SAVE OUR ORCHIDS
Indonesia adalah merupakan Negara yang kaya akan sumber daya genetic (SDG) dan masuk dalam kelompok Negara “Mega –Biodivercity”, bahkan merupakan Champion of Biodiversity. Kalimantan berdasarkan letak geografisnya memiliki hutan hujan yang merupakan habitat dari kehidupan liar bagi flora dan fauna, ini adalah merupakan kekayaan plasma nuftah yang tak ternilai harganya, termasuk
didalamnya anggrek spesies. Dip**au terbesar kedua di Indonesia ini, terdapat 2500 – 3000 anggrek spesies dari 5000 jenis anggrek yang ada diseluruh Indonesia, jauh lebih besar dari negeri Thailand yang merupakan Negara penghasil anggrek terbesar di dunia, yaitu Cuma memiliki 1.125 jenis anggrek spesies. Namun
terjadinya kerusakan hutan akhir-akhir ini, yang telah memusnahkan sebagian besar habitat bagi anggrek spesies, telah mengacam secara serius akan keberadaan anggrek spesies ; “ kerusakan hutan berbanding lurus dengan punahnya anggrek spesies Indonesia”. Pemanfaatan hasil hutan yang berlebihan sekarang ini telah sangat menghawatirkan, karena secara tidak langsung merusak habitat anggrek spesies yang hidup dihutan tersebut, khususnya di Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan, memiliki laju kerusakan hutan yang paling cepat
dibanding provinsi lain, meski luasannya relatif kecil. Tercatat seluas 66,3 ribu hektar hutan musnah per tahun dari total luas wilayah hutan sekitar 3 juta hektar. Kondisi hampir serupa terjadi di tiga provinsi lain, dengan luas dan laju yang berbeda. Penyebab utamanya karena adanya konversi lahan perkebunan dan pertambangan serta kebakaran hutan. Daerah penyebaran habitat anggrek alam Kalimantan Selatan hampir disemua wilayah pegunungan Meratus, dari kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Banjar, Hulu Sungai Selatan dan Tengah, termasuk Tanah Bumbu. Didunia tercatat ada sekitar 66 spesies keluarga anggrek bulan, lebih dari separuhnya berada di Indonesia terutama di Kalimantan. Melansir dari List of Endangered Plant (daftar tanaman yang terancam punah) dalam Indonesia Plant Biodefersity terdapat 70% lebih dikatagorikan langka berada di Kalimantan, khususnya pegunungan Meratus. Bahkan sebagian darinya sudah sulit diketemukan dihabitat aslinya, seperti ; Phalaenopsis cornucervi, Phal. mariae, Phal. modesta, Phal. pantherina dan Phal. zebrina yang kesemua itu masuk dalam katagori appendix II oleh Committee on International Trade in Endangered Species ( CITES ).
“ Ada jenis anggrek bulan endemik Meratus yang saat ini sudah sangat sulit ditemukan dikawasan hutan pegunungan meratus, yaitu ; Phalaenopsis amabilis varian pelihari. Jenis anggrek ini merupakan anggrek terpopuler yang sangat dicari oleh penggemar anggrek maupun penyilang anggrek dunia, karena keindahan dan eksotikanya, disamping itu memiliki keunggulan tersendiri untuk dijadikan bahan persilangan. Phalaenopsis amabilis varian pelaihari yang merupakan indukan silangan utama terbaik dunia untuk jenis anggrek bulan “. Disamping jenis anggrek bulan terdapat p**a jenis anggrek dendrobium yang dikalangan dunia peranggrekan Indonesia sudah dinyatakan tidak ada lagi dihabitatnya dikawasan hutan Kalimantan Selatan, yaitu ; Dendrobium lowii dan Dendrobium hepaticum. Dan untuk jenis Paphiopedilum adalah; Paphiopedilum Kolopangii dan Paphiopedilum Supardii, ini juga merupakan anggrek endemic yang dimiliki hutan Meratus, termasuk jenis Vanda seperti Vanda dearei. Perlu upaya penyelamatan anggrek Indonesia, khususnya Kalimantan dengan melakukan berbagai upaya terutama konservasi, baik itu in-situ maupun ex-situ. Menjadikan kawasan habitat anggrek sebagai kawasan konservasi in-situ terutama didaerah yang terkena program alih fungsi "STOP PENGRUSAKAN HUTAN". Setiap program alih fungsi wewajibkan pelakunya membangun kawasan konservasi yang pengelolaannya dilakukan manajemen perusahaan dengan pengawasan BKSDA setempat.