30/10/2024
HADITS DLO’IF DAN BERITA HOAX
Oleh: Achmad Faisal
Hadits secara bahasa berarti “Berita”. Secara istilah adalah, berita tentang Nabi Muhammad SAW, yang meliputi ucapan (Qoul), perbuatan (fi’l), dan persetujuan (taqrir) beliau.
Dlo’if artinya lemah. Hadits dlo’if adalah berita tentang Rasulullah SAW yang diragukan kebenarannya. Bisa karena bermasalah dalam sanad (penyampai hadits, ketersambungan diantara para penyampai hadits, dll), atau matan (konten).
Hadits dlo’if adalah kabar yang mengatasnamakan Nabi Muhammad SAW, tapi diragukan kebenarannya.
Tingkatan hadits dlo’if juga bermacam-macam. Yang paling berat adalah hadits maudhu’ , atau hadits Palsu, yaitu berita viral yang sudah menyebar seolah-olah itu hadits Nabi, padahal setelah diteliti ternyata tidak ada data sama sekali yang menunjukkan sumbernya dan alur kemunculan informasinya.
Berita Hoax adalah berita yang sudah tersebar dan diragukan kebenarannya, bahkan terbukti merupakan berita bohong. Bisa jadi karena tidak jelas siapa yang menyampaikannya, atau kejadiannya benar namun dipelintir, atau sengaja dibuat untuk menipu dan mengelabui.
Di era digital sekarang, berita dengan cepat menyebar luas, menjangkau jutaan orang dalam waktu singkat, hanya bermodal jari.
Namun banyak berita yang beredar, justru berita bohong, alias berita hoax. Penyebaran berita hoax biasanya melalui Social media (facebook, whatsapp, instagram, dll). Apalagi menjelang kontestasi politik, bisa dipastikan bakal banyak beredar berita hoax di sekitar kita.
Dan yang menyebarkannya bisa jadi orang biasa, preman, ibu rumah tangga, karyawan profesional, pengusaha, ustadz, pendeta, jamaah majelis ta’lim, PNS, dan hampir semua golongan.
Dulu, Imam Bukhari, Muslim, Abu Daud, dan muhaddits lainnya, sampai harus berjalan kaki ribuan kilometer, berkunjung ke berbagai negara untuk meneliti apakah benar hadts yang beredar itu berasal dari Rasulullah, atau tidak.
Sekadar gambarannya: dari 600 ribu hadis yang ditampung Imam Bukhari, hanya 2.761 hadis yang dipilihnya, dari 300 ribu yang dikumpulkan Imam Muslim, hanya 4000 yang dipilihnya, dari 500 ribu yang diterima Imam Abu Dawud hanya 4800 yang dipilihnya, dan dari sekitar satu juta hadis yang ditampung Imam Ahmad bin Hanbal hanya 30 ribu hadis yang dipilihnya. Luar Biasa… ternyata hadits dlo’if lebih banyak beredar ketimbang hadits shahih.
Kini, banyak orang dengan seenaknya menyebarkan sebuah berita tanpa mengecek kebenarannya. Padahal di era milenial sekarang, upaya yang bisa dilakukan untuk mengecek kebenaran sebuah berita, tidak membutuhkan waktu lama seperti yang dilakukan oleh Imam Bukhari dan yang lainnya. Kadang untuk mengecek, kita hanya butuh waktu kurang dari lima menit. Dan caranyapun sangat mudah.
Para muhaddits mau bersusah payah meneliti kebanaran suatu hadits, karena takut ancaman dari Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka”
Lantas kenapa sekarang jari kita sering gatal untuk menyebarkan berita yang belum tentu kebenarannya? Bahkan bisa dipastikan berita tersebut merupakan berita bohong, alias Hoax. Padahal ancamannya juga berat: “Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”(Q.S. An-Nuur: 11-12).
Semoga ke depan kita bisa lebih menyaring Berita yang kita terima.
"Saring Saring dulu Sebelum Sharing "