NU Ranting Desa Dawuan Timur

NU Ranting Desa Dawuan Timur Nu Ranting Dawuan timur sebagai media syiar Agama Islam ...

15/04/2026

✯𝐑𝐄𝐒𝐔𝐌𝐄 𝐏𝐄𝐍𝐆𝐀𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐋𝐈𝐋𝐈𝐍𝐆✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝐃𝐀𝐖𝐔𝐀𝐍 𝐓𝐈𝐌𝐔𝐑☫
🕌❖𝐀𝐑𝐑𝐎𝐇𝐈𝐌❖
🕹♕𝐏𝐄𝐑𝐔𝐌 𝐏𝐎𝐍𝐃𝐎𝐊 𝐌𝐄𝐋𝐀𝐓𝐈 𝐈𝐈♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝐊𝐢𝐟𝐚𝐲𝐚𝐭𝐮𝐥 𝐀𝐤𝐡𝐲𝐚𝐫✢
𝐌𝐮𝐪𝐫𝐲:
𝐔𝐬𝐭𝐝𝐳 𝐀𝐬𝐞𝐩 𝐉𝐚𝐞𝐥𝐚𝐧𝐢
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*
الشرط السادس : السكوت عن الكلام ، فالمتكلم إن كان غير معذور ، ونطق بحرف مفهم ، مثل ق و ش ، تبطل ، وإن نطق بحرفين ، بطلت أفهم (1) كقم ، أو لا كمن وعن . وبطلانها بالثلاثة فصاعداً أولى . ولا فرق في البطلان بين أن يكون المصلحة الصلاة ، كقوله للإمام : قم أم لا ،
Syarat sahnya shalat yang keenam, yaitu menahan diri dari berkata-kata. Jadi orang yang mengeluarkan suatu perkataan dengan tidak ada uzur dan perkataan itu diucapkan dengan huruf yang mengandung pengertian, seperti kata-kata Qi (jagalah!) atau lafaz syi (beradu dombalah), shalatnya menjadi batal.
Kalau perkataan itu diucapkan mengandungi dua huruf, batal shalat-nya. Baik perkataan yang mengandung arti seperti lafaz Qum (berdirilah!), maupun tidak mengandung arti, seperti lafaz min atau 'an. Batalnya shalat karena berkata-kata dengan perkataan yang mengandungi tiga huruf ke atas itu adalah lebih utama.Hukum batal tersebut, tidak dibedakan antara perkataan yang ada kemaslahatannya untuk shalat, seperti kata-kata Qum (berdirilah!) ditujukan kepada imam, maupun perkataan yang tidak ada kemaslahatan-nya sama sekali untuk shalatnya.

ولو نطق بحرف بعده مدة ، فالأصح بطلانها لأن المدَّة حرف ، وفي التنحنح خلاف ، الراجح أنه إن بان منه حرفان بطلت ، وإلا فلا ، هذا إذا كان بغير عذر ، فإن كان مغلوباً فلا بأس
Andaikata orang yang shalat mengucapkan satu huruf dengan huruf mad di belakangnya, menurut qaul yang ashah shalatnya menjadi batal. Karena mad itu termasuk satu huruf. Adapun berdehem, terdapat khilaf. Menurut qaul yang rajih, apabila tampak jelas mengandungi dua huruf, batal shalatnya. Dan apabila tidak tampak jelas adanya dua huruf, tidak batal shalatnya. Demikian itu apabila dehemnya tidak Karena udur. Namun apabila ia berdehem karena udur, tidak mengapa shalatnya.

ولو تعذرت القراءة الواجبة إلا بالتنحنح تنحنح وهو معذور ، وإن تعذر الجهر ، فالراجح أنه ليس بعذر . ولو تنحنح الإمام وظهر منه حرفان ، فهل للمأموم أن يدوم على متابعته ، وجهان ، الراجح نعم ، والظاهر أنه معذور،
Andaikata orang yang shalat mendapat kesulitan dalam mengeluarkan bacaannya yang wajib jika tidak berdehem terlebih dahulu, maka baginya diperbolehkan berdehem. Orang demikian namanya mendapat uzur. Tapi andaikata orang itu tidak dapat bersuara keras jika tidak berdehem. menurut qaul yang rajih, orang itu tidak dianggap uzur.
Andaikata seorang imam berdehem dan dari mulutnya tampak jelas keluar dua huruf, apakah makmum boleh meneruskan shalatnya mengikuti imam itu? Ada dua pendapat. Menurut qaul yang rajih, ya, boleh terus mengikuti imam, tetapi yang jelasnya bahwa imam itu dlm keadaan udur.

وأما الضحك والبكاء والأنين ، فإن بان منه حرفان ، بطلت ، وإلا فلا ، وسواء كان البكاء للدنيا أو للآخرة
Adapun orang yang tertawa atau menangis atau merintih, jika jelas mengeluarkan dua huruf, batal shalatnya. Jika tidak jelas, shalatnya tidak batal. Baik tangisnya itu karena masalah duniawi atau tangis karena ingat akhirat.

وإن تكلم المصلي وهو معذور ، كمن سبق لسانه إلى الكلام بلا قصد أو غلبه السعال أو الضحك وبان منه حرفان ، أو تكلم ناسياً أو جاهلاً بتحريم الكلام وهو قريب عهد بالإسلام ، فإن كان يسيراً لم تبطل صلاته ، وإن كثر بطلت على الأصح ، والقلة والكثرة يرجع فيها إلى العرف ، وضم إلى ذلك في شرح المهذب كثرة العطاس ، وقال . إنه يبطل
Jika mushalli (orang yang sedang shalat) mengeluarkan suatu per kataan karena uzur, seperti jika mulutnya terlanjur berucap tanpa di sengaja, atau terbatuk-batuk, atau tertawa, dan jelas ia mengeluarkan dua huruf, atau dia mengucapkan sesuatu dalam keadaan lupa, atau dia tidak tahu keharamannya karena baru saja dia masuk Islam, maka apabila hanya sedikit, tidak batal shalatnya. Tetapi jika banyak, menurut qaul yang ashah batal shalatnya.Untuk ukuran banyak sedikitnya perkataan yang dikeluarkan di kembalikan pada adat kebiasaan. Di dalam Syarah Al-Muhadadzab ada penambahan yaitu tentang banyaknya bersin. Imam Nawawi berkata: Terlalu banyak bersin itu dapat membatalkan shalat.

