24/12/2022
1.000 BIBIT BUAH-BUAHAN UNTUK PETANI CISANGGARUNG CIKADUT KABUPATEN BANDUNG.
Sayap Kencana Ganjar ( ) membagikan lebih dari seribu bibit buah-buahan, kepada warga Kampung Cisanggarung, Desa Cikadut, Kec. Cimenyan, Kab. Bandung, Selasa (20/12).
Pembagian bibit tersebut merupakan salah satu bentuk kepedulian untuk mengatasi masalah lingkungan di kawasan Bandung utara.
“Kawasan Bandung utara adalah daerah tangkapan air yang harus terjaga kehijauannya, sehingga keberadaannya bisa berfungsi secara optimal.
Bencana lingkungan yang sering terjadi di daerah bawahnya, merupakan dampak kerusakan di wilayah atas,” kata Bah Enjoem, Relawan Ganjar Pranowo
Pada kegiatan yang bertema “Sosialisasi Aksi Konservasi dan Pembagian Bibit” itu, dibagikan berbagai jenis bibit buah-buahan seperti matoa, durian, jeruk sukun, sawo, nangka, jambu, jengkol, dan mangga.
Sekitar seratus warga itu dengan antuas membawa bibit-bibit tersebut untuk ditanam di lahan masing-masing.
Menurut Enjoem, penanaman seribu pohon tersebut tentu tidak sebanding dengan dengan kebutuhan untuk mengatasi krisis lingkungan di Bandung utara.
Akan tetapi kepedulian ini setidaknya memberi kontribusi pada upaya perbaikan lingkungan. Sekecil apapun jumlahnya, tetap bermanfaat dan tidak akan sia-sia.
“Aksi seperti ini bukanlah yang pertama dan terakhir. Insya Allah akan bekelanjutan di lokasi lainnya. Karena lahan yang kritis begitu luas dan membutuhkan tanaman penghijauan lebih banyak lagi,” tuturnya.
Penanaman bibit buah-buahan, lanjutnya, bukan hanya bermanfaat bagi lingkungan, tapi juga akan dirasakan hasilnya saat pohon itu besar dan buah.
Melalui perawatan yang baik, warga akan memanen buah dari pohon yang mereka tanam. Jadi, terdapat dua efek positif yaitu desa memiliki kekayaan gizi dan banjir pun terkendali.
Di halaman rumah
Sementara itu, beberapa warga penerima bibit berencana akan menanamnya di halaman rumah mereka. Sebagian lagi akan menanamnya di lahan pertanian yang mereka garap.
“Saya mah akan menanamnya di halaman rumah saja. Karena masih ada lahan di depan dan samping rumah yang masih bisa diisi pohon,” kata Mak Atih (90).
Selain tidak punya lahan garapan untuk pertanian, usia Mak Atih juga tidak memungkinkan untuk berjalan terlalu jauh dari rumahnya.
Berbeda dengan Sutardi (71), yang punya lahan pertanian, dia akan menanam bibit-bibit tersebut di lahan sayuran yang selama ini digarapnya.
Para petani, ujar Sutardi, memang lebih senang diberi bibit buah-buahan ketimbang bibit pohon kayu. Pohon buah-buahan akan bertahan lama dan hasilnya bisa dirasakan sesuai musimnya. Sedangkan pohon kayu, hanya ditunggu tumbuhnya sampai besar, lalu ditebang untuk berbagai kebutuhan.
“Kami menyambut baik aksi seperti ini. Kami juga ingin terlibat dalam penghijauan lingkungan di Bandung utara.
Namun kendalanya, kan kami tidak punya bibit pohonnya. Kalau beli sendiri kan tidak mungkin pula,” ujar Sutardi.(gp)