19/12/2024
*Abu Nabilah: Lentera yang Tak Padam*
Ustaz Hasri Raja namanya, namun begitu akrab dengan sapaan, Abu Nabilah
Sosok yang bersemangat, seperti api yang tak pernah padam
Sosok yang selalu bergerak, seperti arus sungai yang tak pernah surut
Melangkah dari satu amanah ke amanah yang lain,
Menanam dan menebar kebaikan di setiap jengkal bumi tempat kakinya berpijak...
Suaranya keras, seperti gemuruh ombak di Lautan Bulukumba, Kampung Halamannya
Namun jangan tanya bagaimana manisnya senyuman yang terus merekah di wajahnya,
Memberi salam kepada semua, tanpa membedakan siapa yang ia kenal, atau siapa yang baru singgah dalam pandangan.
Lelaki paruh baya, namun jiwanya penuh gairah seperti pemuda...
Tangannya terampil dan penuh cinta, merawat bunga-bunga di halaman rumah,
Menjaga taman sekolah agar tetap asri dan indah,
Bunga-bunga itu menjadi saksi bisu, akan kelembutan yang bersanding dengan ketegasan iman di hatinya.
Ia memiliki ruang kecil di Kelas Dasar SDIT Al Wahdah, mendekap hati-hati mungil dengan kisah dan pelajaran,
Membuat anak-anak mencintai ilmu, seperti ia mencintai Tuhan dan risalah-Nya...
Dulu, di teras-teras masjid kampus, ia dikenal tak hanya menjajakan penampilan yang islami
Ia juga menyapa dengan ramah, menyulut lentera hidayah, menebar pesan-pesan yang membuat jiwa muda tergugah...
Abu Nabilah memang penutur cerita tanpa akhir, Pengukir nasihat di hati yang berkarat,
"Lebih baik dipaksa masuk surga," katanya, "Daripada sukarela melangkah ke neraka."
Kata-kata yang membangunkan jiwa muda yang lelah atau enggan mengayuh bahtera ketaatan...
Namun Abu Nabilah bukan sekadar sosok penuh cinta,
Ia juga adalah pilar kokoh dalam dakwah di saat banyak yang terhempas oleh badai fitnah,
Ia tetap tegak, memegang erat kebenaran yang diyakininya,
Membuktikan keteguhan iman dengan langkah yang tak pernah mundur.
Sayup-sayup saya teringat taujih Sang Murabbi, Ustaz Ikhwan Kapai, bercerita (dengan sedikit gubahan kata)
“Abu Nabilah adalah benteng dakwah, Ketika banyak yang goyah, ia tetap berdiri kokoh, Menyala seperti obor di tengah kegelapan fitnah.”
Kini, lentera itu telah padam di dunia fana,
Namun kita yakin cahayanya tetap menyala dalam doa-doa istri dan anak-anaknya.
Ia meninggalkan seorang istri shalihah-daiyah-aktivis dakwah, beserta 5 anak sholih dan sholihah,
Yang tiap hari bergumul dengan ayat-ayat Quran dan sunnah-sunnah Nabi sebagai jalan hidup.
3 anaknya melabuhkan ilmu di STIBA Makassar, 2 lainnya memahat iman di Pondok Pesantren Wahdah Islamiyah Kendari.
Mereka adalah warisannya yang tak ternilai, Penerus dakwahnya yang akan melanjutkan estafet kebaikan.
Kita memang belum siap melepasnya, namun Abu Nabilah telah pergi dengan bahagia,
Meninggalkan warisan cinta dan amal, yang akan terus mengalir hingga hari pembalasan.
Selamat jalan, Abu Nabilah,
Pohon-pohon di taman, bunga-bunga yang engkau rawat,
Menunduk mengiringi langkahmu,
Bumi ini bersaksi atas jejak-jejak kebaikanmu.