Yayasan FORTASBI Indonesia

Yayasan FORTASBI Indonesia Rumah Besar Bagi Petani Sawit Swadaya Berkelanjutan di Indonesia

12 tahun bukan perjalanan yang pendek.Selama 12 tahun, Fortasbi tumbuh bersama petani sawit swadaya, melewati berbagai p...
14/08/2026

12 tahun bukan perjalanan yang pendek.

Selama 12 tahun, Fortasbi tumbuh bersama petani sawit swadaya, melewati berbagai perubahan, tantangan, dan perjuangan untuk memastikan bahwa keberlanjutan tidak berhenti sebagai jargon.

Hari ini, 62 kelompok petani dan 22.463 petani menjadi bagian dari perjalanan tersebut, bersama ribuan hektare kebun yang telah masuk dalam skema sertifikasi berkelanjutan.

Namun bagi kami, angka bukanlah tujuan akhir.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana sertifikasi membuka jalan bagi produktivitas yang lebih baik, akses pasar yang lebih adil, hilirisasi yang memberi nilai tambah kepada petani, serta insentif yang layak bagi mereka yang memilih menjaga kebun dan lingkungannya.

Di saat yang sama, petani terus membuktikan bahwa menjaga sawit dan menjaga alam bukan dua hal yang harus dipertentangkan.

Lubuk larangan, hutan larangan, perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, hingga berbagai upaya mitigasi perubahan iklim lahir dari kesadaran bahwa kebun adalah bagian dari ekosistem kehidupan.

12 tahun Fortasbi adalah 12 tahun perjalanan bersama petani.

Dan perjalanan itu belum selesai.

Masih banyak yang harus diperjuangkan.
Masih banyak yang harus diubah.
Masih banyak yang harus ditumbuhkan.

Selamat ulang tahun ke-12, Fortasbi.

Untuk setiap petani yang terus bertahan.
Untuk setiap kebun yang terus dijaga.
Untuk setiap hutan dan sungai yang dipertahankan.

Karena masa depan sawit berkelanjutan harus dibangun bersama petaninya.

Panjang umur untuk semua hal-hal baik.

Kami mengundang processors/traders, consumer good manufacture, retailers, bank dan investor untuk bergabung dalam Tour "...
13/08/2026

Kami mengundang processors/traders, consumer good manufacture, retailers, bank dan investor untuk bergabung dalam Tour "Meet & Green; Witnessing How Smallholders Lead Sustainability" yang diorganize oleh Yayasan FORTASBI Indonesia, RSPO, PT SSMS dan BOSF.

Selama tiga hari di Kalimantan Tengah, Anda akan melihat lebih dekat bagaimana petani sawit swadaya ikut memimpin perjalanan menuju sawit berkelanjutan.

Ini bukan sekadar kunjungan lapangan. Anda akan bertemu langsung dengan perwakilan petani swadaya RSPO, mengunjungi pabrik pengolahan sawit, dan mengunjungi areal konservasi pra-pelepas liaran Orang Utan di Pulau Salat.

Bagi Anda yang tertarik untuk mendukung dan berinvestasi dalam inklusi petani sawit swadaya ke dalam rantai pasok sawit berkelanjutan, perjalanan ini bisa menjadi kesempatan untuk melihat langsung potensi, tantangan, dan peluang kolaborasi di lapangan.

Palangkaraya → Desa Pangkoh III → Pulau Salat, Kalimantan Tengah
5–7 November 2026
US$820 all-inclusive — tiket pesawat, 2 malam penginapan, makan, dan transportasi darat.

Kuota terbatas.
Daftar melalui link di bio sebelum 30 September 2026.

WhatsApp: +62 813-8000-8715
[email protected]

Datang, bertemu langsung dengan para pelaku di lapangan, dan lihat sendiri seperti apa keberlanjutan bekerja dalam kehidupan nyata.

Tahukah kamu?Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Tetapi hampir 41,3% kebun sawit nasional dikelola...
07/08/2026

Tahukah kamu?

Indonesia adalah produsen minyak sawit terbesar di dunia. Tetapi hampir 41,3% kebun sawit nasional dikelola oleh petani swadaya, dan produktivitas mereka masih tertinggal dibanding perusahaan.

