Teman Beramal

Teman Beramal Ruang Beramal Indonesia merupakan wadah bagi orang-orang yang tergerak dalam misi kemanusiaan

Kolaborasi Kemanusiaan Untuk Korban Kebencanaan Sukabumi Banyak Sekali rumah dan infrastruktur yang hancur akibat bencan...
25/12/2024

Kolaborasi Kemanusiaan Untuk Korban Kebencanaan Sukabumi
Banyak Sekali rumah dan infrastruktur yang hancur akibat bencana alam ini
Dalam merespons bencana alam yang melanda Sukabumi Selatan, Ruang Beramal Indonesia berkolaborasi dengan berbagai NGO seperti Amal Baik Insani, Beramaljariyah, Kintakun, serta Forum Ormas, OKP, dan LSM (FO2KP) Kecamatan Cipatat.

News Link : https://ruangberamalindonesia.blogspot.com/2024/12/ruang-beramal-indonesia-berkolaborasi.html
Mari ukir kembali senyum mereka dengan memberikan ruang kebahagiaan melalui nomor rekening :

Bank Mandiri 13200-00077-660
A.n Yayasan Ruang Beramal Indonesia
(Konfirmasi donasi melalui pesan DM)🤍

TELAH TERSALURKAN STROLLER UNTUK NIA Alhamdulillah tim relawan Ruang Beramal Indonesia telah menyalurkan donasi titipan ...
19/06/2024

TELAH TERSALURKAN STROLLER UNTUK NIA
Alhamdulillah tim relawan Ruang Beramal Indonesia telah menyalurkan donasi titipan dari sahabat beramal semua
Mudah-mudahan stroller ini bermanfaat untuk nia
dan terimakasih banyak untuk sahabat beramal semua mudahan-mudahan kebaikannya bisa dibalas berkali lipat oleh Yang Maha Kuasa. Aamiin

Salam Hangat Berbagi
Ruang Beramal Indonesia

Tentu sudah tak lazim melihat penjual tembakau keliling saat ini. Namun siang itu tampak seorang pria tua duduk di sampi...
14/06/2024

Tentu sudah tak lazim melihat penjual tembakau keliling saat ini. Namun siang itu tampak seorang pria tua duduk di samping jalan tengah menjajakan dagangannya yang berupa tembakau.

Namanya adalah abah Idi, ia saat ini telah berusia 80 tahun. Abah Idi biasanya berjualan pada siang menjelang sore. Bukan tanpa alasan, hal itu karena abah Idi harus mengurus isterinya Imas (74) terlebih dahulu.

Isteri bah Idi yang terkena Asam Urat kondisinya cukup parah, kondisinya menyebabkan isterinya kesulitan untuk berjalan normal. Itulah mengapa abah Idi harus merawatnya terlebih dahulu saat pagi hari sebelum ia berangkat berjualan. Hal ini karena abah Idi dan isterinya tidak dikaruniai keturunan, sehingga isterinya sangat bergantung pada Abah Idi.

Selain dari berjualan tembakau, abah Idi juga bekerja sebagai buruh serabutan. Ia terkadang mengerjakan permintaan tetangganya untuk membersihkan kebun milik mereka demi memenuhi kebutuhan hidupnya Bersama dengan sang isteri. Tak besar upah yang ia dapatkan, karena ia tak pernah mematok harga untuk membersihkan kebun.

Ia hanya menerima uang seikhlasnya dari para pemilik kebun. Sedangkan dari hasil berjualan tembakau, ia hanya mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 1.500,- untuk penjualan per satu bungkus tembakau. Itulah mengapa kondisi perekonomian abah Idi saat ini cukup menyulitkan bagi abah Idi.

Banyak beban pikiran yang harus abah Idi tanggung, ia sangat ingin mengobati isterinya agar bisa sembuh seperti semula. Namun ia tak memiliki biaya untuk membawa isteriya berobat ke dokter.
Belum lagi posisi rumahnya yang terletak di daerah yang cukup terpencil menambah sulitnya abah Idi untuk membawa isterinya.

Akses menuju ke rumahnya hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih 15 menit dari jalur yang bisa dipakai oleh kendaraan roda dua. Keadaan rumah abah Idi juga sangat memprihatinkan.

