Info Wong Boyolali

Info Wong Boyolali Info Wong Boyolali adalah sarana informasi dikususkan untuk menginformasikan kabar terbaru atau informasi di Boyolali. seputar informasi di tanah air.

dan juga memberikan informasi terkini yang up to date. stop berita hoaks. dan kritik yang tanpa dasar.

Hmmm.Sebanyak 27 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Boyol...
18/06/2026

Hmmm.
Sebanyak 27 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Boyolali untuk sementara menghentikan operasionalnya. Sebagian besar penghentian layanan disebabkan belum cairnya dana operasional dari Badan Gizi Nasional (BGN).

Ketua Satgas MBG Kabupaten Boyolali, M Syawalludin, mengungkapkan saat ini terdapat 121 SPPG yang telah beroperasi di Boyolali. Selain itu, 19 SPPG masih dalam tahap persiapan operasional dan 54 lainnya dalam proses pembangunan.

"Total ada 194 SPPG dengan jumlah penerima manfaat yang terlayani sekitar 284.117 orang," kata Syawalludin, Kamis (18/6/2026).

Dari 121 SPPG yang sudah berjalan, sebanyak 23 dapur terpaksa menghentikan layanan karena dana tambahan operasional dari BGN belum dicairkan. Sementara empat SPPG lainnya dihentikan sementara karena instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang dimiliki belum memenuhi persyaratan.

Menurut Syawalludin, penghentian operasional akibat persoalan pendanaan berkaitan dengan belum turunnya dana top up dari BGN. Karena itu, sejumlah pengelola memilih menghentikan sementara layanan hingga ada kepastian pencairan dana.

Pemerintah Kabupaten Boyolali saat ini masih menunggu arahan dan kebijakan terbaru dari pemerintah pusat terkait pelaksanaan program MBG. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah rencana penghentian operasional dapur MBG selama masa libur sekolah.

Selain itu, beredar informasi mengenai kemungkinan perubahan sasaran penerima manfaat, termasuk wacana siswa tingkat SMA yang tidak lagi menerima program MBG. Namun hingga kini, Pemkab Boyolali mengaku masih menunggu petunjuk resmi dari pemerintah pusat.

Terkait pembangunan SPPG baru yang masih berlangsung, Syawalludin mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Koordinator Wilayah (Korwil) SPPG untuk mengetahui kelanjutan program tersebut, termasuk kemungkinan adanya moratorium atau evaluasi pembangunan dapur baru.

Ia menegaskan pentingnya keterbukaan informasi dan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, Korwil SPPG, serta Badan Gizi Nasional agar berbagai persoalan yang muncul dapat diselesaikan bersama.

Menurutnya, evaluasi tata kelola program MBG perlu dilakukan secara komprehensif dengan mempertimbangkan aspek kebijakan pemerintah sekaligus kepentingan masyarakat yang telah berinvestasi dalam pembangunan fasilitas SPPG.

Pemkab Boyolali berencana segera menggelar koordinasi dengan Korwil SPPG guna memperoleh kejelasan terkait hasil evaluasi serta arah kebijakan program MBG ke depan.

Hmmm. Akhirnya Ahli digital forensik sekaligus penulis buku *Jokowi's White Paper*, Rismon Hasiholan Sianipar, mendatang...
18/06/2026

Hmmm. Akhirnya Ahli digital forensik sekaligus penulis buku *Jokowi's White Paper*, Rismon Hasiholan Sianipar, mendatangi kediaman Presiden ke-7 RI Joko Widodo di kawasan Sumber, Solo, Rabu (17/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, Rismon membawa sebuah buku berjudul *Otentikasi Ijazah Joko Widodo*.

Rismon hadir didampingi penasihat hukumnya, Jahmada Girsang, serta Ketua Militan Gibran Nusantara, Andi Aswan. Ia menjelaskan bahwa kedatangannya bertujuan menyampaikan hasil kajian terbaru yang sekaligus menjadi koreksi atas buku yang pernah diterbitkannya sebelumnya.

Menurut Rismon, buku tersebut disusun sebagai bentuk pertanggungjawaban akademik dan rencananya akan didistribusikan ke berbagai perpustakaan di Indonesia. Ia menegaskan bahwa seluruh isi kajian disusun berdasarkan pendekatan ilmiah dan tidak dilatarbelakangi kepentingan politik maupun sentimen pribadi.

