21/10/2022
KAJIAN JUM’AT PAGI
Jum’at Kliwon, 21 Oktober 2022/25 Rabi’ul Ula 1444 H
==============================
AL-IRHASH PADA DIRI NABI MUHAMMAD SAW
(Oleh: WARDI,S.PD.M.A.
NBM : 1205 6088 620153
PCM Semin Majelis Pustaka)
الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ َأَشْهَدُ أَنَّ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ
Sahabat KAMUH Jum’at Pagi yang dirahmati Allah Subhanallah Wa Ta'ala.
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ (31) قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (32)
Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian," Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian," Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah, "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (Qs.Ali ‘Imran: 32-32)
Kandungan Ayat:
Ayat yang mulia ini menilai setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, sedangkan sepak terjangnya bukan pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad Saw.; bahwa sesungguhnya dia adalah orang yang dusta dalam pengakuannya, sebelum ia mengikuti syariat Nabi Saw. dan agama yang dibawanya dalam semua ucapan dan perbuatannya. (Tafsir Ibnu Katsier)
Irhas adalah keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada calon Rasul yang belum dinyatakan sebagai Rasul. Banyak sekali al-irhashs (peristiwa tanda calon Nabi dan Rasul) diberikan Allah kepada diri Muhammad binn Abdullah bin Abdul Muthalib. calon Nabi dan Rasul pamungkas ini.
Karena keterbatasan, kita sampaikan sebagian saja, Semoga bermanfaat dan menambah rasa cinta kita kepada beliau..
Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ؛ أَنَّ رَجُلاً قَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ ، مَتَى السَّاعَةُ ؟ قَالَ : وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ؟ قَالَ : لاَ ، إِلاَّ أَنِّي أُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ ، قَالَ : فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ .قَالَ أَنَسٌ : فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ ، بَعْدَ الإِسْلاَمِ ، فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم : إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Ada seorang lelaki datang kepada Nabi SAW, lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, kapan Hari Kiamat tiba?’ Beliau bertanya kembali kepadanya, ‘Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menghadapi Hari Kiamat?’ Lelaki tersebut menjawab, ‘Cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.’ Kemudian Rasulullah SAW berkata, ‘Sesungguhnya engkau akan bersama-sama orang yang engkau cintai’,” (Muttafaq ‘alaih).
TENTARA GAJAH (AL-FIIL)
Tahun kelahiran NabiMumammad saw disebut tahun Gajah. Ini adalah al-irhashatun, tanda-tanda kenabian dan calon Rasul.
Berkenaan ini, Allah menurunkan Alqur’an surat al-Fill ayat 1-5, untuk mengingatkan kaum Quraisy bahwa Allah telah menyelamatkan mereka dari serangan tentara bergajah
Allah, dengan tangan keluarga Nabi Irahim, telah membangun Baitullah (Ka’bah). Sejak itu p**a Ka’bah sudah dikenal sebagai pusat kegiatan ibadah haji.
Abrahah Bangun Gereja Al-Qullais
Abrahah bin ash-Shabah adalah wakil raja Najasyi untuk wilayah Yaman. Dia bermaksud menyaingi Ka’bah itu. Dia membangun sebuah gereja diberi nama Al-Qullais yang bermakna bangunan tinggi, megah dan indah. Tujuannya, agar orang-orang tidak lagi berbondong-bondong berhaji ke Makkah/Baitullah akan tetapi pindah menuju gerejanya tersebut.
Mendengar rencana buruk ini, seorang laki-laki dari Kinanah, datang memasuki gereja itu di waktu malam lalu dia buang hajat dan mengoles-ngoleskannya di dinding gereja. Melihat perbuatan ini, Abrahah merasa dihina, dia marah dan bersumpah akan rnenghancurkan Ka’bah/Baitullah.
Kemudian dia berangkat menuju Makkah dengan membawa pas**an gajah. Gajah terbesar diberi nama Mahmud, dan pawangnya bernama Unisa. Gajahnya berjumlah 13 ekor.
Abdul Muttalib
Sikap Abdul Mutthalib patut diteladani. Dia adalah penguasa Mekah, nenek Rasulullah Muhammad Saw. Ketika beliau merasa tidak mampu menandingi kekuatan Raja Abrahah itu, beliau hanya pasrah total kepada Allah.
