ACSTF

ACSTF Akun resmi Acehnese Civil Society Task Force (ACSTF) merupakan lembaga masyarakat sipil yang fokus pada agenda kerja melestarikan Damai Aceh

Konflik yang berlangsung di Aceh telah menimbulkan dampak yang parah terhadap berbagai komponen masyarakat sipil Aceh. Ribuan orang yang dicintai (orang tua, istri, suami dan anak-anak) telah gugur, mengalami penyiksaan dan cacat, menjadi janda dan anak yatim. Ribuan orang telah kehilangan tempat tinggal dan ribuan lainnya kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Ratusan sekolah terbakar, sehing

ga mengganggu proses pendidikan. Lebih jauh dari itu, masyarakat sipil hampir tidak memiliki akses terhadap hukum, sementara sebagian besar lembaga pengadilan tidak berfungsi lagi. Kenyataan di atas telah menyadarkan berbagai pihak tentang perlunya menampung aspirasi masyarakat sipil dalam proses perdamaian di Aceh. Sejumlah usaha untuk menyerap aspirasi masyarakat sipil telah dilakukan. Berturut-turut diantaranya adalah MRA (Musyawarah Rakyat Aceh), KRA (Kongres Rakyat Aceh), KOMPAS (Kongres Mahasiswa dan pemuda Aceh Serantau), tetapi hasil yang dicapai sampai saat ini belum maksimal. Oleh karena itu kedepan perlu ada usaha yang besar dalam mewujudkan perdamaian di Aceh. Akan tetapi kesemua forum masyarakat sipil itu tidak terlaksana, karena mendapat reaksi dari berbagai kelompok masyarakat yang mempersoalkan organisasi dan personalia pelaksana, keterwakilan komponen sipil dan misi dari forum-forum tersebut. Akibatnya, korban terus berjatuhan dan masyarakat sipil belum dapat menggalang kekuatan dan menyuarakan kepentingannya sendiri. Berlandaskan kenyataan itu, 54 orang yang berasal dari komponen yang berbeda dalam masyarakat sipil Aceh menghadiri “Brotherly Dialog among Acehnese for a Just Peace in Aceh” di Washington DC, 5 s.d. 8 Oktober 2001 membentuk ACSTF (Acehnese Civil Society Task Force). Konferensi ini diadakan oleh International Forum For Aceh (IFA) dan Global peace Centre of American University. Selain komponen masyarakat sipil, dalam konferensi ini juga hadir perwakilan dari pemerintah Republik Indonesia yang diwakili oleh Ir.Azwar Abubakar dan perwakilan dari Gerakan Aceh Merdeka yang diwakili oleh Dr.Zaini Abdullah. Konferensi ini memiliki beberapa rekomendasi, salah satunya adalah terpilihnya sepuluh orang yang akan menjadi anggota ACSTF dalam melaksanakan point-point penting yang berhubungan dengan konsolidasi dan pemberdayaan komponen sipil Aceh. Selain itu, usaha ACSTF juga mengambil inisiatif-inisiatif untuk mendorong terwujudnya solusi damai berkesinambungan terhadap konflik Aceh lewat pendekatan dialog dan tanpa kekerasan dengan pelibatan masyarakat sipil Aceh, Indonesia dan internasional. Pasca MoU Damai 15 Agustus 2005 di Helsinki antara pemerintah Republik Indonesia dengan GAM, ACSTF kembali membangun komunikasi dan konsolidasi komponen masyarakat sipil Aceh untuk menjaga proses damai ini. Hal penting yang harus segera direspon saat itu adalah pembentukan UU Pemerintahan Aceh sesuai amanat MoU Helsinki. Sehingga ACSTF menginisiasi proses perumusan UU PA versi masyarakat sipil serta pengawalan pembentukan UU tersebut dari proses perumusan rancangan UU sampai pembahasannya di DPR RI . Saat ini, ACSTF meneruskan misinya untuk menjaga dan mempertahankan proses damai di Aceh dengan berbagai inisiatif aktifitas yang dirangkai untuk membangun kondisi saling mengisi dalam pengelolaan pemerintahan Aceh. Sehingga akan terbangun kerjasama antara sesama komponen masyarakat sipil serta juga dengan pemerintah dan legislatif Aceh. Selain itu, ACSTF juga tetap mengundang masyarakat internasional untuk terus melihat dan berkontribusi dalam berbagai bidang dalam bingkai mengisi perdamaian Abadi di Aceh.

*Perlindungan Kesehatan Rakyat Timor Leste*Sebagai negara baru, setelah 450 tahun hidup dalam kesengsaraan dan perjuanga...
07/05/2026

*Perlindungan Kesehatan Rakyat Timor Leste*

Sebagai negara baru, setelah 450 tahun hidup dalam kesengsaraan dan perjuangan melawan kolonial, Pemerintah Timor Leste sangat menyadari bahwa kesehatan seluruh rakyatnya adalah salah satu program utama selain pendidikan.



Baca selengkapnya:

Sebagai negara baru, setelah 450 tahun hidup dalam kesengsaraan dan perjuangan melawan kolonial, Pemerintah Timor Leste sangat menyadari bahwa kesehatan seluruh rakyatnya adalah salah satu program utama selain pendidikan.

*Wajah Kebebasan Timor Leste*Juanda Djamal jumpai Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao dan Perdana Menteri Perdana ...
24/04/2026

*Wajah Kebebasan Timor Leste*

Juanda Djamal jumpai Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao dan Perdana Menteri Perdana Timor Leste Mari Al katiri.

Baca selengkapnya:

Timor Leste merdeka pada tahun 20 Mei 2002, dan kini menjadi negara yang berkedaulatan dan terbebaskan dari kolonialisme. Rakyat Timor Leste telah berjuang panjang, berjuang mengusir Portugis dari bumi Lorosae selama 450 tahun (1519-1975).

Selamat buat media Dialeksis makin jaya dan sukses terus setiap tahunnya... Aryos Nivada
22/01/2026

Selamat buat media Dialeksis makin jaya dan sukses terus setiap tahunnya... Aryos Nivada

Bincang - Otto Syamsuddin Ishak: Transformasi Kultural belum Berlangsung di Aceh -
18/11/2025

Bincang - Otto Syamsuddin Ishak: Transformasi Kultural belum Berlangsung di Aceh -

sinarpidie.co--Otto Nur Abdullah atau yang lebih dikenal dengan nama Otto Syamsuddin Ishak adalah seorang Sosiolog yang memiliki konsen yang besar terhadap Aceh. Ia telah menulis banyak artikel dan buku-buku yang bersinggungan dengan Aceh. Otto...

10/09/2025

Setelah terbit berita ini, maka terbitlah berita bahwa Revisi UUPA masuk dalam Prolegnas 2025, mari kita kawal bersama.

15/08/2025

Address

Banda Aceh
23121

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

+628126928359

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ACSTF posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share