Rumah yang mereka tinggali saat ini hanya berukuran 3x4 meter persegi. Itupun dengan kondisi bagian dapur yang sudah ambruk. Entah kapan bagian utama rumah juga kemungkinan akan menyusul dengan terlihatnya beberapa retakan dan kondisi tembok yang telah menua. Tak perlu ditanyakan lagi tentu kondisi saat hujan turun, beberapa kebocoran akan terlihat di rumah tua itu.

Abah Idi berharap ia dapat mengobati isterinya hingga sembuh. Ia juga berharap ia dapat memperbaiki rumahnya agar ia dan isterinya bisa tidur nyenyak saat malam hari. Abah Idi juga memiliki Impian untuk mempunyai modal usaha agar ia tak lagi harus berkeliling menjajakan tembakau dan meninggalkan isterinya sendiri di rumah.

Namun ia masih tidak tahu darimana ia bisa mendapatkan modal untuk membuka usaha kecil di rumahnya. Karena untuk berobat dan memperbaiki rumahnya saja ia belum mampu. Abah Idi hanya berdo’a dan berharap aka nada keajaiban yang terjadi dalam kehidupannya yang sedang ia jalani saat ini.

Insan Baik, mari kita bantu mewujudkan mimpi abah Idi untuk menyembuhkan isterinya dan memperbaiki rumah tempat ia dan isterinya tinggal sebelum roboh. Serta mari wujudkan mimpi abah Idi untuk mempunyai usaha kecil di rumahnya agar ia bisa merawat dan menemani isterinya tanpa harus pergi meninggalkannya sendiri di rumah.

Titipan donasi melalui nomor rekening :
💳 Mandiri 13200-00077-660
A.n Yayasan Ruang Beramal Indonesia

Konfirmasi Donasi Melalui pesan Fecebook
(Ruang Beramal Indonesia)

✨TELAH TERSALURKAN UANG TUNAI DAN JUGA ALAT SEKOLAH✨Alhamdullilah telah tersalurkan donasi dari sahabat beramal semua un...
12/06/2024

✨TELAH TERSALURKAN UANG TUNAI DAN JUGA ALAT SEKOLAH✨

Alhamdullilah telah tersalurkan donasi dari sahabat beramal semua untuk Adik-adik yang membutuhkan, semoga bantuan ini semua bisa bermanfaat
Dan terimakasih banyak untuk Sahabat Beramal semua mudah-mudahan kebaikannya bisa digantikan dengan rezeki yang berlimpah Aamiin
Ayo dukung terus dan selalu menebar kebaikan, berapapun yang Sahabat Beramal berikan untuk mereka itu sangat berarti
Bersama Ruang Beramal Kekalkan Kebaikan Ciptakan Kebahagiaan
Salam Hangat Berbagi
Ruang Beramal

Sebuah rumah tua semi permanen berdiri di atas tanah carik tampak terlihat mencolok karena posisinya yang tergolong jauh...
11/06/2024

Sebuah rumah tua semi permanen berdiri di atas tanah carik tampak terlihat mencolok karena posisinya yang tergolong jauh dari perumahan warga yang lain. Di rumah inilah hidup mak Ucid yang berusia 79 tahun. Ia tak mampu lagi berjalan karena mengalami kelumpuhan, hal ini disebabkan oleh faktor usia dan rematik yang ia derita. Ia hanya bisa merangkak saat ingin berpindah atau ingin beraktifitas di rumah itu.

Mak Ucid yang saat ini hidup sebatang kara dirawat oleh kerabat dan tetangga yang sesekali datang untuk melihat kondisinya secara bergantian. Ia telah hidup dalam kondisi ini selama beberapa tahun belakangan. Ia hanya bisa berharap dari orang di sekitarnya untuk bisa makan setiap harinya.

Suami mak Ucid telah lama meninggal dunia, anaknya saat ini bekerja sebagai kuli bangunan di luar p**au dan secara berkala mengirimkan uang yang tak seberapa dari hasil kerjanya di sana melalui kerabat yang dekat dengan tempat tinggal mak Ucid. Itulah mengapa sampai saat ini mak Ucid masih mampu bertahan meski dengan segala keterbatasannya.

