Padepokan Alfaaruuq

Padepokan Alfaaruuq Padepokan al-Faaruuq | Majelis Dzikir dan Ta'lim al-Faaruuq | Konsultasi Spiritual dan Supranatural

*Pusat Bimbingan Keilmuan Hikmah*

Judul: Penumpang Kursi 17B1. Tiket Tengah MalamAku benci bus malam. Tapi tiket pesawat habis, kereta penuh, dan bosku di...
03/05/2026

Judul: Penumpang Kursi 17B

1. Tiket Tengah Malam

Aku benci bus malam. Tapi tiket pesawat habis, kereta penuh, dan bosku di Jakarta minta laporan audit PT Sinar Abadi sudah di mejanya jam 8 pagi. Pilihannya cuma Bus Harapan Jaya, keberangkatan 22.00 dari Rajabasa, Bandar Lampung.

Loketnya sepi. Penjaga tiket, Mbah Karno, ngasih aku karcis sambil batuk.
“Kursi 17B, Mas. Deket jendela. Jangan duduk di 17A ya.”
“Kenapa, Mbah?”
Mbah Karno senyum, giginya tinggal dua. “Kosong aja. Kursinya dingin.”

Aku ketawa. Tahayul bus AKAP memang banyak. Ada yang bilang jangan foto di rest area tertentu, jangan nyebut nama “penumpang gelap”. Biasa.

Bus datang jam 21.50. Bus lama, tapi AC-nya nendang. Aku naik, jalan ke belakang. Kursi 17A memang kosong. Di atasnya ada sobekan isolatip kuning bertuliskan: RUSAK - JANGAN DIDUDUKI. Kursi 17B di sebelahnya mulus. Aku duduk, colok headset, merem.

Jam 00.30 bus masuk Tol Terbanggi Besar. Semua penumpang tidur. Lampu kabin diredupin, cuma lampu baca sopir yang nyala.

Tiba-tiba dingin. Bukan AC. Dingin yang nusuk tulang, kayak habis nyelam di kulkas. Aku buka mata.

Di kursi 17A, ada orang.

Perempuan. Baju daster bunga putih. Rambut panjang menutup muka. Tangannya pucat, kuku panjang hitam, megang tiket kertas yang udah lecek.

“Permisi... ini kursi saya,” suaranya pelan, serak, kayak dari dasar sumur.

Aku noleh ke depan. Kondektur lagi tidur. Penumpang lain ngorok.

“Mbak, itu ada tulisan rusak,” kataku. Jantungku udah lari maraton.

Dia angkat muka pelan-pelan. Tidak ada mata. Cuma dua lubang menganga, dan dari dalamnya netes air comberan hitam. Bau busuk langsung nyengat.

“Saya punya tiket, Mas. 17A. Dari tahun 1998.”

2. Kecelakaan yang Tidak Dicatat

Aku hampir teriak, tapi tenggorokanku tercekat. Bus goyang kena jalan gelombang. Perempuan itu hilang. Kursi 17A kosong lagi. Tapi di joknya ada bekas basah, hitam, dan tiket bus kumal.

Aku ambil. PO Harapan Jaya. 14 Februari 1998. Rajabasa - Kp. Rambutan. Kursi 17A. Nama: LASTRI.

Tanganku gemetar. Aku buka HP, sinyal EDGE. Search: “kecelakaan Bus Harapan Jaya 1998”.

Muncul arsip berita lawas. 14 Februari 1998, Bus Harapan Jaya B 7124 UA masuk jurang di KM 87 Tol Bakauheni-Terbanggi. 12 korban tewas. 1 korban tidak ditemukan: Lastri, 24 tahun, penumpang kursi 17A. Jasad diduga terbawa arus sungai di bawah jurang.

Jadi dia... belum sampai tujuan.

Jam 01.10 bus berhenti di rest area KM 163. Aku turun, muntah di toilet. Pas balik, kondektur negur.

“Mas pucet amat. Mabuk darat?”
“Pak, kursi 17A itu kenapa dikosongin?”

