14/09/2020
NGAJI KATA 'NETRAL'
Oleh: Robai Hamid Putu Salam
Netral dalam bahasa Itali disebut neutro. Dalam setiap pil-pilan, kata ini menjadi terkenal dan seakan sakral. Tapi, sejatinya perlu memahami kepada siapa dan siapa yang harus netral.
Sebenarnya, yang wajib netral dalam hal politik itu berlaku pada kepala negara atau pejabat negara. Itu menurut kamus dan menurut undang undang.
Tapi, NU sering kali ikut-ikutan berkata netral. Sedang ormas lain nyaris tak terdengar kata kata ini.
NU boleh saja berkata netral, tapi pada tataran apa. Jika dalam pilkada itu calonnya sama sama NU, seperti di Gres*k atau pilgub Jatim lalu, maka kenetralan NU bisa bersifat mutlak. Tanpa ada secuil kertas pun yang keluar untuk keberpihakan. Soal pribadi pribadi, kembalikan pada kata hak. Bukan netral.
Nah, jika di daerah itu calon dari NU berhadapan dengan selain NU, maka sebagai orang tua tidak lagi menggunakan kata netral atau membiarkan anaknya berjuang sendiri ketika ada lawan. Tapi sebagai bapak yang harus membela dan membantu anaknya, atau temannya atau keluarganya.
Lalu bagaimana dengan pilihan DPR atau DPRD?
Di sini, NU seharusnya juga tetap harus tidak netral. NU harus mengarahkan ummatnya memilih calon NU. Di mana pun partainya, asal tidak partai yang nyata-nyata berseberangan dengan NU.
Tapi jika ingat sejarah, NU itu melahirkan partai politik. Karena itu, semestinya NU juga harus memperhatikan anak yang dilahirkan. Soal anak yang dilahirkan itu durhaka pada orang tuanya, harus dinasehati karena tak ada mantan anak dan mantan bapak. Kalau gak mau dinasehati, apalagi ngerebut hak orang tuanya, maka dia akan merasakan bagaimana jadi gelandangan politik. Walau kelihatan gaya dan dapat kedudukan.
Karena itu, jika merumuskan keputusan, baik itu di tingkat muktamar, Konferwil atau Konfecab, harus cerdas dalam hal menggunakan kata netral.
Seperti Musyker di Glagah, Lamongan, dalam hal ini, itu mengambil keputusan yang tepat karena menyangkut urusan rumah tangga NU sendiri.
Jangan sampai orang lain yang umek soal kenetralan NU, lalu mereka masuk mengambil suaranya.
Coba belajar ilmu copet atau ilmu sulap. Copet atau pesulap akan selalu berusaha tersenyum dan berbaik-baik pada calon mangsanya atau penonton sulap. Dan sang korban copet baru akan sadar beberapa saat ketika mengetahui barangnya hilang, getunnya bisa harian, bulanan atau lima tahunan.
Begitu juga penonton sulap, tetap akan terhibur selama tidak diberitahu rahasianya. Jika tahu, dia akan bilang oohhh gitu ta. Ketipu awak iki.
Karena kita terlalu sering berdebat dalam kata netral yang merujuk ke khittoh, akhirnya terlena dalam perdebatan, dan menjadi lupa ketika ada ASN atau aparat negara lain yang terang terangan berani tidak netral. Karena ketika NU disorot tidak netral, menjadi takut menjawab karena kita tidak faham. Karena itu, dalam menyikapi yang terjadi di masyarakat, butuh pengurus atau tim yang cerdas. Karena ini menyangkut strategi, bagaimana bisa mengambil hati.
Orang akas gunakan tenaganya, jangan peras otaknya, apalagi sakunya. Tapi kantongnya jangan sampai kosong. Orang cerdas gunakan otaknya, jangan tenaganya.
Jika ada kopi panas seruput segera sebelum dingin, kecuali yang gak betah panas. Semoga kita tidak ketipu oleh kawan sendiri. Atau malah menipu kawan sendiri. Maklum, politik dunia binatang (s*k asyik/iwan fals). Dan dunia binatang itu terkadang lucu, menggemaskan, menyenangkan atau bahkan menakutkan.
Dan di dalamnya, tetap menjadi rebutan siapa penguasa di belantara itu, karena di situlah bertumpuk anggaran yang bisa membuat kaya, gaya, walau bahaya bagi yang serakah.
[email protected].
11/9 2020