ولو جهل كون التنحنح مبطلاً ، فهو معذور لخفاء حكمه على العوام ، ولو أكره على الكلام ، بطلت صلاته على الأظهر ، لأنه نادر كما لو أكره على صلاة بلا طهارة ، أو على أن يصلي وهو قاعد ، فإنه تجب الإعادة ،
Andaikata orang tidak tahu bahwa dehem itu dapat membatalkan shalat, orang yang demikian itu dianggap mendapat uzur, karena masih samarnya hukum bagi orang-orang yang awam.Andaikata seseorang dipaksa berbicara, menurut qaul yang azhhar wajahnya, batal shalatnya. Sebab jarang sekali orang dipaksa berbicara saat melakukan shalat. Sama halnya jika orang itu dipaksa melakukan shalat tanpa bersuci, atau dipaksa shalat dengan duduk, wajib orang itu mengulangi shalatnya.

ولو أشرف إنسان على الهلاك ، فأراد إنذاره ، ولم يحصل إلا بالكلام وجب، وتبطل صلاته على الأصح لوجود الكلام . ولو قال المصلي : آه من خوف النار ، بطلت صلاته على الصحيح
Andaikata orang yang shalat melihat orang lain sedang dalam bahaya maut, dan dia bermaksud hendak menakut-nakutinya, namun tidak mungkin dia berhasil menakut-nakuti jika dia tidak berbicara, maka dalam keadaan demikian wajib orang itu berbicara dan shalatnya menjadi batal karenanya, menurut qaul yang ashah.Andaikata mushalli berkata Aah karena takutnya pada api, batal shalatnya menurut qaul yang shahih.
Wallohua'lam bisshowab

✯𝑹𝒆𝒔𝒖𝒎𝒆 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒊𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓☫
🕌❖𝑴𝒊𝒇𝒕𝒂𝒉𝒖𝒔𝒔𝒖𝒅𝒉𝒖𝒓❖
🕹♕𝑺𝒖𝒎𝒖𝒓 𝑩𝒂𝒏𝒅𝒖𝒏𝒈 𝑲𝒊𝒅𝒖𝒍♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝑲𝒊𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖𝒍 𝑨𝒌𝒉𝒚𝒂𝒓✢
𝑴𝒖𝒒𝒓𝒚 (𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂) :
𝑼𝒔𝒕𝒅𝒛 𝑨𝒔𝒆𝒑 𝑱𝒂𝒆𝒍𝒂𝒏𝒊
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*

الشرط السابع : الكف عن الأفعال . اعلم أن الفعل الزائد على الصلاة ، إن كان من جنسها كالركوع والسجود وزيادة ركعة ، إن تعمد ذلك ، بطلت ، سواء قل الزائد أو كثر ، وإن كان الفعل من غير جنس الصلاة ، فاتفق الأصحاب على أن القليل لا يبطل ، والكثير يبطل .
(Syarat sholat ketujuh yaitu menahan diri dari berbuat/Bergerak,)Perlu diketahui bahwa menambah perbuatan/pergerakan tubuh di dalam shalat, apabila pergerakan tambahan itu sejenis dengan shalat, seperti rukuk, sujud, atau menambah rakaat di dalam shalat, apabila hal itu dilakukan dengan sengaja, batal shalatnya. Baik sedikit maupun banyak. Dan apabila perbuatan itu tidak sejenis dengan perbuatan shalat, menurut para Ulama Mazhab Syafi'i telah bersepakat bahwa apabila perbuatan itu hanya sedikit tidak membatalkan shalat. Dan apabila banyak, membatal-kan shalat.

وفي ضبط القليل والكثير أوجه ، الصحيح الرجوع فيه إلى العادة ، فلا يضر ما عده الناس قليلاً ، كالإشارة برد السلام ، وخلع النعل ونحوهما
Di dalam membatasi banyak sedikitnya perbuatan itu, ada beberapa wajah. Qaul yang shahih berpendapat bahwa ukuran banyak sedikitnya dikembalikan menurut adat kebiasaan. Jadi apa yang dianggap sedikit oleh masyarakat umum itu tidak membahayakan. Seperti menjawab salam dengan isyarat, melepas sandal dan lain-lain sebagainya.

ثم قالوا : الفعلة الواحدة ، كالخطوة والضربة قليل قطعاً ، والثلاث كثيرة قطعاً ، والإثنتان قليل على الأصح واتفق الأصحاب على أن الكثير إنما يبطل إذا توالى . فإن تفرق ، بأن خطا خطوة ، ثم بعد زمن خطوة أخرى ، وكرر ذلك مرات . فلا يضر قطعاً ، قاله في «الروضة» ،ويشهد له حديث أمامة رضي الله عنها
Kemudian para Ulama berkata: Sama juga seperti perbuatan seumpama satu langkah, satu pukulan, tanpa khilap (perbedaan pendapat ulama). Tiga kali bergerak atau langkahan dianggap banyak tanpa khilaf. Dan dua gerakan atau langkahan dianggap sedikit menurut qaul yang shahih.Para Ulama bersepakat bahwa perbuatan banyak yang dapat mem-batalkan shalat itu apabila dilakukan secara berturutan. Namun apabila dilakukan secara terpisah, misalnya melangkah sekali, kemudian ber-henti, lalu melangkah lagi, begitulah seterusnya...., maka hal itu tidak membahayakan tanpa khilaf. Demikian keterangan Imam Nawawi di dalam kitab Ar-Raudhah. Dalilnya yaitu Hadisnya sahabat Umamah r.a.

فلو تردد في فعل ، هل وصل إلى حد الكثرة ، أم لا . قال الإمام : الأظهر أنه لا يؤثر لأن الأصل عدم الكثرة ، وعدم بطلان الصلاة . ثم حد التفريق أن يعد الثاني منقطعاً عن الأول .
Jadi andaikata seorang mushalli bimbang, apakah gerakan yang baru saja ia lakukan itu sudah melewati batas banyak atau belum, Imam Haramain berkata: Qaul yang azhhar wajahnya berpendapat bahwa hal itu tidak membawa pengaruh apa-apa. Sebab yang menjadi asal ialah "tidak adanya banyak dan tidak adanya batal shalat". Adapun patokan dalam hal "perbuatan yang terpisah" yaitu asalkan perbuatan yang kedua sudah dianggap putus dari yang pertama.