"Buku ini merupakan karya yang disusun berdasarkan kaidah penelitian dan ditujukan untuk kepentingan akademis," ujar Rismon kepada wartawan.

Ia menambahkan, karya tersebut diharapkan dapat menjadi bahan diskusi dan kajian di lingkungan perguruan tinggi, khususnya dalam bidang teknik elektro dan teknik informatika.

Dalam salah satu bab, Rismon mengungkapkan adanya analisis pencocokan citra wajah menggunakan teknologi pengenalan wajah digital. Analisis tersebut membandingkan foto Jokowi pada masa muda dengan foto saat menjabat presiden puluhan tahun kemudian.

Selain itu, metode serupa juga diterapkan pada sejumlah tokoh nasional lainnya sebagai bagian dari pengujian dan pembandingan hasil analisis. Tokoh yang disebut antara lain Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono, Luhut Binsar Pandjaitan, Anies Baswedan, hingga Megawati Soekarnoputri.

Sementara itu, penasihat hukum Rismon, Jahmada Girsang, menyebut kunjungan ke Solo merupakan bentuk tanggung jawab moral kliennya terhadap publik atas kajian yang pernah dipublikasikan sebelumnya bersama sejumlah pihak.

Menurut Jahmada, buku yang dibawa Rismon berisi hasil penelitian terbaru sekaligus penyempurnaan dari karya terdahulu yang telah menjadi perhatian publik dalam beberapa waktu terakhir.

Hmm. Sebuah batu lingga beraksara kuno yang ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, res...
18/06/2026

Hmm. Sebuah batu lingga beraksara kuno yang ditemukan di Dukuh Jogodayoh Lor, Desa Gumulan, Kecamatan Klaten Tengah, resmi diamankan ke Museum Klaten pada Selasa (17/6/2026). Pemindahan benda yang diduga merupakan peninggalan era Mataram Kuno itu dilakukan untuk memberikan perlindungan dan perawatan yang lebih optimal.

Proses relokasi dilakukan oleh tim Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Klaten dengan disaksikan tokoh masyarakat setempat. Pemindahan juga disertai penandatanganan berita acara serah terima sebagai bentuk dokumentasi resmi.

Pamong Budaya Ahli Pertama Disbudporapar Klaten, Wiyan Ari Tanjung, mengatakan setelah tiba di museum, batu lingga langsung dibersihkan, termasuk menghilangkan sisa semen yang masih menempel pada permukaannya.

"Objek tersebut kini ditempatkan di ruang koleksi museum agar lebih aman sekaligus dapat diakses masyarakat sebagai sarana edukasi sejarah," ujarnya.

Berbeda dengan proses pemindahan benda c***r budaya berukuran besar lainnya, relokasi lingga dilakukan secara manual menggunakan troli dan mobil dinas karena ukuran benda yang relatif lebih kecil.

Menurut Wiyan, keberadaan batu lingga di museum diharapkan dapat memperluas pengetahuan masyarakat mengenai sejarah dan warisan budaya yang ada di Kabupaten Klaten.

Sebelumnya, tim dari dinas bersama pegiat sejarah melakukan peninjauan ke lokasi setelah menerima laporan adanya batu lingga di sekitar Masjid Al Muttaqien. Saat ditemukan, posisi batu tidak berdiri tegak dan sebagian tertutup material kayu.

Setelah dilakukan pembersihan awal, tim menemukan adanya tulisan beraksara kuno pada permukaan batu. Temuan tersebut kemudian didokumentasikan dan diukur sebelum dilakukan kajian lebih lanjut oleh ahli epigrafi.

Berdasarkan hasil identifikasi awal, batu lingga tersebut terbuat dari batu andesit dengan bagian atas berbentuk silinder dan bagian bawah berbentuk persegi. Di sekitar lokasi penemuan juga terdapat objek lain yang diduga merupakan yoni dan masih berada dalam kondisi terpendam.

Sementara itu, hasil kajian awal Balai Pelestarian Kebudayaan menunjukkan aksara yang terukir pada batu memiliki tinggi sekitar 3,5 sentimeter dengan panjang tulisan mencapai 34 sentimeter. Bentuk hurufnya diperkirakan berasal dari masa Mataram Kuno sekitar abad ke-9 hingga ke-10 Masehi.