Abrahah memasuki kawasan Makkah, sambil merampas harta penduduk, termasuk 200 ekor unta milik Abdul Mutthalib (kakek Rasulullah SAW) itu.
Abrahah berkata “Kami datang tidak untuk memerangi kalian, Kami datang untuk merobohkan Ka’bah. Jika kalian tidak menghalang-halangi, maka kami tidak akan membunuh kalian.”
Abdul Mutthalib menjawab, “Demi Allah, kami pun tidak ingin memerangimu. Kab’bah adalah Baitullahal-Haram dan rumah khailulaah Nabi Ibrahim AS). Jika Allah melindunginya dari Abrahah, itu semua karena rumah-Nya dan tanah haram-Nya. Semua itu kami pasrahkan kepada Allah. Kami tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Abrahah.”
Abdul Mutthalib berkilah:‘Saya ini hanya tuannya unta. Saya minta kembali 200 unta saya yang kalian rampas.”
“lho!!!???” Abrahah heran, “Kenapa hanya masalah unta? Kenapa tidak membicarakan Ka’bah yang merupakan lambang kemuliaan dan agama Tuan Abdul Mutthalib dan nenek moyangnya.”
Abdul Mutthalib menjawab:‘Sekali lagi, saya ini hanya tuannya unta. Baitullah, Tuhan Allah yang punya. Tuhan akan melindunginya dari kamu.”
Abrahah berkata, “Tidak mungkin. Tuhan tidak bisa mencegah saya.”
Abdul Mutthalib menjawab, “Silahkan teruskan tujuanmu!”
Thairan Ababil
Tidak lama setelah unta dikembalikan, datanglah serangan sekump**an burung. (Thairan Abaabil) atau burung Ababil namanya,. Masing-masing membawa 3 buah batu kerikil (satu kerikil dibawa dengan paruhnya, sedangkan yang dua dibawa dengan dua kakinya).
Burung-burung itu melempari Abrahah dan tentaraya. Setiap yang terkena lemparan, pastilah dia mati, sedangkan yang tidak terkena lemparan dia juga mati karena lari tunggang langgang, ketakutan dan berjatuhan di mana-mana. Termasuk, Abrahah,
*Kelahiran Nabi Muhammad Saw dan Massa Bayinya.*
Beberapa saat setelah peristwa Burung Ababil dan tentara Gajah itulah Rasulullah lahir. Tepatnya tanggal 9 Rabi’ul Awal, hari Senin. Nabi Muhammad lahir di Makkah pada 571 M atau sekitar 1451 tahun lalu, bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 April tahun 571 M. Kitab Sarah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury..
Muhammad lahir dari rahim Aminah binti Wahab bin Abdi Manaf bin Zuhra sebagai anak yatim. Ayahnya, Abdullah bin Abdul Muthalib meninggal dalam perjalanan niaga dari Syam. Abdullah meninggal ketika singgah ke tempat saudara ibunya di Yatsrib (Madinah).
Abdul Muthalib kakeknya amat gembira dan membawa bayi yang baru lahir itu ke Ka'bah, serta memberinya nama Muhammad. Pada hari ketujuh diadakan walimahan dan cucunya itu dikhitankan..
Wanita pertama yang menyusui Muhammad Saw setelah ibundanya adalah Tsuaibah. yang saat itu juga tengah menyusui empat bayi bayinya yaitu Masruh bin Abu Lahab, Hamzah bin 'Abdul Muththalib, Muhammad bin Abdullah, dan Abu Salamah bin 'Abdul Asad al-Makhzumi.
'Abdul Muththalib juga mencari wanita-wanita yang dapat menyusui Muhammad Saw; dia memilih seorang wanita dari kabilah Bani Sa'ad bin Bakr, yaitu Halimah binti Abu Dzuaib sebagai wanita penyusu beliau.
*Pengalaman Luar Biasa Para Pengasuh Muhammad Saw*
Irhas adalah keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT kepada calon Rasul yang belum dinyatakan sebagai Rasul. Banyak sekali al-irhashs (peristiwa tanda calon Nabi dan Rasul) diberikan Allah kepada diri Muhammad calon Nabi dan Rasul pamungkas ini.
Sejak kecil, Muhammad sudah memperlihatkan kelebihan yang luar biasa. Usia 5 bulan beliau sudah pandai berjalan, usia bulan dia sudah pandai berbicara. Pada usia 2 tahun dia sudah bisa dilepas bersama-sama anak Halimah yang lain untuk menggembala kambing.