واعلم أن شرط الفعلة الواحدة التي لا تبطل أن لا تتفاحش ، فإن أفرطت كالولية الفاحشة ، أبطلت قطعاً ، قاله في الروضة » ، لأنها منافية للصلاة ،
Ketahuilah bahwa sekali gerakan yang tidak membatalkan shalat itu harus berupa gerakan yang tidak terlalu saru (senonoh). Apabila sekali gerakan itu kelihatan tidak senonoh, seperti gerakan sekali meloncat, maka gerakan seperti itu dapat membatalkan shalat tanpa khilaf. Demikian kata Imam Nawawi di dalam kitab Ar-Raudhah. Sebab perbuatan demikian (meloncat) dapat menafikan (meniadakan) shalat.

واعلم أن الحركات الخفيفة ، كتحريك الأصابع في حكة ، لا تضر على الأصح ، وإن كثرت وتوالت ، لأنها لا تخل بهيئة تعظيم الصلاة ولا بالخشوع ،
Ketahuilah, bahwa bergerak yang ringan-ringan, seperti mengerak-gerakkan jari waktu menggaru kepala, hal itu tidak membahayakan menurut qaul yang ashah, walaupun banyak dan berulangkali. Sebab gerakan ringan seperti itu tidak merusak bentuk mengagungkan shalat dan tidak p**a merusak kekhusyu'an.

أما لو جر كفه ثلاثاً على بدنه يهترش ، فإن صلاته تبطل ، قال في ( الكافي ) : إلا أن يكون به جرب لا يقدر معه على عدم الحك ، فيعذر
Apabila mushalli menggerakkan telapak tangannya waktu menggaru badannya tiga kali, batal shalatnya. Di dalam kitab Al-Kafi disebutkan: Kecuali jika mushalli seorang yang mempunyai penyakit gatal, yang mana dia tidak mampu meninggalkan menggaru-garu badannya karena terlalu gatalnya. Jika demikian, maka orang itu dapat diberi kelonggaran.

واعلم أن كثير الفعل حيث أبطل عند العمد ، فكذا يبطل عند فعله سهواً على المذهب ، لأنه يقطع نظم الصلاة والله أعلم.
Ketahuilah, bahwa perbuatan banyak yang dapat membatalkan shalat itu apabila dikerjakan dengan sengaja. Demikian juga kalau dikerjakan karena lupa menurut mazhab yang kuat. Sebab hal itu boleh merusak keteraturan atau ketertiban shalat. Wallahu-a'lam.
✯𝑹𝒆𝒔𝒖𝒎𝒆 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒊𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓☫
🕌❖𝑵𝑼𝑹𝑼𝑳 𝒀𝑨𝑸𝑰𝑵❖
🕹♕𝑷𝒆𝒓𝒖𝒎 𝑫𝑹𝑹 𝑰♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝑲𝒊𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖𝒍 𝑨𝒌𝒉𝒚𝒂𝒓✢
𝑴𝒖𝒒𝒓𝒚 (𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂) :
𝑼𝒔𝒕𝒅𝒛 𝑨𝒔𝒆𝒑 𝑱𝒂𝒆𝒍𝒂𝒏𝒊
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*

الشرط الثامن : الإمساك عن الأكل ، فإن أكل المصلي شيئاً ، بطلت صلاته ، وإن قل ، لأنه ينافي الخشوع ، وفي وجه : لا تبطل بالقليل ، وهو غلط .
Syarat sahnya shalat yang kedelapan, yaitu menahan diri dari makan. Jadi apabila mushalli makan sesuatu, batal shalatnya. Walaupun hanya sedikit. Sebab makan itu boleh menghilangkan khusyuk. Di dalam satu wajah menyatakan makan sedikit tidak membatalkan shalat, tapi wajah ini salah.
ولو كان بين أسنانه شيء فابتلعه ، أو نزلت من رأسه نخامة ، فابتلعها عامداً ، بطلت صلاته ، فإن كان مغلوباً ، بأن جري الريق بباقي الطعام ، أو نزلت النخامة ولم يمكنه إمساكها ، لم تبطل صلاته لأنه معذور ، وإن أكل ناسياً أو جاهلاً بالتحريم ، فإن قل ، لم تبطل ، وإن كثر بطلت صلاته على الأصح .
Andaikata di sela-sela giginya ada sesuatu yang dapat dimakan. kemudian mushalli menelan sesuatu itu; atau ada dahak yang
turun dari kepala lalu mushalli menelannya dengan sengaja, batal shalatnya. Jika dia menelannya karena terpaksa, seperti ada ludah yang mengalir ke dalam tenggorakan dengan membawa sesuatu yang ada di sela giginya itu, atau ada dahak yang turun dari kepala dan tanpa dapat dikendalikan lalu masuk ke dalam tenggorakan, maka tidak batal sholatnya. Sebab orang itu termasuk orang yang ma'drur (dianggap udur).Apabila mushalli makan sesuatu karena lupa atau tidak tahu ke haramannya, maka jika yang dimakan itu hanya sedikit, shalatnya tidak batal. Dan jika banyak, menurut qaul yang ashah batal shalatnya.

واعلم أن المضغ وحده ، فعل يبطل كثيره الصلاة ، وإن لم يصل شيء إلى الجوف ، ولو كان بفمه عقيدة ، فذابت ونزل إلى جوفه منها شيء ، بطلت صلاته ، وإن لم يحصل منه فعل ، لوصول المفطر إلى جوفه ، ويعبر عن هذا بأن الإمساك شرط في الصلاة ، ليكون حاضر الذهن تاركاً للأمور العادية ، فعلى هذا تبطل الصلاة بكل ما يبطل الصوم . فلو نكش أذنه بشيء ، وأدخله باطن أذنه ، بطلت صلاته والله أعلم .
Ketahuilah, bahwa satu kunyahan itu sudah merupakan satu kali perbuatan, yang apabila banyak dapat membatalkan shalat. Walaupun yang dikunyah itu tidak ada yang masuk ke dalam perut. Andaikata di dalam mulutnya ada seikat benang lalu hancur dan sebagian turun ke perut, batal shalatnya. Walupun tidak ada gerakan-gerakan yang keluar dari orang itu. Sebab ada sesuatu yang dapat membatalkan puasa yang masuk ke dalam perutnya.
Karena untuk menjaga masuknya sesuatu yang membatalkan puasa ke dalam perut maka kemudian dibuatlah istilah bahwa menahan dari mufaththir (perkara yang membatalkan puasa) menjadi syarat sahrya shalat. Hal itu dimaksudkan agar orang yang shalat selalu memusatkan perhatiannya (hadirnya hati) dengan meninggalkan hal-hal yang menjadi kebiasannya. Jadi menurut syarat ini, shalat menjadi batal dengan adanya sesuatu yang membatalkan puasa. Jadi andaikata orang yang shalat itu mengorek telinganya dan memasukkan sesuatu ke dalam lubang telinga itu, batal shalatnya. Wallahu-a'lam.