Penelitian lebih lanjut masih akan dilakukan untuk mengungkap isi tulisan serta asal-usul pasti benda bersejarah tersebut.

Gimana ini? Ada 26 Kasus Dispensasi Nikah Anak di Solo, Penyebabnya Didominasi Karena Hamil di Luar NikahDinas Pemberday...
18/06/2026

Gimana ini?
Ada 26 Kasus Dispensasi Nikah Anak di Solo, Penyebabnya Didominasi Karena Hamil di Luar Nikah

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Solo memprediksi jumlah pemohon rekomendasi dispensasi nikah (Diska) anak di bawah umur pada 2026 berpotensi meningkat.

Berdasarkan data Januari hingga 9 Juni 2026, tercatat terdapat 26 permohonan dispensasi nikah.

Mayoritas pemohon berusia 17 tahun dengan tingkat pendidikan terakhir SD hingga SMP.

Kepala Bidang Kualitas Hidup dan Perlindungan Perempuan DP3AP2KB Kota Solo, Sungkono, mengatakan tren pengajuan dispensasi nikah tahun ini diperkirakan mengalami kenaikan, meskipun angka sementara masih lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

“Tahun 2025 ada 83 kasus. Tahun 2026 sampai 9 Juni baru 26 kasus. Tapi saya yakin ada peningkatan,” kata Sungkono saat ditemui Kompas.com di Solo, Senin (15/6/2026).

Menurut dia, sebagian besar pengajuan dispensasi nikah anak di bawah umur dipicu kehamilan di luar nikah atau yang kerap disebut “kecelakaan”.

“Kebanyakan karena hamil duluan akibat pergaulan bebas,” ujarnya.

Namun demikian, Sungkono menilai persoalan tersebut tidak bisa semata-mata dilihat dari perilaku remaja.

Ada faktor pengasuhan keluarga yang berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kontrol sosial anak.

Ia mengungkapkan, banyak orang tua baru mengetahui anak mereka hamil ketika usia kandungan sudah memasuki lima bulan.

Kondisi itu menunjukkan lemahnya pengawasan serta komunikasi di dalam keluarga.

“Banyak saat konseling, orang tua tidak tahu anaknya sudah hamil. Jadi kontrol dari keluarga memang kurang,” katanya.

Selain minimnya pengawasan, kondisi keluarga broken home dan fatherless disebut menjadi pola yang cukup sering ditemukan dalam kasus dispensasi nikah anak.

Sungkono menjelaskan, fatherless tidak selalu berarti anak kehilangan ayah karena meninggal dunia atau perceraian. Kondisi tersebut juga bisa terjadi ketika ayah hadir secara fisik di rumah, tetapi tidak menjalankan peran pengasuhan dan membangun kedekatan emosional dengan anak.

“Walaupun ayah di rumah, tapi kalau tidak ada komunikasi dan kedekatan, anak tetap kehilangan figur ayah,” ujarnya.

Minimnya kehadiran emosional seorang ayah, lanjut dia, dapat membuat anak mencari perhatian dan tempat bercerita di luar rumah. Dalam beberapa kasus, kondisi tersebut berujung pada pergaulan bebas hingga hubungan s3ksual berisiko.

“Akhirnya anak lari ke luar karena tidak mendapatkan perhatian di rumah,” kata Sungkono.

DP3AP2KB Solo menilai penguatan peran keluarga menjadi kunci penting untuk menekan angka pernikahan dini dan kehamilan remaja.

Tidak hanya ibu, sosok ayah dinilai memiliki peran strategis dalam membangun komunikasi, pengawasan, dan kedekatan dengan anak sejak dini.

Untuk mencegah meningkatnya kasus dispensasi nikah, Pemerintah Kota Solo terus melakukan berbagai upaya pencegahan melalui forum anak, forum Generasi Berencana (Genre), hingga layanan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) di tingkat kelurahan.

“Sebenarnya upaya pencegahan sudah kami lakukan semaksimal mungkin lewat sosialisasi dan pendampingan,” ujar Sungkono.


