburu.
Akhirnya panah yang dilesatkan pun meleset dan mengenai si singa lapar.
Singa malang itu mati seketika.

Tiba-tiba hujan datang begitu deras dan memadamkan kebakaran di hutan tersebut.

Pemburu lari mencari tempat berteduh dan tidak fokus lagi kepada rusa tersebut.

Rusa pun melahirkan dengan selamat !

Sahabatku....

Segala kesulitan menyerbumu dari segala arah. Masalah datang bertubi-tubi seakan tak memberimu kesempatan untuk bernafas lega.

Masalah di tempat bekerja,
masalah di dalam rumah,
masalah di jalan,
masalah dengan anak-anak kita semuanya datang bersamaan.

Seakan kamu tidak bisa lagi berbuat apa-apa..

Lalu apa yang harus dilakukan?
Jadilah seperti Rusa.
Biarkan semuanya berjalan apa adanya dan tetaplah fokus dan optimis.

Lakukan sesuatu yang mampu kau lakukan !
Selebihnya serahkan kpada ALLAH

Karena Allah lah yang mengatur jalan kehidupanmu.

”Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dgn BERJAMAAH, dan tidak dikatakan berjamaah, kecuali dengan berpemimpin, dan tida...
17/09/2020

”Sesungguhnya tidak ada Islam kecuali dgn BERJAMAAH, dan tidak dikatakan berjamaah, kecuali dengan berpemimpin, dan tidak dikatakan berpemimpin kecuali dengan kepatuhan.”

Umar Bin Khottob





"Salahe NU opo to, Pak, karo sampyn? Kok sajake gak lego blas onok Calon seng didukung NU dadi Bupati Lamongan? Sampek m...
15/09/2020

"Salahe NU opo to, Pak, karo sampyn? Kok sajake gak lego blas onok Calon seng didukung NU dadi Bupati Lamongan? Sampek mbok rewangi koyo mengkono polahanmu."

"Ya Jabbbar. Ya Qohhar"

Warga NU Lamongan



PEMENANG PILKADAOleh: M. Riadus Sholihin"Politik itu barang hidup." Suatu ketika seorang teman berkata. Barangkali jika ...
15/09/2020

PEMENANG PILKADA

Oleh: M. Riadus Sholihin

"Politik itu barang hidup." Suatu ketika seorang teman berkata. Barangkali jika dilanjutkan, teman saya tersebut ingin mengatakan bahwa politik itu dinamis.

Seorang peserta kontestan pilkada bisa saja pada detik ini ia tampak menguasai, suaranya tampak menguat, banner merata tersebar di seantero desa, bahkan tim sudah terbentuk sampai pintu rumah warga sekalipun.

Namun, dukungan politik adalah dukungan pemilih. Sedangkan pemilih adalah manusia. Manusia dikuasai oleh kata hati. Sedangkan kata hati terus berubah-berubah secara dinamis. Di sinilah kira-kira titik yang dimana politik perlu termanaj dengan baik.

Sekali lagi, seorang kotestan politik bisa saja tampak kuat hari ini, bisa jadi dikarenakan lawan belum bergerak. Tetap waspada.

Soal manajemen politik, penentunya adalah jam terbang, salah satunya. Seorang kontestan politik bisa saja punya sumberdaya melimpah. Tapi kemelimpahan sumberdaya pastilah ada batasnya. Berapapun itu. Sehingga manajemen menjadi sangat krusial.

Penulis punya pengandaian begini. Jam terbang mempunyai radar efektivitas dan akurasi yang tinggi. Bagaimana harus memberi penghargaan maupun arahan kepada person maupun kelompok dalam sebuah tim. Jika pada titik ini saja gagal, sudah barang tentu akan berdampak kepada tim secara luas.

Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana tanpa jam terbang yang cukup harus merawat dukungan yang sudah masuk dan di sisi yang lain harus terus memasukkan dukungan yang baru. Ditengah penetrasi lawan yang semakin gencar. Sedangkan waktu pemilihan masih panjang.

Belum lagi menghadapi karakter pendukung yang beragam. Beragam kepentingan sekaligus beragam kekuatan dukungan dan dominasi di tengah tim.

Sehingga kalau kita lihat secara cermat akan tampak, di kecamatan A dukungan sumberdaya melimpah. Tapi melemah di Kecamatan B. Padahal dukungan harus dibikin merata.

Tentu saja masih banyak detil proses pemenangan yang sering menguras tenaga dan nafas yang membuat seorang kontestan politik terengah-engah saat pertandingan belum usai.

Lalu, siapa yang kira-kira akan keluar sebagai pemenang? Dia adalah yang bisa mengatur nafas hingga akhir pertandingan.

Dan itu sekali lagi ditentukan oleh jam terbang. Di luar semua upaya manusia, yang pasti semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfud sana.