✯𝑹𝒆𝒔𝒖𝒎𝒆 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒊𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓☫
🕌❖𝑵𝑼𝑹𝑼𝑺𝑺𝑨𝑳𝑨𝑴❖
🕹♕𝑷𝒆𝒓𝒖𝒎 𝑫𝑹𝑹 𝑰𝑰♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝑲𝒊𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖𝒍 𝑨𝒌𝒉𝒚𝒂𝒓✢
𝑴𝒖𝒒𝒓𝒚 (𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂) :
𝑼𝒔𝒕𝒅𝒛 𝑨𝒔𝒆𝒑 𝑱𝒂𝒆𝒍𝒂𝒏𝒊
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*

Berkata Syai' Abu Syujak:

وَيَجُوزُ تَرْكُ الإِسْتِقْبَالِ فِي حَالَتِينِ : فِي شِدَّةِ الْخَوْفِ . )
[Orang yang shalat boleh meninggalkan syarat menghadap kiblat dalam dua keadaan. (1) Dalam keadaan sangat takut).

إذا التحم القتال ، ولم يتمكنوا من تركه بحال ، لقلتهم ، وكثرة العدو ، أو اشتد الخوف ، ولم يلتحم القتال ، ولم يأمنوا أن يركب العدو أكتافهم لو ولوا ، انقسموا وصلوا بحسب الإمكان ، وليس لهم التأخير عن الوقت للآية الشريفة الدالة على إقامة الصلاة في وقتها ، ويصلون ركباناً ومشاة مستقبلي القبلة وغير مستقبليها
Apabila peperangan sudah berkecamuk dan para muslimin tidak mempunyai kesempatan meninggalkan peperangan sama sekali, karena jumlahnya yang sedikit dan kekuatan musuh lebih besar, atau belum terjadi peperangan namun para muslimin sangat takut dan tidak aman dari tikaman musuh dari belakang andaikata mereka shalat sambil membelakangi musuh, maka dalam keadaan yang demikian, para muslimin boleh dikelompok-kelompokkan dan boleh shalat secara apa yang boleh.Muslimin yang berada dalam kancah peperangan itu tidak boleh mengakhirkan shalat dari waktunya. Hal itu berdasarkan sebuah ayat yang mulia yang menunjukkan kewajiban melakukan shalat tepat pada waktunya. Muslimin boleh melakukan shalat dengan menunggang kudanya atau dengan berjalan. Boleh menghadap kiblat atau tidak meng-hadap kiblat.

لقوله تعالى : ﴿ فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا ﴾ [ البقرة : ٢٣٩ ] قال ابن عمر رضي الله عنهما في تفسيرها . مستقبلي القبلة وغير مستقبليها ، كذا رواه مالك عن نافع . قال نافع : لا أراه قال ذلك إلا عن رسول الله (۱)
Sebab firman Allah menyatakan:
"Apabila kamu takut, boleh kamu lakukan shalat dengan berjalan atau naik kendaraan."(Al-Baqarah: 239)
Ibnu Umar pernah berkata mengenai tafsir dari ayat ini: Dengan menghadap kiblat atau tidak. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Malik dari Nafi'. Nafi' berkata: Aku tidak fikir, bahwa Ibnu 'Umar berani mengatakan demikian kecuali beliau mendengar daripada Rasulullah s.a.w.

قال الماوردي : وقد رواه الشافعي بسنده عنه عن رسول الله ﷺ ، ولأن الضرورة قد تدعو إلى الصلاة على هذه الحالة ، ولا يجب الاستقبال لا في حال التحرم ولا في غيره ، وإن كان راجلاً ، قاله البغوي وغيره و لا إعادة عليه
Al-Mawardi p**a berkata: Tafsir tersebut diriwayatkan oleh Imam Syafi'i dengan sanadnya Imam Syafi'i sendiri dari Ibnu Umar dari Rasulullah s.a.w. Lain dari itu, dalam keadaan dharurat memang kita membutuhkan shalat seperti itu. Dan tidak wajib menghadap kiblat pada waktu takbiratul-ihramnya maupun pada saat melakukan rukun-rukun lainnya meskipun dia berjalan ketika itu. Demikian kata Al-Baghawi dan lain-lain. Dan tidak wajib i'adah yakni mengulangi shalatnya.

✯𝑹𝒆𝒔𝒖𝒎𝒆 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒊𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓☫
🕌❖𝑴𝑰𝑭𝑻𝑨𝑯𝑼𝑳 𝑯𝑼𝑺𝑵𝑨❖
🕹♕𝑷𝑨𝑾𝑨𝑹𝑬𝑵𝑮𝑨𝑵♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝑲𝒊𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖𝒍 𝑨𝒌𝒉𝒚𝒂𝒓✢
𝑴𝒖𝒒𝒓𝒚 (𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂) :
𝑼𝒔𝒕𝒅𝒛 𝑨𝒔𝒆𝒑 𝑱𝒂𝒆𝒍𝒂𝒏𝒊
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*
واعلم أنه إنما يعفى عن ترك الاستقبال إذا كان بسبب العدو ، فلو انحرف عن القبلة الجماح الدابة ، وطال الزمن ، بطلت الصلاة ، ولو لم يتمكن من إتمام الركوع والسجود ، اقتصر على الإيماء ، ويجعل السجود أخفض من الركوع
Ketahuilah, bahwa meninggalkan menghadap kiblat tidak mengapa jika disebabkan oleh adanya musuh. Jadi andaikata orang itu berpalingnya dari kiblat karena kendaraannya rewel dan memakan waktu yang lama, shalatnya menjadi batal.Andaikata orang itu tidak dapat menyempurnakan rukuk atau sujudnya, maka baginya diperbolehkan menggunakan isyarat. Dan sujud-nya harus ia lakukan lebih rendah dari rukuknya.

