21/03/2012
LEGENDA SI PAHIT LIDAH
***
Tersebutlah kisah seorang
pangeran dari daerah Sumidang
bernama Serunting. Anak
keturunan raksasa bernama Putri
Tenggang ini, dikhabarkan
berseteru dengan iparnya yang
bernama Aria Tebing. Sebab
permusuhan ini adalah rasa iri-
hati Serunting terhadap Aria
Tebing.
Dikisahkan, mereka memiliki
ladang padi bersebelahan yang
dipisahkan oleh pepohonan.
Dibawah pepohonan itu
tumbuhlah cendawan. Cendawan
yang menghadap kearah ladang
Aria tebing tumbuh menjadi
logam emas. Sedangkan jamur
yang menghadap ladang
Serunting tumbuh menjadi
tanaman yang tidak berguna.
Perseteruan itu, pada suatu hari
telah berubah menjadi
perkelahian. Menyadari bahwa
Serunting lebih sakti, Arya
Tebing menghentikan
perkelahian tersebut. Ia
berusaha mencari jalan lain
untuk mengalahkan lawannya. Ia
membujuk kakaknya (isteri dari
Serunting) untuk
memberitahukannya rahasia
kesaktian Serunting.
Menurut kakaknya Aria Tebing,
kesaktian dari Serunting berada
pada tumbuhan ilalang yang
bergetar (meskipun tidak ditiup
angin). Bermodalkan informasi
itu, Aria Tebing kembali
menantang Serunting untuk
berkelahi.
Dengan sengaja ia menancapkan
tombaknya pada ilalang yang
bergetar itu. Serunting terjatuh,
dan terluka parah. Merasa
dikhianati isterinya, ia pergi
mengembara.
Serunting pergi bertapa ke
Gunung Siguntang. Oleh Hyang
Mahameru, ia dijanjikan
kekuatan gaib. Syaratnya adalah
ia harus bertapa di bawah
pohon bambu hingga seluruh
tubuhnya ditutupi oleh daun
bambu. Setelah hampir dua
tahun bersemedi, daun-daun itu
sudah menutupi seluruh
tubuhnya. Seperti yang
dijanjikan, ia akhirnya menerima
kekuatan gaib. Kesaktian itu
adalah bahwa kalimat atau
perkataan apapun yang keluar
dari mulutnya akan berubah
menjadi kutukan. Karena itu ia
diberi julukan si Pahit Lidah.
Ia berniat untuk kembali ke
asalnya, daerah Sumidang. Dalam
perjalanan p**ang tersebut ia
menguji kesaktiannya. Ditepian
Danau Ranau, dijumpainya
terhampar pohon-pohon tebu
yang sudah menguning. Si Pahit
Lidah pun berkata, "jadilah batu."
Maka benarlah, tanaman itu
berubah menjadi batu.
Seterusnya, ia pun mengutuk
setiap orang yang dijumpainya
di tepian Sungai Jambi untuk
menjadi batu.
Namun, ia pun punya maksud
baik. Dikhabarkan, ia mengubah
Bukit Serut yang gundul menjadi
hutan kayu. Di Karang Agung,
dikisahkan ia memenuhi
keinginan pasangan tua yang
sudah ompong untuk
mempunyai anak.
Bukti Batu Gajah Di Pasemah
akibat "Kutukan" Si Pahit Lidah
Nurhadi Rangkuti meraba-raba
batu gajah sambil menjelaskan
torehan gelang kaki pada wujud
tokoh manusia yang memegang
gajah, yang merupakan benda
koleksi Museum Balaputradewa
di Palembang.
Si Pahit Lidah sungguh sakti
kata-katanya. Setiap serapah
sumpah yang keluar dari
mulutnya yang berlidah pahit
kontan akan membuat benda
yang dikutuk menjadi batu.
Begitu kira-kira dongeng lisan
masyarakat Pasemah di kawasan
Lahat dan Pagar Alam di
Sumatera Selatan.
Kesaktian tokoh suci folklorik itu
menjadi salah satu hiasan info
populer perihal banyaknya arca
batu dan batu bertatahkan
torehan bentuk manusia dan
binatang.
