Laskar Sholawat Charitable Society

Laskar Sholawat Charitable Society Rahmat Allah begitu luas, setiap kebaikan (hasanah) yang kita lakukan akan dilipatgandakan

09/11/2025

Ada empat level mursyid yang berbeda, yang pertama adalah Syekh at-Tabarruk (مرشد التبرك). Mursyid atau pembimbing yang memberi keberkahan, seorang wali yang dapat memberi keberkahan. Kedua adalah Mursyid Tazkiyah (مرشد التزكية), mursyid atau Syekh untuk penyucian jiwa.

Ketiga adalah Mursyid at-Tashfiyah (مرشد التصفية), mursyid tingkat ketiga ini dapat menyaring murid dari kedua tingkatan mursyid sebelumnya yang datang kepadanya. Ia menyaring murid-murid itu dan mengambil yang paling murni.

Yang terakhir dan paling penting adalah Mursyid al-Irsyad (مرشد ارشاد), ia menempati bimbingan tingkat tertinggi dan merupakan Mursyid al-Wilayah (مرشد الولاية), seorang mursyid yang dapat membawa semua orang yang memerlukannya, setelah mereka diberi keberkahan dari mursyid tingkat pertama, lalu diberi penyucian jiwa oleh mursyid tingkat kedua, dan mereka telah disaring oleh mursyid tingkat ketiga di mana beliau mengambil yang paling murni di antara ribuan atau jutaan orang, ia dapat mengambil yang paling murni di antara mereka. Dan mursyid terakhir mengangkat mereka, mendisiplinkan mereka disebut Mursyid at-Tarbiyah (مرشد التربية), yang merupakan Mursyid al-Wilayah yang sesungguhnya yakni Sang Sulthan al-Awliya.

Jadi kita tidak boleh membuat kesalahan dan menganggap bahwa setiap orang yang berbicara dan mengatakan bahwa, "Aku adalah khalifahnya Mawlana Syekh," atau "Aku adalah deputinya Mawlana Syekh," atau, "Aku adalah perwakilan Mawlana Syekh." Kalian dapat melihat banyak orang yang seperti itu dan saya menunjuk ke arah kamera ini, kalian dapat melihat banyak orang yang sekarang ini mengaku mempunyai karakteristik tersebut.

Dan dari baris pertama dari catatan ini yang akan saya katakan, kalian dapat menyadari bahwa tidak ada seorang pun di antara mereka yang terdapat di website-website atau di seluruh negeri ini yang merupakan seorang mursyid. la adalah orang yang memimpin dzikir, ya! la adalah seseorang yang mengajar dari ajarannya Mawlana, ya! Tetapi apakah ia adalah seorang mursyid? Tidak! Karena dari baris pertama catatan Grandsyekh, semoga Allah memberkahi ruhnya dan apa yang dikatakan oleh Mawlana Syekh Nazim (q), baris pertama adalah Mursyid at-Tabarruk, mursyid di mana ketika kalian datang kepadanya, kalian mendapat keberkahan, bahkan jika kalian tidak melakukan apa-apa, hanya berada dalam kehadirannya.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
_____

25/09/2025
*"Kehadiran Ruh Orang Shalih dalam Majelis: Bukti Kehidupan Setelah Wafat Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis"*Dalam Al-Qur'...
31/10/2024

*"Kehadiran Ruh Orang Shalih dalam Majelis: Bukti Kehidupan Setelah Wafat Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis"*

Dalam Al-Qur'an dan beberapa hadits terdapat penjelasan yang mendalam tentang kehidupan orang-orang shalih setelah wafat, terutama yang syahid dan memiliki kedudukan khusus di sisi Allah (Waliyullah).
Berikut beberapa ayat dan hadits yang bisa menjadi rujukan untuk menjelaskan bahwa orang-orang shalih tidak terputus dari kita, bahkan mereka bisa hadir dalam bentuk rahmat dan doa yang dikirimkan kepada murid-murid atau orang yang mencintainya.

1. Al-Baqarah (2:154): Allah SWT berfirman:
"Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya."
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa orang-orang yang wafat di jalan-Nya, terutama orang-orang shalih dan syahid, tetap hidup, meskipun bentuk kehidupannya berbeda dengan kehidupan di dunia.

2. Ali 'Imran (3:169-170): Firman Allah SWT yang menjelaskan lebih rinci tentang kehidupan orang-orang yang wafat di jalan Allah:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum mengikuti mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (p**a) mereka bersedih hati."
Ayat ini menjelaskan bahwa para syuhada dan orang-orang yang shalih menikmati hidup penuh kebahagiaan dan rizki dari Allah. Pemahaman ini juga memberi isyarat bahwa mereka bisa diberi kesempatan untuk melihat atau bahkan hadir secara spiritual dalam majelis-majelis dzikir atau haul.

