Konsentris.id

Konsentris.id Kami adalah ruang redaksi nirlaba independen di Lampung yang memproduksi laporan jurnalistik mendalam. Dukung kami untuk tetap independen.

Tidak menerima iklan, kerja-kerja kami mengandalkan donasi publik.

Siapa yang merasa berhak menanyakan aktivitas jurnalis lewat telepon?Dan sejak kapan ruang sipil mulai terbiasa diawasi?...
11/05/2026

Siapa yang merasa berhak menanyakan aktivitas jurnalis lewat telepon?
Dan sejak kapan ruang sipil mulai terbiasa diawasi?

Ini bukan pertanyaan yang berdiri sendiri. Ia bergerak pelan, di banyak tempat—dan sering kali dianggap wajar.

Catatan ini menelusuri pola yang kerap luput dijelaskan.

Baca selengkapnya 👇

https://konsentris.id/pertanyaan-yang-tak-dijawab/



Seorang jurnalis menerima telepon berulang tentang aktivitas jurnalistiknya. Pola serupa menjalar saat diskusi, organisasi, dan ruang sipil mulai disentuh oleh kehadiran yang tidak selalu tampak terang. Dari satu panggilan ke panggilan lain, tumbuh kesadaran bahwa yang bekerja bukan sekadar kontrol,...

Hari Buruh diperingati di banyak tempat sebagai momentum perayaan dan refleksi.Namun, di Bandar Lampung, sebagian orang ...
01/05/2026

Hari Buruh diperingati di banyak tempat sebagai momentum perayaan dan refleksi.

Namun, di Bandar Lampung, sebagian orang masih berada dalam situasi yang berbeda—mencari kerja.





Simak liputan selengkapnya 👇

Pengalaman pengemudi ojek online menunjukkan pergeseran makna kerja dalam sistem berbasis aplikasi. Melalui kisah Marbudin dan Linda, fleksibilitas dalam ekonomi gig berubah menjadi kondisi siaga tanpa henti. Batas antara kerja dan waktu hidup menjadi kabur dalam praktiknya. Di tengah peringatan Har...

Hari Bumi diperingati di banyak tempat.Spanduk dibentang, slogan diucapkan, lalu semuanya perlahan selesai.Tapi di luar ...
24/04/2026

Hari Bumi diperingati di banyak tempat.
Spanduk dibentang, slogan diucapkan, lalu semuanya perlahan selesai.

Tapi di luar itu, krisis tidak pernah ikut selesai.

Hutan terus dibuka. Sungai kehilangan batasnya.
Di Sumatra, asap PLTU terus naik, dan tanah yang gagal pulih setelah hujan bukan lagi kejadian luar biasa—melainkan keseharian.

Ada yang diperingati sebagai kesadaran.
Ada yang dipaksa hidup di dalam kerusakan yang sama setiap hari.

“Ini bukan takdir.”

Ketika kerusakan terus terjadi, siapa yang benar-benar memilih untuk membiarkannya?




-----------------------

Di tengah peringatan Hari Bumi di Bandar Lampung, suara-suara dari berbagai wilayah Sumatra berkumpul. Banjir dan kerusakan lingkungan tidak dibaca sebagai takdir, melainkan hasil ekspansi industri ekstraktif dan alih fungsi lahan. Data deforestasi dan kesaksian warga memperlihatkan pola serupa: hut...

Sejumlah program nasional seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat bergerak seragam d...
20/04/2026

Sejumlah program nasional seperti Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat bergerak seragam dari pusat ke berbagai daerah. Di banyak tempat, program-program ini hadir dalam bentuk yang cepat dan seragam, namun tidak selalu bertemu dengan kebutuhan yang hidup di masyarakat.

Di satu rumah sederhana, seorang buruh bangunan menimbang ulang makanan yang dibawa anaknya. Di desa lain, bangunan koperasi berdiri tanpa benar-benar dipahami warga. Di tempat berbeda, proyek serupa justru ditolak karena dianggap tidak lahir dari kebutuhan bersama.

