Pichi Cello Bone

Pichi Cello Bone Br.Kebon | Media Pergerakan Pendidikan, Sosial,Seni, dan Budaya | Sejak 2010

Puncak Acara Pitra Yadnya (Ngaben)Kebon, 7 Agustus 2026
07/08/2026

Puncak Acara Pitra Yadnya (Ngaben)

Kebon, 7 Agustus 2026

ngagahkebon, 7 agustus 2026
07/08/2026

ngagah

kebon, 7 agustus 2026

Rangkian Upacara Pitra Yadnya Kebon, 5 Agustus 2026
05/08/2026

Rangkian Upacara Pitra Yadnya

Kebon, 5 Agustus 2026

Selamat hari raya Galungan dan Kuningan untuk seluruh umat sedharma. Semoga kemenangan dharma selalu menyertai kita di s...
17/06/2026

Selamat hari raya Galungan dan Kuningan untuk seluruh umat sedharma. Semoga kemenangan dharma selalu menyertai kita di setiap langkah demi langkah kedepanya. Rahayu.



PCB Bersama Bendesa Adat Mereresik Kayoan/PesiramanSetelah mimin membaca buku ‘Reset Indonesia’ karya empat jurnalis lin...
08/06/2026

PCB Bersama Bendesa Adat Mereresik Kayoan/Pesiraman

Setelah mimin membaca buku ‘Reset Indonesia’ karya empat jurnalis lintas generasi (Farid Gaban, Dandhy Laksono, Yusuf Priambodo, dan Benaya Harobu) yang telah keliling Indonesia selama satu tahun lebih menggunakan sepeda motor (2022-2023) untuk melihat Indonesia lebih dekat. Tentu yang bikin mimin nelangsa ketika membaca buku ini bukan persoalan mereka keliling Indonesia mengendarai motor, akan tetapi bagaimana mimin diajak untuk melihat lebih jauh menyoal krisis air yang melanda negeri ini. Pada bagian prolog yang ditulis oleh Mas Dandy Laksono yang berjudul ‘Mencari Ukuran Kemajuan; Ekspedisi Sungai Nusantara’. Di rumah-rumah di London, New York, Tokyo, atau Seoul, kita bisa langsung minum di air keran dapur atau kamar mandi tanpa takut mules, mencret, dan penyakit sejenisnya.
Tapi di Jakarta hampir 80 persen rumah tangga harus minum air kemasan. Air keran tak mungkin dimasak. Persentase setinggi itu disusul provinsi lain seperti Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan Kalimantan Utara. Dari 38 provinsi di Indonesia, ada 10 provinsi yang 50 persen penduduknya kini harus membeli air minum.
Lalu apa hubungannya narasi di atas dengan kayoan/pesiraman (sumber air) di Banjar Kebon? Jadi begini, mimin ingin mengajak masyarakat di Banjar Kebon untuk selalu bersyukur dan menyadari atas melimpahnya air bersih sampai bisa masuk ke rumah-rumah tanpa harus membeli dengan harga yang mahal. Mungkin saja, jikalau kayoan/pesirman ini tidak dirawat secara sekala dan niskala fenomena seperti yang terjadi di Jakarta memungkinkan akan terjadi. Secara niskala menghaturkan berupa banten ketika piodalan, melukat, nunas tirta. Implementasi sekala berupa membersihkan jalur kayoan/pesiraman sampai ke sumber air. Kemudian yang paling penting adalah melakukan penghijauan di sekitar sumber air sehingga kandungan air akan tetap terjaga.
Kembali lagi pada judul prolog yang di tulis Mas Dandhy ‘Mencari Ukuran Kemajuan’. Menurut perspektif mimin, mencari kemajuan sebuah komunitas terkecil (banjar) bukan hanya diukur dari berapa penghasilan per kapita, di mana dan apa saja aset yg dimiliki warganya, banyaknya jumlah tabungan atau aset berupa benda maupun tidak banjar/adat, seberapa maju lembaga terkaitnya, dan lain-lain. Tetapi tolok ukur kemajuan sebuah banjar bisa dilihat dari masyarakatnya mudah mengakses air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Air adalah kebutuhan dasar yang harus diperoleh oleh setiap orang (UU pun bicara itu). Maka, konklusinya mari jaga bersama-sama kayoan/pesiraman ini agar terus mengalirkan manfaat bagi masyarakat Banjar Kebon. Serukan solidaritas merawat ‘aset’ (baca: kayoan/pasiraman) ini agar bisa dinikmati dari generasi ke generasi. Kalau tetua dahulu menyebutnya ”apang kanti sekayang-kayang”.



Hallo, semeton. Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga tetap dalam keadaan sehat dan bugar. Jangan sakit, hari raya sudah b...
30/05/2026

Hallo, semeton. Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga tetap dalam keadaan sehat dan bugar. Jangan sakit, hari raya sudah banyak menanti. Setelah sekian lama tidak update. Pada kesempatan yang berbahagia ini, kami ingin sedikit melaporkan beberapa kegiatan yang telah berjalan sesuai dengan agenda diawal. Mulai dari kegiatan PCB mengajar (les gratis) yang telah kami laksanakan setiap akhir pekan, pembagian tempat sampah ke masing-masing pekarangan rumah (24 pekarangan), pemasangangan plang bahaya sampah plastik terhadap lingkungan dan kondisi tanah.
Perlu semeton semua memahami bahwa Komunitas Pichi Cello Bone murni lahir dari rahim solidaritas, guyub, tepa selira antaranggota. Ia lahir bukan untuk melayani korporat, investor, kelompok, dan elite partai politik sekalipun. Artinya sikap independensi kami menjadi rel setiap perjalanan kami kedepannya menuju stasiun-stasiun (baca: program-program) berikutnya.
Tentu harapannya, komunitas ini lahir bukan hanya sekadar arena berkumpul (nutur kangin kauh), lebih-lebih sebagai alat perpecahan. Tetapi kehadirannya diharapkan mampu mengakomodasi kepentingan akar rumput yang memiliki orientasi di bidang pendidikan, seni, budaya, sosial, dan lingkungan.

Nb: gambar hanya pemanis



Address

Banjar Kebon
Bangli
80661

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Pichi Cello Bone posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share