Mak Ucid hanya bisa berharap dari belas kasihan orang-orang disekelilingnya. Tak banyak yang mak Ucid harapkan saat ini, ia hanya berharap bisa makan setiap hari. Karena terkadang ia harus terpaksa memakan nasi basi untuk mengganjal perutnya saat tidak ada yang datang ke rumah itu.

Tak terbayangkan hari-hari yang mak Ucid lalui dalam kesendirian. Saat malam datang, ia harus melalui sepinya malam sendiri dalam sepi. Terlebih saat ia jatuh sakit, ia harus menahan rasa sakit itu sendiri tanpa ada siapapun di sampingnya.

Di usia senjanya ia tak tahu sampai kapan ia akan bisa bertahan. Karena Sang Pencipta bisa saja memanggilnya kapan saja saat ia sendiri. Ia berharap saat itu datang akan ada seseorang yang mendampinginya. Namun mak Ucid yang masih bisa sering tersenyum ditengah kondisinya itu mengatakan jika ia siap menerima takdir yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta.

Sahabat Beramal, tak banyak yang bisa diceritakan dari kehidupan mak Ucid saat ini. Namun kondisi mak Ucid jelas sangat membutuhkan bantuan dari kita semua agar ia bisa menjalani kebahagiaan di usia senjanya. Mari bantu mengukir senyuman di wajah mak Ucid dengan memberikan yang terbaik untuk kehidupan mak Ucid. Berapapun yang kita berikan kepada mak Ucid tentu akan sangat membantu bagi kehidupan dan kebahagiaan mak Ucid.

Titipan donasi melalui nomor rekening :
💳 Mandiri 13200-00077-660
A.n Yayasan Ruang Beramal Indonesia

Konfirmasi Donasi Melalui pesan Fecebook
(Ruang Beramal Indonesia)

Seorang nenek tampak berjalan terbungkuk dan tertatih sembari membawa beberapa ikat kue moci di tangan kanannya serta me...
04/06/2024

Seorang nenek tampak berjalan terbungkuk dan tertatih sembari membawa beberapa ikat kue moci di tangan kanannya serta menggandeng tangan seorang pria paruh baya yang terlihat menderita stroke.

Ia adalah nenek Upi, nenek Upi saat ini telah berusia 85 tahun. Ia berprofesi sebagai penjual kue mochi keliling. Suaminya telah lama meninggal dunia dan anak satu-satunya Dadang (55) saat ini menderita stroke yang cukup berat hampir tujuh tahun terakhir, sehingga ia hanya bisa bergantung kepada ibunya seorang.
Dadang tak mampu lagi bekerja dan berkegiatan seperti dulu karena tangan dan kaki kanannya sudah sulit untuk ia gerakan.

Ia juga sudah tidak mampu berkomunikasi dengan baik karena kondisinya. Bahkan saat kami mencoba bertanya kepadanya, ia hanya bisa menangis seolah menyesali kondisi dan keadaan yang ia alami. Padahal jauh dilubuk hatinya, ia ingin membahagiakan ibunya. Bukan malah menjadi beban bagi ibu yang sangat ia sayangi itu.

Nenek Upi dan Dadang saat ini tinggal di sebuah rumah panggung yang telah lapuk dimakan usia. Entah sampai kapan rumah itu akan kuat untuk bertahan melindungi mereka berdua. Nenek Upi yang berharap ingin memperbaiki rumahnya tak tahu kapan ia bisa mewujudkan harapannya itu. Karena dengan penghasilannya menjual kue moci yang ia pinjam dari orang lain, ia hanya bisa mendapatkan Rp. 2.000,- dari setiap kue moci yang ia jual.

Tentu saja penghasilan yang ia dapatkan tidaklah menentu. Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan saja ia sudah sangat kesulitan. Belum lagi ia harus memikirkan kesehatan anaknya. Nenek Upi berharap ia bisa mengobati sang anak, namun ia kesulitan untuk melakukannya karena ia juga harus memprioritaskan kebutuhan sehari-hari mereka berdua. Terutama untuk mengisi perut mereka berdua setiap harinya.