ويجب الاحتراز عن الصياح بكل حال لعدم الحاجة إليه ، ولو احتاج إلى الفعلات الكثيرة . كالطعنات والضربات المتوالية ، فعل ، ولا تبطل صلاته على الصحيح ، كما لو اضطر إلى المشي ، وقيل : تبطل ونص عليه الشافعي ،
Dan wajib menahan dari suara yang keras kalau ada apa-apa, karena hal itu tidak ada ke-perluannya.Andaikata orang itu memerlukan gerakan-gerakan yang banyak, seperti melukai musuh dan memukulnya bertubi-tubi, boleh dia melaku-kan hal itu dan shalatnya tidak batal menurut qaul yang shahih. Sama halnya kalau dia memerlukan untuk berjalan kaki. Ada yang mengatakan batal shalatnya. Dan ini sudah dinash oleh Imam Syafi'i.
𝑾𝒂𝒍𝒍𝒐𝒉𝒖 𝑨'𝒍𝒂𝒎 𝒃𝒊𝒔𝒉𝒐𝒘𝒂𝒃

✯𝑹𝒆𝒔𝒖𝒎𝒆 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒊𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓☫
🕌❖𝑩𝑨𝑬𝑻𝑼𝑺𝑺𝑯𝑶𝑳𝑰𝑯𝑰𝑵❖
🕹♕𝑺𝑼𝑴𝑩𝑨 𝑲𝑨𝑳𝑬𝑹♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝑲𝒊𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖𝒍 𝑨𝒌𝒉𝒚𝒂𝒓✢
𝑴𝒖𝒒𝒓𝒚 (𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂) :
𝑼𝒔𝒕𝒅𝒛 𝑨𝒔𝒆𝒑 𝑱𝒂𝒆𝒍𝒂𝒏𝒊
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*
وقوله : في شدة الخوف ، يشمل كل ما ليس بمعصية من أنواع القتال ، فيجوز في قتال الكفار ، ولأهل العدل في قتال البغاة ، وفي قتال قطاع الطريق ، ولا يجوز للبغاة ولا لقطاع الطريق ذلك لعصيانهم ، فلا يخفف عنهم
Kata pengarang "dalam keadaan sangat takut" ini mencakup segala sesuatu yang bukan maksiat yang masih sejenis dengan peperangan. Jadi boleh meninggalkan menghadap kiblat ketika sedang dalam keadaan perang, memerangi orang-orang kafir, atau bagi para penegak keadilan ketika berperang melawan para pemberontak atau perampok.Orang-orang pemberontak dan perampok tidak boleh meninggalkan menghadap kiblat, sebab mereka dalam kemaksiatan, Jadi mereka tidak mendapatkan keringanan.

ولو قصد شخص نفس شخص أو حريمه ، أو نفس غيره أو حريمه ، واشتغل بالدفع عن ذلك ، صلى على هذه الحالة ، ولو قصد ما له نظر ، إن كان حيواناً ، صلى كذلك ، وإن لم يكن حيواناً ، فقولان ، والأظهر الجواز ، ويشمل مطلق الخوف ما لو هرب من سيل أو حريق ولم يجد معدلاً عنه .
Andaikata ada seseorang hendak merampas jiwa seseorang (hendak membunuhnya), atau jiwa isterinya, atau jiwa orang lain atau isteri orang atau perkelahian itu, boleh orang tersebut shalat dalam keadaan menolak lain, dan pada waktu itu dia disibukkan untuk menghindar perlawanan atau menghindar tersebut.
Andaikata yang terancam itu hartanya, dilihat dulu. Kalau yang mengancam itu binatang buas, boleh dia shalat menurut kehendaknya. Kalau bukan binatang buas, ada dua qaul. Dan qaul yang azhhar ialah diperbolehkan shalat seperti orang yang dalam ketakutan.Dengan dimutlakkannya "takut" berarti mencakup juga kalau ada seseorang melarikan diri dari luapan banjir atau dari kobaran api dan tidak ada pilihan lain kecuali harus lari.

ولو كان على الشخص دين وهو معسر وعاجز عن بيئة الإعسار ، ولا يصدقه المستحق ولو ظفر به حبسه ، فله أن يصلي هارباً على المذهب . ولو كان عليه قصاص ويرجو العفو إذا سكن الغضب ، قال الأصحاب : له الهرب ، وله أن يصلي صلاة شدة الخوف في هربه ، واستبعد الإمام جواز هر به بهذا التوقع
Andaikata seseorang mempunyai tanggungan membayar hutang yang sudah sampai waktunya untuk dibayar. Akan tetapi orang tersebut belum dapat membayar dan dia tidak dapat mendatangkan saksi atas kefakirannya (ketidak-mampuannya), atau kalau dia menyatakan ketidak-mampuan-nya tidak akan dipercayai oleh pemilik piutang, dan andaikata orang itu tertangkap oleh pemilik piutang tentu akan dipenjara, boleh orang itu melakukan shalat sambil berlari menurut mazhab yang kuat.Andaikata ada seseorang sedang menghadapi pelaksanaan hukum qishash. Dan orang itu masih mempunyai harapan mendapat ampunan dari orang yang berhak atas qishash itu apabila nanti sudah hilang amarahnya, para Ulama Mazhab Syafi'i berkata: Orang tersebut boleh melarikan diri dan boleh shalat sebagaimana dalam keadaan "takut" waktu ia lari. Imam Haramain menyangkal hukum yang membolehkan orang ini melarikan diri dalam keadaan serupa ini.

ولو ضاق الوقت على المحرم ، وخاف إن صلی مستقراً فات الوقوف بعرفة ، ففيه أوجه ، الذي رجحه الرافعي أنه يصلي مستقراً وإن فات الوقوف ، والثاني يصلي صلاة شدة الخوف جمعاً بينهما ، والثالث يؤخر الصلاة ويحصل الوقوف ، لأن قضاء الحج صعب قال النووي : إن الثالث هو الصواب ، وما رجحه الرافعي ضعيف والله أعلم .
Andaikata seorang muhrim (yang berpakaian ihram karena menunai-kan haji) tinggal mempunyai sedikit waktu. Kalau dia shalat di tempat itu, tentu akan tertinggal wukuf di Arafah, dalam keadaan begini, ada beberapa wajah. Qaul yang ditarjihkan oleh Imam Rafi'i, oleh orang yang ihram itu shalat di tempatnya meskipun harus tertinggal wukuf. Qaul yang kedua, boleh melakukan shalatnya sebagaimana shalatnya orang yang sangat takut, agar ia dapat menunaikan kedua-duanya, yaitu shalat dan wukuf. Qaul yang ketiga, boleh orang tersebut mengakhirkan shalat-Dan dapat menunaikan wuqufnya,karena sesungguhnya mengqodho haji itu lebih sulit,Berkata imam nawawi pendapat yang ketiga itu yg benar,dan di tarjih/dirojihkan oleh imam rofi'i pendapat ini dhoif/lemah..