3. Hadis Nabi Muhammad SAW tentang para nabi yang hidup di kuburnya (HR. Al-Baihaqi, Musnad Abu Ya'la): Nabi SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para nabi, maka mereka itu hidup di kubur mereka dan shalat.”
Dalam hadis ini, Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa para nabi tetap hidup dan beribadah dalam kehidupan barzakh (kehidupan setelah kematian dan sebelum hari kiamat), yang menjadi bukti bahwa kehidupan para nabi dan orang-orang shalih tidak terputus.

4. Hadis tentang para wali yang memiliki hubungan khusus dengan Allah SWT : Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah berfirman:
“Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya… dan Aku selalu menjadi pendengarannya yang di dekatnya ia mendengar, penglihatannya yang di sana ia melihat, tangan yang di dekatnya ia memegang, dan kaki yang di dekatnya ia berjalan…” ( HR.Bukhari)
Hadis ini menunjukkan kedekatan luar biasa yang dimiliki para wali Allah sehingga mereka terus-menerus mendapat perlindungan dan cinta Allah, bahkan setelah wafat. Dalam kedekatan ini, para wali masih bisa memberikan manfaat bagi umat dan menghadiri majelis-majelis tertentu.

5. Pendapat para ulama tentang kehadiran ruh orang shalih di majelis dzikir atau haul : Beberapa ulama, seperti Imam al-Suyuti dalam kitab Al-Hawi lil Fatawi , menjelaskan bahwa ruh orang-orang shalih dapat hadir dan mendapatkan kebaikan dari dzikir dan doa yang dipanjatkan bagi mereka di majelis dzikir atau haul. Ini adalah bentuk keberkahan yang Allah berikan kepada para wali-Nya sebagai bentuk penghormatan kepada mereka dan manfaat bagi umat yang hidup.

6. Pandangan Ulama mengenai Kehadiran Ruh Para Wali dalam Majelis: Banyak ulama yang menyatakan bahwa meskipun ruh orang shalih telah berpindah ke alam barzakh, Allah mempunyai kuasa untuk mengizinkan mereka hadir secara spiritual di majelis-majelis tertentu. Pandangan ini umumnya dianut oleh para ulama dalam tradisi tasawuf, di mana mereka melihat kehadiran ruh para wali sebagai salah satu bentuk keberkahan dan kebaikan yang terus mengalir bagi umat yang masih hidup.

*Akhir kata*
Pendapat bahwa kehadiran wali Allah dalam majelis dzikir atau haul adalah jin qorin memang muncul di beberapa kalangan, namun tidak memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an maupun hadits. *Justru, dalil-dalil di atas menunjukkan bahwa Allah memberikan kehidupan khusus bagi orang-orang shalih, dan mereka memiliki ikatan khusus yang tidak terputus, baik dalam bentuk doa atau kehadiran spiritual*.
Wallahu a'lam.

*Kekuatan Salawat Berjamaah: Pahala Tak Terhingga di Hadapan Allah SWT*Ditulis Oleh : Condro Aris WidodoSyekh Muhammad H...
31/10/2024

*Kekuatan Salawat Berjamaah: Pahala Tak Terhingga di Hadapan Allah SWT*
Ditulis Oleh : Condro Aris Widodo
Syekh Muhammad Hisham Kabbani menyampaikan tentang kekuatan salawat dan berkah yang turun ketika kita bersama-sama mengingat Allah dan bersalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam ceramahnya di Masjid Baitul Ihsan, Jakarta, pada 20 Desember 2015, Syekh Hisham mengingatkan tentang pahala dan cahaya dari Allah SWT yang akan menyertai orang-orang yang bersalawat, terutama dalam jamaah.

*1. Keutamaan Majelis Dzikir dan Salawat*
Syekh Hisham mengutip hadits yang mengatakan bahwa Allah SWT mengutus malaikat khusus untuk mencari majelis dzikir di seluruh penjuru. Saat kita duduk bersama dalam dzikir atau salawat, malaikat-malaikat tersebut akan datang dan duduk bersama kita, membawa berkah dan cahaya dari langit. Mereka tidak hanya hadir, tetapi juga ikut berdoa bersama, memberikan cahaya pada kita semua yang hadir.
Allah SWT berfirman dalam sebuah Hadits Qudsi, “Aku duduk bersama orang yang mengingat-Ku.” Artinya, ketika kita mengingat Allah, maka kita juga ditemani oleh para malaikat yang terus memuji-Nya dan membawa kedamaian di hati kita.

*2. Cahaya dari Salawat dan Dzikir*
Syekh Hisham menekankan pentingnya cahaya dalam kehidupan spiritual. Rasulullah SAW sendiri berdoa meminta cahaya untuk menyinari jantung, pendengaran, pandangan, dan setiap sisi kehidupannya. Ketika kita berdoa memohon cahaya ini, Allah SWT akan memberikan cahaya surgawi yang tak terhingga, sehingga hati kita menjadi terang dan penuh ketenangan.
Ketika seseorang mengucapkan satu salawat kepada Nabi SAW, Allah SWT memberikan sepuluh pahala, dan malaikat pun ikut berdoa bagi orang tersebut. Hal ini membuat kita seperti sebuah lampu yang bersinar dan menghasilkan lingkungan sekitar kita. Saat kita duduk di majelis salawat, cahaya dari malaikat yang hadir akan mengelilingi kita dan menjaga kita dari segala kegelapan dan kejahatan.