Selama ini banyak orang mengira solusinya hanya satu: tambah pupuk.

Padahal persoalannya jauh lebih kompleks.

Produktivitas ditentukan oleh akses terhadap bibit unggul, pelatihan budidaya, pembiayaan, pendampingan, hingga penguatan kelembagaan petani.

Data CIPS menunjukkan, kesenjangan produktivitas petani swadaya mencapai sekitar 1–1,3 ton per hektare dibanding perusahaan. Jika kesenjangan itu dapat diperkecil dan produktivitas petani naik 16,84%, produktivitas sawit nasional berpotensi meningkat sekitar 5%.
Artinya, masa depan sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas lahan. Tetapi oleh kemampuan jutaan petani menghasilkan lebih banyak dari lahan yang sudah mereka miliki.

Menurut kamu, apa tantangan terbesar yang dihadapi petani sawit swadaya saat ini?

29/07/2026

Sawit sering jadi bahan perdebatan. Tapi, bagaimana kalau yang membicarakannya justru anak muda Indonesia di panggung dunia?

Ruben Damanik adalah salah satunya. Sebagai Content Creator sekaligus Young Elaeis Ambassador, ia berkesempatan membawa perspektif tentang sawit Indonesia ke berbagai forum internasional.

Seperti apa pengalamannya? Apa yang ia pelajari dari berbagai seminar, simposium, hingga pameran sawit dunia? Dan yang paling penting, apa peran anak muda dalam mendorong sawit yang lebih berkelanjutan?

Di TikTok Live kali ini, kami akan berbincang tentang:
- Bagaimana pandangan Ruben terhadap sawit berkelanjutan.
- Apa yang bisa dipelajari petani sawit Indonesia dari forum-forum dunia.
- Benarkah pandangan publik terhadap sawit mulai berubah?
- Dan, kalau diberi pilihan, lebih baik memboikot sawit atau ikut mendorong perbaikannya agar semakin berkelanjutan?

Kalau kamu penasaran gimana anak muda bisa ikut jadi bagian dari perubahan, jangan lewatkan obrolan ini.

📅 Kamis, 30 Juli 2026
🕓 16.00 WIB
📍 LIVE di TikTok .indonesia

Siapkan pertanyaanmu dan ikut berdiskusi. Karena masa depan sawit berkelanjutan bukan hanya soal kebun, tetapi juga tentang generasi yang akan melanjutkannya.











Ironi Sertifikasi: Mengapa Petani Swadaya Harus Membayar Lebih Demi Menyelamatkan Bumi?Semua orang ingin produk yang leb...
16/07/2026

Ironi Sertifikasi: Mengapa Petani Swadaya Harus Membayar Lebih Demi Menyelamatkan Bumi?

Semua orang ingin produk yang lebih ramah lingkungan. Tapi siapa yang sebenarnya membayar ongkos di balik label hijau itu?

Di balik setiap sertifikat keberlanjutan, ada proses panjang yang harus dijalani petani sawit swadaya: audit independen, pemetaan kebun, pelatihan, legalitas lahan, ketertelusuran, hingga berbagai persyaratan administratif yang membutuhkan biaya besar. Ironisnya, mereka yang berada di ujung paling hulu rantai pasok sering kali justru menjadi pihak yang memikul beban transisi terbesar.

Apakah keberlanjutan bisa disebut adil jika biaya untuk mencapainya lebih banyak dibebankan kepada petani kecil?

Tulis pendapat kamu di kolom komentar.

Kita mungkin sedang salah melihat masa depan sawit di Indonesia.Selama ini, ketika orang membahas sawit, perhatiannya ha...
13/07/2026

Kita mungkin sedang salah melihat masa depan sawit di Indonesia.

Selama ini, ketika orang membahas sawit, perhatiannya hampir selalu tertuju pada perusahaan besar. Padahal, ada fakta yang jarang menjadi pusat percakapan.

Hampir 40% kebun sawit Indonesia dikelola oleh petani rakyat.

Artinya, masa depan sawit berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh keputusan di ruang rapat atau forum internasional. Ia juga ditentukan setiap hari di jutaan kebun kecil oleh petani swadaya yang terus berusaha meningkatkan produktivitas, memenuhi standar keberlanjutan, dan menghadapi tuntutan pasar global.