Hmm. Keributan yang diduga melibatkan salah satu perguruan silat dengan kelompok lain terjadi di wilayah Kecamatan Banyu...
17/06/2026

Hmm. Keributan yang diduga melibatkan salah satu perguruan silat dengan kelompok lain terjadi di wilayah Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali, pada Rabu (17/6/2026) dini hari. Insiden yang berlangsung singkat itu sempat terekam video dan beredar di media sosial.

Akibat bentrokan tersebut, satu unit sepeda motor Honda Beat mengalami kebakaran pada bagian bawah atau lantai kendaraan. Beruntung, api segera dipadamkan oleh warga sekitar sehingga tidak sampai menghanguskan seluruh kendaraan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kapolsek Banyudono, AKP Tri Hartono, membenarkan adanya kejadian tersebut. Saat itu, dirinya bersama anggota kepolisian sedang melaksanakan tugas penyekatan di wilayah Ngasem sebelum bergeser ke kawasan Bangak. Ketika berada di Bangak, petugas menerima informasi mengenai adanya keributan di sekitar rest area Banyudono di jalur Solo–Semarang.

Menurut Tri Hartono, peristiwa terjadi sekitar pukul 01.00 WIB. Pada malam 1 Suro, salah satu perguruan silat diketahui menggelar kegiatan di kawasan Singkil, Karanggeneng, Boyolali. Setelah kegiatan selesai, rombongan peserta bergerak pulang dari arah barat.

Saat melintas di lokasi kejadian, rombongan tersebut diduga dihadang oleh kelompok yang datang dari arah timur. Bentrokan pun terjadi dalam waktu singkat sebelum kelompok dari arah timur melarikan diri dari lokasi.

Polisi memastikan tidak ada korban luka maupun korban jiwa dalam insiden tersebut. Kerugian yang tercatat hanya berupa kerusakan ringan pada sepeda motor Honda Beat milik rombongan dari arah barat yang sempat terbakar.

Warga sekitar yang mengetahui kejadian segera membantu memadamkan api sehingga kobaran tidak meluas. Situasi di lokasi pun berhasil dikendalikan dan kembali kondusif dalam waktu singkat.

Pihak kepolisian menyebut pemilik kendaraan yang terbakar memilih tidak memperpanjang persoalan tersebut. Meski demikian, aparat tetap melakukan pemantauan untuk menjaga keamanan dan mencegah terjadinya gangguan kamtibmas serupa, terutama pada momentum malam 1 Suro yang kerap diwarnai aktivitas berbagai kelompok masyarakat di sejumlah wilayah.

Hmmm. Warung Kopi Pak Uwo di Kecamatan Bayat, Klaten, menjadi salah satu angkringan yang menarik untuk disinggahi bagi p...
17/06/2026

Hmmm.
Warung Kopi Pak Uwo di Kecamatan Bayat, Klaten, menjadi salah satu angkringan yang menarik untuk disinggahi bagi pencinta suasana jadul dan kuliner sederhana.

Warung yang dikelola pasangan lansia Suhardi (80) dan Tugiyem (75) ini berada di tepi Jalan Sunan Pandanaran, Dukuh Ngaren, Desa Paseban. Kesederhanaan bangunan berbahan kayu dan bambu justru menjadi daya tarik tersendiri, menghadirkan suasana hangat khas angkringan tempo dulu yang kini mulai jarang ditemui.

Sejak dibuka pada 1995, warung ini nyaris tidak mengalami banyak perubahan. Di dalamnya, pengunjung dapat menemukan meja dan rak kayu klasik yang digunakan untuk menata berbagai makanan.

Meski tampil sederhana tanpa dekorasi modern, warung ini selalu ramai didatangi pelanggan yang ingin menikmati suasana santai sembari berbincang dengan pemiliknya.

Menu yang ditawarkan cukup beragam dengan harga yang sangat terjangkau. Pengunjung bisa menikmati nasi bungkus nasi goreng, nasi bandeng sambal, aneka gorengan, bacem goreng, kerupuk, roti, hingga ojek pentol rumahan.

Untuk minuman, wedang teh jahe gepuk menjadi menu andalan yang banyak dicari pelanggan. Selain itu tersedia kopi saset, susu, teh panas maupun dingin, serta minuman sederhana khas warung rakyat dengan harga mulai Rp1.000 hingga Rp8.000.