*3. Berkah Membawa Kitab Salawat dan Al-Qur'an*
Syekh Hisham menyebutkan bahwa membawa atau membaca kitab salawat dan qasidah yang penuh pujian kepada Nabi SAW akan mendatangkan keberkahan luar biasa. Cahaya yang membaca salawat tersebut tidak hanya menyinari orang yang membaca, tetapi juga menyinari penulis, pencetak, dan semua orang yang melihat kitab tersebut. Artinya, setiap kali kita membawa kitab salawat atau Al-Qur'an, cahaya itu akan ikut bersama kita, melindungi dan membimbing langkah-langkah kita.
Setiap huruf dalam Al-Qur'an memiliki cahaya yang akan mengalir ke dalam hati kita ketika kita membaca atau hanya sekedar melihatnya. Bahkan bagi yang tidak bisa membaca, hanya melihat ayat-ayat Al-Qur'an pun akan memberikan cahaya dan keberkahan dalam hidup.

*4. Mengapa Dzikir dan Salawat Itu Penting?*
Syekh Hisham menjelaskan bahwa Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an, "Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan doamu." (QS.Ghafir, 40:60). Ketika kita membaca salawat, kita sebenarnya sedang memohon kepada Allah untuk memberikan cahaya dan rahmat kepada kita dan menjadikan kita semakin dekat dengan-Nya.
Dengan melafalkan salawat, kita memohon kepada Allah untuk menjadikan diri kita bercahaya seperti Rasulullah SAW yang penuh dengan cahaya. Cahaya ini adalah tanda keberkahan yang akan menemani kita sepanjang hidup dan membawa kita lebih dekat pada kebaikan serta perlindungan Allah SWT.

*5. Menguatkan Iman dan Menghalau Syaitan*
Salawat dan dzikir berjamaah memberikan kekuatan spiritual bagi setiap individu yang hadir. Dengan cahaya yang kita peroleh, kita terlindungi dari gangguan setan yang ingin menjauhkan kita dari kebaikan. Dengan satu salawat saja, cahaya Allah SWT akan menyelamatkan kita, menjaga hati kita dari godaan dan menjauhkan kita dari kegelapan.
Dalam setiap majelis dzikir, malaikat akan mengenali setiap peserta dan akan mencatat mereka dalam catatan surgawi, dengan nama-nama khusus yang Allah berikan. Nama ini adalah tanda bahwa orang-orang tersebut telah terlibat dalam pertemuan yang dipenuhi cahaya dan rahmat.

*Kesimp**an*
Dengan rajin bersalawat, kita dapat memperoleh pahala yang tak terhingga dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Setiap dzikir yang kita ucapkan, setiap salawat yang kita lantunkan, akan mendatangkan cahaya, ketenangan, dan keberkahan dalam hidup kita. Syekh Hisham Kabbani mengingatkan, ketika kita bersama-sama dalam majelis dzikir, kita bukan hanya mendapatkan pahala individu tetapi juga kolektif yang akan membawa keberkahan bagi semua yang hadir.
Marilah kita banyak membaca shalawat, tidak hanya untuk kebaikan diri kita sendiri, tetapi juga untuk menarik rahmat dan cahaya Allah SWT yang akan melindungi kita dalam kehidupan ini dan di akhirat kelak.

Catatan: Tulisan diatas mengenai keutamaan dzikir dan Sholawat berjamaah insyaAllah termasuk sholawat dan dzikir yang dilakukan di dalam grup whatsapp.

Waallahua'lam...

*"Ilmu Sufi Realisasi Diri: Langkah-Langkah Menyucikan Jiwa Menuju Kesempurnaan Spiritualitas"*Ditulis Oleh : Condro Ari...
25/10/2024

*"Ilmu Sufi Realisasi Diri: Langkah-Langkah Menyucikan Jiwa Menuju Kesempurnaan Spiritualitas"*