Saat itulah beliau berhenti menyusu dan karenanya harus dikembalikan lagi kepada ibunya. Dengan berat hati Halimah terpaksa mengembalikan anak asuhnya yang telah membawa berkah itu, sementara Aminah sangat senang melihat anaknya kembali dalam keadaan sehat dan segar
Namun tak lama setelah itu, Muhammad Saw diasuh kembali oleh Halimah karena karena terjadi wabah penyakit di kota Mekah Dalam masa asuhannya kali ini, Halimah maupun anak-anaknya sering menemukan keajaiban di sekitar diri Muhammad Saw. Anak-anak Halimah sering mendengar suara yang memberi salam kepada Muhammad Saw, “Assalamu ‘alaika ya Muhammad,” padahal mereka tidak melihat ada orang di situ.
Dalam kesempatan lain, Dimrah, anak Halimah, berlari-lari sambil menangis dan mengadukan ada dua orang bertubuh besar-besar berpakaian putih menangkap Muhammad Saw. Halimah bergegas menyusul Muhammad Saw. Saat ditanyai, Muhammad Saw menjawab, “Ada 2 malaikat turun dari langit. Mereka memberikan salam kepadaku, membaringkanku, membuka bajuku, membelah dadaku, membasuh dengan air yang mereka bawa, lalu menutup kembali dadaku, tanpa aku merasakan sakit.”
Halimah sangat gembira melihat keajaiban-keajaiban pada diri Muahmmad Saw, namun karena kondisi ekonomi keluarganya yang semakin melemah, ia terpaksa mengembalikan Muhammad Saw, yang saat itu berusia 4 tahun, kepada ibu kandungnya di Mekah.
Dalam Kitab Sarah Nabawiyah karya Syaikh Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury juga dikisahkan beberapa testimoni tentang irhash pada diri Muhammad Saw.
a. Testimoni Ibunda
Rasulullah, farjinya bersinar
Ibnu Sa'ad meriwayatkan bahwa ibunda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berkata: "ketika aku melahirkannya, dari farajku keluar cahaya yang menerangi istana-istana negeri Syam". Imam Ahmad, ad-Darimi dan selain keduanya juga meriwayatkan versi yang hampir mirip dengan riwayat tersebut
b. Testimoni Halimah: penuh keberkahan
Ibnu Ishaq berkata: 'Halimah pernah berkisah: bahwa suatu ketika dia pergi keluar bersama suami dan bayinya yang masih kecil dan menyusui. Dia juga membawa serta beberapa wanita yang sama-sama tengah mencari bayi-bayi susuan. Ketika itu sedang dilanda musim paceklik sedangkan kami sudah tidak memiliki apa-apa lagi, lalu aku pergi dengan mengendarai seekor keledai betina berwarna putih kehijauan milikku beserta seekor onta yang sudah tua. Demi Allah! Tidak pernah hujan turun meski setetespun, kami juga tidak bisa melewati malam dengan tidur p**as lantaran tangis bayi kami yang mengerang kelaparan sedangkan ASI di payudaraku tidak mencukupi. Begitu juga dengan air susu onta tua yang bersama kami tersebut sudah tidak berisi. Akan tetapi kami selalu berharap pertolongan dan jalan keluar.
Aku kembali pergi keluar dengan mengendarai onta betina milikku yang sudah tidak kuat lagi untuk meneruskan perjalanan sehingga hal ini membuat rombongan kami gelisah akibat letih dan kondisi kekeringan yang melilit. Akhirnya kami sampai juga ke Mekkah untuk mencari bayi-bayi susuan akan tetapi tidak seorang wanita pun diantara kami ketika disodorkan untuk menyusui Muhmama Saw melainkan menolaknya setelah mengetahui kondisi beliau yang yatim. Sebab, tujuan kami (rombongan wanita penyusu bayi), hanya mengharapkan imbalan materi dari orang tua si bayi sedangkan Muhammad Saw bayi yang yatim, lantas apa gerangan yang dapat diberikan oleh ibu dan kakeknya buat kami?.