✯𝑹𝒆𝒔𝒖𝒎𝒆 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒊𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓☫
🕌❖𝑩𝑨𝑩𝑼𝑺𝑺𝑨𝑳𝑨𝑴❖
🕹♕𝑺𝑼𝑴𝑩𝑨 𝑲𝑰𝑫𝑼𝑳♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝑲𝒊𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖𝒍 𝑨𝒌𝒉𝒚𝒂𝒓✢
𝑴𝒖𝒒𝒓𝒚 (𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂) :
𝑼𝒔𝒕𝒅𝒛 𝑨𝒔𝒆𝒑 𝑱𝒂𝒆𝒍𝒂𝒏𝒊
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠

Berkata Syaikh Abu Syuja':

وَفِي النَّافِلَةِ فِي السَّفَرِ عَلَى الرَّاحِلَةِ . )
[(2) Dalam shalat sunnat di atas kendaraan waktu bepergian].

يجوز للمسافر التنفل راكباً وماشياً إلى جهة مقصده في السفر الطويل والقصير على المذهب . أما في الراكب ، فلما رواه الشيخان عن ابن عمر رضي الله عنهما قال : كان رسول الله ﷺ " يصلي على راحلته في السفر حيثما توجهت به » وفي رواية البخاري ( يصلي على ظهر راحلته حيث توجهت به (۱) وإذا أراد الفريضة نزل عن راحلته فاستقبل
Orang yang bepergian boleh melakukan shalat sunnat di atas kendaraan atau sambil berjalan kaki menuju ke tempat tujuan. Sama ada bepergian jauh maupun dekat, menurut mazhab yang kuat. Diperbolehkan bagi yang naik kendaraan karena berdasarkan sebuah Hadis yang di-riwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibnu 'Umar, yang berkata:
يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ فِي السَّفَرِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ
"Rasulullah s.a.w. shalat di atas kendaraannya pada waktu bepergian menurut arah yang dihadapi kendaraannya itu."
Di dalam riwayat Imam Bukhari begini:
يُصَلِّي عَلَى ظَهْرِ رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ .
"Bahwa Rasulullah s.a.w. shalat di atas punggung kendaraannya menurut arah yang dihadapi kendaraan itu."
Jika kemudian orangnya bermaksud hendak menunaikan shalat fardhu, maka harus turun dari kendaraannya lalu menghadap kiblat.

والسبب في ذلك أن الناس محتاجون إلى الأسفار ، ولهم أوراد ، وقصد في النافلة . فلو شرط الاستقبال في التنفل ، لأدى إلى ترك أورادهم ، أو ترك مصالح معايشهم
Sebab diperbolehkannya melakukan shalat sunnat sambil naik kendaraan, yaitu karena semua muslimin tentu membutuhkan bepergian. Sedangkan mereka mempunyai wiridan dan keazaman berupa shalat sunnat. Jadi kalau disyaratkan harus menghadap kiblat dalam shalat sunnat, tentu akibatnya mereka akan meninggalkan wiridannya atau apa yang menjadi kemaslahatan bagi mata pencahariannya.

وأما الماشي ، فبالقياس على الراكب لوجود المعنى
Adapun orang yang berjalan kaki, maka hal itu dikiaskan dengan orang yang berkendaraan. Kedua-duanya mempunyai persamaan illat.

ثم هذا في الراكب الذي لا يمكنه إتمام الركوع والسجود ، فإن أمكن ، بأن كان في مرقد كالمحارة ونحوها ، لزمه ذلك ، لأنه لا مشقة عليه كراكب السفينة ،
Kemudian apa yang telah diterangkan di muka itu adalah bagi orang-orang yang tidak melakukan rukuknya atau sujudnya secara sempurna. Kalau orangnya boleh menyempurnakan rukun sujudnya dan rukuk-nya, misalnya di atas tempat tidur pada kendaraan itu, maka wajib menyempurnakan rukuk dan sujudnya. Sebab dengan demikian orang itu tidak menemui kesulitan apa-apa. Seperti orang naik perahu.
𝑾𝒂𝒍𝒍𝒐𝒉𝒖 𝑨'𝒍𝒂𝒎 𝑩𝒊𝒔𝒔𝒉𝒐𝒘𝒂𝒃

✯𝑹𝒆𝒔𝒖𝒎𝒆 𝑷𝒆𝒏𝒈𝒂𝒋𝒊𝒂𝒏 𝑲𝒆𝒍𝒊𝒍𝒊𝒏𝒈✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓☫
🕌❖𝑴𝑰𝑭𝑻𝑨𝑯𝑼𝑳 𝑱𝑨𝑵𝑵𝑨𝑯❖
🕹♛𝑷𝑬𝑹𝑼𝑴 𝑮𝑹𝑬𝑨𝑵𝑫 𝑴𝑼𝑻𝑰𝑨𝑹𝑨 𝑰𝑰♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑫𝒂𝒘𝒖𝒂𝒏 𝑻𝒊𝒎𝒖𝒓 𝑲𝒆𝒄 𝑪𝒊𝒌𝒂𝒎𝒑𝒆𝒌✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝑲𝒊𝒇𝒂𝒚𝒂𝒕𝒖𝒍 𝑨𝒌𝒉𝒚𝒂𝒓✢
𝑴𝒖𝒒𝒓𝒚 (𝑷𝒆𝒎𝒃𝒂𝒄𝒂) :
𝑼𝒔𝒕𝒅𝒛 𝑨𝒔𝒆𝒑 𝑱𝒂𝒆𝒍𝒂𝒏𝒊
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*
وأما من لا يمكنه ذلك ، ففي وجوب الاستقبال وقت التحرم أوجه ، الصحيح : إن سهل عليه ذلك بأن كان الزمام في يده وهي سهلة الانقياد ، أو كانت قائمة وأمكن انحرافه عليها أو تحريفها ، لزمه ذلك ، وغير السهلة بأن تكون مقطورة أو صعبة الانقياد
Jika orang yang shalat tidak dapat menyempurnakan rukuk dan sujudnya, mengenai keharusan menghadap kiblat saat takbiratul-ihram itu mempunyai banyak wajah. Menurut qaul yang shahih, jika orangnya mudah membelokkan kendaraannya ke arah kiblat karena ia memegang kendali misalnya, dan untanya (kendaraannya) mudah menurut, atau untanya sedang berdiri tegak sehingga memungkinkan dia bergeser di atas unta atau dia dapat mengarahkan unta, maka wajib dia menghadap kiblat.
Contoh unta yang tidak gampang dikendalikan, yaitu unta gandengan yang nakal. Orang yang naik unta nakal ini tidak diwajibkan menghadap kiblat.

