18/06/2013
CERITA KECIL TENTANG KERETA API
Sebetulnya saya sudah berencana menggunakan Prambanan Ekspres setibanya di bandara Adi Sucipto. Hotel yang akan saya tinggali ada di seberang stasiun Tugu, berseberangan secara diagonal. Rencana itu tidak terwujud. Saya sepesawat dengan seorang rekan asal Yogya yang juga akan menjalani kegiatan yang sama dengan saya. Beliau menitipkan mobil di bandara Adi Sucipto. Jadilah kami berempat menumpang mobil beliau ke hotel.
Niat naik Prameks, singkatan untuk Prambanan Ekspres, akhirnya kesampaian juga dalam perjalanan pulang. Perjalanan dari stasiun Tugu ke stasiun Maguwo itu singkat sekali, sekitar 10 menit. Malah lebih lama menunggu kereta berangkat. Saya beruntung dalam hal ini. Beberapa rekan yang menggunakan fasilitas shuttle dari hotel terjebak kemacetan. Perjalanan dari hotel ke bandara mereka tempuh dalam waktu satu jam.
Oh ya, saya membayar sepuluh ribu rupiah untuk tiket Prameks. Ini sebenarnya tarif sampai Solo. Tidak mengapa tentunya, tarif taksi akan lebih dari itu.
Kalau Anda ke Yogya dan akan menginap di sekitar Malioboro, Prameks atau Sri Wedari adalah pilihan lebih baik daripada taksi atau Trans Yogya. Sayangnya, frekuensi perjalanan kedua kereta ini tidak terlalu tinggi.
Turun dari kereta, saya agak bingung mencari jalan keluar. Ketika tiba di Yogya, dari terminal kami mengambil jalan melalui terowongan untuk sampai ke tempat parkir mobil. Jalan yang sama juga akan membawa penumpang ke stasiun Maguwo. Sekarang saya bertanya-tanya, kemana saya harus bergerak dari peron ke terowongan?
Ketika saya tanyai jalan ke bandara, seorang petugas di peron menunjuk ke arah tangga. Memang sih, lewat jalan itu sangat dekat. Turun dari tangga, menyeberang jalan dan pelataran sempit, kita sampai ke terminal kedatangan. Tidak puas, saya bertanya lagi ke petugas lain. Dia kembali menunjuk jalan yang sama. Sudahlah, saya ikuti juga petunjuk itu.
Arahan petugas itu sebetulnya aneh juga. Bukankah PT KAI sedang menjalankan program sterilisasi peron? Di berbagai stasiun pengantar sudah tidak bebas lagi masuk ke peron. Ini jalan kecil yang memberi akses langsung ke peron kok dibiarkan terbuka? Penumpang gelap akan dapat menyelundup melalui jalan ini.
Sterilisasi peron ini juga terjadi di stasiun kecil, setidaknya di Jakarta. Saya menemukan fakta ini keesokan harinya. Minggu pagi itu saya keluar rumah. Jogging sebentar di Kalibata Indah. Biasanya kalau saya jalan-jalan pagi di kawasan itu, saya menyeberang rel di stasiun Kalibata Baru. Menyusuri jalan sejajar rel sampai ke samping rumah susun eks pabrik sepatu Bata, lalu memotong lewat Mal Kalibata dan pulang.
Pagi itu ada insentif tambahan untuk mengikuti kebiasaan. Mungkin bisa ketemu dan ngobrol dengan mas Tyas, seorang kawan yang saya tahu tinggal di seberang rel.
Ketika sampai di stasiun Kalibata Baru. Ups, saya dihadang gerbang tiket otomatis. Seorang petugas berseragam Polsus KA berjaga di dekatnya. Saya tanya apakah saya boleh menyeberang. Dia memberi tanda membolehkan.
Saya memang bertemu dengan mas Tyas dan ngobrol sambil sarapan pagi. Ketika selesai, saya harus menyeberang rel lagi. Saya sudah mau bergerak ke arah stasiun. Gak usah lewat sana, kata mas Tyas. Nyebrang di sini saja, lebih dekat kok, aku tunjukkan jalannya, lanjut mas Tyas sambil menunjuk ke arah utara. Seperti di Maguwo, memang betul jalan itu lebih dekat. Sayangnya, itu perlintasan liar untuk pejalan kaki.
PT KAI memang sedang melakukan pembenahan, tapi tampaknya kurang memperhatikan kondisi psikososial masyarakat. Saya pikir akan lebih baik untuk mendorong masyarakat tidak menggunakan perlintasan liar. Gerbang tiket otomatis itu bisa dipindah sedikit untuk menapis di jalan langsung ke peron. Penyeberang tidak perlu melewati gerbang itu. Gerbang yang diperlukan tetap dua buah. Tidak ada dana tambahan yang diperlukan, selain biaya bongkar pasang.
Saya tidak tahu kalau sistem tiket otomatis diberlakukan secara penuh, apakah kelonggaran untuk "numpang lewat" masih akan ada. Sepertinya tidak. Lengan penghalang, yang ketika saya lewat belum terpasang, tidak akan bisa didorong tanpa tiket.
Mungkin PT KAI merasa hanya bisa menegakkan kewenangannya di stasiun. Sedangkan di luar itu, di sepanjang rel yang menghubungkan dua stasiun, mereka tidak mampu melakukannya.