Ditulis Oleh : Condro Aris Widodo

*Pengantar*
Buku “Ilmu Sufi Realisasi Diri: Panduan Menuju Tujuh Belas Sifat Merusak, Sepuluh Langkah Menuju Pemuridan, dan Enam Realitas Hati” karya Syekh Muhammad Hisyam Kabbani merupakan panduan praktis dalam dunia spiritual yang bertujuan untuk membantu individu mencapai pembersihan diri ( tazkiyatun nafs ) dan realisasi diri. Dalam tradisi tasawuf, perjalanan spiritual membutuhkan kesadaran mendalam atas sifat-sifat merusak dalam diri, pengambilan langkah untuk menjadi seorang murid sejati, dan pemahaman atas enam realitas hati yang menjadi kedekatan intim seorang hamba dengan Tuhannya. Berikut ringkasan elemen-elemen utama dari buku ini beserta landasan dalilnya.
________________________________________
*1. Tujuh Belas Sifat Merusak (Muhlikat)*
Syekh Hisyam Kabbani menyelidiki tujuh belas sifat merusak atau penyakit hati yang harus Dihindari dalam upaya penyucian jiwa. Sifat-sifatnya meliputi kesombongan, iri hati, kebencian, kemarahan, kerakusan, dan cinta dunia yang berlebihan. Setiap sifat ini bertindak sebagai penghalang bagi seseorang dalam mendekatkan dirinya kepada Allah.
Dalam "Ilmu Sufi Realisasi Diri,"Syekh Muhammad Hisyam Kabbmuhlikat. Sifat-sifat ini dianggap sebagai penghalang yang merusak jiwa dan hubungan seorang Muslim dengan Allah serta sesama manusia. Dalam tasawuf, pembersihan hati dari sifat-sifat merusak ini sangat penting dalam proses penyucian diri (tazkiyatun nafs). Berikut tujuh belas sifat merusak yang perlu dihindari:
1. *Kibr (Kesombongan)*
Kesombongan membuat seseorang merasa lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain, menghalangi sikap tawadhu (rendah hati) yang diperlukan dalam tasawuf.
2. *Hasad (Iri dan Dengki)*
Iri hati terhadap nikmat orang lain membuat seseorang tidak puas dengan ketetapan Allah, yang akhirnya mengganggu ketenangan batin.
3. *Riya (Pamer atau Menunjukkan Amal)*
Riya adalah melakukan ibadah atau amal dengan tujuan ingin memuji orang lain, yang mengurangi kemurnian niat seorang hamba kepada Allah.
4. *Ujub (Kagum pada Diri Sendiri)*
Ujub membuat seseorang merasa kagum pada amal, kecerdasan, atau kelebihannya sendiri, dan lupa bahwa semua itu adalah karunia Allah.
5. *Bakhil (Kikir)*
Sifat pelit atau enggan berbagi rezeki ini menunjukkan ketidakpercayaan pada rezeki dari Allah dan menampilkan ketidakpedulian kepada sesama.
6. *Ghadab (Marah yang Berlebihan)*
Marah yang tidak terkendali dapat membawa kerusakan dalam hubungan antar manusia dan mencerminkan kelemahan jiwa.
7. *Hubbul Mal (Cinta Dunia dan Harta Berlebihan)*
Terlalu mencintai dunia dan harta membuat seseorang menjadi lalai dalam ibadah dan lupa bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
8. *Tama' (Tamak atau Serakah)*
Ketamakan menggiring seseorang pada sikap mengejar dunia tanpa batas, merusak keseimbangan hidup dan akhlak.
9. *Sum'ah (Mencari Nama atau Pop**aritas)*
Sum'ah adalah beramal dengan tujuan untuk mendapatkan pop**aritas, yang menghilangkan keikhlasan dalam beramal kepada Allah.
10. *Kasyr (Malas Beribadah)*
Malas dalam menjalankan ibadah menunjukkan kurangnya ketekunan dalam mencari ridha Allah dan memperlemah spiritualitas seseorang.
11. *Zulm (Kezaliman)*
Kezaliman adalah sifat tidak adil, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain, dan menjadi penghalang utama bagi tercapainya kebahagiaan hakiki.
12. *Ghibah (Menggunjing atau Membicarakan Keburukan Orang Lain)*
Ghibah merusak kehormatan orang lain dan hati yang menggunjing akan sulit menemukan kedamaian.
13. *Namimah (Mengadu Domba)*
Sifat s**a mengadu domba membawa perpecahan di antara manusia dan sangat bertentangan dengan prinsip perdamaian dalam Islam.
14. *Kebencian*
Kebencian yang berlebihan mengotori hati dan merusak kedamaian serta hubungan dengan orang lain, termasuk menghalangi kasih sayang antar sesama.
15. *Ketidakadilan*
Tidak menempatkan sesuatu pada tempatnya atau memberikan hak orang lain secara tidak adil adalah sifat yang membawa kerusakan dalam masyarakat.
16. *Takabur (Memandang Rendah Orang Lain)*
Sikap ini membuat seseorang memandang rendah orang lain, yang bertentangan dengan ajaran Islam tentang menghormati sesama.
17. *Cinta Pujian*
Terlalu s**a dipuji membuat seseorang kehilangan fokus dalam beribadah kepada Allah dan menyebabkan ketergantungan pada manusia yang dianugerahi penghargaan.
Syekh Hisyam menekankan pentingnya menghilangkan sifat-sifat ini sebagai bagian dari proses menuju tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, yang merupakan jalan me

Dalil untuk menjauhi sifat-sifat tercela ini disebutkan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Misalnya, tentang kesombongan, Allah SWT berfirman:
*“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai mencapai gunung.”* (QS. Al-Isra': 37)
Dan dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda mengenai sifat iri dan hasad:
*“Janganlah kalian saling mendengki, saling menipu, saling membenci, dan saling membelakangi…”* (HR. Muslim)
Sifat-sifat merusak ini menghalangi cahaya Allah memasuki hati, yang menjadi hambatan utama dalam proses realisasi diri yang sejati.
________________________________________