Muka kondektur langsung berubah. Dia narik aku ke warung, bisik-bisik.
“Udah 25 tahun, Mas. Tiap malam Jumat Kliwon atau malam 1 Suro, Lastri nagih tiket. Dia mau pulang ke Kampung Rambutan. Tapi sopir baru nggak ada yang berani bawa sampai sana. Kalau dipaksa, bus kecelakaan lagi. Tahun 2005 pernah, sopirnya nekat. Masuk jurang lagi, di KM yang sama.”

“Terus harus gimana?”

“Diikhlasin. Jangan diajak ngobrol. Jangan kasih duduk. Nanti dia turun sendiri pas lewat KM 87.”

Masalahnya, KM 87 itu 20 menit lagi.

3. Penumpang Gelap

Aku balik ke bus dengan kaki lemas. Penumpang udah naik semua. Aku duduk di 17B, merapat ke jendela. Kursi 17A kosong. Tapi dinginnya masih ada.

Bus jalan. 10 menit kemudian, lampu kabin kedip. Tek. Tek. Tek.
Dari spion tengah, aku lihat sopir keringetan, komat-kamit baca ayat kursi.
..Mas... kursi saya...

Suara itu sekarang di kuping kiriku. Aku noleh. Lastri duduk lagi. Kali ini lebih jelas. Daster putihnya sobek, ada luka besar di perut, isinya keliatan. Dia senyum. Giginya hitam semua.

“Anter saya ya, Mas. Saya kangen Ibu. Lebaran 1998 saya janji pulang.”

Air hitam netes ke celanaku. Bau amisnya bikin mual.

“Mb... Mbak Lastri, saya nggak bisa. Saya bukan sopir.”

“Saya tau. Tapi kamu duduk di sebelah saya. Artinya kamu temenin saya. Penumpang 17B itu penjaga 17A. Dari dulu begitu.”

Aku baru ngeh. Mbah Karno tadi... dia sengaja.

Tiba-tiba bus oleng. Sopir teriak, “Astaga! Rem blong!”
Penumpang kebangun, panik. Bus ngebut di turunan KM 90. Di depan ada tikungan maut, jurang yang sama dengan tahun 1998.

Lastri noleh ke kaca. Dari lubang matanya keluar air mata darah.
“Saya nggak mau lagi, Mas. Sakit... jatuh itu sakit...”

Untuk pertama kalinya, aku lihat dia takut. Dia bukan cuma arwah penasaran. Dia korban yang keulang terus memorinya.

Aku panik, tapi entah kenapa aku pegang tangan dinginnya. Keras kayak es.
“Mbak, udah. Nggak usah pulang naik bus. Ibu udah ikhlas. Nama Mbak udah ada di nisan keluarga di Kampung Rambutan. Ibu tiap ziarah selalu bawa kembang favorit Mbak: melati.”

Lastri diem. Bus makin kencang. Sopir udah pasrah, teriak Allahu Akbar.

“Bohong... Ibu nunggu...”
“Nggak bohong, Mbak. Saya audit PT Sinar Abadi. Kantornya di Kp. Rambutan. Depan makam Mbak ada warung Ibu. Namanya Warung Bu Lastri. Ibu yang kasih nama itu biar Mbak nggak ngerasa hilang.”

Ini ngawur. Aku ngarang. Tapi aku harus coba.

Lastri menengok. Lubang matanya pelan-pelan berubah. Muncul bola mata, coklat, basah. Dia nangis beneran.
“Ibu... bikin warung... pake namaku?”

Bus tinggal 50 meter dari jurang. Sopir banting setir ke kiri, nabrak guardrail. Braaak! Kaca pecah. Bus berhenti, ngegantung separo di bibir jurang.

Dan Lastri hilang. Kursi 17A kosong. Tapi di atasnya ada melati putih, masih seger, padahal Februari bukan musimnya.

4. Terminal Terakhir

Tidak ada korban jiwa. Rem bus ternyata tidak blong. Kata mekanik, “kayak ada yang nginjek rem dari bangku belakang”.

Aku turun dengan kaki gemetar. Di guardrail KM 87, ada sesajen kecil: melati, kopi pahit, sama tiket bus 1998 yang tadi dipegang Lastri.