Mari kita simak bersama. 🤗

NGAJI KATA 'NETRAL'Oleh: Robai Hamid Putu Salam Netral dalam bahasa Itali disebut neutro. Dalam setiap pil-pilan, kata i...
14/09/2020

NGAJI KATA 'NETRAL'

Oleh: Robai Hamid Putu Salam

Netral dalam bahasa Itali disebut neutro. Dalam setiap pil-pilan, kata ini menjadi terkenal dan seakan sakral. Tapi, sejatinya perlu memahami kepada siapa dan siapa yang harus netral.

Sebenarnya, yang wajib netral dalam hal politik itu berlaku pada kepala negara atau pejabat negara. Itu menurut kamus dan menurut undang undang.

Tapi, NU sering kali ikut-ikutan berkata netral. Sedang ormas lain nyaris tak terdengar kata kata ini.

NU boleh saja berkata netral, tapi pada tataran apa. Jika dalam pilkada itu calonnya sama sama NU, seperti di Gres*k atau pilgub Jatim lalu, maka kenetralan NU bisa bersifat mutlak. Tanpa ada secuil kertas pun yang keluar untuk keberpihakan. Soal pribadi pribadi, kembalikan pada kata hak. Bukan netral.

Nah, jika di daerah itu calon dari NU berhadapan dengan selain NU, maka sebagai orang tua tidak lagi menggunakan kata netral atau membiarkan anaknya berjuang sendiri ketika ada lawan. Tapi sebagai bapak yang harus membela dan membantu anaknya, atau temannya atau keluarganya.

Lalu bagaimana dengan pilihan DPR atau DPRD?

Di sini, NU seharusnya juga tetap harus tidak netral. NU harus mengarahkan ummatnya memilih calon NU. Di mana pun partainya, asal tidak partai yang nyata-nyata berseberangan dengan NU.

Tapi jika ingat sejarah, NU itu melahirkan partai politik. Karena itu, semestinya NU juga harus memperhatikan anak yang dilahirkan. Soal anak yang dilahirkan itu durhaka pada orang tuanya, harus dinasehati karena tak ada mantan anak dan mantan bapak. Kalau gak mau dinasehati, apalagi ngerebut hak orang tuanya, maka dia akan merasakan bagaimana jadi gelandangan politik. Walau kelihatan gaya dan dapat kedudukan.

Karena itu, jika merumuskan keputusan, baik itu di tingkat muktamar, Konferwil atau Konfecab, harus cerdas dalam hal menggunakan kata netral.

Seperti Musyker di Glagah, Lamongan, dalam hal ini, itu mengambil keputusan yang tepat karena menyangkut urusan rumah tangga NU sendiri.

Jangan sampai orang lain yang umek soal kenetralan NU, lalu mereka masuk mengambil suaranya.

Coba belajar ilmu copet atau ilmu sulap. Copet atau pesulap akan selalu berusaha tersenyum dan berbaik-baik pada calon mangsanya atau penonton sulap. Dan sang korban copet baru akan sadar beberapa saat ketika mengetahui barangnya hilang, getunnya bisa harian, bulanan atau lima tahunan.
Begitu juga penonton sulap, tetap akan terhibur selama tidak diberitahu rahasianya. Jika tahu, dia akan bilang oohhh gitu ta. Ketipu awak iki.

Karena kita terlalu sering berdebat dalam kata netral yang merujuk ke khittoh, akhirnya terlena dalam perdebatan, dan menjadi lupa ketika ada ASN atau aparat negara lain yang terang terangan berani tidak netral. Karena ketika NU disorot tidak netral, menjadi takut menjawab karena kita tidak faham. Karena itu, dalam menyikapi yang terjadi di masyarakat, butuh pengurus atau tim yang cerdas. Karena ini menyangkut strategi, bagaimana bisa mengambil hati.

Orang akas gunakan tenaganya, jangan peras otaknya, apalagi sakunya. Tapi kantongnya jangan sampai kosong. Orang cerdas gunakan otaknya, jangan tenaganya.

Jika ada kopi panas seruput segera sebelum dingin, kecuali yang gak betah panas. Semoga kita tidak ketipu oleh kawan sendiri. Atau malah menipu kawan sendiri. Maklum, politik dunia binatang (s*k asyik/iwan fals). Dan dunia binatang itu terkadang lucu, menggemaskan, menyenangkan atau bahkan menakutkan.

Dan di dalamnya, tetap menjadi rebutan siapa penguasa di belantara itu, karena di situlah bertumpuk anggaran yang bisa membuat kaya, gaya, walau bahaya bagi yang serakah.

[email protected].
11/9 2020

Address

Cikupa
15710

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Warga NU Lamongan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Warga NU Lamongan:

Share