*2. Sepuluh Langkah Menuju Pemuridan*
Menurut Syekh Hisyam, seorang murid atau pelaku tasawuf yang tulus harus menempuh sepuluh langkah sebagai bagian dari disiplin spiritualnya.
Dalam Ilmu Sufi Realisasi Diri, Syekh Muhammad Hisyam Kabbani mencapai sepuluh langkah disiplin spiritual yang perlu ditempuh oleh seorang murid atau pelaku tasawuf untuk mencapai penyucian diri. Langkah-langkah ini adalah kerangka bagi seorang murid untuk membangun hubungan yang dalam dengan Allah, serta menyucikan hati dari berbagai penyakit batin. Berikut sepuluh langkah yang dijelaskan dalam buku tersebut:
1. *Tawakkal (Berserah Diri)*
Murid harus menyerahkan semua urusan kepada Allah, percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini berada di bawah kendali-Nya. Tawakkal membantu seseorang menerima segala keadaan dengan hati yang tenang dan ikhlas.
2. *Taubat (Bertaubat)*
Taubat adalah langkah pertama yang harus dijalani seorang murid untuk membersihkan dirinya dari dosa-dosa masa lalu dan memulai perjalanan spiritual dengan jiwa yang bersih.
3. *Ikhlas (Kemurnian Niat)*
Ikhlas berarti berbuat hanya untuk Allah dan tidak mencari pengakuan atau pujian dari orang lain. Setiap amal dan ibadah harus diniatkan secara murni hanya untuk mendapatkan ridha Allah.
4. *Jujur (Sidq)*
Kejujuran menjadi landasan hubungan murid dengan Allah dan guru spiritualnya. Dalam hal ini, jujur bukan hanya berarti tidak berdusta, tetapi juga memiliki hati yang bersih dan terbuka dalam niat dan amal.
5. *Sabar (Kesabaran)*
Dalam setiap ujian atau kesulitan, seorang murid harus memiliki sikap sabar dan tawakal, percaya bahwa setiap cobaan adalah bagian dari kehendak Allah yang menguji keteguhan hati.
6. *Syukur (Bersyukur)*
Murid diajarkan untuk senantiasa bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Allah, baik nikmat kecil maupun besar. Sikap syukur menumbuhkan rasa puas dan bahagia dalam hati.
7. *Taqwa (Ketaatan kepada Allah)*
Murid harus menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan maksiat, senantiasa menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, yang menjadi ciri utama seorang yang bertakwa.
8. *Rela (Rida dengan Ketetapan Allah)*
Sikap rida mengajarkan seorang murid untuk menerima takdir dan ketentuan Allah dengan penuh keikhlasan, tanpa keluh kesah atau persetujuan, dalam segala kondisi.
9. *Zikir (Mengingat Allah)*
Zikir menjadi cara untuk terus mengingat Allah dalam hati dan lisan. Melalui zikir, hati menjadi lebih tenang, dan seorang murid merasa lebih dekat dengan-Nya. Zikir juga membantu membersihkan hati dari berbagai penyakit batin.
10. *Muraqabah (Introspeksi Diri)*
Langkah ini melibatkan pengawasan diri secara terus-menerus, agar setiap perilaku dan pikiran seorang murid selalu berada di jalan yang benar. Muraqabah membantu seorang murid tetap sadar akan kehadiran Allah dalam setiap aktivitas dan pikiran.
Langkah-langkah ini membimbing seorang murid pemurnian hati dan memperkuat hubungan mereka dengan Allah. Dengan disiplin menjalani sepuluh langkah ini, seorang murid dapat mencapai tazkiyatun nafs, yakni penyucian jiwa, yang merupakan tujuan utama dalam perjalanan spiritual sufi.

Dalil untuk mendalami ilmu di bawah bimbingan seorang guru yang ahli tercermin dalam ayat berikut:
*"Bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."* (QS. An-Nahl : 43)
Sedangkan tentang ketekunan dalam ibadah dan zikir, Allah berfirman:
*“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat p**a kamu…”* (QS. Al-Baqarah: 152)
Dalam tradisi sufi, mursyid atau guru spiritual berfungsi sebagai pembimbing bagi murid agar tidak tersesat dalam perjalanan rohaninya, menjaga mereka dari sifat-sifat tercela, dan mengarahkan mereka untuk mendekat kepada Allah.
________________________________________

