03/05/2026
Judul: Penumpang Kursi 17B
1. Tiket Tengah Malam
Aku benci bus malam. Tapi tiket pesawat habis, kereta penuh, dan bosku di Jakarta minta laporan audit PT Sinar Abadi sudah di mejanya jam 8 pagi. Pilihannya cuma Bus Harapan Jaya, keberangkatan 22.00 dari Rajabasa, Bandar Lampung.
Loketnya sepi. Penjaga tiket, Mbah Karno, ngasih aku karcis sambil batuk.
“Kursi 17B, Mas. Deket jendela. Jangan duduk di 17A ya.”
“Kenapa, Mbah?”
Mbah Karno senyum, giginya tinggal dua. “Kosong aja. Kursinya dingin.”
Aku ketawa. Tahayul bus AKAP memang banyak. Ada yang bilang jangan foto di rest area tertentu, jangan nyebut nama “penumpang gelap”. Biasa.
Bus datang jam 21.50. Bus lama, tapi AC-nya nendang. Aku naik, jalan ke belakang. Kursi 17A memang kosong. Di atasnya ada sobekan isolatip kuning bertuliskan: RUSAK - JANGAN DIDUDUKI. Kursi 17B di sebelahnya mulus. Aku duduk, colok headset, merem.
Jam 00.30 bus masuk Tol Terbanggi Besar. Semua penumpang tidur. Lampu kabin diredupin, cuma lampu baca sopir yang nyala.
Tiba-tiba dingin. Bukan AC. Dingin yang nusuk tulang, kayak habis nyelam di kulkas. Aku buka mata.
Di kursi 17A, ada orang.
Perempuan. Baju daster bunga putih. Rambut panjang menutup muka. Tangannya pucat, kuku panjang hitam, megang tiket kertas yang udah lecek.
“Permisi... ini kursi saya,” suaranya pelan, serak, kayak dari dasar sumur.
Aku noleh ke depan. Kondektur lagi tidur. Penumpang lain ngorok.
“Mbak, itu ada tulisan rusak,” kataku. Jantungku udah lari maraton.
Dia angkat muka pelan-pelan. Tidak ada mata. Cuma dua lubang menganga, dan dari dalamnya netes air comberan hitam. Bau busuk langsung nyengat.
“Saya punya tiket, Mas. 17A. Dari tahun 1998.”
2. Kecelakaan yang Tidak Dicatat
Aku hampir teriak, tapi tenggorokanku tercekat. Bus goyang kena jalan gelombang. Perempuan itu hilang. Kursi 17A kosong lagi. Tapi di joknya ada bekas basah, hitam, dan tiket bus kumal.
Aku ambil. PO Harapan Jaya. 14 Februari 1998. Rajabasa - Kp. Rambutan. Kursi 17A. Nama: LASTRI.
Tanganku gemetar. Aku buka HP, sinyal EDGE. Search: “kecelakaan Bus Harapan Jaya 1998”.
Muncul arsip berita lawas. 14 Februari 1998, Bus Harapan Jaya B 7124 UA masuk jurang di KM 87 Tol Bakauheni-Terbanggi. 12 korban tewas. 1 korban tidak ditemukan: Lastri, 24 tahun, penumpang kursi 17A. Jasad diduga terbawa arus sungai di bawah jurang.
Jadi dia... belum sampai tujuan.
Jam 01.10 bus berhenti di rest area KM 163. Aku turun, muntah di toilet. Pas balik, kondektur negur.
“Mas pucet amat. Mabuk darat?”
“Pak, kursi 17A itu kenapa dikosongin?”
Muka kondektur langsung berubah. Dia narik aku ke warung, bisik-bisik.
“Udah 25 tahun, Mas. Tiap malam Jumat Kliwon atau malam 1 Suro, Lastri nagih tiket. Dia mau pulang ke Kampung Rambutan. Tapi sopir baru nggak ada yang berani bawa sampai sana. Kalau dipaksa, bus kecelakaan lagi. Tahun 2005 pernah, sopirnya nekat. Masuk jurang lagi, di KM yang sama.”
“Terus harus gimana?”
“Diikhlasin. Jangan diajak ngobrol. Jangan kasih duduk. Nanti dia turun sendiri pas lewat KM 87.”
Masalahnya, KM 87 itu 20 menit lagi.
3. Penumpang Gelap
Aku balik ke bus dengan kaki lemas. Penumpang udah naik semua. Aku duduk di 17B, merapat ke jendela. Kursi 17A kosong. Tapi dinginnya masih ada.
Bus jalan. 10 menit kemudian, lampu kabin kedip. Tek. Tek. Tek.
Dari spion tengah, aku lihat sopir keringetan, komat-kamit baca ayat kursi.
..Mas... kursi saya...
