Yayasan Botani Tropika Indonesia

Yayasan Botani Tropika Indonesia Yayasan Botani Tropika Indonesia adalah organisasi nirlaba yang fokus pada kegiatan penelitian botani serta bidang-bidang yang memiliki relasi dengan alam.

Ficus brunneoaurataMarga Ficus merupakan marga tumbuhan besar dengan jumlah jenisnya mencapai 750 jenis yang tersebar lu...
29/09/2026

Ficus brunneoaurata

Marga Ficus merupakan marga tumbuhan besar dengan jumlah jenisnya mencapai 750 jenis yang tersebar luas di wilayah tropik sampai sub tropik. Pada bioregion Malesia terdapat sekitar 367 jenis dengan 150 jenisnya mendiami Pulau Borneo dan wilayah Kalimantan sendiri terdapat sekitar 120 jenis. Ficus brunneoaurata termasuk dalam submarga Ficus seksi Eriosycea subseksi Auratae dimana jumlah jenis subseksi ini sebanyak 13 jenis dengan sebaran jenisnya yang terbatas di Borneo kecuali satu jenisnya Ficus aurata yang tersebar lebih luas.

Ficus brunneoaurata merupakan jenis endemik Borneo berhabitat pada hutan sekunder dan batas tepi hutan dengan ketinggian mencapai 1100 m dpl. Pada habitatnya dapat ditemukan kerabat dekatnya yang tumbuh bersama yaitu Ficus fulva dan Ficus aurata beserta berbagai jenis pohon pionir lainnya seperti Macaranga spp., Campnosperma sp., dan Timonius sp. Ukuran buah/sikonium Ficus brunneoaurata yang relatif sedang (diameter ± 2 cm) kemungkinan menjadi pakan dan disebarkan oleh kelompok satwa seperti burung frugivora berukuran sedang dan mamalia. Kehadirannya pada habitat hutan sekunder menjadi pengundang berbagai satwa dan serangga sehingga meningkatkan kompleksitas jaring-jaring makanan dan membantu dalam proses suksesi hutan.

Alangium uniloculare (Griff.) KingAlangium merupakan marga tumbuhan dengan habitus perdu, pohon, dan liana dengan jumlah...
02/09/2026

Alangium uniloculare (Griff.) King

Alangium merupakan marga tumbuhan dengan habitus perdu, pohon, dan liana dengan jumlah jenisnya sekitar 57 jenis yang tersebar dari Madagaskar, Afrika, menuju timur sampai Cina, Jepang, Asia Tenggara (seluruh kawasan Malesia), Australia Timur, dan Pasifik. Marga Alangium dikelompokkan menjadi 4 seksi yaitu Alangium, Conostigma, Marlea, dan Rhytidandra. Marga ini tumbuh pada hutan primer dan sekunder dari elevasi dataran rendah sampai 1500 mdpl.

Alangium uniloculare adalah salah satu jenisnya yang termasuk dalam seksi Marlea dengan area sebaran alami yang cukup luas dari Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Borneo, Sulawesi, sampai Maluku. Jenis ini termasuk pohon sedang dengan tinggi mencapai 18 m dan tumbuh pada hutan primer dan sekunder dengan rentang ketinggian 60–400 m dpl. Saat kegiatan eksplorasi Tim Botanika di wilayah Kalimantan Timur, jenis ini sering dijumpai pada hutan sekunder atau area semak belukar sebagai pohon sisa di sekitar area hutan/kebun karet dan perkebunan kelapa sawit.

Alangium uniloculare yang dikoleksi dari hutan di wilayah Kabupaten Kutai Timur berbunga cukup melimpah pada bulan November dan menyebarkan bau yang semerbak. Aromanya seperti wangi harum bunga melati saat melintas dan berteduh di bawah pohonnya saat mengkoleksi spesimennya. Meskipun begitu masyarakat lokal yang mendampingi saat kegiatan eksplorasi tidak mengetahui informasi nama daerahnya karena pohon ini tidak dimanfaatkan. Dari bentuk arsitektur percabangannya yang menjuntai, kemunculan pucuk daun mudanya yang berwarna merah, dan bunganya yang harum pohon ini cukup berpotensi sebagai tanaman ornamental di area taman kota.