Kendati demikian Nenek Upi tetap berharap suatu saat nanti ia bisa mengobati anaknya sebelum ia pergi. Ia berharap ada keajaiban yang bisa membuat anaknya sembuh Kembali seperti sedia kala. Nenek Upi juga berharap ia bisa memperbaiki rumah panggung miliknya agar tidak membahayakan dirinya dan juga anaknya yang sangat ia sayangi itu. Meskipun ia tidak tahu bagaimana dan darimana ia bisa mendapatkan uang untuk mewujudkan harapannya itu.

Nenek Upi hanya bisa sekedar berusaha dan berdo’a agar suatu saat harapan nenek bisa terkabul. Nenek Upi yang tak pernah mengeluh ini masih sering tersenyum dan tertawa saat berbincang menceritakan kisah hidupnya yang getir.

Sungguh kesabaran yang luar biasa dalam menjalani kerasnya kehidupan yang selama ini harus ia lalui. Nenek Upi juga berharap ia bisa memiliki modal untuk membuka warung kecil di rumahnya agar ia setidaknya tidak harus berkeliling lagi bersama dengan anaknya untuk mencari sesuap nasi. Karena dengan tubuhnya dan juga kondisi anaknya tentu sudah sangat sulit bagi mereka untuk
terus berkeliling menjajakan dagangan seperti saat ini.

Sahabat Beramal, mungkin nenek Upi tak mampu mewujudkan harapannya sendiri tanpa bantuan dari kita semua. Mari buka hati untuk bersama-sama membangun kehidupan nenek Upi agar ia bisa menikmati usia senjanya dengan penuh kebahagiaan.

Mari bantu Dadang agar kembali sembuh seperti sedia kala agar ia juga bisa membahagiakan ibunya dan mampu menjalani masa depannya dengan keadaan yang lebih baik. Nenek Upi juga membutuhkan modal usaha agar ia tak harus berkeliling lagi untuk mendapatkan sesuap nasi.

Berapapun bantuan yang kita berikan kepada mereka berdua akan sangat membantu untuk mewujudkan harapan mereka berdua. Tentu seberapapun banyaknya yang kita berikan akan menjadi tabungan bagi kita kelak.

Titipan donasi melalui nomor rekening :

💳 Mandiri 13200-00077-660
A.n Yayasan Ruang Beramal Indonesia

Konfirmasi Donasi Melalui pesan Fecebook
(Ruang Beramal Indonesia)

TELAH TERSALURKAN UANG TUNAI DAN JUGA SEMBAKO UNTUK MAK ACAH Alhamdulillah Tim Relawan Ruang Beramal Indonesia Telah Men...
01/06/2024

TELAH TERSALURKAN UANG TUNAI DAN JUGA SEMBAKO UNTUK MAK ACAH
Alhamdulillah Tim Relawan Ruang Beramal Indonesia Telah Menyalurkan Uang Tunai dan Juga Sembako untuk Mak Acah
Mudah-mudahan uang tunai dan juga sembako ini bisa bermanfaat untuk kita semua terutama untuk mak Acah
Dan Jazakumullah Khairan Katsiran kepada Sahabat Beramal Semua yang telah memberikan sebagian rezekinya, semoga kebaikan yang diberikan bisa dibalas berkalipat oleh Allah Swt. Aamiin
Bersama Sahabat Beramal Mari Kekalkan Kebaikan Ciptakan Kebahagiaan
Terima Kasih
Salam Hangat Berbagi
Ruang Beramal Indonesia

Urgent! TBC, Ginjal dan jantung, Menggerogoti tubuh mungil bocah YatimRinka Aulia (12) saat ini hanya bisa merintih mena...
22/05/2024

Urgent! TBC, Ginjal dan jantung, Menggerogoti tubuh mungil bocah Yatim

Rinka Aulia (12) saat ini hanya bisa merintih menahan rasa sakit di perutnya. Ia divonis dokter mengidap TBC Perikonisis enam bulan yang lalu. Kini jantungnyapun terendam cairan hingga perutnya membuncit. Kondisinya semakin di perparah dengan infeksi di ginjal yang membuat Rinka tidak bisa buang air kecil selama beberapa hari hingga kedua kakinyapun membengkak.

Jangan tanya rasa sakitnya, Rinka hanya mampu merintih dan menangis memanggil nama sang Ibu serta Asma sang pencipta, sesekali Ia pun memanggil nama mendiang Almarhum sang Ayah. Setiap malam harus Rinka lalui hampir tanpa terpejam.

