04/10/2018
Sumber :jurnal hiking
CATATAN SURYAKENCANA CAMP | GN. GEDE 29-30 SEP 2018
Dinginnya alun-alun Suryakencana di minus 1 derajat celcius saat malam hari tidak menghilangkan keinginan makan para peserta Suryakencana Camp 2018. Bagaimana tidak, jika makanan yang disajikan oleh tim IBA yang dimotori Chef Eko Murdiyanto adalah bruschetta, sup daging-dengkul-kaki, burcangjo, roti selai manga, chicken steak, bistik daging? Belum lagi aneka minuman; dari mulai mojito with ginger, coldbrew, kopi houseblend Buun sampai teh mint arab.
Sejak subuh berlalu, estafet aneka makanan dan minuman menjadi teman kegiatan coaching clinic yang dipandu Berry Abu Fairuz hingga sampai menuju puncak Gede dalam acara trail running.
Suryakencana Camp 2018 bukan melulu mengurusi urusan perut dan memanjakan mata akan salah satu gunung terindah di Jawa Barat ini - Banyaknya para pendaki yang bersamaan - mungkin mencapai ribuan - menjadi pemandangan tersendiri, dan menjadi bagian dari catatan perjalanan trip kali ini.
“Kita ikut bertanggung jawab di atas gunung ini, siapapun mereka yang mendaki!”
kalimat ini seperti membangunkan mimpi dari tidur. Baru terasa terpecahkan uraian kalimat ini sambil menikmati bincangannya – Bang Aulia Ibnu (Ketua Yayasan Petualang Muslim Indonesia) – dengan topik “mendaki gunung dengan aman dan nyaman”.
Terlebih ditambah dengan sesi penutup penggugah jiwa dari Ustadz Agus Hendra Gunawan, yang belakangan ini jadi ikut sering berkegiatan di alam terbuka yang menurut beliau sebagai sarana ibadah untuk “mengolahragakan akal”
Koq bisa ya akal diolahragakan? Coba saja sambil kita mendaki gunung, kita merenungkan dengan akal kita; betapa indahnya ciptaan Allah ini, maka yang seharusnya terucap adalah kalimat ‘Masyaallah’. Saat jalan tanjakan ‘Allahu Akbar’, dan menurun ‘Subhanallah’. Belum lagi berapa banyak yang bisa kita praktikan amaliah sunnah di atas gunung ini?
Semoga acara kemarin ini benar-benar memiliki manfaat yang menjadikan akal berolahraga dengan Ayat-ayat kauniyah (tanda-tanda keagungan Allâh pada alam semesta atau seluruh makhlukNya). Dan kita termasuk yang meminimalisir teman-teman pendaki lain yang terbiasa menggantikan kicauan burung di alam dengan suara musik sepanjang jalan, perkataan dan candaan yang jelek dengan ucapan salam dan penyemangat ‘tauriyah’
Yuuk ke Gunung lagi !
Petualang Muslim
Hiking
IBA (Indonesia Brewing Adventure)