Media Dakwah

Media Dakwah Media Sosial Sharing Quotes Harian dan Mengajak untuk Beramal

MasyaAllah
26/01/2026

MasyaAllah

💚Kisah Wanita Miskin yang begitu dalam cintanya kepada Rasulullah ﷺ

Di sudut Madinah, tinggal seorang wanita tua. Pakaiannya lusuh, tubuhnya kurus, dan rumahnya nyaris tak layak disebut rumah. Ia hidup dari sisa-sisa pasar: biji kurma yang jatuh, gandum yang tercecer. Tak ada keluarga yang menanggungnya, tak ada harta yang bisa dibanggakan. Dunia nyaris tak memberinya apa-apa.

Namun satu hal membuat hidupnya penuh: cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Setiap hari, sebelum matahari tinggi, ia berjalan tertatih menuju Masjid Nabawi. Bukan untuk duduk di shaf depan—ia tahu dirinya tak punya alas dan bau tubuhnya sering membuat orang lain menjauh. Ia berdiri di sudut, menunggu dengan sabar, hanya untuk melihat Rasulullah ﷺ keluar.

Jika hari itu ia berhasil melihat wajah beliau, hatinya kenyang, meski perutnya kosong.
Suatu hari, seorang sahabat bertanya kepadanya,
“Wahai ibu, apa yang engkau cari setiap hari di sini?”
Ia tersenyum, matanya basah.
“Aku tidak mencari dunia. Aku hanya ingin melihat kekasih Allah. Jika aku melihat beliau, penderitaanku terasa ringan.”

Ia pernah menjual satu-satunya selendang yang ia miliki—bukan untuk makan, tetapi untuk membeli minyak wangi. Minyak itu ia simpan bertahun-tahun. Bukan untuk dirinya. Ia berharap suatu hari bisa menggunakannya untuk Rasulullah ﷺ, meski hanya setetes.
Takdir mempertemukannya dengan Rasulullah ﷺ ketika beliau melihat wanita tua itu gemetar di pinggir jalan. Rasulullah berhenti. Duduk. Menyapanya dengan suara lembut—seolah wanita itu adalah orang paling berharga di Madinah.

“Apa yang membuatmu lemah, wahai ibu?”
Ia menjawab dengan jujur, tanpa mengeluh,
“Wahai Rasulullah, aku lapar. Tapi hatiku penuh karena Allah dan engkau.”
Rasulullah ﷺ menunduk. Mata beliau berkaca-kaca. Beliau memerintahkan para sahabat untuk membantunya. Namun wanita itu berkata pelan,
“Wahai Rasulullah, jangan berikan aku dunia terlalu banyak. Aku takut cintaku kepada akhirat berkurang.”

Ia wafat beberapa tahun kemudian—dalam keadaan miskin, tanpa kain kafan yang mewah, tanpa tangisan manusia banyak. Namun Rasulullah ﷺ menshalatkannya secara khusus dan mendoakannya lama.
Para sahabat terheran. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wanita ini tidak dikenal di bumi, tetapi namanya dikenal di langit karena cintanya yang tulus.”
Pesan yang Tidak Bisa Ditawar
Kisah ini menampar kita dengan keras:
Ia miskin harta, kaya cinta.
Kita kaya fasilitas, miskin kerinduan.
Ia lapar dunia, kenyang iman.

Cinta kepada Rasulullah ﷺ tidak diukur dari status, pakaian, atau suara lantang di majelis. Ia diukur dari keikhlasan hati yang rela kehilangan dunia asal tidak kehilangan beliau.


Yaa Allah Terima Amal Kami
12/01/2026

Yaa Allah Terima Amal Kami

📖SYAFA'AT AL QUR'AN DI DALAM QUBUR.
::...

Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur📖

Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada penolong yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan p**a yang lainnya.” (Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).

Bazzar meriwayatkan dalam kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.

Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2 malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.

Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”

Lalu ia berpaling kepad sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.
Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”

Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)

Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.