Sungguh ironis mengingat ia baru saja setahun yang lalu ditinggalkan oleh sang ayah karena penyakit yang kurang lebih sama.

Rinka yang masih duduk di bangku sekolah dasar tentu masih belum memahami mengapa kondisinya bisa seperti saat ini.
"Saya malu jika teman datang untuk menjenguk, saya takut di bilang hamil karena perut saya jadi besar" Ungkap Rinka dengan polosnya, terbata Ia berucap sambil menahan sakit.

Tanpa sang Ayah, Rinka hanya bisa bersandar pada sang ibu. Ibu Mulyati (30) adalah satu-satunya yang bisa ia harapkan. Ibu Mulyati yang baru saja kehilangan suaminya tentu tak ingin kembali kehilangan orang yang sangat ia sayangi.

"Saya rela bekerja apapun demi bisa membawa Rinka Berobat, saya tidak ingin kehilangan Rinka seperti saya kehilangan Ayahnya. Saya hanya ingin melihat Ia sembuh dan dapat tumbuh dan bermain seperti teman-temanya" Ungkap Bu Mulyati dalam tangisnya.

Ia sadar jika keadaan anaknya kian memburuk saat ini, karena itulah ia melakukan segala cara untuk menyembuhkan sang buah hati. Ibu Mulyati yang saat ini berprofesi sebagai penjual gorengan keliling tentu tidak memiliki penghasilan yang cukup untuk membawa Rinka berobat. Dengan rata-rata penghasilan Rp. 30.000 sehari tentu sangat berat bahkan untuk sekedar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Meski ada BPJS, namun jarak yang jauh serta kebutuhan operasional yang tinggi membuat Bu mulyati hanya bisa membawa Rinka berobat beberapa kali saja itupun di bantu oleh kerabat dan pinjaman dari sana sini. padahal kondisi Rinka memerlukan pengobatan yang intensif dan Rutin.

Kondisi fisik Rinka yang kian hari kian menurun tentu sangat mengancam keselamatannya. Rinka membutuhkan tindakan sesegera mungkin untuk menyelamatkan nyawanya.

Insan Baik, mari kita bersamai perjuangan Ibu Mulyati untuk membawa Rinka berobat. Bantuan kita sangat dibutuhkan untuk keselamatan Rinka saat ini.

Berapapun yang kita berikan tentu akan sangat berarti bagi Rinka dan Ibu Mulyati. Mari selamatkan hidup dan masa depan Rinka agar Ia bisa kembali sekolah dan tersenyum bersama dengan Ibu yang sangat menyayanginya.

Titipan donasi melalui nomor rekening :
💳 Mandiri 13200-00077-660
A.n Yayasan Ruang Beramal Indonesia
Konfirmasi Donasi Melalui pesan Fecebook
(Ruang Beramal Indonesia)

Sedekah Asa untuk Difabel Pejuang KeluargaDari kejauhan tampak seorang penjual mochi seperti tengah berlutut sembari ber...
18/05/2024

Sedekah Asa untuk Difabel Pejuang Keluarga

Dari kejauhan tampak seorang penjual mochi seperti tengah berlutut sembari berjualan di samping jalan raya yang terlihat padat. Namun, ternyata ia bukan sedang berlutut melainkan kondisi salah satu tubuhnya terlahir istimewa dan memaksanya berjalan menggunakan lutut kanan.

Beliau Pak Jakaria (60), terlahir dengan salah satu mata yang tak berfungsi, jari-jari kedua tangan yang berbeda dan kaki yang tidak sempurna. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan berjalan, terlebih menjalani aktivitas sehari - hari. Tak sedikit hinaan dan pandangan iba yang ia terima, tetapi hal itu tidak membuatnya menyerah akan keadaan. Ia tetap berjuang mencari nafkah dan mengejar harapan yang dielukan.

Pak Jakaria pergi dari kampungnya dengan harapan bisa mendapat pekerjaan yang sesuai, mengingat mayoritas pekerjaan di kampung adalah petani yang mengandalkan keutamaan tenaga, sedangkan untuk berjalan pun ia kesulitan. "Saya pergi dari kampung ingin cari pekerjaan, di kampung kebanyakan kerja tani, itu terlalu berat buat saya", beliau menjelaskan.