Lokasi warung yang berada sekitar 100 meter sebelum Masjid Agung Sunan Pandanaran atau Masjid Golo Bayat membuatnya mudah ditemukan. Warung ini menjadi tempat singgah favorit bagi warga sekitar maupun pengguna jalan yang ingin beristirahat sambil menikmati minuman hangat dan camilan murah. Biasanya warung buka setiap hari mulai pukul 11.00 WIB hingga sekitar pukul 21.00 WIB.

Bagi Suhardi dan Tugiyem, berjualan bukan semata untuk mencari penghasilan. Keduanya memilih tetap aktif bekerja agar tetap sehat dan mandiri meski telah memasuki usia senja.

Semangat tersebut membuat banyak pelanggan merasa terinspirasi saat berkunjung. Anak-anak mereka sebenarnya sudah beberapa kali meminta agar berhenti berjualan, namun pasangan lansia ini tetap memilih menjaga warung agar memiliki aktivitas setiap hari dan tidak merepotkan keluarga.

Popularitas Warung Kopi Pak Uwo semakin meningkat setelah kisah perjuangan pasangan lansia tersebut viral di media sosial. Banyak pengunjung dari luar daerah sengaja datang untuk menikmati suasana angkringan tradisional sekaligus bertemu langsung dengan pemiliknya.

Salah satu menu yang paling sering mendapat pujian adalah wedang teh jahe gepuk yang memiliki cita rasa hangat dan kuat. Warung sederhana ini pun menjadi bukti bahwa keramahan, ketekunan, dan kesederhanaan masih mampu menarik perhatian banyak orang di tengah maraknya tempat makan modern.

Hmmm. Luar Biasa. Sebanyak 729 calon warga Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Karanganyar Pusat Madiun mengikuti Tes ...
17/06/2026

Hmmm. Luar Biasa.
Sebanyak 729 calon warga Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Karanganyar Pusat Madiun mengikuti Tes Jago sebagai salah satu tahapan sebelum menjalani malam pengesahan sebagai Warga Tingkat I atau Satrio Anom PSHT. Kegiatan tersebut digelar di padepokan PSHT Cabang Karanganyar pada Senin (15/6/2026).

Ketua PSHT Cabang Karanganyar, Sutarmo, menjelaskan peserta berasal dari seluruh ranting PSHT yang tersebar di 17 kecamatan di Kabupaten Karanganyar. Tes berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga 12.00 WIB setelah para peserta menjalani latihan fisik, penguasaan teknik pencak silat, serta pembinaan mental dan kerohanian selama berbulan-bulan.

Menurut Sutarmo, Tes Jago bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bagian dari proses pembentukan karakter dan pemantapan mental spiritual calon warga. Setiap tahapan yang dijalani memiliki makna mendalam sebagai bekal sebelum resmi menjadi bagian dari keluarga besar PSHT.

Ia berharap para calon warga dapat menjadi pribadi yang berbudi luhur, memahami nilai benar dan salah, serta mampu mengamalkan ajaran persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat. Tingginya jumlah peserta juga menunjukkan perkembangan organisasi PSHT yang cukup pesat di Kabupaten Karanganyar.

Untuk menjaga objektivitas dan independensi penilaian, panitia menghadirkan 20 Wiro Anom atau warga tingkat II dari sejumlah cabang PSHT di wilayah Soloraya. Mereka terdiri atas 10 penguji dari PSHT Cabang Sragen, lima dari PSHT Cabang Sukoharjo, dan lima lainnya dari PSHT Cabang Boyolali.

Kehadiran para penguji dari luar cabang tersebut merupakan tradisi yang telah lama diterapkan guna menjaga kualitas dan netralitas proses penilaian. Selain bertugas sebagai penguji, mereka juga menjadi simbol kuatnya persaudaraan antarcabang PSHT di kawasan Soloraya.

Selama pelaksanaan kegiatan, panitia menerapkan pengaturan yang ketat dengan melibatkan aparat keamanan serta unsur pengamanan internal organisasi, yakni Pasukan Pengamanan Terate. Berkat koordinasi yang baik antara panitia, pengurus cabang, aparat keamanan, dan Pamter, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga selesai tepat waktu.

Dengan selesainya tahapan Tes Jago, ratusan calon warga tersebut kini tinggal menunggu pelaksanaan malam pengesahan yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat. Pada momen tersebut mereka akan resmi menyandang status sebagai Warga Tingkat I atau Satrio Anom PSHT Pusat Madiun.