Allah … terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.
Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT.

Aamiin ..

Semoga bermanfaat 🙏

Ustadz Mehmet Ali ulama besar Turki wafat dalam keadaan mushaf Al-Qur'an masih terbuka🥹 Akhir yang Sangat Indah🌹Sebuah a...
12/01/2026

Ustadz Mehmet Ali ulama besar Turki wafat dalam keadaan mushaf Al-Qur'an masih terbuka🥹 Akhir yang Sangat Indah🌹

Sebuah akhir hayat yang didambakan jutaan umat Muslim: seorang ulama besar Turki, Ustadz Mehmet Ali Şaflak, berp**ang ke Rahmatullah dalam momen paling mulia.

Pada hari kelima Ramadan, 28 April 2020, di usianya yang ke-94 tahun, Profesor dan guru Tajwid yang disegani ini menghembuskan napas terakhir dengan sangat tenang.

Beliau wafat saat tengah Duduk membaca Al-Qur’an, dengan ayat-ayat suci masih terukir di bibirnya dan mushaf berada di genggaman tangannya. Kematiannya menjadi kesaksian terindah atas dedikasi hidupnya yang sepenuhnya diabdikan pada Al-Qur’an.

Ustadz Mehmet Ali Şaflak dikenal sebagai sosok yang tawadhu (rendah hati) dan merupakan pendidik yang aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan, baik melalui ceramah maupun pengajaran tafsir Al-Qur'an. Ribuan pengikutnya telah merasakan manfaat dari ilmu dan keteladanan yang beliau ajarkan. Masyaallah, sungguh mulia sekali dedikasi yang dia berikan.

Semoga Kita Semua Allah Wafatkan Dalam Keadaan Husnul Khatimah 🤲🤲🤲Aamiin

04/01/2026

.:: Bucin ke Mantan ::.

Al-Walid bin Yazid pernah menceraikan istrinya bernama Su'da. Setelah Su'da menikah lagi, Al-Walid sangat terpukul dan menyesali perbuatannya. Rasa cintanya kembali muncul, dan penyesalan pun menguasai dirinya.

Suatu hari, Asy'ab datang menemuinya. Al-Walid berkata kepadanya, “Maukah engkau menyampaikan pesan dariku kepada Su'da? Aku akan memberimu lima ribu dirham.”

Asy'ab menjawab, “Bayarkan sekarang!”

Al-Walid pun memerintahkan agar uang itu diberikan kepadanya. Setelah menerimanya, Asy'ab berkata, “Baik, apa pesanmu?”

Al-Walid berkata, “Datangilah dia dan bacakan syair ini:

‘Wahai Su'da, adakah jalan bagiku menuju dirimu,
atau bahkan sampai hari kiamat tak mungkin lagi kita bertemu?

Mungkin saja suatu hari waktu berpihak,
entah dengan kematian kekasihmu atau dengan perpisahan'."

Asy'ab pun mendatangi Su'da dan meminta izin untuk bertemu. Ia diizinkan masuk. Su'da berkata, “Apa gerangan yang membuatmu berkunjung, wahai Asy'ab?”

Ia menjawab, “Aku diutus Al-Walid membawa sebuah pesan untukmu,” lalu membacakan syair itu.

Mendengar hal tersebut, Su'da berkata kepada para pelayannya, “Hajar orang busuk ini!”

Ketika mereka hendak memukulnya, Asy'ab buru-buru berkata, “Al-Walid telah menjanjikanku lima ribu dirham jika aku menyampaikan pesan ini.”

Su'da berkata, “Demi Allah, jika engkau tidak kembali kepadanya dengan pesan dariku, aku akan menghukummu!”

Asy'ab berkata, “Wahai tuan putriku, berilah aku upah.”

Su'da menjawab, “Ambillah permadani ini.”

Asy'ab pun mengambilnya lalu berkata, “Baik, apa pesanmu?”