*3. Enam Realitas Hati*
Bagian inti dalam perjalanan menuju realisasi diri adalah memahami enam realitas hati, yaitu:
1. *Tawbah (Taubat)* : Menyesali dosa-dosa dan kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh.
2. *Ikhlas* : Beribadah hanya untuk Allah, bebas dari riya' atau pamer.
3. *Sidq (Kejujuran)* : Bersikap jujur dalam niat dan perbuatan, mencerminkan kebenaran iman.
4. *Mahabbah (Cinta)* : Mencintai Allah di atas segala-galanya.
5. *Khawf (Takut)* : Rasa takut kepada Allah yang mencegah dari maksiat.
6. *Raja' (Harapan)* : Berharap kepada Allah atas rahmat dan rahmat-Nya.
Allah SWT berfirman tentang pentingnya taubat dan keikhlasan:
*“Sejujurnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”* (QS. Al-Baqarah : 222)
Dalam hadits, Rasulullah ﷺ bersabda mengenai keikhlasan:
*“Amal sebenarnya itu tergantung pada niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”* (HR. Bukhari & Muslim)
Enam realitas ini menjadi landasan dari hati seorang hamba yang menginginkan kedekatan dengan Allah, mengingat bahwa hati adalah pusat dari segala tindakan dan pemikiran. Dalam tasawuf dikatakan bahwa jika hati bersih, maka akan terpancar cahaya keimanan yang memandu setiap langkah seseorang.
________________________________________

*Kesimp**an*
Ilmu Sufi Realisasi Diri karya Syekh Muhammad Hisyam Kabbani menawarkan peta yang lengkap bagi seorang Muslim yang ingin mendalami penyucian jiwa dan mencapai kesempurnaan spiritual. Langkah-langkah yang dijabarkan dalam buku ini, dari mengenali sifat-sifat buruk hingga memahami realitas hati, bertujuan untuk membantu setiap individu memperbaiki diri dan menjalani hidup yang selaras dengan ajaran Islam.
Dalam upaya ini, penting untuk diingat bahwa proses penyucian jiwa adalah perjalanan seumur hidup. Allah berfirman:
*“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada jalan-jalan Kami mereka. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.”* (QS. Al-Ankabut : 69)
Dengan berbekal pengetahuan dari buku ini, seorang Muslim diharapkan tidak hanya dapat membersihkan hatinya, tetapi juga lebih mengenal dirinya sebagai ciptaan Allah yang diberkahi dengan potensi menuju kesempurnaan dalam ketaatan dan pengabdian kepada-Nya.

Rahasia LidahGuru kita mengatakan bahwa kita menggunakan lidah kita untuk hal-hal yang tidak berguna; kita berbicara omo...
25/10/2024

Rahasia Lidah

Guru kita mengatakan bahwa kita menggunakan lidah kita untuk hal-hal yang tidak berguna; kita berbicara omong kosong dari timur ke barat, kita berbicara juga beberapa hal yang baik di sini dan di sana, tetapi kebanyakan omongan kita tidak ada gunanya karena itu hanyalah gosip, pembicaraan bohong, atau tipuan, tidak ada gunanya!

Jadi guru-guru kita mengatakan bahwa ketika kita menggunakan lidah kita untuk berzikir, menyebut Nama Allah, inilah cara kita memb ersikan lidah kita dari apa yang telah kita perbuat di sana. Allah (swt) memberi kita lidah untuk digunakan dengan bijaksana. Ada orang yang tidak mempunyai lidah karena mempunyai kanker pada lidahnya sehingga harus dipotong. Allah (swt) dapat mengirimkan sesuatu pada lidah kalian, atau lidah saya, dan pada lidah setiap orang. Kalian pergi ke dokter gigi dan dia berkata, “Ada masalah di lidah Anda,” kemudian mereka memotongnya dan setelah itu kami tidak bisa berbicara lagi.

Jadi lihatlah pada nikmat yang Allah (swt) berikan. Dia memberi kita lidah agar kita dapat mengatakan sesuatu di sekitarnya, dan bila kita menikmatinya di jalan yang tidak diridai Allah (swt) maka kita menyalahgunakan nikmat Allah. Allah (swt) berfirman, “Gunakan nikmat-Ku untuk bersyukur kepada-Ku.” Kita harus bersyukur kepada Allah (swt) atas segala nikmat yang Dia berikan kepada kita. Jadi bila kita mempunyai lidah, kita harus menggunakannya untuk berzikir, menggunakannya untuk menyebutkan nikmat yang Allah berikan kepada kita, menggunakannya untuk bershalawat kepada Nabi (saw), atau untuk memajukan kebaikan atau menyampaikan hal-hal yang baik.

Namun demikian kita masih menggunakan cara sebaliknya, itulah alasan mengapa kita harus selalu menjaga dzikir, membersihkan lidah kita sehingga Allah (swt) akan menjaganya hingga akhir hayat kita, karena ketika ajal menjemput kita semua ingin agar kita dapat mengucapkan Syahadat di tempat tidur kita, tetapi bila kita tidak mempunyai lidah bagaimana kita akan mengucapkannya? Ya, kalian dapat mengucapkannya dengan hati, tetapi mengucapkannya dengan lidah merupakan keinginan semua orang. Setiap orang mengatakan, “Wahai Tuhanku, perkenankanlah aku untuk mengucapkan syahadat pada akhir hayatku!” Jadi jika Allah (swt) memberi kita lidah, maka kita harus tahu bagaimana kita menggunakannya.