واحتج لذلك بأنه عليه الصلاة والسلام " كان إذا سافر وأراد أن يتطوع استقبل بناقته القبلة وكبر وصلى حيث وجه ركابه » رواه أبو داود من رواية أنس بإسناد حسن ن (۲) والمعنى فيه وقوع أول العبادة بالشروط ، والباقي يقع تبعاً كالنية ، يجب ذكرها في أول الصلاة ويكفي دوامها حكماً لا ذكراً للعسر . وإذا شرطنا الاستقبال عند الإحرام ، لم يشترط عند السلام على الراجح كما في سائر الأركان .
Dalil keharusan menghadap kiblat pada waktu takbiratul-ihram yaitu Rasulullah s.a.w. apabila sedang bepergian dan bermaksud mengerjakan shalat sunnat, beliau menghadap kiblat bersama-sama dengan untanya dan bertakbir lalu meneruskan shalatnya menurut arah yang dihadapi oleh unta itu. Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari riwayat Anas dengan isnad yang bagus.
Hikmah atau makna yang terkandung di dalam kewajiban meng-hadap kiblat pada saat takbiratul-ihram yaitu bahwa permulaan ibadahnya telah dilaksanakan dengan memenuhi syarat. Sedangkan untuk selanjut-nya hanya menganut. Sama halnya dengan niat. Orang wajib menyebut niat pada permulaan shalatnya dan ia cukup melanggengkan niat itu secara hukum di dalam hati sampai akhir shalat. Tidak wajib ia meng-ingat-ingat terus, karena hal itu sangat sulit.
Kalau kita mensyaratkan harus menghadap kiblat pada waktu takbiratul-ihram, maka ketika salam tidak disyaratkan harus menghadap kiblat, menurut qaul yang rajih, sebagaimana pada rukun-rukun yang lain.

ثم مهما أمكنه الاستقبال في الصلاة وجب ، بأن وقفت الدابة لحاجة سواء في ذلك وقت التحرم أو غيره ، فاعرفه
Kemudian, apabila sewaktu-waktu orang yang shalat sunnat itu dapat menghadap kiblat, seperti pada saat untanya sedang berhenti karena ada sesuatu hajat, maka wajib menghadap kiblat, pada waktu takbiratul-ihram maupun lainnya. Maka dari itu camkanlah masalah ini.
*والله أعلم بالصواب*

✯𝐑𝐄𝐒𝐔𝐌𝐄 𝐏𝐄𝐍𝐆𝐀𝐉𝐈𝐀𝐍 𝐊𝐄𝐋𝐈𝐋𝐈𝐍𝐆✯
☫𝐏𝐑𝐍𝐔&𝐌𝐔𝐈 𝐃𝐀𝐖𝐔𝐀𝐍 𝐓𝐈𝐌𝐔𝐑☫
🕌❖𝑴𝑨𝑵𝑨𝒁𝑰𝑳𝑰𝑺 𝑺𝒀𝑼𝑯𝑨𝑫𝑨❖
🕹♕𝑺𝒖𝒌𝒂𝑺𝒂𝒓𝒊/𝑩𝒂𝒌𝒂𝒏 𝒑𝒖𝒍𝒊𝒓♛
✜𝑫𝒆𝒔𝒂 : 𝑲𝑨𝑹𝑨𝑵𝑮 𝑱𝑨𝒀𝑨 ,𝑲𝒆𝒄 : 𝑻𝑰𝑹𝑻𝑨 𝑴𝑼𝑳𝒀𝑨✜
✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️✍️
📚✢𝐊𝐢𝐟𝐚𝐲𝐚𝐭𝐮𝐥 𝐀𝐤𝐡𝐲𝐚𝐫✢
𝐌𝐮𝐪𝐫𝐲:
𝐔𝐬𝐭𝐝𝐳 𝐀𝐬𝐞𝐩 𝐉𝐚𝐞𝐥𝐚𝐧𝐢
✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠✠
*بسم الله الرحمن الرحيم*
واعلم أن صوب مقصد المسافر هو قبلته ، فلو انحرف عنه ، بطلت صلاته ، لأنه لا حاجة له في ذلك . وإن انحرف ناسياً وعاد عن قرب ، لم تبطل صلاته ، وكذا لو غلط في الطريق . ولو انحرف بجماحالدابة وطال الزمان ، بطلت صلاته على الصحيح ، كما لو أماله شخص عن صوب مقصده وإن قصر ، لم تبطل صلاته لعموم الجماح
Ketahuilah bahwa arah tujuan orang yang bepergian itu merupakan kiblat bagi dirinya. Jadi kalau dia berpaling dari arah tujuannya, batal shalatnya. Sebab berpalingnya itu tidak ada maksud apa-apa.
Tapi apabila berpalingnya itu karena terlupa dan segera dia kembali ke arah kiblatnya, maka tidak batal shalatnya. Demikian juga kalau orangnya tersesat jalan. Andaikata berpalingnya karena kendaraan-nya rewel dan memakan waktu yang lama, batal shalatnya menurut qaul yang shahih.
Seperti halnya kalau kendaraannya dipalingkan oleh orang lain dari arah tujuannya. Apabila hanya sebentar, tidak batal shalatnya menurut qaul yang shahih, sebab unta mogok/rewel itu sudah biasa.

وإذا لم تبطل في صورة النسيان ، فإن طال الزمان ، سجد للسهو ، وإلا فلا .
Jika shalatnya tidak batal dalam keadaan terlupa, maka jika memakan waktu yang lama, hendaklah ia bersujud sahwi. Jika tidak lama, tidak perlu bersujud sahwi.

واعلم أنه لا يجب على الراكب وضع جبهته على عرف الدابة ولا على السرج والإكاف ، بل ينحني للركوع والسجود ، ويكون السجود أخفض ليحصل التمييز بينهما ، وهو واجب عند التمكن . نعم الراكب في مرقد ونحوه مما يسهل فيه الاستقبال
Ketahuilah, orang yang shalat di atas kendaraan itu tidak diwajibkan meletakkan dahinya di atas bulu tengkuknya unta atau di atas pelana unta atau kain pelana, himar. Namun cukup dia membungkuk pada waktu rukuk maupun sujud. Dan sujudnya harus lebih rendah daripada rukuknya, agar antara sujud dan rukuk itu ada perbedaannya.

