Yayasan FORTASBI Indonesia

Call Directions Website Contact the organization

Yayasan FORTASBI Indonesia Rumah Besar Bagi Petani Sawit Swadaya Berkelanjutan di Indonesia

3,32 juta hektare. Satu angka, tapi bukan satu cerita.Itu luas sawit yang "terjebak" di dalam kawasan hutan menurut data...
17/09/2026

3,32 juta hektare. Satu angka, tapi bukan satu cerita.

Itu luas sawit yang "terjebak" di dalam kawasan hutan menurut data Kementerian Kehutanan. Angka ini sering dibaca sebagai satu masalah besar yang harus ditertibkan sekaligus.

Tapi coba tanya lagi: kebun siapa yang dimaksud?

Ada korporasi yang sengaja membuka lahan. Ada juga petani kecil yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari kebun yang sama.

Kalau keduanya diperlakukan sama di atas peta, yang paling dulu kehilangan biasanya bukan yang paling salah.

Penataan kawasan hutan itu penting. Tapi pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah ditertibkan, lalu apa? Ke mana petani itu harus pergi?

Karena buat mereka, kebun bukan cuma warna di peta. Itu dapur yang mengepul setiap hari.

Menurut kamu, penertiban yang adil itu seperti apa?

Apa yang terjadi ketika manusia memilih tidak mengambil, agar alam punya kesempatan untuk memulihkan diri?Di Sungai Peng...
14/09/2026

Apa yang terjadi ketika manusia memilih tidak mengambil, agar alam punya kesempatan untuk memulihkan diri?

Di Sungai Pengabuan, Desa Pulau Pauh, Kecamatan Renah Mendaluh, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, jawabannya terlihat saat warga kembali membuka Lubuk Larangan setelah dua tahun kawasan itu ditutup dari aktivitas penangkapan ikan.

Ikan kembali melimpah. Tetapi yang lebih penting dari hasil panen adalah apa yang berada di baliknya: kepercayaan bahwa sungai yang dijaga akan kembali memberi kehidupan.

Lubuk Larangan bukan sekadar tradisi. Ia adalah bentuk pengelolaan sumber daya berbasis masyarakat: sederhana, tetapi bekerja karena ada kesepakatan, pengawasan, dan rasa memiliki.

Bagi petani swadaya di sekitar sungai, menjaga alam bukan sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Menjaga sempadan, menanam pohon, melindungi kawasan bernilai konservasi tinggi, dan merawat sungai adalah bagian dari upaya memastikan sumber penghidupan tetap tersedia untuk generasi berikutnya.

Konservasi tidak selalu membutuhkan teknologi yang rumit. Kadang, ia dimulai dari kesediaan untuk memberi alam waktu.

Baca Cerita Baik lengkapnya di https://www.ceritabaik.fortasbi.org/first/2026/09/10/panen-keberkahan-di-sungai-pengabuan-kearifan-tradisi-menyembuhkan-sungai/

Kebunnya tidak terbakar. Tapi mereka tetap datang memadamkan api.Bagi sebagian petani sawit swadaya, kebakaran bukan han...
10/09/2026

Kebunnya tidak terbakar. Tapi mereka tetap datang memadamkan api.

Bagi sebagian petani sawit swadaya, kebakaran bukan hanya urusan ketika api sudah masuk ke kebun sendiri.

Di Tebo, Jambi, petani anggota Perkumpulan Petani Swadaya Bangun Seranten (PPSBS) menempuh sekitar 25 kilometer untuk membantu memadamkan kebakaran di Pintas Tuo, lahan yang bukan milik anggota mereka. Pemadaman bahkan berlangsung selama dua hari dua malam.

Di Siak, Riau, tim Internal Control System (ICS) Koperasi Beringin Jaya ikut turun bersama masyarakat dan Manggala Agni menangani kebakaran lahan gambut di Dayun. Sementara di Kutai Kartanegara, ICS dan petani Koperasi Belayan Sejahtera membentuk Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) agar siap membantu ketika kebakaran terjadi, termasuk di luar wilayah anggota.

Mengapa mereka turun tangan?

Karena api tidak mengenal batas kepemilikan.

Ketika api dibiarkan, ia bisa berpindah dari satu lahan ke lahan lain. Terlebih di wilayah gambut, api dapat menyebar dan bertahan jauh di bawah permukaan tanah.