Lepisanthes merupakan salah satu marga dari famili Sapindaceae yang terdiri dari 24 jenis dengan sebaran geografis yang ...
06/08/2026

Lepisanthes merupakan salah satu marga dari famili Sapindaceae yang terdiri dari 24 jenis dengan sebaran geografis yang luas meliputi Afrika Tropis, Madagaskar, melalui Asia Selatan, Asia Tenggara, sampai bagian utara Australia. Habitusnya berupa perdu sampai pohon dengan tinggi 4–10 m yang tumbuh dari hutan dataran rendah sampai pengunungan bawah dengan ketinggian mencapai 1800 m dpl. Terdapat 4 sub marga dari Lepisanthes antara lain Lepisanthes, Otophora, Erioglossum, dan Aphania.

Lepisanthes alata termasuk dalam sub marga Otophora seksi Anomotophora dengan ciri khas karakter morfologi vegetatifnya antara lain terdapat pseudo-stipula pada bagian pangkal tangkai daunnya dan sumbu anak daun (rachis) yang bersayap. Lepisanthes alata mempunyai sebaran alami di Semenanjung Malaya dan Borneo namun saat ini telah dibudidayakan dan tersebar cukup luas di Jawa dan Sumatera. Jenis ini tumbuh pada habitat hutan dataran rendah primer dan sekunder dan seringkali terdapat juga pada habitat tepian sungai serta dibudidayakan di pekarangan rumah.

Tim Botanika berhasil mendokumentasikan populasi alaminya di hutan sekunder di wilayah Kecamatan Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur berhabitat pada tepian sungai besar namun tidak dalam area paparan banjir. Masyarakat setempat menyebut pohon kecil ini (tinggi ± 5 m) dengan nama Bengalon. Pohon ini juga ditanam di pekarangan beberapa rumah warga dan menghasilkan buah bulat berwarna ungu yang rasanya asam sepat dan dimanfaatkan untuk kuliner ikan & udang sayur asam. Daun pada tanaman ini digunakan sebagai obat tradisional pada penderita kulit gatal akibat penyakit kudis.

Blumeodendron bullatum Airy ShawBlumeodendron merupakan marga pohon dari famili Euphorbiaceae dengan jenisnya sebanyak 9...
28/05/2026

Blumeodendron bullatum Airy Shaw

Blumeodendron merupakan marga pohon dari famili Euphorbiaceae dengan jenisnya sebanyak 9 spesies dan tersebar mulai dari wilayah Kepulauan Andaman dan Myanmar ke timur melintasi seluruh Kawasan Malesia sampai Kepulauan Bismarck. Marga Blumeodendron merupakan salah satu penyusun pohon hutan tropika basah berupa pohon pendek sampai besar dengan tinggi mencapai 65 m. Jenisnya dapat dijumpai mulai dari hutan sekunder sampai hutan primer pada elevasi yang rendah dengan topografi datar, berlereng, sampai berbukit serta pada hutan rawa dan kerangas. Marga ini termasuk ke dalam kelompok kayu dengan nama Tengkurung.

Saat observasi di wilayah hutan Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat salah satu Tim Botanika berhasil mengkoleksi spesimen yang teridentifikasi sebagai Blumeodendron bullatum. Jenis ini merupakan jenis endemik Borneo dengan sebaran dan informasi yang masih sangat terbatas dan sebelumnya hanya diketahui koleksinya dari wilayah Sarawak, Malaysia. Tipe habitat yang dikoleksi berupa hutan kerangas dengan tutupan vegetasi yang relatif masih utuh dengan strata kanopi yang lengkap menyerupai hutan dataran rendah tanah mineral lainnya. Koleksi spesimen yang berhasil dikumpulkan hanya sebatas guguran daun dan buah di lantai hutan serta tidak berhasil mengidentifikasi darimana pohon induknya berasal karena observasi bersifat cepat/rapid. Namun koleksi spesimen buah yang didapat dapat memberikan informasi baru mengenai karakter morfologi buah dimana pada penelitian sebelumnya tidak tercatat koleksi spesimen buahnya.