Kami semua tidak menyukainya karena hal itu; akhirnya, semua wanita penyusu yang bersamaku mendapatkan bayi susuan kecuali aku. Tatkala kami semua sepakat akan berangkat p**ang, aku berkata kepada suamiku: 'demi Allah! Aku tidak sudi p**ang bersama teman-temanku tanpa membawa seorang bayi susuan. Demi Allah! Aku akan pergi ke rumah bayi yatim tersebut dan akan mengambilnya menjadi bayi susuanku. Lalu suamiku berkata: 'tidak ada salahnya bila kamu melakukan hal itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kehadirannya di tengah kita suatu keberkahan.
Akhirnya aku pergi ke rumah beliau Shallallahu 'alaihi wasallam dan membawanya serta. Sebenarnya, motivasiku membawanya serta hanyalah karena belum mendapatkan bayi susuan yang lain. Setelah itu, aku p**ang dengan membawanya serta dan mengendarai tungganganku. Ketika dia kubaringkan di pangkuanku dan menyodorkan puting susuku ke mulutnya supaya menetek ASI yang ada seberapa dia s**a, diapun meneteknya hingga kenyang, dilanjutkan kemudian oleh saudara sesusuannya (bayiku) hingga kenyang p**a. Kemudian keduanya tertidur dengan p**as padahal sebelumnya kami tak bisa memicingkan mata untuk tidur karena tangis bayi kami tersebut.
Suamiku mengontrol onta tua milik kami dan ternyata susunya sudah berisi, lalu dia memerasnya untuk diminum. Aku juga ikut minum hingga perut kami kenyang, dan malam itu bagi kami adalah malam tidur yang paling indah yang pernah kami rasakan. Pada pagi harinya, suamiku berkata kepadaku: “Demi Allah! Tahukah kamu wahai Halimah? Kamu telah mengambil manusia yang diberkahi’. Aku berkata: “Demi Allah! Aku berharap demikian”. Kemudian kami pergi keluar lagi dan aku menunggangi onta betinaku dan membawa serta bayi Muhammad Saw. diatasnya. Demi Allah! Onta betinaku tersebut sanggup menempuh perjalanan yang tidak sanggup dilakukan oleh onta-onta teman-temanku, sehingga teman-teman wanitaku dengan penuh keheranan berkata kepadaku:”wahai putri Abu Zuaib! Celaka! Kasihanilah kami bukankah onta ini yang dulu pernah bersamamu?” Aku menjawab: “Demi Allah! Inilah onta yang dulu itu!”. Mereka berkata: Demi Allah! Sesungguhnya onta ini memiliki keistimewaan’.
Kemudian kami mendatangi tempat tinggal kami di perkampungan kabilah Bani Sa'ad. Sepanjang pengetahuanku tidak ada bumi Allah yang lebih tandus darinya. Ketika kami datang, kambingku tampak dalam keadaan kenyang dan banyak air susunya sehingga kami dapat memerasnya dan meminumnya padahal orang-orang tidak mendapatkan setetes air susupun walaupun dari kambing yang gemuk. Kejadian ini membuat orang-orang yang hadir dari kaumku berkata kepada para pengembala mereka: “Celakalah kalian! Pergilah membuntuti ke mana saja pengembala kambing putri Abu Zuaib mengembalakannya.” Meskipun demikian realitasnya, kambing-kambing mereka tetap kelaparan dan tidak mengeluarkan air susu setetespun sedangkan kambingku selalu kenyang dan banyak air susunya.
Demikianlah, kami selalu mendapatkan tambahan nikmat dan kebaikan dari Allah hingga tak terasa dua tahun pun berlalu dan tiba waktuku untuk menyapihnya. Dia tumbuh besar namun tidak seperti kebanyakan anak-anak sebayanya; sebab belum mencapai usia dua tahun dia sudah tumbuh dengan postur yang bongsor. Akhirnya, kami mengunjungi ibunya dan dalam hati yang paling dalam kami sangat berharap dia masih berada di tengah keluarga kami dikarenakan keberkahan yang kami rasakan sejak keberadaannya. Dan itu semua kami ceritakan kepada ibundanya. Aku berkata kepadanya: 'Kiranya anda sudi membiarkan anak ini bersamaku lagi hingga dia besar, sebab aku khawatir dia terserang penyakit menular yang ada di Mekkah.” Kami terus mendesaknya hingga dia bersedia mempercayakannya kepada kami lagi"
c. Testimoni Abdul Muthalib, kakek Rasulullah:
Dia kan menjadi orang besar
Ibnu Hisyam berkata: " Biasanya, 'Abdul Muththalib menghamparkan permadaninya di naungan Ka'bah, lalu anak-anaknya duduk di sekitar permadani tersebut hingga dia keluar, dan ketika itu, tak seorangpun dari anak-anaknya tersebut yang berani duduk-duduk disitu untuk menghormati kedudukannya. Namun tidak demikian halnya dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ; tatkala beliau masih berusia di bawah dua tahun dengan postur tubuh yang bongsor datang dan langsung duduk-duduk di atas permadani tersebut, paman-pamannya serta merta mencegahnya agar tidak mendekati tempat itu.