Cerita rakyat itu hanya imbuhan
karena para pakar arkeologi
sejak zaman penjajahan Belanda
hingga kini masih terkagum-
kagum dan takjub dengan
adanya peninggalan budaya
masa lampau, konon ditaksir
sudah sejak beratus-ratus tahun
silam.
Lokasi situs megalitik itu
letaknya di alam bumi Pasemah
Lahat dan Pagar Alam, sekitar
500-an kilometer dari
Palembang, di dataran tinggi
antara 750 meter-1.000 meter di
kaki Gunung Dempo dari
Pegunungan Bukit Barisan dan
daerah aliran hulu Sungai Musi
dan anak-anak sungainya.
Ahli arkeologi Belanda sejak EP
Tombrink (1827), Ulmann (1850),
LC Westernenk (1921), Th van
der Hoop (1932) dan lainnya
sejak dulu berusaha
memecahkan misteri ilmiah
keberadaan kompleks situs
megalitik yang penuh serakan
peninggalan arkeologi.
"Van den Hoop tercatat
membawa batu bundar ini ke
Palembang, sekitar tahun 1930-
an tanpa penjelasan rinci," ujar
Drs Nurhadi Rangkuti MSi (49),
Kepala Balai Arkeologi Sumatera
Bagian Selatan, akhir Februari
lalu, saat menjelaskan batu besar
berhiasan unik yang kini koleksi
Museum Balaputradewa di kota
Palembang.
Batu bundar macam telur besar
pejal asal Kotoraya di Lahat
mencolok sekali tatahan dan
goresannya berbentuk gajah
dan manusia. Perhatikan hiasan
pahatannya, menggambarkan
seorang manusia sedang
menggapit seekor gajah. Tokoh
itu mengenakan tutup kepala
macam ketopong, telinganya
mengenakan semacam anting
dan mengenakan juga kalung
leher. Kakinya mengenakan
gelang kaki yang diduga
berbahan logam. Di punggung
manusia itu ada sebentuk
nekara, tetapi wajahnya berbibir
tebal, hidung pesek dan pendek,
mata lonjong dan badannya
terkesan bungkuk. Di
pinggangnya terdapat senjata
tajam, ujar Nurhadi yang
mengaku belum pernah
mengukur rinci besar dan bobot
batu andesit itu.
"Dari ujung belalai sampai ke
ekor gajahnya, sekitar 2,7 meter.
Di balik relief gajah ini, ada p**a
bentuk seekor babi bertaring
panjang dengan dua tokoh
manusia."
Peninggalan tradisi megalitik itu
amat terkenal di dunia kajian
arkeologi karena, selain diduga
dari masa prasejarah, tradisi
batu besar itu pun berlanjut
sampai kini. Bentuk peninggalan
megalitik lainnya di wilayah
Pasemah, selain batu gajah dan
beberapa arca besar lainnya
yang kini ada di Palembang, di
Pagar Alam juga masih banyak
peninggalan arkeologi berupa
arca batu besar, alat-alat batu,
tembikar, bilik batu dan menhir.
Khususnya di situs bilik batu,
terdapat lukisan
menggambarkan manusia
sedang menggamit seekor
kerbau dengan warna merah
bata, hitam, dan kuning oker.
Selain itu, juga ada lukisan aneka
bentuk lukisan manusia,
binatang, dan burung dengan
kombinasi warna merah, kuning,
putih, dan hitam.
"Seluruh peninggalan budaya
prasejarah itu memberikan
informasi bahwa pada masa
lampau di daerah hulu Sungai
Musi sudah terdapat hunian awal
manusia, di daerah tepian sungai
pada bidang tanah yang tinggi.
Hunian yang lebih sedikit maju
ditemukan di daerah kaki
Gunung Dempo di sekitar kota
Pagar Alam sekarang. Di daerah
ini ditemukan banyak sekali arca
megalit dan bilik-bilik batu yang
berhiaskan lukisan…," tulis
arkeolog Bambang Budi Utomo.