16/07/2026
Kedaulatan di Tangan Syara': Siapa yang Berhak Mengatur Hidup Kita?
Dalam mengarungi kehidupan, manusia sering kali terjebak dalam pencarian standar kebenaran. Kita sering bertanya-tanya: Siapa yang paling berhak menentukan apa yang baik dan buruk bagi kita? Apakah kesepakatan manusia yang selalu berubah, ataukah hawa nafsu yang dinamis?
Sebagai seorang Muslim, akidah kita telah memberikan jawaban yang tegas dan tuntas. Tolok ukur perbuatan, hukum kehidupan, hingga arah pandang kita sebagai individu maupun umat telah digariskan secara sempurna melalui wahyu. Kehendak kita sepatutnya tunduk dan dibimbing oleh apa yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, yaitu syariat Allah SWT.
Dalam kitab Nizham al Hukmi fil Islam, Syaikh Abdul Qadim Zallum rahimahullah memberikan penjelasan yang sangat mendasar:
“Maka yang mengendalikan umat dan individu, serta mengarahkan kehendak umat dan individu, tidak lain adalah apa yang dibawa oleh Rasul (yakni syariat Allah). Maka umat dan individu itu tunduk kepada Syara’ (hukum Allah), dan dari sinilah kedaulatan itu milik Syara’.”
Apa Makna "Kedaulatan di Tangan Syara'" bagi Kita?
Memosisikan Hukum Allah di Atas Segalanya: Kaidah ini menegaskan bahwa penentu mutlak mana yang terpuji (madhmuh) dan mana yang tercela (madzmum) bukanlah akal manusia yang terbatas, melainkan ketetapan Allah SWT. Akal kita berfungsi untuk memahami hukum-Nya, bukan membuat hukum baru yang menandingi-Nya.
Kunci Ketenteraman Hakiki: Ketika manusia mengatur manusia lainnya berdasarkan kepentingan kelompok atau hawa nafsu, yang lahir adalah ketimpangan. Namun, ketika umat dan individu tunduk kepada Syara', keadilan akan tegak karena Sang Pencipta Dialah yang paling tahu apa yang terbaik untuk makhluk ciptaan-Nya.
Standar Konsisten yang Tidak Tergerus Zaman: Hukum manusia bisa bergeser tergantung tren dan kepentingan politik. Sebaliknya, Syariat Islam bersifat tetap dalam prinsipnya, memberikan kepastian hukum dan ketenangan bagi jiwa-jiwa yang mencari kebenaran hakiki.
Menempatkan kedaulatan di tangan Syara' adalah wujud nyata dari konsekuensi syahadat kita.