Su'da berkata, “Katakan kepadanya:

‘Apakah engkau menangisi Su'da, padahal engkau sendiri yang meninggalkannya?
Su'da telah pergi, lalu apa yang bisa kau perbuat?’”

Ketika pesan itu sampai kepada Al-Walid, dadanya terasa sempit dan amarahnya memuncak. Dengan emosi yang tak terbendung, ia pun berkata kepada Asy'ab, “Pilih salah satu dari tiga hal: apakah aku bunuh kamu saja, atau aku lempar kamu dari istana ini, atau aku lemparkan tubuhmu ke binatang buas?!"

Asy'ab terdiam, bingung, lalu menundukkan kepala. Setelah itu ia mengangkat kepalanya dan berkata, “Wahai tuanku, engkau tentu tidak akan menyiksa dua mata yang pernah memandang Su'da.”

Al-Walid pun tersenyum lalu membiarkannya pergi. 😅

~ Hada’iq al-Azhar – Ibnu ‘Ashim al-Gharnathi

Yaa Allah 🥹🥹🥹🙏🏻🙏🏻🙏🏻
04/01/2026

Yaa Allah 🥹🥹🥹🙏🏻🙏🏻🙏🏻

Akhir dari Sayidina Ali Bin Abi Thalib R.A

Siapa Ibnu Muljam?

Banyak yang menyangka bahwa pembunuh Ali bin Abi Thalib RA adalah seorang fasik yang jauh dari agama. Namun, kenyataan sejarah justru lebih mengejutkan dan mengerikan. Ia adalah seorang ahli ibadah, zuhud, dan pembaca Al-Qur’an yang tekun.

Dahulu, Umar bin Khattab RA pernah mengirimnya ke Mesir atas permintaan gubernur ‘Amr bin al-‘Ash RA yang membutuhkan pengajar Al-Qur'an. Umar bahkan berkata:

"إني قد آثرتك بعبد الرحمن بن ملجم على نفسي"

"Aku lebih mendahulukanmu dengan mengirim Abdurrahman bin Muljam padahal aku membutuhkannya (di Madinah)."

Bayangkan, seorang Khalifah sekelas Umar bin Khattab memuji kualitas bacaan dan kedalaman ilmu Ibnu Muljam. Namun, ilmu yang tidak diiringi dengan hidayah hati justru menjadi bumerang.

Ibnu Muljam yang awalnya adalah pendukung setia Ali bin Abi Thalib, perlahan tergelincir ke dalam pemahaman kaku Khawarij. Ia menganggap Ali—sang pintu ilmu dan menantu Rasulullah SAW—telah keluar dari syariat karena melakukan diplomasi manusia dalam perang.

Lalu, pada subuh yang kelam di Kufah, ia melancarkan aksinya. Sambil mengayunkan pedang beracunnya ke arah dahi Ali bin Abi Thalib, ia dengan penuh keyakinan membaca ayat:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

"Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya." (QS. Al-Baqarah: 207)

Betapa tragisnya, sebuah ayat yang mulia digunakan sebagai pembenaran untuk menumpahkan darah sosok yang paling dicintai Rasulullah SAW. Dengan membunuh Ali, ia merasa sedang beribadah kepada Allah, padahal ia sedang melakukan dosa paling besar di masanya.

Jauh sebelum tragedi ini terjadi, Rasulullah SAW telah memperingatkan Ali akan datangnya sosok ini. Beliau bersabda kepada Ali RA:

أَشْقَى الْآخِرِينَ الَّذِي يَضْرِبُكَ عَلَى هَذِهِ - وَأَشَارَ إِلَى يافوخه - حَتَّى تَبْتَلَّ مِنْهَا هَذِهِ - وَأَشَارَ إِلَى لِحْيَتِهِ

"Orang yang paling celaka dari generasi kemudian adalah dia yang memukulmu di bagian ini (menunjuk ubun-ubun), hingga darahnya membasahi ini (menunjuk janggut Ali)." (HR. Ahmad & Al-Hakim)

Bahkan saat hendak dieksekusi (qishas), kesombongan spiritualnya tetap tampak. Ia meminta agar tubuhnya dipotong perlahan agar ia bisa merasakan "nikmatnya" disiksa di jalan Allah. Ia benar-benar yakin dirinya berada di atas kebenaran.