Observasi dan penelitian lanjutan diperlukan untuk mengungkap potensi sebaran dan populasi dari jenis Blumeodendron bullatum di Borneo. Meskipun area observasi yang dilakukan berada pada area hutan yang telah terfragmentasi dan dikelilingi oleh tipe penggunaan lahan lainnya, namun masih terdapat temuan dan catatan jenis penting dan langka yang berkembang biak dengan baik di dalam area tersebut. Hal ini dapat menjadi pertimbangan dan salah satu faktor yang kuat untuk mendorong upaya perlindungan dan konservasi hutan dengan nilai konservasi yang penting dalam kerangka pemanfaatan sumberdaya alam yang berkelanjutan.

Pternandra tessellata (Stapf) M.P.NayarPternandra merupakan marga perdu dan pohon kecil dengan jumlah jenisnya sebanyak ...
11/05/2026

Pternandra tessellata (Stapf) M.P.Nayar

Pternandra merupakan marga perdu dan pohon kecil dengan jumlah jenisnya sebanyak 15 spesies dan 2 varietas yang termasuk dalam subfamili Kibessioideae famili Melastomataceae. Jenis ini tersebar dari Kamboja, Hainan, dan Thailand, seluruh kawasan Malesia sampai bagian utara Australia dengan pusat diversitasnya berada di Borneo. Wilayah New Guinea kemungkinan besar masih menyimpan potensi temuan spesies baru pada marga ini.

Habitat utama dari marga Pternandra sebagian besar adalah hutan sekunder atau hutan primer yang terganggu seperti contoh pada tepian sungai, rumpang hutan, tepi hutan, dan tepi jalan. Beberapa jenisnya juga ditemukan pada habitat tepian sungai yang terendam dan rawa air tawar. Jenis Pternandra tessellata yang dikoleksi oleh Tim Botanika di Hutan Kehje Sewen, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur tumbuh pada bekas area bukaan dan tepi jalan logging yang saat ini berkembang menjadi hutan sekunder pada elevasi 300-500 m dpl. Jenis ini mempunyai preferensi pada intensitas cahaya matahari yang moderat.

Populasi Pternandra tessellata yang dijumpai rutin dalam menghasilkan bunga dan buah sehingga mempunyai peranan penting dalam siklus ekologi pada lapisan strata bawah. Bunga dari jenis ini diserbuki oleh lebah betina yang mencari nektar dan buahnya dimakan oleh burung pemakan buah berukuran kecil dan mamalia kecil.

Glochidion oxygonum Airy ShawGlochidion merupakan marga terbesar kedua dalam puak/tribe Phyllantheae Dumort (Euphorbiace...
15/04/2026

Glochidion oxygonum Airy Shaw

Glochidion merupakan marga terbesar kedua dalam puak/tribe Phyllantheae Dumort (Euphorbiaceae s.l.) atau famili Phyllanthaceae Martinov. Jenisnya mencapai 300 spesies berupa perdu sampai pohon dengan area sebaran utamanya meliputi kawasan Indo-Pasifik sampai ke wilayah Polinesia dan Australia.

Pada survey tahun 2019, salah satu Tim Botanika berhasil mendokumentasikan dan mengkoleksi jenis endemik dari marga Glochidion yaitu Glochidion oxygonum dengan buahnya yang unik tersusun pada klaster dan muncul dari batang utama. Karakter yang tidak umum pada marga Glochidion dimana sebagian besar bunga dan buahnya nya muncul pada ketiak daun yang tersebar di ranting. Jenis G. oxygonum terdaftar sebagai jenis terancam (Endangered) pada Daftar Merah IUCN karena sebelumnya hanya diketahui dari dua lokasi koleksi yaitu di wilayah Sahu Timur, Halmahera Barat. Temuan oleh Tim Botanika di wilayah Maba Tengah, Halmahera Timur menambah area distribusinya di Pulau Halmahera. Potensi temuan populasi jenis ini mungkin masih tinggi jika dilakukan aktivitas survey botani yang komprehensif di seluruh wilayah pulau.