Melihat tindakan anak-anaknya itu, 'Abdul Muththalib berkata kepada mereka: '”Biarkan saja anakku ini melakukan apa saja! Demi Allah! Sesungguhnya dia nanti akan menjadi orang yang besar!'. Kemudian dia duduk-duduk bersama beliau di permadani itu, mengelus-elus punggungnya dengan tangan kasihnya. Dia merasa senang dengan apa yang dilakukan oleh cucunya tersebut"
d. Testimoni Abuthalib, paman Rasulullah: meminta hujan
Ibnu 'Asaakir mengeluarkan hadits dari Jalhamah bin 'Arfathah, dia berkata: " Ketika aku datang ke Mekkah, Mekah sedang mengalami musim paceklik (tidak turunnya hujan). Orang-orang Quraisy berseru: “Wahai Abu Thalib! Lembah telah mengering airnya dan kemiskinan merajalela, untuk itu mari kita meminta turun hujan!”.
Kemudian Abu Thalib keluar dengan membawa seorang (Muhammad Saw) anak yang laksana matahari yang diselimuti oleh awan tebal pertanda hujan lebat akan turun, dan di sekitarnya terdapat sumber mata air sumur; Abu Thalib memegang anak tersebut, menempelkan punggungnya ke Ka'bah, serta menggandengnya dengan jari-jemarinya. Ketika itu tidak ada sama sekali gumpalan awan, maka tiba-tiba awan menggumpal kemudian turunlah hujan dengan lebatnya sehingga lembah jebol dan lahan-lahan tanah menjadi subur.
e. Testimoni sang Rahib, Buhaira: Cincin kenabian
Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berusia dua belas tahun - ada riwayat yang menyatakan; dua belas tahun dua bulan sepuluh hari - pamannya, Abu Thalib membawanya serta berdagang ke negeri Syam hingga mereka sampai di suatu tempat bernama Bushra yang masih termasuk wilayah Syam dan merupakan ibukota Hauraan . Ketika itu juga, Syam merupakan ibukota negeri-negeri Arab yang masih dibawah kekuasaan Romawi.
Di negeri inilah dikenal seorang Rahib yang bernama Buhaira. Ketika rombongan tiba, dia langsung menyongsong mereka padahal sebelumnya tidak pernah dia lakukan hal itu, kemudian menyampiri mereka, satu-persatu hingga sampai kepada Rasulullah lalu memegang tangannya sembari berkata: "Inilah penghulu para makhluk, inilah Rasul Rabb alam semesta, dia diutus oleh Allah sebagai rahmat bagi alam semesta ini".
Abu Thalib dan pemuka kaum Quraisy bertanya kepadanya: "Bagaimana Anda tahu hal itu?". Dia menjawab: "Sesungguhnya ketika kalian menanjak bebukitan, tidak satupun dari bebatuan ataupun pohon melainkan bersujud terhadapnya, dan kedua makhluk itu tidak akan bersujud kecuali terhadap Nabi. Sesungguhnya aku dapat mengetahuinya melalui cincin kenabian yang terletak pada bagian bawah tulang rawan pundaknya yang bentuknya seperti apel. Sesungguhnya kami mengetahui beritanya dari kitab suci kami. Kemudian barulah sang Rahib mempersilahkan mereka dan menjamu mereka secara istimewa. Lalu dia meminta kepada Abu Thalib agar memulangkan keponkannya tersebut ke Mekkah dan tidak lagi membawanya serta ke Syam sebab khawatir bila tercium oleh orang-orang Romawi dan Yahudi. Akhirnya, pamannya mengirimnya bersama sebagian anak-anaknya ke Mekkah.
Wallahu a’lam bish-shomad. Allah yang Mahatahu. Dan hanya kepada-Nya kita bergantung.
نَصْرٌ مِّن اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