23/09/2020
SANG GURU: POLITIK DAN NURANI
Oleh: Robai Hamid Putu Salam
Tiba-tiba telepon jadulku berdering. Kulihat dari guruku. Yai Robbah. Aku yang sedang di lapangan tenis langsung mengangkatnya.
"Assalamulaikum wr wb. Kamu di mana?"
"Di Lamongan, Yai."
"Gak repot? "
"Mboten, Yai."
Saya tak berani matur kalau saya di lapangan tenis. Apalagi saat itu saya hanya pakai trining dan kaos olah raga. Tidak sarungan. Apalagi baju koko.
Beliau pun melanjutkan.
"Nek gak repot, aku sama ibu (bu nyai Armiatun, garwa beliau yang juga guru saya), arep nang omahmu."
"Inje yai inje." Jawab saya.
Dan itu memang menjadi kebiasaan, jika ada kiai saya hanya selalu matur inje. Berusaha selalu inje atau bisa, kecuali jika di luar kota atau di luar negeri. Nek di tambak saja tak tinggal. Demi Yai (bukan demi nyai).
Sambil menunggu beliau rawuh, saya pun harus sedikit gupuh untuk siap-siap suguh. Dalam benakku yang ada hanya beliau itu guruku. Bukan mantan bupati dua periode.
Tak lama kemudian, sebuah mobil nissan tiba depan rumah. Rumah ku yang mewah itu. Saya pun menyambut beliau. Ku bukakan pintu mobil, lalu ku cium asta beliau. Setelah itu pintu mobil ku tutup pelan-pelan.
Begitu di ruang tamu, beliau tanya-tanya keadaan ku dan anak anakku. Dan itu biasa dilakukan guru. Setelah itu baru menyampaikan tujuannya.
"Aku ke sini perlunya ada dua. Pertama cari obat habbatussaudah dan yang kedua aku mau jalan-jalan."
"Obat ini cocok untuk saya. Tapi habis. Dulu saya dikasih orang, tapi habis. Sekarang kalau dipakai sholat rasanya sakit lagi. Tapi minum ini enak. Katanya obat ini adanya di Lamongan. Coba carikan." Kata Yai sambil menunjukkan bekas bungkus kapsul itu.
Tanpa melihat produk mana, saya pun putar-putar ke apotek dan sampai ke mbah stromina juga. Hasilnya, nihil. Kalau hanya habbatussaudah banyak. Tapi yang seperti ditunjukkan Yai, gak ada.
Saya pun sempat mikir dan berdoa bisa membahagiakan guru.
Bungkus bekas itu pun saya pegang pegang sambil tak lihati lagi. Di mana ya. Tiba tiba saya lihat bagian bawah, ada produknya. Farfasah babat.
Alhamdulillah, saya pun telepon pak Syukron (saat masih gesangnya), pemilik farfasah dan ibu, yang beliau memang sudah kukenal.
Kutanyakan obat ini. Oh ada. Monggo. Saya tunggu.
Saya pun mengambil uang yang pikirku sangat cukup untuk beli obat. Yai pun senang ketika obat itu ada, walau harus ke babat.
"Ayoo.."
Beliau pun keluar. Saya bukakan pintu mobil, dan saya tutup pelan-pelan. Baru saya duduk di depan, samping sopir.
Setiba di babat, dijelaskan jika obat itu sebenarnya untuk jamaah umroh farfasah sendiri. Sehingga tak ada di toko umum. Tapi kalau Yai kerso ya monggo.
Semua yang ada saya beli bu. Kata Yai. Akhirnya, tak tersisa. Ingatku antara 25-30 kotak dibeli semua. Saya pun langsung ke kasir tapi dilarang Yai.
"Gak-gak. Sudah, jangan." Pesan beliau.
Bu Syukron yang tidak tahu jika saya murid, melihat saya sebagai profesi dan Yai sebagai mantan bupati, memilih terima uang Yai. Saya pun terdiam.
"Aku wes koe terno ae senang kok. Apalagi dapat obat ini. Wes, saiki ayo mangan nang warung kulone babat."
"Injeh, yai."
Selalu ku bukakan pintu mobil dan ku tutup pelan-pelan. Seperti cara ajudan.
Ternyata, warung kulon babat kidul dalan itu sudah akrab sama Yai.
Tanpa pesan apa-apa, langsung semua menu disajikan. Mirip cara saribundo atau minang raya.
Dan, seperti di farfasah, saya pun gak boleh membayar.
Sang sopir pun sudah berpesan kepada saya. Setelah itu, kembali pulang, tapi saya minta turun di depan wingko diva dan otak otak Lamongan.
"Selamat jalan guru. Semoga njenengan bahagia dan akan tetap membimbing kulo, Yai. Tidak ada mantan guru dan mantan murid. Kulo tetap nyuwun njenengan talqin, Yai."
Alfatehah.
Lamongan, 23 -9-2020