07/05/2014
CATATAN YANG 'Mungkin' OBJEKTIF
(Tentang kegiatan temu penyair di UNIB)
Oleh: Mohammad Arfani
Beberapa waktu yang lalu terjadi sebuah 'peristiwa' perpuisian Bengkulu dengan adanya kegiatan 'Temu Penyair' di gedung Auditoriun C Universitas Bengkulu tepat jam 14.00 wib tanggal 3 mei 2014, dan menurutku kegiatan tersebut menjadi Luar Biasa karena telah berhasil mendatangkan orang nasional semacam Sujiwo Tedjo.
Tapi ada beberapa hal yang 'menjentik' hati saya tentang kegiatan tersebut yang pertama rasa keharuan dan terima kasih saya karena masih diakuinya saya sebagai Penyair Bengkulu, walau sudah hampir lima tahun saya meninggalkan tanah berpantai dan perbukitan ini, juga disandingkan dengan guru-guru akademik dan berproses saya selama saya berdomisili di Bengkulu, terima kasih yang sangat dalam kepada kawan-kawan penyair Bengkulu.
Yang kedua rasa kepantasan, jelas sekali saya merelakan diri saya jika ada yang mempertanyakan kepantasan saya duduk bersanding dengan para penyair Bengkulu seperti yang saya utarakan sebelumnya. Juga kepantasan Orang-orang yang duduk didepan mahasiswa yang mengaku sebagai senimannya 'kata' ini. Banyak pertanyaan didalam diri saya sendiri, apakah orang yang didaulat sebagai Penyair Bengkulu ini masih pantas disebut Penyair? Walau disana ada saya sendiri, Emong Soewandi, Chairul Muslim, Amril Canrhas, Agus Joko Purwadi, Amrizal, Lily Taswa, bahkan Jayu Marsuis yang dipermanis dengan didatangkannya Sudjiwo Tedjo sebagai penulis Nasional, saya mempertanyakan keabsahan mereka (termasuk saya sendiri) apakah mereka masih disebut sebagai Penyair Bengkulu. Dan jujur saja, saya masih meragukan beberapa nama yang saya sebutkan sebagai seorang penyair.
Tulisan ini bukanlah bentuk gugatan terhadap apapun dan tentunya tak perlu dijawab oleh mereka dan saya, sebab syarat seorang penyair adalah karya mereka dan syarat diakuinya karya mereka adalah produktivitas karya itu sendiri. Hanya saja, mengapa mereka tidak menyertakan beberapa nama yang cukup layak seperti Rudy Remakong atau Denis Kurniawan. Juga mungkin seperti Ganda Sucipta, Ayu Ksb, dan beberapa penyair muda yang cukup pantas disertakan dan tak terlacak oleh radar apresiasi saya. Bukankah lebih baik menikmati kedakan produktivitas karya dari pada penyanjungan tentang gelar yang disebut penyair, benarkan.
Tentu saja gelar penyair tidak bisa didapatkan melalui pengkajian puisi yang judulnya itu-itu saja, atau selalu menjadi penyelenggara event puisi, atau selalu mengikuti semacam lomba pembacaan puisi..tentu tidak, karena kita semua tentu sepakat atas prosesi sebuah karya dan semua estetika yang ada pada puisi itu sendiri.
Terakhir, yang ketiga adalah masalah tematik acara itu sendiri. Bukanlah sebuah kebanggaan jika sebuah acara perpuisian hanya mendatangkan penyair yang berskala luar biasa. Tapi yang terpenting bahkan sebaiknya, bagaimana acara Temu Penyair itu sendiri menjadi ajang apresiasi atas karya penyair itu sendiri dan mungkin akan menumbuhkan daun-daun kepenyairan yang baru atas hadirnya semua tokoh penyair yang ada. Tapi patut dihargai sangat luar biasa kepada pihak panitia terutama HIMA BAHTRA UNIVERSITAS BENGKULU atas terselenggaranya kegiatan temu penyair ini, karena saya secara pribadi mendapatkan semacam pencerahan atas adanya acara ini tentang sebuah motivasi berkarya terutama puisi. Karena kami 'duluuu' belum tentu bisa membuat acara sehebat ini..bravo Hima Bahtra Universitas Bengkulu..terima kasih atas undangannya.