Di tengah ancaman tersebut, inisiatif petani menjadi penting.

Mereka tidak menunggu api datang ke kebun sendiri. Mereka bergerak lebih dulu.

Karena menjaga keberlanjutan bukan hanya soal menjaga lahan sendiri. Tetapi juga tentang menjaga lahan, kehidupan, dan lingkungan di sekitar kita.

09/09/2026

Punya Kebun, Tapi Belum Tentu “Terlihat” di Mata Negara.

Bagi petani sawit swadaya, Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) bukan sekadar selembar dokumen. Ia bisa menjadi pintu menuju pendataan kebun, legalitas usaha, sertifikasi, program pemerintah, hingga rantai pasok berkelanjutan.

Tapi persoalannya: pintu itu belum selalu mudah dibuka.

Di lapangan, petani masih berhadapan dengan persoalan data, pemetaan, dokumen, verifikasi, dan keterbatasan layanan.

Jadi, apakah masalahnya petani tidak mau tertib?

Atau jangan-jangan sistemnya yang belum cukup mudah untuk diakses?

Kalau negara membutuhkan data petani untuk membuat kebijakan yang tepat, maka proses untuk membuat petani “terlihat” juga harus dibuat lebih sederhana.

STDB seharusnya menjadi jembatan, bukan penghalang.

Menurut kamu, apa yang harus dibenahi lebih dulu?

Tulis pendapatmu di kolom komentar.

Sembilan tahun PSR berjalan, hingga Juli 2026 baru 427.441 hektare kebun rakyat yang diremajakan, dengan total dana Rp12...
07/09/2026

Sembilan tahun PSR berjalan, hingga Juli 2026 baru 427.441 hektare kebun rakyat yang diremajakan, dengan total dana Rp12,14 triliun.

Sepanjang Januari–Agustus 2026, realisasinya mencapai 40.484 hektare dengan dana Rp2,42 triliun.

Angkanya memang besar.
Namun kebutuhan peremajaan kebun rakyat juga sangat besar.

Perkebunan rakyat menguasai sekitar 40% luas perkebunan sawit nasional, tetapi baru menyumbang sekitar 36% produksi. Produktivitas yang rendah antara lain berkaitan dengan penggunaan bibit ilegal atau tidak unggul akibat keterbatasan modal petani.

Di sisi lain, petani yang ingin mengikuti PSR masih berhadapan dengan persoalan legalitas lahan dan kelengkapan administrasi.

“Apakah petani bisa melewati semua pintu untuk mendapatkannya?”

PSR seharusnya menjadi kesempatan untuk membangun kebun rakyat yang lebih produktif, legal, dan berkelanjutan.

Karena pada akhirnya, yang kita remajakan bukan hanya pohon sawit. Kita sedang menentukan masa depan kebun dan keluarga petani.

Menurut kamu, apa hambatan terbesar PSR di daerahmu?

31/08/2026

Apakah setiap kebun sawit otomatis berasal dari hutan?

Belum tentu.

Di banyak daerah, petani menanam sawit di lahan yang sebelumnya sudah menjadi kebun karet, kebun kelapa, ladang, atau lahan yang sudah lama dikelola keluarga mereka.

Artinya, melihat sawit saja tidak cukup. Kita juga perlu melihat sejarah lahannya.

Karena ketika semua kebun disamaratakan, kita kehilangan kesempatan untuk membedakan mana praktik yang harus dihentikan, dan mana petani yang justru sedang berusaha mengelola kebunnya dengan lebih bertanggung jawab.

30/08/2026

Stop Stigma! Petani Sawit Swadaya Juga Garda Terdepan Cegah Karhutla

Benarkah kebakaran hutan dan lahan selalu bermula dari kebun sawit?

Di tengah stigma yang terus diarahkan kepada petani sawit, ada cerita lain yang jarang dibicarakan: petani sawit swadaya juga punya peran penting dalam mencegah kebakaran dan menjaga lahannya tetap aman.

Lalu, apa saja yang dilakukan petani untuk mencegah karhutla?
Bagaimana praktik pencegahannya di tingkat kebun?
Dan mengapa petani justru bisa menjadi bagian penting dari solusi?

