Komunitas Penulis Blitar

Komunitas Penulis Blitar Wadah berkumpulnya penulis dan calon penulis yang berdomisili atau berasal dari Blitar.

14/08/2026
07/08/2026

Nasirun dari Jauh

Perhatianku teralih ketika mendengar istilah "zakat kebudayaan".

Kutengok lagi layar YouTube yang saban pagi kubiarkan bersuara, sembari mengiringi pekerjaanku.

Beberapa hari itu aku memang "menghabiskan" sesi podcast BEGINU, yang hostnya adalah Wisnu Nugroho, Pemred Kompas.com itu.

Tokoh yang menjadi narasumber kerap melontarkan istilah unik, juga muntahan persepsi yang menarik.

Termasuk Pak Nasirun, yang menjadi narasumber sesi tersebut.

Podcast BEGINU memang asyik karena tidak pernah ada pembukaannya, dan kerap menangkap quotes/kutipan dari narasumber.

Aku baru tau Pak Nasirun ya dari podcast tersebut. Wawasanku soal dunia seni rupa memang payah.

Bahwa kukira, seorang pelukis tidak akan semenarik itu dalam bercakap-cakap. Nyatanya ini agak lain.

Nasirun dijuluki pelukis miliuner, karena lukisan-lukisannya yang terjual mahal, dan membuatnya tajir melintir.

Ia punya banyak uang, dan uang tersebut ia "putar" untuk mengapresiasi karya seniman lainnya.

Itulah yang ia sebut zakat kebudayaan. Kata "zakat" lebih mengikat sebagai suatu kewajiban, dibandingkan kata sedekah.

Sedekah lebih fleksibel, dan lebih informal. Bahkan tidak harus berbentuk materi.

Nasirun menikmati kekayaannya dengan cara itu, barangkali. Tidak dengan cara hidup glamour.

Penampilannya bahkan biasa saja: kaos oblong, sarung, syal batik dan rambut gondrong yang dikuncir.

Rumahnya, Studio Nasirun, tidak hanya memajang karyanya sendiri, melainkan juga karya seniman lain yang ia beli (tanpa menawarnya).

Tidak hanya karya seni murni, ada juga bedug dari berbagai daerah yang ia koleksi. Bukan karena dia Nahdlyiin, tapi karena itu bentuk "zakat kebudayaan" yang ia terapkan.

Ia takjub karena ternyata bedug dari berbagai daerah punya bentuk dan bunyi yang berbeda.

Ia bahagia karena menjadi orang kaya dari berkesenian, seperti yang sering ia kutip dari W.J.S. Poerwadarminta, bahwa seni itu kagunan, atau berguna bagi orang lain.

Lewat berkesenian, ia bertransformasi dari orang biasa di pedesaan Cilacap menjadi orang kaya di Bantul, Yogyakarta.

Ketika hijrah ke Jogja, orang tuanya tak bisa memberi banyak bekal, hanya "bismillah yang tak pernah habis".

Doa itu yang membuatnya terus bertahan dan punya harapan, meski perutnya lebih sering lapar di perantauan.

Dari perbincangan tersebut, tercermin laku spiritual yang kuat. Maka tak heran jika pernah ada yang datang padanya untuk "berobat".

Mungkin dikira orang pintar, atau orang suci.

Caranya bertutur, pemilihan diksinya, memang sangat "mriyayi", khas Sufi modern ala Buya Hamka. Memilih sederhana meski memiliki kemewahan.

Namun saat tertawa, ngakaknya bukan main. Sisi humorisnya segulir dengan pandangannya yang bijaksana dalam banyak hal.

Beliau tak (mau) punya HP, tak bisa menyetir mobil sendiri, apalagi bertransaksi dengan m-banking.

Juga masih menyapu halaman rumahnya sendiri, menata bunga di taman, dan itu bagian dari proses spiritualnya.

Agak sukar dipahami, namun ya begitulah Pak Nasirun, yang hanya kukenal jauh, itupun bukan lewat karya lukisnya. Al Fatihah.

Tabik,
Ahmad Fahrizal Aziz
https://www.jurnalrasa.my.id/2026/08/nasirun-dari-jauh.html

Terbuka untuk umum
31/07/2026

Terbuka untuk umum

Address

Blitar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komunitas Penulis Blitar posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share