Rahasia lidah

Guru-guru kita berkata kita menggunakan lidah kita untuk hal-hal yang tidak berguna; kita berbicara omong kosong dari timur dan barat, kita mengatakan beberapa hal baik di sana-sini, tetapi sebagian besar pembicaraan kita tidak memiliki nilai karena itu adalah gosip, kebohongan, atau kecurangan: tidak berguna! Jadi guru-guru kita berkata ketika kita menggunakan lidah kita dalam dzikir, menyebut Nama Allah, ini adalah cara kita membersihkan lidah kita dari apa yang telah kita lakukan dengannya. Allah (swt) memberi kita lidah untuk menggunakannya dengan bijak, beberapa orang tidak memiliki lidah; mereka terkena kanker di lidah mereka dan kemudian lidah mereka dipotong. Allah (swt) mampu mengirim sesuatu di lidahmu, atau lidahku, di lidah siapa pun. Anda pergi ke dokter gigi dan dia berkata, "Ada sesuatu di lidahmu," dan mereka memotong lidah itu, setelah itu kita tidak dapat berbicara lagi.

Maka lihatlah nikmat Allah (swt). Dia memberi kita lidah agar kita dapat mengatakan sesuatu dengannya, dan ketika kita menggunakannya dengan cara yang tidak menyenangkan Allah (swt) maka kita menyalahgunakan nikmat Allah. Allah (swt) berfirman, "Gunakanlah nikmat-Ku untuk bersyukur kepada-Ku!" Kita harus bersyukur kepada Allah (swt) atas nikmat yang telah Dia berikan kepada kita, jadi ketika kita memiliki lidah, kita harus menggunakannya dalam dzikir, dalam menyebutkan nikmat Allah kepada kita, dalam mengirim shalawat kepada Nabi kita (saw), dalam mempromosikan kebaikan dan mengatakan hal-hal baik, tidak menggunakannya untuk cara yang berlawanan. Akan tetapi, kita semua menggunakannya untuk cara yang berlawanan, itulah sebabnya kita harus terus berdzikir, untuk membersihkan lidah agar Allah (swt) dapat menjaganya sampai kita mati, karena ketika kita mati kita semua ingin dan berharap untuk mengatakan Syahadat dan di ranjang kematian kita jika kita tidak memiliki lidah, bagaimana kita akan mengatakannya? Ya, kita bisa mengucapkannya dengan hati, namun mengucapkannya dengan lidah merupakan keinginan setiap orang. Setiap orang mengucapkan, “Ya Tuhanku, buatlah aku mengucapkan Syahadat di ranjang kematianku!” Jadi, jika Allah (swt) memberi kita lidah, maka kita harus tahu bagaimana menggunakannya.

Maulana Syaikh Hisham Kabbani

"Merayakan Mawlid an-Nabi: Pesan Mawlana Syekh Hisyam Kabbani untuk Menjaga Al-Qur'an dan Cinta kepada Nabi ﷺ"Mawlana Sy...
25/10/2024

"Merayakan Mawlid an-Nabi: Pesan Mawlana Syekh Hisyam Kabbani untuk Menjaga Al-Qur'an dan Cinta kepada Nabi ﷺ"

Mawlana Syekh Hisyam Kabbani menyapa Ummah Nabi (saw) dengan nasehat untuk menjaga kitab suci al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad (saw), memperingati Maulid an-Nabi (saw), dan pentingnya melantunkan nasyid pujian kepada Nabi (saw) baik oleh anak-anak maupun dewasa.

Assalamualaikum warahmatullaahi taaala wabarakatuh,

Yaa ahbaba Rasulillah, wahai para pecinta Rasulullah (saw), wa yaa ahbaba shahabah, dan para pecinta Sahabat (ra), wa ahlil qura wal Awliya wa shaalihiin, dan para pembaca al-Qur'an dan para Awliya dan orang-orang yang saleh , wal qura wal aamiliin, dan para pembaca al-Qur'an dan para ulama yang mengamalkan apa yang mereka ketahui dan membaca kitab suci al-Qur'an.

Alhamdulillah, segala puji dan syukur bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai bagian dari Ummat Habib al-Mushthafa (`alayhi afdhalu 'sh-shalaatu wa 's-salam). Umat ​​yang sungguh dicintai sebagai bagian dari al-Haqq, Allah ﷻ dan umat yang sungguh dicintai oleh Nabi ﷺ, dan umat yang sungguh dicintai dalam dada dan hati Nabi ﷺ yang diberkahi.