Hmmm. Singkong ternyata bisa diolah menjadi beragam jenis makanan, mulai dari jajanan tradisional hingga sajian modern. ...
17/06/2026

Hmmm.
Singkong ternyata bisa diolah menjadi beragam jenis makanan, mulai dari jajanan tradisional hingga sajian modern. Bahkan ombus-ombus, kue khas Batak yang umumnya dibuat dari tepung beras atau ketan, dapat dimodifikasi menggunakan bahan dasar singkong.

Kreasi tersebut ditampilkan dalam Festival Mustikarasa 2026 yang digelar warga lereng Gunung Merbabu di Dukuh Dungus, Desa Seboto, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Minggu (14/6/2026).

Festival ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk mengenal dan mengembangkan potensi pangan lokal. Selain itu, kegiatan tersebut juga bertujuan memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Peserta festival berasal dari berbagai kalangan di Kecamatan Ampel, mulai dari ibu rumah tangga, kader PKK, tokoh perempuan desa, hingga generasi muda. Mereka menampilkan beragam inovasi olahan berbahan dasar singkong dengan cita rasa dan tampilan yang menarik.

Salah satu peserta, Angelica Reza Zaifana, menghadirkan dua jenis olahan singkong, yakni ombus-ombus khas Batak dan cassava choco truffle sebagai menu inovatif.

“Kalau yang tradisional saya bikin ombus-ombus khas Batak. Kalau yang inovasi masakan saya bikin cassava choco truffle,” kata Angelica.

Menurutnya, ombus-ombus layak diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat karena tidak hanya bisa dinikmati oleh masyarakat Batak, tetapi juga dapat diterima oleh berbagai kalangan. Dalam festival tersebut, bahan baku tepung pada ombus-ombus diganti dengan singkong sebagai bentuk inovasi pangan lokal.

“Saya pikir ombus-ombus ini perlu dikenal, karena tidak harus hanya masyarakat Batak, tapi bisa juga dikenal oleh masyarakat Jawa,” ujarnya.

Peserta lainnya, Ratna Widuri, menyajikan combro isi tempe dan pai singkong yang dipadukan dengan fla menyerupai bubur sumsum serta sagu. Menurut Ratna, kreativitas menjadi kunci utama dalam mengembangkan berbagai olahan berbahan dasar singkong.

“Kita harus kreatif bagaimana mengolah bahan singkong bisa menjadi beberapa masakan,” katanya.

Selain itu, sejumlah peserta juga menampilkan beragam kreasi lain seperti papeda singkong, dawet singkong, dan berbagai olahan unik lainnya.

Ketua Panitia Festival Mustikarasa 2026, Dwi Adi Agung Nugroho, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mendorong masyarakat memanfaatkan kekayaan pangan lokal yang selama ini belum dimaksimalkan.

“Di antaranya ada banyak tanaman polo gantung dan polo pendem yang sampai hari ini jarang kita manfaatkan. Padahal potensinya luar biasa sebagai bagian dari ketahanan pangan,” ujarnya.

Melalui festival ini, Dwi berharap masyarakat semakin kreatif dalam mengolah singkong dan bahan pangan lokal lainnya sehingga memiliki nilai tambah ekonomi maupun gizi. Dengan demikian, masyarakat tidak terlalu bergantung pada bahan pangan dari luar daerah maupun impor yang rentan terpengaruh kondisi global.

“Tidak harus bergantung pada bahan baku yang tidak kita punya. Jika kondisi global tidak menentu, ketergantungan itu bisa berdampak pada kehidupan masyarakat,” pungkasnya.

Lakon apa iki? Belasan besi tiang penyangga dan penopang pagar pengaman jalan (guardrail) di sepanjang Jalan Jogja–Solo ...
17/06/2026

Lakon apa iki?
Belasan besi tiang penyangga dan penopang pagar pengaman jalan (guardrail) di sepanjang Jalan Jogja–Solo wilayah Kecamatan Ceper hingga Delanggu, Kabupaten Klaten, dilaporkan hilang dan diduga dicuri.

Hilangnya komponen pengaman jalan tersebut ditemukan di sedikitnya tiga titik, yakni Jembatan Besole di Kecamatan Ceper, ruas Dukuh Klithak Desa Banaran, serta kawasan selatan Terminal Karang di Kecamatan Delanggu.