Dari rangkaian situasi ini, muncul satu pola yang berulang: kebijakan hadir sebagai keputusan yang sudah jadi, bukan proses yang tumbuh dari kehidupan sosial.

Simak laporan selengkapnya 👇


-----------------------------------------

Sejumlah program—Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, dan Sekolah Rakyat—bergerak seragam dari pusat ke lapangan. Di satu rumah sederhana, seorang buruh bangunan menimbang ulang makanan yang dibawa anaknya; di desa lain, bangunan koperasi berdiri tanpa pernah benar-benar dipahami war...

Senja baru saja turun ketika ketukan terdengar di pintu kantor LBH Manado. Seorang tentara berdiri di ambang—tanpa suara...
08/04/2026

Senja baru saja turun ketika ketukan terdengar di pintu kantor LBH Manado. Seorang tentara berdiri di ambang—tanpa suara tinggi, tanpa ancaman. Ia hanya meminta satu hal.

Peristiwa seperti itu tidak berdiri sendiri. Dari Manado hingga Lampung, kehadiran militer di ruang sipil perlahan mengubah cara orang berbicara—dan memilih untuk diam. Ruang diskusi tak lagi sepenuhnya netral; ia mulai diawasi, diukur, dan dipenuhi kehadiran yang membuat orang berpikir ulang sebelum bersuara.

Di situlah rasa takut bekerja: pelan, nyaris tak terlihat, namun terus-menerus—hingga kepatuhan terbentuk tanpa perintah.

Baca liputan lengkapnya:




-----------------------------------------

Kehadiran militer di ruang sipil bukan lagi peristiwa sporadis, melainkan pola sistematis. Dari Manado, Sumatra Barat, hingga Lampung, ruang pertukaran gagasan tak lagi sepenuhnya netral—ia mulai diawasi dan diukur. Rasa takut diproduksi secara halus dan terus-menerus, hingga kepatuhan terbentuk t...

Abdul menunggu satu orderan yang tak kunjung datang.Di sudut lain kota, Riski berdiri di samping gerobak kopinya—menanti...
01/04/2026

Abdul menunggu satu orderan yang tak kunjung datang.
Di sudut lain kota, Riski berdiri di samping gerobak kopinya—menanti pembeli yang lewat begitu saja.

Mereka tidak menganggur. Mereka bekerja setiap hari. Namun, bagi jutaan orang di Indonesia, kerja tak lagi menjanjikan jalan keluar.

Dalam satu dekade terakhir, sektor informal terus membesar, menampung mereka yang tak terserap ke lapangan kerja formal. Di tengah ekonomi yang terus bergerak, para pekerja bertahan tanpa kepastian, tanpa perlindungan, dan penghasilan tak menentu.

Baca liputan selengkapnya 👇
https://konsentris.id/jalan-buntu-bernama-kerja-dalam-jerat-sektor-informal/



Kisah Abdul dan Riski menunjukkan bahwa bagi jutaan orang, kerja bukan lagi jalan keluar, melainkan jalan buntu. Dalam satu dekade terakhir, sektor informal terus membesar, menampung semakin banyak orang yang tak terserap ke lapangan kerja formal. Di tengah ekonomi yang terus bergerak, para pekerja....

Dari kotak styrofoam berisi kepala babi di kantor redaksi Tempo, hingga bangkai ayam di teras rumah aktivis Greenpeace. ...
29/03/2026

Dari kotak styrofoam berisi kepala babi di kantor redaksi Tempo, hingga bangkai ayam di teras rumah aktivis Greenpeace. Dari ancaman bom molotov di Papua, hingga penyiraman air keras dalam kesenyapan.

Rentetan peristiwa sepanjang 2024-2025 ini bukan sekadar insiden kriminal tunggal. Ini adalah sebuah pola pembungkaman yang sistematis.

"Tekanan terhadap suara kritis tidak selalu menampakkan diri dalam kekerasan berdarah. Ia menyusup melalui mekanisme hukum yang rapi."