Sebulan kemudian, aku sengaja ke Kampung Rambutan. Benar ada Warung Bu Lastri di depan TPU. Ibu pemiliknya, umur 70-an, matanya rabun.

“Cari siapa, Nak?”
“Anu... Bu, apa bener dulu anak Ibu...”
Ibu itu senyum. “Lastri. Iya. 25 tahun lalu. Tapi seminggu yang lalu Ibu mimpi. Dia pulang, Nak. Pakai daster bunga kesukaannya. Dia bilang, ‘Bu, udah. Lastri udah dianter temen. Kursi 17B baik’. Terus dia cium tangan Ibu, terus hilang.”

Ibu itu nangis, tapi senyum. “Malam itu melati di kuburan mekar semua, padahal kemarau.”

Aku pamit. Di bus pulang ke Lampung, aku minta tiket.
Mbah Karno masih di loket. Dia kasih karcis tanpa lihat aku.
“Kursi 3C ya, Mas. 17B udah pensiun.”
“Pensiun, Mbah?”
Mbah Karno nyengir. “Iya. Penumpangnya udah turun di terminal terakhir.”

Sampai sekarang, Bus Harapan Jaya B 7124 UA nggak pernah kecelakaan lagi. Kursi 17A udah dibongkar, diganti rak air mineral.

Tapi kata kondektur baru, tiap malam 1 Suro, kalau bus lewat KM 87, AC tiba-tiba mati 10 detik. Terus dari arah belakang, kecium bau melati.

Kata sopir-sopir tua, itu Lastri. Cuma nyapa. Ngasih tau kalau dia udah sampai rumah.

Dan aku? Aku udah nggak benci bus malam. Karena kadang, yang kita angkut bukan cuma penumpang. Tapi juga rindu yang nyasar, yang cuma butuh ditemenin sekali lagi sebelum pulang.

[TAMAT]

Judul: Penjaga Sumur Tua di Desa KaranganyarUdara malam di Desa Karanganyar lebih pekat dari biasanya. Kabut turun dari ...
02/05/2026

Judul: Penjaga Sumur Tua di Desa Karanganyar

Udara malam di Desa Karanganyar lebih pekat dari biasanya. Kabut turun dari lereng bukit, menyelimuti sawah dan rumah-rumah panggung yang sudah padam lampunya sejak Isya. Hanya satu lampu teplok yang masih menyala, menggantung di beranda rumah Pak Karta, sang kepala desa.

Aku, Rian, wartawan lepas dari Bandar Lampung, datang ke desa ini karena satu hal: cerita tentang sumur tua. Tiga minggu terakhir, lima orang hilang. Tidak ada jejak. Tidak ada mayat. Hanya sandal, senter, atau sarung yang ditemukan di bibir sumur tua di belakang balai desa. Sumur itu sudah ditutup sejak 1982, setelah seorang anak kecil bernama Wati tercebur dan jasadnya tidak pernah ditemukan. Sejak itu, warga percaya sumur itu “bermulut”.

“Jangan ditulis macam-macam, Nak,” kata Pak Karta sambil menuang kopi pahit ke cangkir sengku. Tangannya gemetar. “Yang hilang itu bukan diculik orang. Mereka dipanggil.”

“Dipotong siapa, Pak?”

“Bukan dipotong. Dipanggil sama yang jaga sumur.”

Aku tersenyum tipis. Sebagai orang kota, takhayul seperti ini sudah jadi makanan sehari-hari liputan daerah. Tapi ada yang aneh. Setiap keluarga korban menolak diwawancara. Mata mereka kosong, seperti habis melihat sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Malam itu aku memutuskan ke sumur. Jam 23.15. Berbekal senter, perekam suara, dan kamera poket. Jalan setapak ke belakang balai desa licin oleh lumut. Pohon bambu di kiri-kanan berbisik meski tidak ada angin.

Sumur itu ada. Lingkarannya dari batu kali, ditutup kayu jati tebal dan digembok dengan rantai berkarat. Tapi anehnya, kayu itu basah. Padahal tidak hujan dua minggu. Aku tempelkan telinga ke papan.
..Rian...