Goniocheton arborescens merupakan salah satu jenis dari marga kecil Goniocheton yang berjumlah 4 jenis yang tersebar dar...
28/03/2026

Goniocheton arborescens merupakan salah satu jenis dari marga kecil Goniocheton yang berjumlah 4 jenis yang tersebar dari Indo-Cina, Cina Selatan, Taiwan, Kawasan Malesia, Papuasia, Queensland, sampai Vanuatu. Marga ini pertama kali dipublikasikan oleh Carl Ludwig Blume pada tahun 1825 dan kemudian digabungkan ke dalam marga Dysoxylum oleh Friedrich Anton Wilhelm Miquel pada tahun 1868. Marga Dysoxylum merupakan marga besar dengan jumlah jenisnya sekitar 80 jenis dan berdasarkan penelitian filogenetik molekuler terbaru bersifat polifiletik. Sehingga beberapa seksi yang sebelumnya tergabung dalam marga Dysoxylum termasuk Goniocheton akhirnya dipulihkan kembali menjadi tingkat marga tersendiri.

Goniocheton arborescens mempunyai sebaran yang sangat luas dari India (Arunachal Pradesh), Kepulauan Nikobar dan Andaman, Taiwan, seluruh Kawasan Malesia, Queensland, sampai Kepulauan Solomon dan Vanuatu. Jenis ini tersebar luas sebagai komponen hutan dataran kering meliputi hutan primer, hutan sekunder, dan hutan pada batu kapur dengan ketinggian mencapai 1500 m dpl. Tim Botanika berhasil mendokumentasikan dan mengkoleksi spesimen berbuah di area hutan sekunder di wilayah Muara Bengkal, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Bentuk buah yang bulat berukuran relatif besar dengan warna buah yang mencolok, berdaging, serta merekah memperlihatkan biji yang berwarna cerah pada sebagian besar marga Dysoxylum merupakan tanda untuk menarik satwa liar sebagai penyebar buah/bijinya. Beberapa kelompok satwa yang memakan buah dari marga Dysoxylum antara lain burung pemakan buah berukuran besar seperti kelompok Rangkong dan kelompok mamalia seperti Orangutan, Monyet, Lutung, dan Owa sehingga kehadirannya turut serta dalam memegang peranan penting dalam siklus ekosistem hutan alam tropika.

Ficus albomaculata C.C.BergMarga Ficus merupakan marga tumbuhan besar dengan jumlah jenisnya mencapai 750 jenis yang ter...
27/03/2026

Ficus albomaculata C.C.Berg
Marga Ficus merupakan marga tumbuhan besar dengan jumlah jenisnya mencapai 750 jenis yang tersebar luas di wilayah tropik sampai sub tropik. Pada bioregion Malesia terdapat sekitar 367 jenis dengan 150 jenisnya mendiami Pulau Borneo dan wilayah Kalimantan sendiri terdapat sekitar 120 jenis. Ficus albomaculata merupakan salah satu jenis yang termasuk dalam submarga Sycomorus. Submarga ini dicirikan salah satunya dengan keberadaan buah/sikoniumnya yang muncul pada percabangan di batang utama dan pangkal batang dengan strukturnya yang kompleks. Ficus albomaculata termasuk dalam submarga Sycomorus seksi Sycocarpus dan subseksi Sycocarpus yang tergolong dalam grup ‘Cauliflorae’ dimana sikonium jenis ini muncul pada percabangan di pangkal batang utama dan dekat dengan permukaan tanah utama dengan struktur berbentuk bonggol bulat.