Amnesty International Indonesia mencatat 285 serangan terhadap pembela HAM sepanjang 2025. Mayoritas korbannya adalah jurnalis dan masyarakat adat. Ketika pelaku tak pernah terungkap dan proses hukum seolah membatu, yang sedang bekerja adalah kekerasan struktural.

Teror terhadap suara kritis bukan sekadar persoalan individu, melainkan pertaruhan atas kualitas demokrasi. Saat rasa takut mulai dianggap lumrah, ruang publik pun perlahan mengerut.

Masihkah negara benar-benar hadir untuk melindungi warganya yang melayangkan kritik? Ataukah publik sedang menyaksikan matinya keberanian untuk bersuara?

Simak analisis selengkapnya dalam artikel:
👉 "Dari Sabang Sampai Merauke Berjajar Teror"
https://konsentris.id/dari-sabang-sampai-merauke-berjajar-teror/

Rangkaian teror terhadap warga sipil adalah manifestasi dari kekerasan struktural. Fenomena ini menandai evolusi represi yang kian kompleks—bergeser dari kekerasan berdarah menuju penggunaan mekanisme hukum. Ketika rasa takut ‘berjajar' dari Sabang sampai Merauke, yang sedang dipertaruhkan bukan...

Apa hubungan serangan air keras dengan gunung emas di Irian Barat dan konspirasi 1965? 🕵️‍♂️Di tangan Leila S. Chudori, ...
19/03/2026

Apa hubungan serangan air keras dengan gunung emas di Irian Barat dan konspirasi 1965? 🕵️‍♂️

Di tangan Leila S. Chudori, sebuah novel bukan lagi sekadar dongeng pengantar tidur. Namaku Alam adalah serangan balik. Ia menjahit trauma keluarga eks tapol dengan oase kebudayaan era Ali Sadikin, tepat di saat aroma Orde Baru kembali merayap.

Ini bukan sekadar ulasan buku. Ini tentang ingatan yang menolak merunduk. Tentang nalar kritis yang masih keras kepala menyala di rak-rak buku, bahkan ketika kekuasaan mencoba memadamkannya.

Simak selengkapnya: https://konsentris.id/namaku-alam-novel-politik-menolak-merunduk/



Menautkan fragmen ingatan di Asrama Daksinapati dengan serangan air keras, Namaku Alam menandai kembalinya sastra sebagai instrumen politik. Di tengah aroma Orde Baru, narasi ini menjahit oase kebudayaan era Ali Sadikin dengan trauma keluarga eks tapol. Ia menegaskan posisi politik: sebuah ingatan y...

Selama dekade, nasib petani di Sumatra ditentukan oleh coretan bolpoin tengkulak. Harga keringat tak bisa ditawar. Dapur...
18/03/2026

Selama dekade, nasib petani di Sumatra ditentukan oleh coretan bolpoin tengkulak. Harga keringat tak bisa ditawar. Dapur sering kali mendingin saat buah di dahan masih hijau.

Namun, di balik aroma kopi Lampung dan rimbun durian Dairi, sebuah perubahan besar sedang bekerja. Bukan lewat kucuran modal raksasa, melainkan melalui Revolusi Receh.

Lewat credit union, para petani mengonversi simpanan sepuluh ribu rupiah menjadi aset miliaran. Di Tanggamus, KSU Srikandi mengelola Rp2,3 miliar. Di Dairi, jaringan PPODA menghimpun lebih dari 5.000 petani dengan aset melampaui Rp10 miliar.

Ini bukan sekadar angka simpan-pinjam. Ini adalah benteng ekonomi kolektif.

Dari dapur Sri Wahyuni hingga kebun Mulpen, benang merahnya jelas: kemandirian tidak datang dari atas, tapi direbut lewat solidaritas. Melalui institusi akar rumput ini, petani berhenti menunggu nasib dan mulai menggenggam kontrol atas masa depan mereka sendiri.

