kesenian ini berada di dukuh Salam, Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kab. Tari Turonggo Seto adalah salah satu jenis tari tradisional yang dapat dikategorikan sebagai tari keprajuritan. Para penari mengenakan kostum badhong dan jaran kepang, layaknya seperti seorang prajurit berkuda yang gagah berani dan berwibawa. Tarian ini menggambarkan semangat dan kegigihan prajurit Pangeran Diponegoro disaat be
rperang melawan pasukan Belanda di medan laga. Semangat dan kegigihan penari tercermin pada gerak dan formasi tari yang dikolaborasi dengan alat musik moderen dalam kerap-kali tari dipentaskan. Turonggo Seto berasal dari Dua kata, yaitu kata Turonggo yang berarti Kuda dan kata Seto yang berarti Putih, sehingga Dua kata tersebut memiliki arti “Kuda Putih”. Kuda putih identik dengan kendaraan yang digunakan Pangeran Diponegoro saat perang pada jaman kemerdekaan. Personil atau para penari tari Turonggo Seto adalah masyarakat di Dusun Salam yang bertempat-tinggal di lereng gunung Merapi. Tari Turonggo Seto ditarikan Tujuhbelas penari dan Sembilan orang penabuh yang sebagaian besar mayoritasnya berprofesi sebagai petani. Personil kebanyakan adalah usia anak-anak hingga para remaja. Apabila dilihat dari data sensus penduduk, jumlah kepala keluarga dalam masyarakat terhitung paling sedikit dibandingkan dengan jumlah kepala keluarga penduduk di sekitarnya, yaitu hanya 44 kepala keluarga. Hal ini berhubungan dengan kemajuan pembangunan masyarakat pada bidang kesenianya, apabila dibandingkan dengan keberadaan masyarakat diwilayah Kecamatan Selo Dusun Salam merupakan masyarakat yang maju dalam arti perkembangan berbagai kebutuhan sosial yang lebih banyak dihasilkan oleh kesenianya. Sehingga jumlah penduduk yang sedikit tidak menjadi pengaruh terhadap kehidupan dan keberadaan tari Turonggo Seto. Paguyuban kesenian tradisional di Dusun Salam sudah ada sejak tahun 1956. Tari Turonggo Seto diciptakan pada tahun 2002, Tari Turonggo Seto dari sejak keberadaanya terlihat mengalami perkembangan. Masa kejayaan tari Turonggo Seto telah dicapai sejak tahun 2005 hingga sekarang (2013). Masa kejayaan ditandai dengan seringnya pentas dalam berbagai acara kemasyarakatan maupun kedinasan. Tidak hanya itu, berbagai bentuk kpakaian badhong telah beberapa kali ganti dan bahkan dapat memproduksi sendiri juga menerima pesanan. Permintan untuk pentas kerap-kali diterima paguyuban dalam berbagai bentuk kegiatan di antaranya seperti acara khitanan, pernikahan, ulang tahun, nazar, bersih desa, sampai pada festival. Dalam acara tersebut biasanya sebelumnya ketua paguyuban mengadakan persetujuan untuk biaya ongkos pentas yang disetujui dengan peminta. Pada awalnya, sejak Tari Turonggo Seto diciptakan Beberapa catatan pentas Tari Turonggo Seto dalam berbagai bentuk festival yaitu Tari Turonggo Seto pentas dalam Festival Parade Tari Keprajuritan Nusantara tahun 2006 di Bali.