Di Jembatan Besole, sekitar tujuh hingga delapan besi tiang, penopang, dan baut guardrail raib. Bahkan sejumlah pagar pengaman terlihat ambruk dan tergeletak di tanah setelah kehilangan penyangga. Kondisi ini dinilai membahayakan pengguna jalan karena di bawah jembatan terdapat sungai dengan kedalaman sekitar 20 meter.

Petugas SPKT Polsek Ceper, Aiptu Tri Mulyono, mengatakan pihaknya melakukan pengecekan setelah menerima laporan dari masyarakat. Menurutnya, kecil kemungkinan besi-besi tersebut hilang dengan sendirinya karena selain dibaut, tiang guardrail juga ditanam di dalam tanah sehingga diduga kuat dicuri.

Selain di Jembatan Besole, sekitar 10 besi penopang guardrail juga hilang di ruas Dukuh Klithak, Desa Banaran, Kecamatan Delanggu. Sementara di kawasan Desa Karang, selatan Terminal Karang, beberapa bagian guardrail telah dicopot dan satu batang besi pengaman sepanjang sekitar dua meter dilaporkan hilang.

Warga Ceper, Wito, menyayangkan hilangnya fasilitas keselamatan jalan tersebut. Menurutnya, besi penyangga guardrail cukup berat sehingga kecil kemungkinan rusak atau lepas dengan sendirinya. Ia menilai keberadaan pagar pengaman sangat penting untuk mencegah kendaraan terjun ke sungai atau keluar jalur saat terjadi kecelakaan.

Menindaklanjuti kejadian tersebut, Polsek Ceper berencana meningkatkan patroli di lokasi rawan pencurian. Masyarakat juga diminta segera melapor apabila melihat aktivitas mencurigakan yang berpotensi merusak atau mencuri fasilitas umum.

Sementara itu, Penilik Jalan PPK 3.4 Jawa Tengah, Fajar Suryanto, memastikan pihaknya telah membuat laporan dan akan segera menindaklanjuti kerusakan yang terjadi. Perbaikan akan dilakukan secepatnya untuk mengembalikan fungsi guardrail sebagai sarana keselamatan bagi pengguna Jalan Jogja–Solo.

Pihak terkait berharap masyarakat ikut mengawasi dan menjaga fasilitas umum tersebut karena keberadaan guardrail sangat penting untuk mengurangi risiko kecelakaan, terutama di titik-titik yang memiliki kondisi medan berbahaya seperti jembatan dan tepi jalan.

Hmmm. Tradisi larung kepala kerbau kembali digelar warga Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, d...
17/06/2026

Hmmm. Tradisi larung kepala kerbau kembali digelar warga Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, dalam rangka memperingati Malam 1 Suro, Selasa (16/6/2026).

Ritual turun-temurun tersebut menjadi bagian dari tradisi Sedekah Gunung Merapi yang setiap tahun dilaksanakan masyarakat lereng Merapi sebagai wujud rasa syukur sekaligus doa untuk keselamatan.

Dalam prosesi tersebut, kepala kerbau diarak dari rumah ketua adat menuju Joglo Lencoh sebelum dibawa menuju kawasan kawah puncak Gunung Merapi untuk dilarung. Arak-arakan berlangsung khidmat dan diikuti warga setempat yang mengenakan pakaian adat Jawa.

Tradisi larung kepala kerbau ini telah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Desa Lencoh. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, ritual tersebut juga dimaknai sebagai ungkapan syukur atas rezeki, hasil pertanian, serta harapan agar masyarakat terhindar dari berbagai bencana.

Prosesi diawali dengan kirab kepala kerbau dari rumah ketua adat menuju Joglo Lencoh. Selanjutnya, rombongan membawa sesaji dan kepala kerbau menuju jalur pendakian Gunung Merapi hingga lokasi pelarungan di kawasan puncak gunung.

Tradisi Sedekah Gunung Merapi setiap Malam 1 Suro selalu menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan karena sarat nilai budaya dan spiritual. Warga berharap ritual tersebut dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang menjadi identitas masyarakat lereng Merapi.

Address

Boyolali
57311

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Info Wong Boyolali posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share