22/05/2026
Pangan lokal bukan sekadar makanan, tetapi juga cerita, pengetahuan, dan cara masyarakat menjaga kehidupan ๐ฟโจ
Dalam momentum International Biodiversity Day, kegiatan Pemetaan Pangan Lokal atau Food Biodiversity Mapping menjadi upaya untuk mendokumentasikan kekayaan pangan lokal yang semakin jarang dikenal dan kian terdesak oleh perubahan zaman.
Salah satu perjalanan pemetaan di Desa Kajong, Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, NTT merefleksikan semakin sempitnya ruang hidup pangan lokal, ketika tanaman โAjoโ yang dahulu melimpah kini hanya ditemukan di pedalaman hutan. Kondisi ini menjadi alarm ekologis sekaligus pengingat pentingnya konservasi sebelum keragaman hayati pangan benar-benar hilang. Di sela pengambilan data, Bapak Gabriel Kamis turut membagikan kisah tentang sulit dan berisikonya pengolahan Raut (umbi hutan) pada masa lalu. Proses yang panjang dan ancaman keracunan membuat masyarakat kemudian mendambakan beras dan jagung sebagai sumber pangan yang lebih aman. Cerita ini menunjukkan bahwa perubahan pola konsumsi bukan sekadar soal selera, tetapi juga bentuk pencarian rasa aman dalam memenuhi kebutuhan pangan.
Sementara itu, di Makassar, Sulawesi Selatan Beberapa pangan lokal yang turut didokumentasikan di antaranya:
- Pacco Bayao dari Kabupaten Gowa, yang diolah menjadi keripik maupun direbus sebagai makanan selingan saat berkebun.
- Lobster Bambu/Mutiara dari Kabupaten Takalar, yang oleh masyarakat lokal dianggap seperti โmenanam emas di kerambaโ karena nilai ekonominya yang terus meningkat seiring pertumbuhan.
- Laha Bete dari Kabupaten Sinjai, pangan lokal yang dipercaya membawa berkah ketika dibawa melaut.
Setiap catatan kecil tentang pangan lokal menjadi pengingat bahwa menjaga biodiversitas berarti menjaga pengetahuan, budaya, dan keberlanjutan hidup manusia di masa depan.
Dokumentasi oleh mitra lokal Manggarai dan Makassar (Angela Biu dkk dan Edy Setiadi dkk)