Inilah yang dikhawatirkan oleh Hudzaifah bin al-Yaman RA dalam atsar yang terkenal:

إِنَّمَا الْفِتْنَةُ أَنْ تَرَى الْحَلَالَ حَرَامًا وَالْحَرَامَ حَلَالًا

"Sesungguhnya fitnah (ujian agama) itu adalah ketika engkau menganggap yang halal sebagai haram, dan yang haram engkau anggap halal." (Atsar Riwayat Al-Hakim)

Kisah Ibnu Muljam mengajarkan kita bahwa dahi yang hitam karena sujud dan lisan yang basah dengan Al-Qur'an tidaklah cukup jika hati dipenuhi dengan kesombongan dan kebencian kepada sesama mukmin.

Jangan pernah merasa aman dari fitnah. Ukurlah ketaatan kita bukan hanya dari banyaknya rakaat salat, tapi dari kelembutan hati dan ketundukan kita pada syariat yang murni, bukan ego yang dibalut jubah agama.

Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap istiqamah di atas kebenaran yang sesungguhnya.

Sumber: Yusuf Al Amien

04/01/2026

"KISAH WALI YANG NAMANYA TERTERA DI LAUHIL MAHFUDZ SEBAGAI PENGHUNI NERAKA"

اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Ada seorang sufi dari kalangan tokoh tasawuf yang bernama Syaikh Abdul Aziz ad-Dabbagh. Beliau dalam kalangan tokoh tasawuf termasuk ulama kelas atas, wali min auliya'illah, ahli ibadah.

Suatu ketika malaikat melihat namanya di lembaran kitab lauhil mahfudz ada dalam deretan penghuni neraka. Melihat hal tersebut malaikat merasa kasihan dan mendatangi Syaikh Abdul Aziz ad-Dabbagh.

Malaikat berkata, "Wahai Abdul Aziz, untuk apa engkau ibadah sampai segitunya, sedangkan aku lihat namamu di lembaran lauhil mahfudz engkau adalah penghuni neraka. Mau ibadah bagaimanapun engkau tetap akan masuk neraka."

Kemudian Abdul Aziz menjawab, "Wahai Malaikat, Surga dan Neraka bukan urusanku, aku diciptakan oleh Allah Ta'ala hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, "Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku." Mau aku masuk surga atau neraka itu hak-Nya Allah."

Subhanallah, benar-benar ikhlas dalam beribadah. Kemudian malaikat kembali ke lauhil mahfudz dan dilihat namanya dirubah oleh Allah Ta'ala menjadi penghuni surga. Sebab Allah Ta'ala berhak menetapkan kitabullah.

Lantas malaikat kembali menemui Abdul Aziz dan berkata, "Wahai Abdul Aziz, ada kabar gembira, baru saja aku melihat namamu oleh Allah Ta'ala dirubah menjadi penghuni surga."

Abdul Aziz menjawab, "Alhamdulillah, tapi sekali lagi malaikat, surga dan neraka bukan urusanku, aku beribadah hanya untuk menggapai ridho-Nya Allah Ta'ala, kalau Allah Ta'ala ridho aku di neraka, ya itulah tujuanku."

Malaikat pun takjub dengan keikhlasan Abdul Aziz dalam beribadah dan berkata, "Wahai Abdul Aziz, ikhlasmu inilah yang membuat Allah Ta'ala ridho dan merubah namamu menjadi penghuni surga."

Lantas Abdul Aziz bertanya kepada malaikat, "Bila ikhlasku tadi yang membuat Allah Ta'ala ridho kepadaku, lalu kira-kira dosa apa yang membuat Allah Ta'ala murka kepadaku sehingga aku menjadi penghuni neraka?"