Pendapatannya dari berjualan mochi tidaklah besar sebab ia hanya membantu menjualkan dagangan orang lain. Jika beruntung ia bisa mendapatkan 10 ribu rupiah dalam satu hari, namun tak jarang p**a ia tidak mendapatkan uang sama sekali. Dengan kenyataan tersebut, Pak Jakaria sering berpuasa untuk menutupi rasa lapar karena kebutuhannya tidak terpenuhi.

Setiap peluh yang dikeluarkannya semata demi keluarga yang ia tinggalkan di kampung. Meski tidak banyak yang bisa ia sisihkan tetap juga ia perjuangkan. Angan Pak Jakaria berandai untuk memiliki warung kecil sebagai usahanya mencari nafkah. Namun dengan kondisi dan realita yang ada, angannya harus terkubur juga. Di balik itu semua, ia tetap percaya dan berharap atas kemungkinan yang hanya semoga bisa menjadi nyata.

Sahabat Beramal, mari kita bantu Pak Jakaria mewujudkan mimpinya. Berapapun donasi asa untuk beliau akan sangat berharga dan membantu. Berikan yang terbaik untuk kebahagiaan sesama.

Titipan donasi melalui nomor rekening :
💳 Mandiri 13200-00077-660
A.n Yayasan Ruang Beramal Indonesia

Konfirmasi Donasi Melalui pesan Fecebook
(Ruang Beramal Indonesia)

Urgent! Bantu Pejuang Kanker Wajah Berobat"Ya Alloh Sakit, Ampun Ya Alloh" Raung Indri berusaha mengecilkan suaranya kar...
17/05/2024

Urgent! Bantu Pejuang Kanker Wajah Berobat

"Ya Alloh Sakit, Ampun Ya Alloh" Raung Indri berusaha mengecilkan suaranya karena enggan membangunkan sang suami yang baru saja terlelap di sampingnya setelah sepanjang malam menemani nya yang memang jarang sekali bisa tidur lelap kaeena rasa sakit yang selalu mendera khususnya pada malam hari.

Indriani (25) harus menahan sakit dan tidak percaya diri akibat penyakit kanker wajah yang dideritanya. berawal dari lubang gigi yang terkena infeksi dan semakin parah hingga menjadi kanker sampai saat ini.

Wajahnya membengkak dan menghitam akibat cairan yang terus bertambah. Bagian mulut atas dan bawah tertarik akibat pembengkakan yang terjadi. Jangankan untuk mengunyah, membuka mulutpun Ia tak sanggup. Hingga untuk makan Indri harus menggunakan selang dan hanya bisa makan sudu khusus pengganti makanan.

Meski Indri pernah menjalani operasi, namun kanker ternyata masih terus tumbuh dan merusak hampir seluruh wajah Indri. diperlukan tindakan lanjutan dan operasi rekonstruksi wajah secepatnya agar kanker tersebut tidak menjalar dan mengancam nyawa Indri.

Namun kekhawatiran yang lain terus menggelayut di fikiran Indri, darimana biaya untuk operasional berobat yang tidak sedikit itu, sedangkan sang suami hanyalah seorang buruh bangunan yang seringnya tidak bekerja selain karena jarang yang membutuhkan jasanya pun kondisi Indri yang memaksanya sering menolak pekerjaan yang jauh karena harus sambil merawat Indri.

Setiap hari kanker yang terus membengkak dibersihkannya, Juga memastikan agar Teh Indri tetap bisa makan melalui selang yang dimasukkan ke dalam mulut. Suaminya berharap penuh atas kesembuhan sang istri, sebab itulah alasan ia terus bertahan dan berjuang sampai saat ini.

Sahabat Beramal, yuk sama-sama sisihkan rezeki untuk membantu pengobatan Indriani. Berapapun Donasi yang akan Insan Baik berikan sangat berarti untuk Teh Indriani. Titipan donasi melalui nomor rekening :
💳 Mandiri 13200-00077-660
A.n Yayasan Ruang Beramal Indonesia

Konfirmasi Donasi Melalui pesan Fecebook
(Ruang Beramal Indonesia)

Address

Mandala Wangi No. 55, Mandalawangi, Kec. Cipatat, Kabupaten Bandung Barat
Bandung
40554

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Teman Beramal posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share