وهو واجب عند التمكن . نعم الراكب في مرقد ونحوه مما يسهل فيه الاستقبال ، وكذا إتمام الأركان ، فيجب عليه الاستقبال في جميع الصلاة وكذا إتمام الأركان لقدرته . هذا في الراكب
Membungkuk ini hukum-nya wajib jika orangnya dapat melakukan.
Ya, ada satu lagi, yaitu orang yang berada di atas tempat tidur di dalam kendaraannya dan sebagainya, jika menghadap kiblat termasuk perkara yang mudah, dan juga jika boleh menyempurnakan semua rukun-rukun shalat, maka hukumnya wajib ia menghadap kiblat dalam semua shalatnya. Dan begitu p**a wajib menyempurnakan semua rukun-rukunnya, karena dia berkuasa. Ini untuk orang yang naik kendaraan.

أما الماشي ففيه أقوال ، أظهرها أنه يركع ويسجد على الأرض ، وله التشهد ماشياً لطوله كالقيام ،
Bagaimana p**a dengan orang yang berjalan kaki? Ada beberapa wajah. Qaul yang ashah wajahnya, orang tersebut wajib rukuk dan bersujud di atas tanah. Dan boleh dia membaca tasyahhudnya sambil berjalan, karena tasyahhud itu panjang, seperti berdiri.

ويشترط أن يكون ما يلاقي بطن المصلي على الراحلة طاهراً ، فلو وطئت الدابة النجاسة لم يضر ، وكذا لو أوطأها على الأصح. ولو وطىء الماشي نجاسة عمداً ، بطلت صلاته . نعم لا يكلف التحفظ والاحتياط في المشي للمشقة
Shalat di atas kendaraan, disyaratkan apa yang berhadapan dengan perut mushalli di atas kendaraan harus suci. Jadi sekalipun untanya menginjak barang najis, hal itu tidak membahayakan. Demikian juga kalau orangnya sengaja menginjakkan untanya di atas barang najis menurut qaul yang ashah.
Andaikata orang yang shalat sunnat dengan keadaan berjalan sengaja menginjak barang najis, batal shalatnya. Akan tetapi orang tersebut tidak diharuskan menjaga diri atau berhati-hati dalam berjalannya, karena hal itu sangat menyulitkan.
𝚆𝙰𝙻𝙻𝙾𝙷𝚄 𝙰'𝙻𝙰𝙼 𝙱𝙸𝚂𝚂𝙷𝙾𝙰𝙱
*𝕊𝔼𝕃𝔸𝕄𝔸𝕋 𝕄𝔼ℕ𝕐𝕆ℕ𝔾𝕊𝕆ℕ𝔾 𝔻𝔸𝕋𝔸ℕ𝔾ℕ𝕐𝔸 𝔹𝕌𝕃𝔸ℕ ℝ𝕆𝕄𝔸𝔻ℍ𝕆ℕ,𝕊𝔼𝕄𝕆𝔾𝔸 𝔹𝔼ℝ𝕋𝔼𝕄𝕌 𝕂𝔼𝕄𝔹𝔸𝕃𝕀 𝔻𝕀 𝔹𝕌𝕃𝔸ℕ 𝕊𝕐𝔸𝕎𝔸𝕃*

Ketahuilah, bahwa kewenangan melakukan shalat sunnat di atas kendaraan atau sambil berjalan itu disyaratkan harus masih dalam keadaan bepergian atau perjalanan. Jadi kalau misalnya orang itu sudah sampai di rumah pada pertengahan shalatnya, maka wajib menyempurna-kan shalatnya dengan menghadap kiblat sambil berdiri tetap di tempat-nya. Dan harus turun jika sedang naik kendaraan.

Demikian juga apabila orang itu tiba di tempat pemukimannya. Wajib turun dari kendaraan dan kemudian menyempurnakan shalatnya dengan menghadap kiblat, sejak ia masuk ke dalam sekitaran bangunan-bangunan negerinya.
Hukumnya niat bermukim sama dengan hukumnya orang yang tiba di tempat pemukimannya. Wallahu-a'lam.

Cabang Permasalahan.
Bagi orang yang naik kendaraan dan orang yang berjalan kaki, disyaratkan harus menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang tidak ada perlunya. Jadi andaikata orang itu melarikan kudanya untuk suatu ke-pentingan, hal itu tidak mengapa. Dan andaikata orang itu melarikan kudanya tanpa ada uzur (keperluan), atau orang yang berjalan kaki kemudian duduk tanpa ada uzur, batal shalatnya menurut qaul yang rajih. Wallahu-a'lam.

Cabang Permasalahan.
Orang yang naik kendaraan tanpa ada satu tujuan tertentu, seperti orang kebingungan tanpa mengetahui arah tujuannya, kadang-kadang ia menghadap kiblat dan kadang-kadang tidak, orang seperti ini tidak boleh meninggalkan menghadap kiblat pada sebagian shalat sunnatnya.

Cabang Permasalahan.
Orang yang naik perahu, tidak boleh shalat di atas perahunya tanpa menghadap kiblat, sebab dia dapat melakukan hal itu. Demikian ini telah dinash oleh Imam Syafi'i, seperti halnya orang yang diusung di atas tandu.
Apakah juru mudi dapat dikecualikan sehingga dia diperbolehkan melakukan shalat sunnatnya sambil menghadap menurut arah tujuannya dan meninggalkan kiblat? Imam Rafi'i mentarjihkan qaul yang menyatakan "tidak dikecualikan," hal itu diterangkan oleh beliau di dalam kitab Syarah As-Shaghir. Beliau berkata: Tidak ada perbedaan antara juru mudi dan lainnya. Namun Imam Nawawi mentarjihkan qaul yang "mengecuali-kan." Beliau berkata: Harus dikecualikan. Sebab juru mudi selalu ber-urusan dengan perahunya. Wallahu-a'lam.

Address

Desa Dawuan Timur Kec Cikampek Kab Karawang
Cikampek
41373

Opening Hours

Monday 09:00 - 15:30
Tuesday 09:00 - 15:30
Wednesday 09:00 - 15:30
Thursday 09:00 - 15:30
Friday 09:00 - 15:30
Saturday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when NU Ranting Desa Dawuan Timur posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share