30/11/2015
KONSTRUKSI JALAN DAN HALAMAN RUMAH DAYA SERAP TINGGI SOLUSI ATASI BANJIR
Ketika saya melihat hujan di bulan nopember, setelah berbulan-bulan wilayah saya dilanda kemarau panjang, saya pikir bukan hanya saya yang akan menyambut musim basah ini. Sebab musim panas kemarin telah memberi dampak asap di negeri saya nyaris tanpa jeda. Sebelum saya berpikir tentang banjir, beberapa waktu lalu dalam kelas imajinasi yang saya lakukan bersama beberapa murid saya, saya melontarkan impian sederhana yang ingin segera saya wujudkan, papar saya. Salah satunya, saya ingin punya rumah. Rumah impian yang kemudian saya harapkan juga sederhana, “saya ingin tinggal di suatu kawasan yang sistem drainase di lokasi tersebut baik”. Sepanjang dari perjalanan pulang di kelas tersebut, saya kemudian berpikiran jahat bahwa jika hanya saya yang punya rumah tersebut, sedangkan orang lain tidak, hasilnya tidak memberi pengaruh apa-apa. Saya juga kemudian menyadari, bahwa untuk membuat saluran air menuju sungai, tentu sedikitnya akan memakan dana lebih. Terutama ini mungkin hal yang akan disepelekan oleh para pengusaha properti. Pikiran ini terus melayang dan hilang sewaktu-waktu kemudian.
Beberapa waktu lalu, saya dituntut oleh profesi tentang pelajaran alam. Hari itu, menjelang ulangan Ilmu Pengetahuan Alam Hannah beberapa hari kemudian, saya mengajaknya mengamati wujud benda dan sifat-sifatnya. Sampai saya berpikir pada tulisan ini, ketika mengamati zat cair yang berjalan melalui celah-celah kecil di antara kerikil.
Mungkin kita belum mampu, atau sudah berada pada keadaan ‘terlanjur’ untuk membuat modifikasi-modifikasi menanggulangi bencana banjir seperti di negara-negara maju. Misalnya sistem Polder dan Deltawerken yang telah diterapkan Belanda sejak sekitar 10 abad yang lalu. Atau ketika membicarakan sebuah gigaproyek G-CANS di Tokyo Jepang, serta metode modifikasi lansekap yang juga digunakan oleh Jepang dan beberapa negara maju lainnya. Tapi kemudian dengan memahami keterlanjuran ini, saya ingin belajar solusi sederhana untuk masalah ini yang terulang di setiap tahunnya.
Saya tidak memiliki cukup bukti bahwa beton/semen tidak mampu meresapkan air. Tapi saya berbicara pada rata-rata manusia yang membuat konstruksi bangunan (rumah, ruko, kantor, dll) dengan menggunakan bahan yang sebisa mungkin tidak bisa ditembus air. Bahkan sebagian yang lain, menambahkan bahan waterproofing agar benar-benar tak tertembus rembesan air. Sayangnya, bahan-bahan dalam pembuatan bangunan ini juga dipergunakan di halaman-halaman rumah, area khusus pejalan kaki, jalananan yang ada di taman, dan trotoar di tepi jalan. Padahal sebenarnya tanpa harus dialirkan ke sungai, air bisa saja diserap oleh tanah. Akan tetapi, bahan-bahan jenis beton tadi, setidaknya memiliki partikel yang amat rekat hingga membutuhkan waktu lama untuk melihatnya mengering diserap, dan kembali pada masalah awal: banjir tak bisa memberi toleransi sampai daratan mengering. Maka dari itu, terbayang kemudian dalam benak saya jika seandainya konstruksi yang bukan tempat berlindung dan bukan arena angkutan berat tadi menerapkan konsep bahan daya serap tinggi atau berpori. Ini sederhana saja, air diserap ke tanah dan kemudian mengalirkannya lagi ke celah-celah tanah yang lain.
Anda mungkin akan mengatakan tulisan ini telah basi. Mengingat upaya dengan prinsip drainase berwawasan lingkungan ini telah menemui berbagai variasi selain Water Harvesting seperti di atas. Tapi saya mencoba memulai alam bawah sadar dengan memerhatikan hal sederhana di sekitar kita sebagai solusi yang harus kita gerakkan bersama-sama. Seperti yang saya tuliskan di awal, pikiran kotor saya mengatakan itu tidak memengaruhi apa-apa jika saya hanya berpikir sendiri dan hanya saya yang memperoleh itu. Kita telah sama-sama menyadari bencana kelebihan air yang meresahkan ini bukan hanya soal pertumbuhan konstruksi-konstruksi yang semakin padat dan mewah. Tapi juga perihal lainnya seperti ruang kota yang telah abu-abu dan kehilangan anggunnya pepohonan, atau masalah sampah yang nakal, dan apa yang kita sebut keniscayaan dunia. Tapi dunia juga berniscaya untuk maju dan bersaing. Oleh karena itu kita memperjuangkan apa yang kita namakan ‘milik kita’, ‘milik saya’. Negara ini kita sebut milik kita, lantas kita mepertahankannya dengan terus berinovasi dan tetap belajar pada segala hal. Kita bersaing dengan apa yang kita miliki di tengah kemelut rumit yang semakin menjadi.*