Kemudian malaikat bercerita, "Engkau ingat ketika engkau masih kecil ketika umurmu sekitar 15 tahunan, engkau ingat ketika engkau tidur di kamar tidurmu, kemudian engkau mendengar suara langkah kaki ibumu menuju tempat tidurmu untuk menyuruhmu membeli sesuatu di pasar?
Karena engkau mendengar suara langkah kaki ibumu menuju kamarmu, lalu engkau pura-pura tidur padahal engkau sudah bangun, agar engkau tidak disuruh pergi ke pasar. Ketika ibumu membuka pintu kamarmu dan melihatmu masih tidur, ibumu merasa kasihan dan tidak jadi menyuruhmu ke pasar. Sebab Engkau bohongi ibumu, maka Allah Ta'ala murka dan menjadikan namamu sebagai penghuni neraka."

Mendengar cerita dari malaikat, Abdul Aziz pun beristighfar memohon ampun kepada Allah Ta'ala.

Semenjak kejadian tersebut, Syaikh Abdul Aziz ad-Dabbagh di sisa umurnya tidak pernah berceramah kecuali tentang berbakti kepada orang tua. Setiap orang yang datang kepada Beliau selalu diwasiatkan untuk berbakti kepada orang tuanya.

Mari kita renungkan sejenak!

Padahal Beliau hanya pura-pura tidur, lalu bagaimana yang sampai membentak ibunya?

Bagaimana yang sampai memasamkan wajahnya kepada ibunya?

Yang mengeraskan suaranya di depan ibunya?

Yang sampai tidak memberi nafkah?
Dan bahkan yang sampai membuat menangis ibunya, bagaimana kira-kira nasibnya?

Mari kita belajar bersama-sama untuk lebih berbakti kepada orang tua kita, baik yang masih hidup ataupun yang telah wafat. Jangan meremehkan dosa kecil, dikhawatirkan disitu ada murka-Nya Allah Ta'ala....

Jika tangan kita masih sulit untuk berbuat baik padanya, maka ringankanlah lisan kita untuk senantiasa mendoakan kedua orang tua kita. Semoga Allah Ta'ala mengampuni semua dosa-dosa kita dan dosa orang tua kita. Wallāhu a'lam

Dikutif Dari Majelis Tausiyah Cinta

04/01/2026

Yaa Allah Undang Ke Tanah Suci 🕋 Hamba Mu yang Melihat Postingan Ini Bersama Keluarganya Di Bulan Suci Ramadhan 2026🤲

08/12/2025
08/12/2025

Wkwkw Land

08/12/2025

Jaga Hutan 🌳🌳🌳🌳

08/12/2025

Yaa Allah

BismillahAssalamualaikum warohmatullahi wabarokatuhHikmah Tujuan dan Manfaat Poligami Bagi Wanita :1. Mendidik para wani...
06/08/2025

Bismillah
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Hikmah Tujuan dan Manfaat Poligami Bagi Wanita :

1. Mendidik para wanita agar lebih mencintai Allãh عز وجل daripada suaminya.
2. Mendidik para wanita agar lebih ridha dalam menerima ketetapan dan pembagian dari Allãh عز وجل.
3. Meluruskan kembali niat pernikahan yang paling utama yaitu untuk beribadah.
4. Meringankan beban kewajiban untuk melayani suami.
5. Menyelamatkan para janda dan wanita agar tidak menjadi perawan tua.
6. Membantu para wanita untuk bersaing dan berlomba-lomba dalam kebaikan.

________

Meskipun tujuannya mulia namun yang perlu diketahui adalah bahwasannya poin-poin tersebut tidak bisa dilakukan oleh sembarangan orang. Sehingga dengan ini menjadikan hukumnya tidaklah wajib melainkan hanya Sunnah.

Copas

Address

Bekasi
17147

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

+6282113166061

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Media Dakwah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Media Dakwah:

Share