Aku tersentak. Suara itu bukan dari dalam sumur. Tapi dari belakangku. Berbisik, tepat di tengkuk. Dingin. Bau tanah basah dan melati layu.

Aku putar badan. Kosong. Hanya bambu dan kabut. Perekamku menunjukkan gelombang suara naik tajam selama 2 detik saat namaku disebut.

“Siapa di situ?” suaraku bergetar, marah pada diriku sendiri karena takut.

Tidak ada jawaban. Tapi dari sela-sela papan sumur, keluar asap tipis, putih, bergerak melingkar lalu membentuk sosok. Tidak utuh. Hanya kepala seorang gadis kecil, rambut panjang menutupi wajah, dengan mata... tidak ada mata. Hanya rongga hitam yang meneteskan air sumur.

“Wati?” aku setengah berbisik.

Kepala itu mendongak. Dari rongga itu keluar suara banyak orang bersamaan, “Balikin... balikin... dia ambil...”

Tiba-tiba gembok sumur terbuka sendiri. Klang. Rantai jatuh. Papan kayu terangkat satu senti, dan dari celah itu meluap bau anyir, seperti darah ikan yang dibiarkan seminggu.

Aku lari. Bukan karena berani. Karena kaki bergerak sendiri.

Besoknya aku demam. Pak Karta datang membawa daun dadap dan garam kasar. “Kamu ditempel, Nak. Untung belum lewat tengah malam.”

“Yang hilang itu kenapa, Pak?”

Pak Karta akhirnya bercerita. Tahun 1982, Wati bukan tercebur. Dia dikorbankan. Kemarau panjang membuat gagal panen. Seorang dukun desa, Mbah Suro, bilang harus ada “tumbal sumur” agar Dewi Sri kembali. Kepala desa saat itu, bapaknya Pak Karta, setuju. Wati, anak yatim piatu yang tinggal di balai desa, dipilih. Dia diikat, diberi bunga tujuh rupa, lalu diturunkan hidup-hidup ke sumur.

“Tapi arwahnya tidak tenang,” bisik Pak Karta. “Mbah Suro bilang, Wati jadi penunggu. Setiap 15 tahun, dia minta ganti. Nyawa dibayar nyawa. Yang hilang kemarin... semua keturunan orang-orang yang dulu setuju sama tumbal itu.”

Aku merinding. “Termasuk Bapak?”

Pak Karta mengangguk. Matanya berkaca-kaca. “Anakku, Dimas. Dia yang hilang pertama.”

Kutanya kenapa tidak dibongkar saja sumurnya. Pak Karta tertawa pahit. “Sudah. Tahun 1998. Pakai ekskavator. Baru gali dua meter, mesinnya mati. Besoknya operatornya gantung diri di pohon bambu. Di sakunya ada kertas, tulisannya ‘Jangan ganggu rumahku’.”

Aku tidak percaya begitu saja. Sebagai wartawan, aku butuh bukti. Malam ketiga, aku kembali. Kali ini bawa kembang tujuh rupa. Kalau memang arwah, aku mau “bicara”.

Jam 00.03, aku taburkan bunga ke tutup sumur. “Wati, aku bukan keturunan mereka. Aku cuma mau dengar ceritamu.”

Angin berhenti. Kabut menebal sampai senterku hanya menembus satu meter. Lalu papan kayu itu pecah dari dalam. Braak!

Dari sumur naik tubuh. Bukan Wati. Seorang laki-laki tua, kulitnya keriput seperti kayu lapuk, mata merah, membawa golok berkarat. Mbah Suro.

“Kamu ngapain bangunin anakku?!” suaranya seperti batu diadu.

Anaknya? Jadi Wati anak Mbah Suro?

“Dia bukan tumbal,” Mbah Suro meludah. Ludahnya hitam. “Kepala desa bohong. Mereka mau tanah bengkok. Anakku tau. Jadi mereka buang dia ke sumur, terus fitnah aku yang nyuruh tumbal.”

Jadi selama ini desa ini hidup di atas dusta.

Mbah Suro mengangkat golok. “Sekarang giliran keturunan mereka habis. Baru adil.”