Alhamdulillah, nahmaduhu wanastainuhu wa nastaghfiruhu wa nastahdih , segala puji bagi Allah, kami memuji-Nya dan kami memohon pertolongan dan ampunan-Nya serta bimbingan-Nya, wa na`udzubillaahi min syururi anfusinaa, wa min sayyi-ati a`malinaa , dan kami perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri-diri kami, dan dari kejahatan amal perbuatan kami. Man yahdihillahu falaa mudhillalah , barang siapa yang Allah berikan petunjuk, maka tidak ada seorangpun yang dapat mengelilinginya. Wa man yudhlil falaa haadiyalah , dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya.

Kami telah banyak berbicara sebelumnya dan setiap peristiwa yang telah berlalu adalah di masa lalu, karena waktu berjalan dengan cepat bagi umat dan untuk taklim, mengaji al-Qur'an.

Insya Allah kita mencintai al-Qur'an dan kita telah dibimbing dengan petunjuk dari al-Qur'an. Ada banyak peristiwa besar dan penting yang terjadi yang bertujuan untuk menghentikan taklim al-Qur'an, tetapi Nabi ﷺ adalah sang pembawa al-Qur'an dengan Kekuatan dari Allah `azza wa Jalla.

Kita melewati zaman yang penuh dan rintangan, dan kita mengucapkan,

إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
Inna lillaahi wa inna ilayhi raaji`uun ,
sesungguhnya kami adalah milik Allah dan masalah kepada-Nyalah kami kembali. (Surat Al-Baqarah, 2:156)

Barang siapa yang meninggal sebagai Muslim, maka dia diberikan pengampunan atas dosa-dosa mereka dan dia hubbu 'n-Nabi ﷺ, cinta Nabi ﷺ.

Tahun 1442 telah tiba dan kita sekarang berada di zaman di mana para Awliyaullah memperoleh keberkahan dari zamannya Nabi ﷺ di mana risalah agung al-Qur'an sampai kepada Nabi ﷺ dipenuhi dengan cinta para Awliya dan cinta para Sahabat Nabi ﷺ. Para Sahabat (ra) memperoleh keberkahan melalui Nabi ﷺ dan kita pun berharap memperoleh keberkahan Nabi ﷺ.

Nabi ﷺ adalah qalbunaa , hati kita. Nabi ﷺ adalah mahabbatunaa , cinta kita. Nabi ﷺ adalah `azzunaa wa syrafunaa , kekuatan dan kemuliaan kita; dan Nabi ﷺ mencintai umatnya. Oleh karena itu kita harus membuat diri kita mengikuti jejak sesuai dengan aqwalun Nabi wa haditsun Nabi , Kata Nabi ﷺ dan Hadits Nabi ﷺ.

Kita berdoa dan berharap kepada Allah `azza wa jalla , semoga Dia menerima ini dari kita dan menutupi kesalahan kita dengan penutup yang indah.

Alhamdulillaahirabbil `aalamiin , dua puluh tahun yang lalu mereka menolak untuk merayakan Mawlid Nabawi syariif , dan saya menghadapi penolakan yang keras terhadap usaha saya sehingga perayaan itu harus diterima karena tindakan beberapa orang yang dibayar agar acara itu tidak terlaksana di Amerika.

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah, kita telah mencapai hasil dari lubang sempit yang meskipun pendek mengandung kekuatan yang sangat besar. Jadi, ambillah agama Rasul ﷺ. Ketika Nabi ﷺ menjalani Mirajnya pada Laylatil Miraj, para Awliya melantunkan bacaan yeng merupakan sebuah mukjizat keindahan yang menakjubkan. Mereka mempelajari suatu kekuatan yang dikenal dengan Mawlid an-Nabi ﷺ.

Tidak ada masjid yang muncul bila bukan untuk Nabi ﷺ. Beliau ﷺ adalah qudwatunaa wa mahabbatunaa , beliau adalah panutan dan cinta kita. Beliau ﷺ adalah kerinduan bagi kita.

Insya Allah, perayaan Tahun Baru ini adalah perayaan mahabbah di antara para ikhwan, saudara-saudara, di antara Nabi ﷺ dan Ummah al-Muhammadiyyah. Banyak perkataan dan perbuatan Nabi ﷺ yang tersebar luas sekarang ini dan mereka juga disebutkan dalam nasyid, dan tugas kita adalah menjaga nasyid tersebut setelah membaca al-Qur'an di sekolah-sekolah kita bersama anak-anak kita dan dengan mahabbah di antara para ikhwan. Setelah itu kita membaca Thalaal badrualaynaa min tsaniyaatil Wada`.

Setiap bacaan dari qasidah itu mengandung bagian dari mukjizat dan karamah, jadi bukalah mata dan hati kalian, insya Allah kalian akan memperoleh banyak hal. Walhamdulillaahi rabbil`aalamiin .

Rayakan dengan Al-Qur'anil kariim, rayakan dengan mahabbatin Nabi ﷺ dan para Sahabat (ra), walhamdulillaahi rabbil `aalamiin, al-Fatihah .

Address

Perumahan Cipas Residence Blok F3 No 11, Sukadami , Cikarang Selatan
Cikarang
17532

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Laskar Sholawat Charitable Society posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Laskar Sholawat Charitable Society:

Share