🎙️ Simak diskusinya dalam TikTok Live Fortasbi bersama nara sumber anak muda yang juga merupakan Ketua Koperasi Perkebunan Belayan Sejahtera, Jamalludin:

📅 31 Agustus 2026
⏰ 14.00 WIB
📍 TikTok .indonesia

Mari dengarkan langsung suara petani. Karena mencegah karhutla bukan hanya tanggung jawab satu pihak.

Stop stigma. Mulai dengarkan cerita petani.

Di balik berkembangnya koperasi petani sawit swadaya, ada banyak pekerjaan yang sering tidak terlihat.Ada proses pendamp...
28/08/2026

Di balik berkembangnya koperasi petani sawit swadaya, ada banyak pekerjaan yang sering tidak terlihat.

Ada proses pendampingan, mengurus administrasi, membantu petani memahami program, hingga memastikan berbagai kebutuhan organisasi berjalan.

Dan di dalam proses tersebut, perempuan juga mengambil peran.

Bukan hanya sebagai anggota atau pendamping keluarga petani, tetapi juga sebagai bagian dari pengelolaan koperasi dan pendampingan langsung kepada petani sawit swadaya.

Salah satunya adalah Eka Wati Febrianingsih, Sekretaris Dua KUD Tani Subur.

Dalam perannya di koperasi, Eka tidak hanya berkutat dengan urusan administrasi. Ia juga terlibat dalam membantu petani, termasuk dalam pelaksanaan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Perjalanan tersebut tentu tidak selalu mudah.

Ada berbagai tantangan, dinamika di lapangan, hingga lika-liku ketika harus berhadapan dengan kebutuhan dan persoalan petani.

Namun, dari pengalaman tersebut muncul satu hal penting: perempuan memiliki posisi strategis dalam memperkuat koperasi dan mendampingi petani swadaya.

Keterlibatan perempuan dapat membuka ruang bagi perspektif baru, memperkuat komunikasi dengan petani, sekaligus membantu memastikan berbagai proses di koperasi berjalan lebih baik.

Sebuah percakapan tentang perempuan, koperasi, pendampingan petani, dan berbagai cerita di balik upaya membangun perkebunan sawit swadaya yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Karena di balik koperasi yang berjalan, ada orang-orang yang bekerja.

Dan di antara mereka, perempuan juga ikut menggerakkan perubahan.

Di balik berkembangnya koperasi petani sawit swadaya, ada banyak pe...

27/08/2026

Perempuan bukan sekedar pendamping. Mereka juga penggerak kkoperasi.
Ketika bicara koperasi sawit swadaya, siapa yang biasanya kita bayangkan?

Petani laki-laki.

Padahal, di balik tumbuhnya koperasi dan penguatan petani, ada perempuan yang ikut bekerja, mengambil keputusan, mengelola, dan memastikan koperasi terus bergerak.

Lantas, seberapa penting peran perempuan dalam koperasi sawit swadaya?
Apa yang bisa berubah ketika perempuan punya ruang yang lebih besar dalam koperasi?

Saksikan selengkapnya dalam siniar "Small Talk" Fortasbi bersama Eka Wati Febrianingsih, Sekretaris II KUD Tani Subur di Youtube Yayasan Fortasbi Indonesia berikut: https://lnkd.in/g6G54w4M

Karena koperasi yang kuat bukan hanya tentang jumlah anggotanya, tetapi juga tentang siapa yang punya ruang untuk bersuara dan mengambil keputusan.

Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran. Ia tentang meneladani bagaimana kita memperlakukan kehidupan. Nabi ...
25/08/2026

Maulid Nabi bukan hanya tentang mengenang kelahiran. Ia tentang meneladani bagaimana kita memperlakukan kehidupan.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan keadilan, kepedulian, kesederhanaan, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Nilai-nilai itu relevan dalam setiap kehidupan, termasuk dalam cara kita merawat tanah, menjaga alam, dan memastikan sumber penghidupan tetap lestari bagi generasi mendatang.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Semoga keteladanannya terus hidup dalam setiap langkah dan kebaikan yang kita lakukan.

Address

Jalan Artzimar III No. 13B, RT. 04/RW. 03, Tegal Gundil, Kec. Bogor Utara
Bogor
16152

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

+622518365959

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan FORTASBI Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Yayasan FORTASBI Indonesia:

Shortcuts

Share