Aku mundur. “Tapi yang hilang tidak salah, Mbah. Mereka tidak tahu apa-apa!”

“Terus anakku salah?!”

Dari sumur, muncul Wati. Kali ini utuh. Gaun putih, kaki tidak menyentuh tanah. Wajahnya pucat, tapi matanya ada. Dia menatap Mbah Suro, lalu geleng kepala.

“Bapak... udah...” suaranya seperti gemericik air.

“Wati?” Mbah Suro jatuh berlutut. Goloknya terlepas.

“Aku capek, Pak. Dingin. Aku cuma mau tidur. Bukan bunuh-bunuh lagi.”

Ternyata selama ini yang memanggil orang ke sumur bukan Wati. Tapi dendam Mbah Suro yang mati tahun 1985 dan gentayangan menjaga “keadilan” versinya sendiri. Dia pakai wujud Wati untuk narik korban.

“Kalau bapak sayang Wati, ikhlasin,” kataku. Entah dapat berani dari mana.

Mbah Suro meraung. Tubuhnya berasap, lalu tersedot masuk ke sumur bersamaan dengan goloknya. Bersamaan dengan itu, dari dalam sumur terdengar suara lima orang minta tolong. Dimas, dan empat korban lain.

“Potong bambu kuning di timur sumur!” teriak Wati sebelum ikut meluruh jadi air. “Tanam di kuburanku!”

Paginya, warga menggali di bawah pohon kamboja, 10 meter dari sumur. Ditemukan tulang belulang anak kecil dibungkus kain mori. Itu Wati. Kami kuburkan layak di makam desa, dengan bambu kuning ditanam di atasnya oleh Pak Karta sendiri.

Lima korban ditemukan pingsan di dalam balai desa yang terkunci. Mereka tidak ingat apa-apa, hanya mimpi basah dan dingin.

Sumur tua akhirnya diuruk atas keputusan warga. Saat pengurukan, tidak ada kejadian apa-apa. Hanya saja, kata Pak Karta, malam harinya dia mimpi Wati. Katanya, “Matur nuwun, Pak Lurah. Sampun anget.” Terima kasih, sudah hangat.

Aku pulang ke Bandar Lampung seminggu kemudian. Artikelku tidak jadi tayang. Redaktur bilang “terlalu mistis, tidak ada narasumber resmi”. Aku tidak melawan. Beberapa cerita memang bukan untuk koran. Tapi untuk yang mau percaya.

Sampai sekarang, kalau lewat Karanganyar dan berhenti di balai desa, kadang masih tercium bau melati dari arah bekas sumur. Tapi tidak ada lagi yang hilang.

Kata Pak Karta di telepon terakhir, “Bambu kuningnya sudah bertunas, Nak. Katanya Wati, dia sudah tidur pules. Tidak mimpi buruk lagi.”

Dan aku, setiap menulis laporan malam hari, selalu sediakan segelas air putih di meja. Entah untuk siapa. Jaga-jaga, kalau ada yang haus dari perjalanan jauh.

[TAMAT]

Menjemput Hidayah di Negeri Ginseng: Kisah Perjalanan Spiritual Ayana Jihye MoonDi tengah gemerlap industri hiburan Kore...
01/05/2026

Menjemput Hidayah di Negeri Ginseng: Kisah Perjalanan Spiritual Ayana Jihye Moon

Di tengah gemerlap industri hiburan Korea Selatan yang sangat kompetitif dan budaya masyarakatnya yang cenderung sekuler, muncul sebuah kisah yang menggetarkan hati banyak orang di Asia: kisah Ayana Jihye Moon. Seorang gadis muda yang berani mengambil keputusan besar untuk memeluk Islam di usia remaja, sebuah langkah yang tidak lazim di tanah kelahirannya.

Ketertarikan Ayana terhadap Islam tidak muncul secara instan. Semua bermula dari rasa ingin tahu yang besar saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Saat itu, isu tentang Timur Tengah sering muncul di berita. Berbeda dengan teman-temannya yang mungkin merasa takut atau tidak peduli, Ayana justru merasa penasaran dengan kebudayaan dan agama orang-orang di sana.

