08/06/2026
PCB Bersama Bendesa Adat Mereresik Kayoan/Pesiraman
Setelah mimin membaca buku ‘Reset Indonesia’ karya empat jurnalis lintas generasi (Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu) yang telah keliling Indonesia selama satu tahun lebih menggunakan sepeda motor (2022-2023) untuk melihat Indonesia lebih dekat. Tentu yang bikin mimin nelangsa ketika membaca buku ini bukan persoalan mereka keliling Indonesia mengendarai motor, akan tetapi bagaimana mimin diajak untuk melihat lebih jauh menyoal krisis air yang melanda negeri ini. Pada bagian prolog yang ditulis oleh Mas Dandy Laksono yang berjudul ‘Mencari Ukuran Kemajuan; Ekspedisi Sungai Nusantara’. Di rumah-rumah di London, New York, Tokyo, atau Seoul, kita bisa langsung minum di air keran dapur atau kamar mandi tanpa takut mules, mencret, dan penyakit sejenisnya.
Tapi di Jakarta hampir 80 persen rumah tangga harus minum air kemasan. Air keran tak mungkin dimasak. Persentase setinggi itu disusul provinsi lain seperti Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Utara. Dari 38 provinsi di Indonesia, ada 10 provinsi yang 50 persen penduduknya kini harus membeli air minum.
Lalu apa hubungannya narasi di atas dengan kayoan/pesiraman (sumber air) di Banjar Kebon? Jadi begini, mimin ingin mengajak masyarakat di Banjar Kebon untuk selalu bersyukur dan menyadari atas melimpahnya air bersih sampai bisa masuk ke rumah-rumah tanpa harus membeli dengan harga yang mahal. Mungkin saja, jikalau kayoan/pesirman ini tidak dirawat secara sekala dan niskala fenomena seperti yang terjadi di Jakarta memungkinkan akan terjadi. Secara niskala menghaturkan berupa banten ketika piodalan, melukat, nunas tirta. Implementasi sekala berupa membersihkan jalur kayoan/pesiraman sampai ke sumber air. Kemudian yang paling penting adalah melakukan penghijauan di sekitar sumber air sehingga kandungan air akan tetap terjaga.
Kembali lagi pada judul prolog yang di tulis Mas Dandhy ‘Mencari Ukuran Kemajuan’. Menurut perspektif mimin, mencari kemajuan sebuah komunitas terkecil (banjar) bukan hanya diukur dari berapa penghasilan per kapita, di mana dan apa saja aset yg dimiliki warganya, banyaknya jumlah tabungan atau aset berupa benda maupun tidak banjar/adat, seberapa maju lembaga terkaitnya, dan lain-lain. Tetapi tolok ukur kemajuan sebuah banjar bisa dilihat dari masyarakatnya mudah mengakses air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air adalah kebutuhan dasar yang harus diperoleh oleh setiap orang (UU pun bicara itu). Maka, konklusinya mari jaga bersama-sama kayoan/pesiraman ini agar terus mengalirkan manfaat bagi masyarakat Banjar Kebon. Serukan solidaritas merawat ‘aset’ (baca: kayoan/pasiraman) ini agar bisa dinikmati dari generasi ke generasi. Kalau tetua dahulu menyebutnya ”apang kanti sekayang-kayang”.