Suara itu sekarang di kuping kiriku. Aku noleh. Lastri duduk lagi. Kali ini lebih jelas. Daster putihnya sobek, ada luka besar di perut, isinya keliatan. Dia senyum. Giginya hitam semua.
“Anter saya ya, Mas. Saya kangen Ibu. Lebaran 1998 saya janji pulang.”
Air hitam netes ke celanaku. Bau amisnya bikin mual.
“Mb... Mbak Lastri, saya nggak bisa. Saya bukan sopir.”
“Saya tau. Tapi kamu duduk di sebelah saya. Artinya kamu temenin saya. Penumpang 17B itu penjaga 17A. Dari dulu begitu.”
Aku baru ngeh. Mbah Karno tadi... dia sengaja.
Tiba-tiba bus oleng. Sopir teriak, “Astaga! Rem blong!”
Penumpang kebangun, panik. Bus ngebut di turunan KM 90. Di depan ada tikungan maut, jurang yang sama dengan tahun 1998.
Lastri noleh ke kaca. Dari lubang matanya keluar air mata darah.
“Saya nggak mau lagi, Mas. Sakit... jatuh itu sakit...”
Untuk pertama kalinya, aku lihat dia takut. Dia bukan cuma arwah penasaran. Dia korban yang keulang terus memorinya.
Aku panik, tapi entah kenapa aku pegang tangan dinginnya. Keras kayak es.
“Mbak, udah. Nggak usah pulang naik bus. Ibu udah ikhlas. Nama Mbak udah ada di nisan keluarga di Kampung Rambutan. Ibu tiap ziarah selalu bawa kembang favorit Mbak: melati.”
Lastri diem. Bus makin kencang. Sopir udah pasrah, teriak Allahu Akbar.
“Bohong... Ibu nunggu...”
“Nggak bohong, Mbak. Saya audit PT Sinar Abadi. Kantornya di Kp. Rambutan. Depan makam Mbak ada warung Ibu. Namanya Warung Bu Lastri. Ibu yang kasih nama itu biar Mbak nggak ngerasa hilang.”
Ini ngawur. Aku ngarang. Tapi aku harus coba.
Lastri menengok. Lubang matanya pelan-pelan berubah. Muncul bola mata, coklat, basah. Dia nangis beneran.
“Ibu... bikin warung... pake namaku?”
Bus tinggal 50 meter dari jurang. Sopir banting setir ke kiri, nabrak guardrail. Braaak! Kaca pecah. Bus berhenti, ngegantung separo di bibir jurang.
Dan Lastri hilang. Kursi 17A kosong. Tapi di atasnya ada melati putih, masih seger, padahal Februari bukan musimnya.
4. Terminal Terakhir
Tidak ada korban jiwa. Rem bus ternyata tidak blong. Kata mekanik, “kayak ada yang nginjek rem dari bangku belakang”.
Aku turun dengan kaki gemetar. Di guardrail KM 87, ada sesajen kecil: melati, kopi pahit, sama tiket bus 1998 yang tadi dipegang Lastri.
Sebulan kemudian, aku sengaja ke Kampung Rambutan. Benar ada Warung Bu Lastri di depan TPU. Ibu pemiliknya, umur 70-an, matanya rabun.
“Cari siapa, Nak?”
“Anu... Bu, apa bener dulu anak Ibu...”
Ibu itu senyum. “Lastri. Iya. 25 tahun lalu. Tapi seminggu yang lalu Ibu mimpi. Dia pulang, Nak. Pakai daster bunga kesukaannya. Dia bilang, ‘Bu, udah. Lastri udah dianter temen. Kursi 17B baik’. Terus dia cium tangan Ibu, terus hilang.”
Ibu itu nangis, tapi senyum. “Malam itu melati di kuburan mekar semua, padahal kemarau.”
Aku pamit. Di bus pulang ke Lampung, aku minta tiket.
Mbah Karno masih di loket. Dia kasih karcis tanpa lihat aku.
“Kursi 3C ya, Mas. 17B udah pensiun.”
“Pensiun, Mbah?”
Mbah Karno nyengir. “Iya. Penumpangnya udah turun di terminal terakhir.”
Sampai sekarang, Bus Harapan Jaya B 7124 UA nggak pernah kecelakaan lagi. Kursi 17A udah dibongkar, diganti rak air mineral.
Tapi kata kondektur baru, tiap malam 1 Suro, kalau bus lewat KM 87, AC tiba-tiba mati 10 detik. Terus dari arah belakang, kecium bau melati.
Kata sopir-sopir tua, itu Lastri. Cuma nyapa. Ngasih tau kalau dia udah sampai rumah.
Dan aku? Aku udah nggak benci bus malam. Karena kadang, yang kita angkut bukan cuma penumpang. Tapi juga rindu yang nyasar, yang cuma butuh ditemenin sekali lagi sebelum pulang.
[TAMAT]