Ia mulai melakukan riset mandiri. Ayana mempelajari apa itu Islam, mengapa wanita mengenakan jilbab, dan mengapa umat Muslim sangat taat beribadah. Baginya, Islam bukan sekadar agama, melainkan sebuah gaya hidup yang menawarkan ketenangan yang belum pernah ia temukan sebelumnya.

Memutuskan menjadi mualaf di Korea Selatan bukanlah perkara mudah. Ayana sempat menghadapi tantangan berat, terutama dari lingkungan keluarga dan teman-temannya yang merasa asing dengan keputusannya. Ia bahkan harus menunda beberapa rencana hidupnya demi mendalami agama.

Namun, keteguhan hatinya tidak goyah. Ia memilih untuk pindah ke Malaysia guna memperdalam ilmu agamanya karena merasa di Korea akses untuk belajar Islam masih cukup terbatas. Di sana, ia mulai dikenal luas melalui media sosial sebagai sosok yang menyebarkan citra positif Islam dengan cara yang modern dan santun.

Bagi Ayana, Islam tidak menghapus identitasnya sebagai orang Korea, melainkan menyempurnakannya. Ia tetap bangga dengan budayanya, namun kini ia menjalaninya dengan prinsip-prinsip Islami. Kini, ia menjadi jembatan budaya antara dunia Islam dan Korea Selatan.

Pesan yang selalu ia bawa adalah: Hidayah bisa datang kepada siapa saja, di mana saja, asalkan hati kita terbuka untuk mencari kebenaran.

Mark Trimmer adalah seorang pria asal Inggris yang kisah keislamannya cukup dikenal di media sosial. Ia adalah salah sat...
30/04/2026

Mark Trimmer adalah seorang pria asal Inggris yang kisah keislamannya cukup dikenal di media sosial. Ia adalah salah satu contoh mualaf yang menemukan hidayah melalui pengamatan langsung terhadap akhlak dan perilaku umat Muslim.

Berikut adalah ringkasan perjalanan hidupnya menjadi seorang mualaf:

1. Awal Mula Ketertarikan
Perjalanan Mark tidak dimulai dari membaca buku teologi, melainkan dari interaksi sosial. Ia tinggal di lingkungan yang mayoritas penduduknya beragama Islam di Inggris. Selama bertahun-tahun, ia mengamati tetangga-tetangganya dan merasa kagum dengan rasa kekeluargaan, kesantunan, dan kedermawanan yang mereka tunjukkan.

2. Pemicu Utama: Ramadhan
Momen titik balik bagi Mark terjadi saat bulan Ramadhan. Ia melihat bagaimana komunitas Muslim berpuasa dengan penuh disiplin, namun tetap berbagi makanan dan menunjukkan keramahan yang luar biasa kepada siapa pun, termasuk dirinya yang saat itu belum Muslim. Kehangatan komunitas inilah yang membuatnya mulai bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya diajarkan oleh agama Islam.

3. Mempelajari Al-Qur'an
Setelah merasa tertarik secara emosional, ia mulai mempelajari sisi intelektualnya. Mark mulai membaca terjemahan Al-Qur'an. Ia mengaku merasa takjub karena banyak hal yang ia baca terasa sangat logis dan menjawab pertanyaan-pertanyaan hidup yang selama ini ia miliki.

4. Mengucapkan Syahadat
Mark akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam (bersyahadat) beberapa tahun yang lalu. Sejak saat itu, ia dikenal sebagai sosok yang sangat bersemangat dalam menjalankan ibadah. Foto yang Anda unggah tersebut memperlihatkan beliau sedang berada di tanah suci untuk melaksanakan ibadah (Haji/Umrah), yang merupakan impian bagi setiap mualaf.

5. Pesan yang Sering Ia Sampaikan
Mark sering berbagi ceritanya untuk mematahkan stigma negatif tentang Islam di Barat. Ia menekankan bahwa:
* Islam adalah agama perdamaian dan disiplin diri.
* Akhlak yang baik adalah cara terbaik untuk berdakwah.
* Menjadi mualaf memberinya kedamaian batin yang tidak ia temukan sebelumnya.

