19/06/2026
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dulu pernah ditanya, “Siapakah yang paling mulia dari manusia?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menjawab:
قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ
“Sebaik-baik manusia adalah manusia yang bersih hatinya dan selalu benar atau jujur lisannya.” Kemudian mereka para sahabat berkata, mengenai jujur atau benar lisannya, kami sudah mengetahuinya, tetapi apakah yang dimaksud dengan orang yang bersih hatinya?” Beliau menjawab, “Yaitu seseorang yang bertakwa dan bersih, yang tidak terdapat kedurhakaan dan kezaliman padanya, tidak iri hati (hasad), dan juga tidak dengki.”. (HR. Ibnu Majah)
Apabila hati kita baik, bersih, maka jasad kita pun akan seperti itu. Namun jika hati kita kotor, hati kita buta, maka perintah-perintahnya pun akan tidak jelas dan tidak baik. Orang yang hatinya bersih akan menjadi orang yang paling mulia.
Selengkpanya di: rodja.id/1zd