Namun, di balik peran yang begitu besar, mereka masih menghadapi tantangan yang tidak sederhana: produktivitas yang tertinggal, akses bibit unggul yang belum merata, keterbatasan pembiayaan, pendampingan, hingga tekanan regulasi global seperti EUDR.

Pertanyaannya bukan lagi "Apakah petani mampu berubah?"

Tetapi...

Apakah kita sudah benar-benar memberi mereka kesempatan untuk berubah?

Karena membangun sawit berkelanjutan bukan hanya tentang menetapkan standar. Ia dimulai dengan memperkuat orang-orang yang mengelola kebun setiap hari.

Menurut kamu, apa tantangan terbesar yang masih menghambat petani sawit swadaya menjadi aktor utama dalam transformasi sawit berkelanjutan?

Tulis pendapat kamu di kolom komentar.

Mari jadikan ruang ini tempat bertukar gagasan.


Ke mana sebenarnya nilai dari sawit berkelanjutan mengalir?Banyak yang mengira manfaat sawit hanya berhenti di pabrik at...
02/07/2026

Ke mana sebenarnya nilai dari sawit berkelanjutan mengalir?

Banyak yang mengira manfaat sawit hanya berhenti di pabrik atau pasar ekspor.

Namun, Perkumpulan Pekebun Swadaya Mitra Hindoli (PPSMH), yang berada di Desa Gunung, Sungai Lilin, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, menunjukkan cerita yang berbeda.

Insentif dari RSPO Credit tidak mereka habiskan sebagai keuntungan pribadi. Dana itu digunakan untuk membangun jalan produksi yang memperlancar panen, menekan biaya angkut, sekaligus mendukung pengembangan generasi muda yang akan melanjutkan pengelolaan sawit di masa depan.

Ini mengingatkan kita bahwa keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi standar atau memperoleh sertifikat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana nilai ekonomi dari praktik berkelanjutan kembali menjadi manfaat nyata bagi masyarakat?

Menurut kamu, jika lebih banyak insentif sawit digunakan untuk kepentingan publik, apa yang paling perlu diprioritaskan: infrastruktur, pendidikan, konservasi, atau penguatan kelembagaan petani?

29/06/2026

Tak banyak yang tahu bahwa petani sawit swadaya juga ikut menjaga orangutan.

Ketika membicarakan sawit, yang sering muncul adalah perdebatan.

Padahal, di beberapa tempat, ada cerita lain yang jarang terdengar.

Melalui kebersamaan dalam kelembagaan, petani sawit swadaya yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Mandiri (APKSM) di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, menyisihkan sebagian hasil usahanya untuk mendukung masyarakat sekaligus berkontribusi pada program konservasi orangutan.

Bukan untuk menghapus semua persoalan. Tetapi untuk menunjukkan bahwa keberlanjutan lahir dari tindakan nyata.

Dalam video ini, Pak Widodo, Ketua APKSM, berbagi cerita tentang bagaimana petani sawit swadaya mengambil peran yang mungkin belum banyak diketahui.

Saksikan kisah lengkapnya di kanal YouTube Yayasan Fortasbi Indonesia.
https://www.youtube.com/watch?v=EfRQy6hBiU8

Karena di balik setiap kebun, ada cerita tentang manusia, alam, dan pilihan untuk menjaga keduanya.

Apa tanggapan kamu tentang tindakan hebat ini?

29/06/2026

Kelembagaan bukan sekadar organisasi. Ia adalah kunci agar petani sawit swadaya bisa tumbuh lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing.

Ayooo… Gabung di Live TikTok Fortasbi bersama Eka Wati dan Regen dari KUD Tani Subur untuk membahas mengapa kelembagaan menjadi fondasi penting dalam penguatan petani sawit swadaya.

🗓️ 30 Juni 2026
🕜 13.30 WIB
📍 TikTok: .indonesia

Jangan lewatkan diskusinya, ajukan pertanyaanmu, dan ikut menjadi bagian dari perubahan.

Address

Jalan Artzimar III No. 13B, RT. 04/RW. 03, Tegal Gundil, Kec. Bogor Utara
Bogor
16152

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

+622518365959

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan FORTASBI Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Yayasan FORTASBI Indonesia:

Shortcuts

Share