Kisah Mark Trimmer ini banyak menginspirasi orang karena menunjukkan bahwa terkadang, "khotbah" yang paling ampuh bukan melalui kata-kata, melainkan melalui perilaku baik kita kepada sesama.

Bismillahirrahmanirrahim.. Insyaallah mulai malam ini kita akan posting cerita pendek dengan genre misteri dan supranatu...
30/04/2026

Bismillahirrahmanirrahim..
Insyaallah mulai malam ini kita akan posting cerita pendek dengan genre misteri dan supranatural. Semoga bermanfaat.

"Prolog: Sebelum Tidur Abadi*

Dua belas jam sebelum Arga menerima surat wasiat.

Nyi Darmi duduk di kursi goyangnya. Usianya genap 77 tahun hari itu. Tidak ada yang datang memberi selamat. Tidak ada cucu yang mencium tangannya. Hanya tiupan angin malam dari celah-celah papan rumah tua yang setia menemaninya.

Di pangkuannya, sebuah buku lusuh terbuka pada halaman terakhir. Kertasnya kecokelatan, tulisan Jawa di dalamnya sudah luntur karena air mata dan keringat. Bukan air matanya sendiri—melainkan air mata guru-guru sebelumnya. Empat generasi. Semua perempuan. Semua penjaga.

Aku yang kelima, pikir Nyi Darmi. Dan yang terakhir.

Ia menatap koridor menuju kamar semedi. Pintu kamar itu—pintu yang tidak boleh dibuka sembarangan—kini sedikit menganga. Padahal ia sudah menguncinya dengan tiga gembok. Padahal ia sudah membacakan mantra penutup setiap subuh dan magrib.

Tapi lubang di lantai kamar itu... lubang hitam selebar telapak tangan itu... ia mulai terbuka dengan sendirinya.

Dari lubang itu, wangi sedap terus keluar, merayap ke seluruh rumah. Wangi yang membuat siapapun yang menghirupnya ingin rebahan, memejamkan mata, dan tidak pernah bangun lagi.

Nyi Darmi sudah tiga minggu tidak tidur. Kantuknya luar biasa, tapi ia takut. Setiap kali matanya terpejam, ia mendengar bisikan dari dalam lubang itu. Bisikan yang tidak pernah ia mengerti bahasanya, tapi entah bagaimana ia tahu artinya.

"Serahkan penjagaan. Tidurlah. Kami akan menjaganya untukmu..."

Itu dusta. Nyi Darmi tahu. Arwah-arwah di dalam lubang itu bukan makhluk penjaga. Mereka adalah... Nyi Darmi bahkan tidak punya nama untuk mereka. Guru pertamanya dulu hanya bilang, "Jaga agar lubang itu tetap tertutup. Jika terbuka lebar, yang keluar bukan bisikan lagi. Tapi nyanyian. Dan jika nyanyian itu terdengar oleh telinga manusia, maka manusia-manusia itu akan berhenti menjadi manusia."

Malam itu, Nyi Darmi merasakan ajalnya mendekat. Bukan sakit. Bukan tua. Tapi... panggilan. Lembut. Manis. Seperti pelukan.

Ia menghela napas. Mengambil selembar kertas dan pulpen. Tulisannya gemetar.

"Untuk Arga, cucuku satu-satunya. Rumah ini sekarang milikmu. Tapi jangan pernah buka kamar paling belakang. Maafkan Nenek yang tidak pernah bisa memberimu warisan berupa uang atau tanah. Yang bisa Nenek berikan hanyalah... beban."

Ia melipat surat itu, menyelipkan ke dalam amplop cokelat. Lalu ia bersandar di kursi goyang. Matanya terasa berat. Sangat berat.

Untuk pertama kalinya setelah tiga minggu, Nyi Darmi tidak melawan kantuk.

"Biarkan aku tidur," bisiknya. "Untuk selama-lamanya."

Dan ia tersenyum.

Karena ia tidak tahu—atau mungkin ia tahu tapi tidak sanggup mencegah—bahwa dengan kematiannya, lubang itu tidak akan tertutup. Bahwa cucunya akan datang. Bahwa siklus penjagaan tidak berakhir dengan kematian seorang penjaga.