Simak laporan tentang kedaulatan ekonomi petani di pedalaman Sumatra:
MENGGENGGAM NASIB SENDIRI
Revolusi Receh Petani Sumatra di Bilik Credit Union 👇



Union
-------------------------------------

Di balik aroma kopi Lampung dan rimbun durian Dairi, sebuah reklamasi martabat sedang berlangsung. Lewat credit union, para petani mengonversi receh menjadi aset miliaran. Angka ini bukan sekadar modal, melainkan benteng ekonomi kolektif. Dari bilik institusi akar rumput itu, petani berhenti menungg...

Satria datang tanpa sapa. Ia berdiri dekat meja ibunya, menerima selembar sepuluh ribu dari laci kedai, lalu hanyut dite...
12/03/2026

Satria datang tanpa sapa. Ia berdiri dekat meja ibunya, menerima selembar sepuluh ribu dari laci kedai, lalu hanyut diterjang banjir Bandar Lampung.

Di kota ini, kematian bukan sekadar takdir yang jatuh dari langit. Ia adalah muara dari rancang bangun kota yang mengubur resapannya sendiri. Saat pori-pori tanah menyusut hingga tersisa 2,3 persen, izin pembangunan mal terus terbit di atas sisa rawa yang seharusnya menampung air.

Tragedi ini menelanjangi birokrasi yang lamban. Dinding iuran BPJS yang sebelumnya tak dapat dipanjat, baru runtuh oleh perintah wali kota tepat setelah satu nyawa dikorbankan. Bantuan medis datang hanya ketika Satria tidak lagi berada di rumah itu.

Besok, Syuhada harus kembali membelah jahe di kedai bandrek. Ia harus memberi makan tiga anaknya. Ia harus membayar biaya pengobatan suaminya. Di balik tembok, traktor masih terus menimbun sisa rawa itu dengan tanah.

Sebuah laporan tentang bagaimana beton dan kebijakan yang abai menjepit hidup warga di gang-gang sempit.

Baca selengkapnya di sini: https://konsentris.id/banjir-bandar-lampung-musibah-yang-dirancang-di-atas-23-persen-rth/



Kematian bocah sepuluh tahun di Bandar Lampung bukan sekadar variabel cuaca, melainkan muara dari rancang bangun kota yang mengubur resapannya sendiri. Melalui laci kedai bandrek, tragedi ini menelanjangi birokrasi yang baru meruntuhkan dinding BPJS tepat setelah satu nyawa melayang diterjang banjir...

09/03/2026

Di halaman Kelurahan Gedongair yang masih lembap, Marifah berdiri diam di antara antrean daster. Ia membuat pilihan sulit hari itu: menghentikan kompor lebih awal dan meninggalkan 200 biji somay yang seharusnya ia jajakan. Perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga itu sedang melakukan perjudian waktu—menukar jam dagangnya demi beras seharga Rp11.000.

Namun, beras yang Marifah tunggu itu memiliki cerita lain di hulu. Berminggu-minggu sebelumnya, ia masih berupa gabah basah yang dipikul Maryanto (70) di pematang sawah Pringsewu. Di tanah lumbung pangan ini, Maryanto justru tidak punya kuasa menentukan harga keringatnya sendiri. Gabahnya dikunci pemilik modal hanya Rp6.000 per kilogram.

Liputan kami membedah sebuah paradoks: pasar murah datang sebagai bantuan, namun menuntut bayaran berupa waktu produktif. Di satu ujung, konsumen bertaruh jam kerja; di ujung lain, petani kehilangan kedaulatan akibat struktur distribusi yang tidak demokratis.

Mengapa pemenuhan pangan tak lagi ditempatkan sebagai hak dasar, melainkan komoditas yang tunduk pada logika laba?

Simak liputan perjalanan sebutir beras dari lumpur Pringsewu hingga ke dapur Gedongair 👇




-------------------------------
https://konsentris.id/pasar-murah-perjudian-waktu-bagi-mereka-yang-membeli-hari-esok/

Address

Bandar

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Konsentris.id posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Konsentris.id:

Share