Jenis Ficus dengan sikonium yang tumbuh di pangkal batang dekat permukaan tanah mempunyai strategi penyebaran buah/sikonium atau benih dengan memanfaatkan interaksi terhadap satwa pemakan buah. Beberapa catatan satwa yang bertindak sebagai penyebar buah dan benihnya antara lain dari kelompok mamalia terestrial seperti Rusa, Babi, Badak, Banteng, Kancil, dan Tikus Hutan. Jenis Ficus juga mempunyai interaksi yang kompleks dengan kelompok serangga penyerbuk dan non penyerbuk. Jenis Ficus berumah dua yang mempunyai bintik lentisel putih pada sikoniumnya seperti pada Ficus albomaculata dapat mensekresikan cairan gula yang menarik kehadiran semut yang akan mengusir serangga non penyerbuk Ficus (tabuhan parasit). Interaksi kompleks tersebut kemungkinan besar juga terjadi pada beberapa jenis Ficus lainnya.

Februari 2026, Yayasan Botanika kembali meneliti hutan pegunungan di Kehje Sewen, Kalimantan Timur 🌿 Bersama PT RHOI–BOS...
09/03/2026

Februari 2026, Yayasan Botanika kembali meneliti hutan pegunungan di Kehje Sewen, Kalimantan Timur 🌿 Bersama PT RHOI–BOS Foundation, tim membangun petak ukur permanen di hutan primer ±1.200 mdpl untuk memantau dinamika ekosistem dan merekam kekayaan tumbuhan. Perjalanan yang penuh tantangan menuju “rumah orangutan” ini menjadi langkah kecil untuk memahami, menjaga, dan mendukung keberlanjutan hutan Kehje Sewen. 🦧🌳

Ardisia pyrsocoma B.C.StoneMarga Ardisia merupakan marga besar dengan jumlah jenisnya mencapai 1000 jenis dan tersebar l...
09/03/2026

Ardisia pyrsocoma B.C.Stone

Marga Ardisia merupakan marga besar dengan jumlah jenisnya mencapai 1000 jenis dan tersebar luas di seluruh wilayah tropika. Marga Ardisia diklasifikasikan ke dalam 14 sub marga berdasarkan karakter bentuk tumbuh/habitus, morfologi daun, posisi perbungaan, dan morfologi bunga dan terdapat 9 sub marga di kawasan Malesia. Sampai saat ini belum terdapat catatan lengkap mengenai marga Ardisia di Pulau Borneo namun berdasarkan penelitian terakhir tercatat sebanyak 94 jenis yang mendiami wilayah tersebut.
Ardisia pyrsocoma merupakan salah satu jenis yang tumbuh spesifik pada ekosistem hutan rawa gambut dan endemik Borneo. Habitusnya berupa perdu pendek dengan tinggi maksimal mencapai 5 m dan mempunyai karakter morfologi yang khas yaitu rambut lebat berwarna merah-keunguan yang menutupi ranting, tangkai daun, helaian daun, perbungaan dan kelopaknya yang juga menjadi epitet jenisnya (pyrsocoma mempunyai arti petasan yang merujuk pada warna rambutnya yang seperti api berkobar). Pada data Global Biodiversity Information Facility (GBIF) terdapat catatan spesimen yang berasal dari Sumatra dan perlu ditelaah lebih lanjut karena sebagian besar spesimen tersebut tampak tak memiliki morfologi rambut seperti pada spesimen tipe Ardisia pyrsocoma.
Habitat utama Ardisia pyrsocoma adalah hutan rawa gambut dan tampaknya ekosistem ini merupakan spesifik sebagai tempat tumbuhnya. Hutan rawa gambut merupakan salah satu tipe hutan yang banyak mengalami kerusakan. Selama 20 tahun terakhir tutupan hutan di area rawa gambut berkurang dari 77 % menjadi 36 % atau sebesar mencapai 54000 km2. Hal ini akan berpotensi dalam meningkatkan peluang kepunahan jenis terutama yang spesifik tumbuh di ekosistem hutan rawa gambut. Sehingga kepentingan dalam menjaga eksistensinya agar bertahan sampai di masa mendatang menjadi sangat krusial.

Address

Perumahan Taman Yasmin Sektor 1, Jalan Wijaya Kusuma V No. 10
Bogor
16112

Opening Hours

Monday 08:00 - 16:00
Tuesday 08:00 - 16:00
Wednesday 08:00 - 16:00
Thursday 08:00 - 16:00
Friday 08:00 - 16:00

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Botani Tropika Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share