Justru baru dimulai.

Bersambung..

Sebuah novel fiksi supranatural, dimana kejadian non fiksi ada di dalamnya. Judul: SAKSI JEMBATAN KUNING  Genre: Urban S...
20/04/2026

Sebuah novel fiksi supranatural, dimana kejadian non fiksi ada di dalamnya.

Judul: SAKSI JEMBATAN KUNING
Genre: Urban Supranatural Thriller, Dark Fantasy

Edi Prasetyo, 24 tahun. Siang tidur, malam narik ojol. Motor butut, HP retak, hidup pas-pasan. Titik ngetem favoritnya: bawah flyover Sultan Agung, Bandar Lampung.

Jumat Kliwon jam 01:13, helmnya ketuker sama helm ojek lain di parkiran Tugu Adipura. Helm bau amis & ada retak di kiri. Sejak dipake, tiap jam 1 pagi Edi 'keseret' ngulang rute kematian orang lain. Selalu berakhir di tempat orang itu tewas. Selalu ada yg bisikin: "Anterin gue, Jal."

Dia Saksi. Tugasnya: dengerin permintaan terakhir 6 arwah korban laka Lintas Sumatera, anterin mereka 'nyebrang' lewat Jembatan Kuning—jembatan ghaib yg adanya di Jalur 13, dimensi berupa jalan tol malam tak berujung.

Aturannya jelas. 6 lolos. Arwah ke-7 gantiin dia.




https://karyakarsa.com/ElangKusuma/series

08/04/2026

Sorry to say.. Banyak yang halu. Dikira keilmuan Trawang itu seperti memejamkan mata, kemudian membukanya. Padahal Keilmuan Trawang tidak semudah itu. Jika semudah itu tak perlu berhari-hari, bahkan bertahun-tahun dawam kan wirid keilmuan

08/04/2026

Bismillahirrahmanirrahim

🔮 KONSULTASI SPIRITUAL & SUPRANATURAL TERPERCAYA 🔮

Sedang menghadapi masalah dalam hidup?
Merasa jalan terasa buntu, hati gelisah, atau usaha belum membuahkan hasil?
Kami siap membantu Anda menemukan solusi dan pencerahan.

✨ Melayani Konsultasi:
• Masalah Kehidupan & Kesialan Beruntun
• Rumah Tangga & Keharmonisan Keluarga
• Asmara & Hubungan Percintaan
• Jodoh & Pembuka Aura Diri
• Pekerjaan & Usaha Seret
• Energi Negatif, Gangguan Gaib, dan Lainnya

💬 Konsultasi bersifat rahasia, aman, dan penuh empati
🙏 Pendekatan spiritual dengan niat membantu dan memberi jalan keluar terbaik

📲 Hubungi sekarang untuk konsultasi awal
Jangan biarkan masalah berlarut-larut.
Setiap masalah ada jalan keluarnya, setiap kebuntuan ada solusinya.

🌟 Ikhtiar lahir dan batin untuk kehidupan yang lebih tenang dan harmonis 🌟

19/02/2026

Gak ada ceritanya manusia gak punya masalah. Solusinya, ikhtiar lahir dan batin. Selanjutnya berserah diri kepada Allah.

Selamat menunaikan ibadah puasa.

Send a message to learn more

14/02/2026

Untuk kasus asmara. Sebagai praktisi kami dapat membantu mengikhtiarkan. Hasil atau tidak nya tetap mutlak kepada izin Allah.

Biasanya ada 2 hasil. 1. Pasangan kembali 2. Anda diberikan keikhlasan, ketenangan untuk meninggalkan pasangan. Untuk menerima ketentuanNya.

Untuk mempercepat hasil, Anda harus mau juga melakukan ritual.

14/02/2026

Wasilah untuk pembersihan, pengobatan lahir dan batin. Insyaallah..

13/02/2026

Allahumma Ya Allah.. Berikan kami kemudahan-kemudahan, kebaikan-kebaikan, keberkahan-keberkahan. Aamiin..

Address

Bandar

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Padepokan Alfaaruuq posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share